Thursday, June 26, 2014

Pentingnya Memeriksa Sumber Informasi bagi Seorang Muslim

Sirkulasi informasi berisi desas desus merisaukan tanpa sumber jelas yang beredar di sekitar saya akhir akhir ini, dimana beberapa disebarkan oleh saudara saudara seiman saya, mendorong saya untuk menyusun tulisan ini. Saya harap ini dapat dihitung sebagai upaya saya sebagai sesama muslim untuk saling menasehati antar sesama kita, agar kita tidak termasuk dalam insan yang merugi. 

Dalam tulisan kali ini, saya ingin menekankan bahwa bagi seorang muslim, memeriksa sumber informasi sebelum disebarkan adalah hal yang sangat penting dan telah dibudayakan dalam keseharian umat muslim sejak zaman Rasulullah, para Sahabat, dan terus dipelihara hingga saat ini oleh para kaum shalih. Tentu sebagai manusia yang tidak mungkin luput dari kesalahan, menyebarkan informasi yang tidak jelas sumber dan kebenarannya jelas sulit untuk dihindari. Harapan saya, agar setidaknya kalaupun hal itu harus terjadi, tidak didahului oleh niat dan kesengajaan, sebab sekali lagi, hal itu jauh dari akhlak seorang muslim.

Dalam tulisan kali ini saya mengambil studi kasus saat penulisan Mushhaf Al Qur'an. Adapun detail informasi ini saya ambil dari sebuah buku buah karya Prof Quraish Shihab yang berjudul "Membumikan Al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat". 

Ketika terjadi perang Yamamah, terdapat puluhan penghafal Al Qur'an yang menjemput syahid dalam dahsyatnya pertempuran. Hal ini membuat Umar bin Khattab merasa perlu melakukan upaya untuk menjaga kelestarian Al Qur'an di masa depan. Beliau mengusulkan pada Khalifah Abu Bakar agar mengumpulkan tulisan-tulisan yang pernah ditulis pada masa Rasul. Walaupun pada mulanya Abu Bakar ragu menerima usul tersebut dikarenakan bahwa pengumpulan seperti itu tidak dilakukan pada masa Rasulullah SAW, namun pada akhirnya beliau dapat diyakinkan oleh Umar.

Keduanya lantas membentuk tim penyusunan yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit. Dipercayai untuk memimpin tim yang memikul tugas suci nan besar itu Zaid awalnya merasa berat dan ragu, setelah diyakinkan bahwa Zaid memiliki kapasitas yang cukup untuk mengemban tugas tersebut, Zaid pun bersedia. Abu Bakar memerintahkan kepada seluruh kaum muslim untuk membawa naskah tulisan ayat Al Qur'an ke Masjid Nabawi untuk kemudian diteliti dan diperiksa oleh Zaid beserta timnya.

Dalam proses pemeriksaan dan penelitian ini, Abu Bakar memberi petunjuk agar tim tidak menerima satu naskah kecuali dia memenuhi dua syarat:

  1. Harus sesuai dengan hafalan para sahabat lain.
  2. Tulisan tersebut benar-benar adalah yang ditulis atas perintah dan di hadapan Nabi SAW. Karena sebagian sahabat ada yang menulis atas inisiatif sendiri.
  3. Untuk membuktikan syarat kedua tersebut, diharuskan adanya dua orang saksi mata.
Dalam proses pemeriksaan dan penelitian ini, sejarah mencatat bahwa Zaid ketika itu menemukan kesulitan karena dia dan sekian banyak sahabat menghafal ayat "Laqad ja'akum Rasul min anfusikum 'azis 'alayh ma 'anittun harish 'alaykum bi al-mu'minina Ra'uf al-rahim" (QS 9:128). Namun, naskah yang ditulis di hadapan Nabi SAW berkaitan dengan ayat tersebut tidak ditemukan. Pencarian pun terus dilakukan, hingga akhirnya naskah tersebut ditemukan juga di tangan seorang sahabat yang bernama Abi Khuzaimah Al-Anshari. Demikian, upaya yang ditempuh Zaid dan timnya untuk menjaga kemurnian dan keontetikan Al Qur'an. Dengan demikian dapat dipertanggung jawabkan bahwa Al Qur'an yang kita baca sekarang ini adalah otentik dan tidak berbeda sedikitpun dengan apa yang diterima dan dibaca oleh Rasulullah SAW dan para sahabat berabad abad yang lalu.

Contoh dalam studi kasus diatas mungkin memang teramat istimewa, sebab yang dilakukan adalah aktivitas suci maha besar yang akan menyangkut kitab suci yang dibaca oleh milyaran orang hingga akhir zaman. Namun dapat kita petik hikmah, bahwa oleh para sahabat, yang beberapa diketahui sebagai penghafal Al Qur'an dan dikenal dalam kesehariannya memiliki akhlak mulia dan tabiat yang utama, ternyata bukti tertulis pun masih diperlukan untuk memperkuat informasi hafalan ayat suci Al Qur'an yang mereka simpan. Dan ketika sumber tertulis tersebut tidak ditemukan, mereka tidak serta merta saling percaya, namun terus mencari hingga pada akhirnya sumber penguat tersebut didapati ada pada salah seorang sahabat. 

