Penjajahan telah lekat kiranya dengan bangsa Indonesia, sering kita mendengar cerita tentang penderitaan generasi pendahulu yang harus hidup dalam belenggu penjajahan. Menjadi budak di negeri sendiri, menjadi pelayan bagi bangsa-bangsa asing yang dengan semena-mena datang dan mengeruk hasil kekayaan bumi kita. Berbagai versi sejarah menyajikan data yang berbeda-beda tentang masa penjajahan yang ada di Indonesia. Sebagian mengatakan bahwa negara kita Indonesia ini telah sedikitnya dijajah selama 3 abad lebih. Namun sebagian ada juga yang berpendapat bahwa penjajahan Belanda di Indonesia ini sebenarnya tidak selama yang digembar-gemborkan di buku-buku sejarah SD. Apapun fakta sejarah yang benar akan sulit dicari akar kebenaranya, sebab sering kali sejarah ditulis oleh pemenang, maka bisa saja fakta sejarang berubah-ubah sesuai dengan siapa yang sedang memegang tuas kekuasaan.
Terlepas dari fakta yang sebenarnya, masa penjajahan yang terhitung cukup lama itu sedikit banyak telah memberikan kontribusi pada terbentuknya suatu tatanan masyarakat yang memiliki mental terjajah. Menurut saya selaku orang awam, mental terjajah ini saya definisikan sebagai rasa enggan yang berdiam dalam diri untuk bersikap mandiri, berani menerima tantangan dan menjadi pembaharu. Rata-rata jika ditanya pada masyarakat kita pada strata ekonomi menengah kebawah mereka memiliki kecenderungan untuk lebih bersikap permisif pada kegagalan dan kemelaratan. Tidak banyak dari mereka yang memilih untuk bersikap aktif, untuk bangkit dan memperjuangkan nasibnya sendiri, merubah rantai hidup yang terus-terusan melarat menjadi bersinar, berjaya dan dikenang.
Padahal sejarah telah menunukkan bahwa mereka, orang-orang yang pada akhirnya dikenang adalah mereka yang sukses keluar dari lingkaran kesulitan tiada tara yang menjerat mereka. Sebutlah nama Einstein, Ilmuan kondang abad ini bukanya tidak melewati masa sulit dalam hidupnya, dia pernah dicap sebagai anak yang memiliki tingkat kemampuan mencera pelajaran yang rendah semasa dia kecil. Dia juga sering dicap sebagai anak dengan perangai aneh tetapi waktu telah membuktikan bahwa dia Bung Einstein itu sanggup menjadi ilmuan yang namanya dikenal dan tercatat dalam sejarah. Mungkin namanya akan dilihat oleh manusia pada beberapa ribu tahun lagi seperti kita melihat nama Archimedes of Syracuse. Seperti itulah hadiah bagi mereka yang mau berusaha keluar dari lilitan kesulitan dan mengubahnya menjadi prestasi yang gilang-gemilang. Itu baru contoh dari segi perseorangan, bagaimana dengan sebuah bangsa? Adakah bangsa yang dapat membalikkan roda nasib? Jawabanya tentu ada Iran contohnya, negara yang terus-menerus didera konflik dan tantangan ini ternyata mampu membuktikan eksistensinya di dunia. Menghadapi tantangan embargo yang dilancarkan oleh dewan keamanan PBB, dipelopori oleh AS, ternyata Iran justru menjadikan tekanan internasional itu sebagai pemicu baginya untuk tumbuh lebih cepat. Sekarang dia telah mampu membuktikan bahwa tanpa sokongan siapapun Iran mampu berdiri tegak dan menjaga independensi serta martabatnya di dunia Internasional, tak tergoyahkan sedikitpun tidak oleh Uni Eropa tidak oleh PBB dan tidak pula oleh Amerika Serikat.
Kembali ke tanah air. Sebenarnya masyarakat Indonesia punya hak yang sama dengan bangsa-bangsa lain di dunia untuk tumbuh besar dan mendunia. Coba sejenak kita renungkan, apa yang tidak dimiliki oleh Indonesia untuk tumbuh menjadi bangsa yang besar? Indonesia punya semua aspek yang membuat bangsa ini layak diperhitungkan di dunia Internasional! Kalau Iran boleh berkaca pada masa lalunya yang gemilang sebagai negeri Persia. Sebenarnya Indonesia telah memiliki kebudayaan yang tidak kalah majunya pada jaman dahulu. Pada jamanya Indonesia pernah menjadi negara dengan kekuatan militer maun (maritim) terbesar di dunia nomor 3! Setelah Uni Soviet dan Iran. Secara Sumber Daya Alam, Man!! Negara ini sungguh super duper kaya! Bayangkan disaat negara lain kesulitan mencari sumber-sumber energi. Sumur-sumur gas muncul begitu saja di belahan negeri ini. Seolah bumi nusantara ini ingin menunjukkan betapa dia telah disia-siakan kekayaanya selama ini oleh tapak-tapak kaki yang menjejak di atasnya. Potensi produksi lestari sumber daya ikan laut Indonesia sekitar 6,4 juta ton/tahun atau 8% dari total potensi lestari ikan laut dunia. Saat ini, tingkat pemanfaatannya baru mencapai 4,4 juta ton (70%). Potensi produksi budi daya laut (mariculture) diperkirakan mencapai 45 juta ton/tahun, dan budi daya tambak (coastal aquaculture) sekitar 5 juta ton/tahun. Sementara itu, total produksi perikanan budi daya baru 1,6 juta ton (0,3%). Saat ini, Indonesia merupakan produsen ikan terbesar kelima di dunia dengan volume produksi 6,3 juta ton. Potensi ekonomi total produk perikanan dan bioteknologi kelautan diperkirakan mencapai US$82 miliar per tahun.[1] Paparan tersebut menjadikan Indonesia sebagai penghasil ikan terbesar no lima di dunia! Kita layak berbangga teman!