Kita memang tidak sedang dalam hal sedang mendokumentasikan kitab suci hari hari ini. Namun ada baiknya dalam mengelola informasi kita dapat meneladani apa yang para sahabat lakukan. Mari kita biasakan memeriksa sumber informasi yang kita terima sebelum kita sebarluaskan. Tidak cukup dengan sekedar "Wah yang menyebarkan orang baik kok" lalu serta merta kita percaya. Kita harus tetap mencari kejelasan atas informasi yang dikandung dan kredibilitas sumber informasinya. Sebab berita yang kita sebarkan bisa jadi akan dijadikan acuan untuk bertindak bagi sang penerima informasi. Maka, dapat kita bayangkan apabila kita dengan sengaja menyebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan lebih lebih berisi fitnah. Yang terjadi bukannya upaya saling menasehati, malah akan berujung pada upaya saling berbagi fitnah dan hasutan bukan? Semoga kita tergolong dalam barisan orang orang yang gemar memperbaiki diri dan saling menasehati dalam kebenaran. Amin

Sumber:

Shihab, M. Quraish, "Membumikan Al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat", Mizan, Bandung, Edisi ke-2 Cetakan I, 2013 


Wednesday, June 25, 2014

Mendadak Tausiyah

Saya menemukan pengalaman yang sangat menyenangkan sore ini, baru beberapa menit menyandarkan punggung ke sandaran kursi taksi yang saya naiki menuju Stasiun Gambir, si bapak supir bertanya pada saya.

S: "Mas muslim?"
D: "Iya Pak"
S: "Oh saya kira non muslim, makanya tadi saya matikan radio ngaji nya"
D: "......." *senyum* sambil membatin "Masya Allah, begitu kerennya Bapak ini, sepanjang jalan mencari penumpang mobilnya dihiasi lantunan Al Qur'an dan begitu dapat penumpang yang dia kira bukan Muslim, dia matikan agar tidak mengganggu"
S: "Saya nyalain lagi ya Mas" pinta si Bapak dengan hormat, setelah saya mengangguk si Bapak menyalakan lagi radio nya.

Saya lagi melihat keluar ketika tiba tiba Bapak tersebut bicara, Beliau melantunkan dengan fasih sepotong ayat dari Al Qur'an. Surat Yasin ayat 82

“Inama Amruhu Idza Arada Sya’ian An Yaqula Lahu Kun Fayakun”

Lalu dilanjutkan dengan artinya

“Sesungguhnya bilamana Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah..”

Saya kurang paham kenapa si Bapak ini tetiba mengutip ayat tersebut, sebab tilawah yang sedang diputar dalam taksi tersebut tidak sedang berada di surat Yasin. Mungkin dia lihat muka saya sedang khawatir, atau mungkin sedang ingin saja iseng. 

Lalu si Bapak ini meneruskan sambil tetap mengemudikan taksinya di tengah jalanan yang padat. Beliau bilang "Mas, kita ini kan makhluk. Nah yang namanya makhluk, seperti di ayat yang saya bacakan tadi, ndak semestinya terlalu kemrungsung dan kuatir. Atau menyesali hal hal yang telah terjadi. Kecuali kalau kita teledor, males, terus ada takdir buruk mengenai kita, mungkin kita akan menyesal. Tapi kalau kita udah berusaha, sudah ikhtiar, maka hal baik dan buruk yang terjadi ya memang karena sudah takdirnya harus terjadi". Cerita itu disambung beliau dengan beberapa contoh takdir takdir yang bisa terjadi dalam hidup. Sepanjang tausiyah ini saya cuman manggut manggut, sambil sesekali merespon membenarkan apa yang si Bapak katakan.

Taksi sandar di Gambir, saya membayar, mengucap salam dan mendoakan semoga hari ini laris taksinya. Saya turun melangkah kedalam stasiun sambil tersenyum. Saya yakin yang barusan itu bukan kebetulan, tempat dan waktu saya memanggil taksi, kecepatan taksi menuju lokasi saya, peluang taksi tersebut dihentikan penumpang lain sebelum saya, itu semua telah diatur oleh Allah SWT agar saya sempat mendengarkan tausiyah singkat barusan. Ini saya pandang sebagai cara Allah SWT mengingatkan saya dan menenangkan saya atas pilihan pilihan yang mungkin muncul di hari hari kedepan. Dan untuk meyakinkan saya bahwa sesungguhnya, bilamana Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah. :)))) Terimakasih Bapak taksi yang baik!!! :D

Tuesday, June 24, 2014

Jokowi dan Amanah

Akhir akhir ini saya menemui penyempitan makna yang dialami oleh kata amanah. Seperti yang dulu sering kita pelajari di sekolah dasar, kata amanah akhir akhir ini sedang mengalami nasib yang sama seperti kata ulama, sarjana, madrasah dan sejenisnya. Sengaja atau tidak, jika dikaitkan dengan Jokowi makna amanah seakan akan terbatas pada “Menghabiskan masa jabatan sesuai dengan jangka waktu periode dia dilantik”. Maka tidak heran ketika Jokowi memutuskan maju sebagai Calon Presiden RI label tidak amanah dengan telak menempel didahi beliau, yang memang senantiasa terekspose sebagai konsekuensi gaya rambut belah samping.