Paparan di atas adalah sedikit bukti! Bahwa kita rakyat Indonesia yang ditakdirkan untuk menjadi khalifah di bumi nusantara yang luar biasa ini tidak seharusnya bersikap rendah diri kita memang dituntut untuk tidak menilai diri sendiri secara berlebihan tetapi bersikap rendah diri dan menyepelekan potensi bangsa di tanah sekaya ini jelas bukan pilihan yang tepat. Perilaku terjajah yang saya sebutkan dalam tulisan ini begitu mudah terlihat saat ini di Indonesia. Contohnya masyarakat begitu menggemari posisi-posisi pegawai negeri. Semua orang berlomba-lomba meraih posisi tersebut. Mereka berdalih bahwa jaminan yang mereka dapat sepanjang hidup sudah cukup bagi mereka. Yang penting hidup “cukup” sungguh tidak ada tuntutan lebih dalam diri mereka untuk mencapai aktualisasi yang lebih tinggi. Budaya ini memang sudah sangat mengakar sejak dulu, karena memang budaya ini telah dipupuk sejak dulu oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada masa itu kaum pribumi hanya diperbolehkan mengisi posisi rendahan dan mereka yang terpilih sudahg merasa sangat beruntung. Hal inilah juga yag menjadi jawaban rendahnya tingkat semangat berwirausaha masyarakat Indonesia, mereka lebih memilih hidup aman dan apatis terhadap beban yang harus ditanggung oleh negara.
Sikap untuk suka menjadi pekerja ini telah sedemikian mengakar pada seluruh lapisan masyarakat Indonesia tak terkecuali pada lapisan mahasiswa. Mahasiswa sekarang ini telah banyak yang terseret dalam arus apatis terhadap apa yang tengah dihadapi oleh republik kita. Dengan entengnya mereka akan berujar “Negara ini sudah ada yang ngurusin Woy!!” tiap kali membicarakan permasalahan yang tengah aktual diulas di layar kaca. Yup! Sikap apatis ini juga memang sifat khas kaum terjajah. Mereka memang dididik untuk tidak peduli pada hal hal yang berkaitan dengan negara. Agar mereka semakin mudah dikendalikan dan tidak banyak mengkritisi apa yang ada di pemerintahan. Sikap sikap ini selanjutnya mendidik mereka untuk terbiasa membicarakan hal-hal ringan dan hidup mereka pun akhirnya berakhir tanpa suatu aktualisme yang berarti. Hanya terjebak dalam arus permisifisme dan konsumtifisme belaka.
Tabiat lain yang telah merongrong negeri ini adalah sikap ogah mandiri! Bukan karena tidak mampu, sama sekali bukan namun lebih karena tidak adanya kemauan untuk beralih dan mengambil resiko. Apa yang akan terjadi bila hal ini diteruskan? Bangsa ini tidak akan beranjak kemana-mana! Kita selamanya hanya akan dijadikan “karyawan pelaksana” oleh pucuk-pucuk kapitalisme dunia! Kedaulatan kita hanya menunggu waktu untuk diinjak injak untuk kemudian karam!!
Masih banyak sikap sikap lain yang masih identik dengan budaya kaum terjajah, namun sungguh belum terlambat bagi kita untuk membalikkan arah angin! Boleh jadi masuarakat dunia sekarang ini memandang kita remeh. Namun apabila masing masing individu dari bangsa ini mau memerdekakan dirinya masing-masing atas sikap sikap terjajah yang ada dalam dirinya masing-masing itu maka bukan tidak mungkin dalam beberapa hitungan tahun bangsa ini akan mencapai kemerdekaan yang sebenarnya. Kedaulatan yang sebenarnya akan terasa jelas merasap dalam pada akar-akar cengkeh di sabang hingga ujung ujung mahkota dewa di merauke!
[1] Media Indonesia, “Mentrasnformasi Kekayaan Laut”, http://mediaindo.co.id/berita.asp?id=152622 (10 Desember 2008)