Adapun beberapa pengertian amanah yang saya temukan adalah sebagai berikut:
  • Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan, “Amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain untuk dipelihara dan dikembalikan bila tiba saatnya atau bila diminta oleh pemiliknya.”

  • Menurut Muhammad Abduh, “Amanah adalah  menyampaikan hak apa saja kepada pemiliknya, tidak mengambil sesuatu melebihi haknya dan tidak mengurangi hak orang lain, baik berupa harga maupun jasa. Amanah merupakan hak bagi orang yang memlikul beban yang berkaitan dengan hak orang lain untuk menunaikannya karena menyampaikan amanah.”


Jika kita lihat argumen dari dua sosok yang memiliki kapabilitas dalam bidang agama diatas, selain dalam dimensi waktu, amanah harus pula memenuhi karakter memelihara dan tidak menyalahgunakan kepercayaan selama amanah tersebut dititipkan.  Artinya, memenuhi karakter pemimpin amanah tidak cukup sekedar menghabiskan masa bakti.

Jika definisi pemimpin amanah sekedar pemimpin yang menghabiskan masa bakti, betapa beruntungnya Indonesia. Begitu banyak contoh pemimpin di Indonesia yang ngotot ingin menyelesaikan masa baktinya hingga dia menghalalkan berbagai cara. Bahkan kita punya contoh pemimpin yang enggan menanggalkan jabatannya meskipun telah divonis bersalah dan telah mendekam di dalam bui. Fakta bahwa begitu banyak pemimpin negeri ini yang menyelesaikan masa bakti sesuai dengan jangka waktu dia dilantik namun minim prestasi, terjerat kasus, dan membangun dinasti politik membuat saya ingin menarik kesimpulan, bahwa label pemimpin amanah perlu mempertimbangkan aspek aspek yang lebih substantif dari sekedar menghabiskan masa jabatan tepat waktu.

Hal kedua yang membuat saya berpikir bahwa melabeli seorang pemimpin amanah atau tidak amanah perlu melihat lebih dari sekedar ketuntasan masa bakti adalah tentang peran seorang pemimpin itu sendiri dalam masyarakat. Seorang yang telah dikenal dan dipercaya memiliki kapabilitas dan kredibilitas dalam jejak langkahnya akan sangat kecil kemungkinan terlepas dari amanah. Maka, ketika dia mengambil jabatan atau fungsi baru ditengah masyarakat, besar kemungkinan dia terpaksa tidak bisa menyelesaikan masa baktinya. Lalu bisakah serta merta kita katakana dia tidak amanah? Tentu tidak bijak rasanya bila itu kita lakukan teman teman.

Sebagai contoh adalah salah satu Gubernur dengan beragam penghargaan di Indonesia, Ahmad Heryawan. Beliau adalah orang yang sampai detik detik akhir terdengar akan dicalonkan sebagai cawapres oleh salah satu calon dalam pilpres 2014. Padahal kita sama sama tahu, beliau baru saja terpilih untuk memimpin Jawa Barat dalam masa bakti 2013-2018. Jikalau beliau maju pada Pilpres 2014 ini, akankah kita langsung serta merta labeli beliau sebagai pemimpin yang tidak amanah? Tentu tindakan tersebut akan terasa tidak tepat, setidaknya bagi beberapa golongan orang yang sekarang terdepan melabeli Jokowi sebagai pemimpin tidak amanah :p #ihik

Justru menjadi aneh apabila kita mempercayakan suatu jabatan atau fungsi vital dalam masyarakat kepada orang yang sama sekali tidak sedang memegang amanah. Kita wajib pertanyakan “Orang ini ngapain aja? Kenapa nggak ada orang yang memberikan kepercayaan pada dia? Ada apa dengan track recordnya?”. Orang yang hanya berdiam dalam masyarakat, padahal dia tahu punya potensi besar untuk berkontribusi ditengah masyarakat, namun memilih diam tidak mengambil peran penting, tentu ada yang harus dipertanyakan dari orang tersebut.

Jokowi, dengan segala kekurangan dan kelebihannya telah mewarnai catatan kepemimpinannya dengan terobosan dan gagasan gagasan baru. Beberapa gagasan dan terobosan beliau berujung pada penghargaan baik nasional maupun internasional. Daftar penghargaan ini tidak sulit teman teman temukan dengan meluangkan waktu barang satu dua menit untuk browsing. Institusi yang memberikan penghargaan pun bukan institusi main main, beberapa memiliki reputasi internasional. Dan yang paling penting, tidak sekalipun Jokowi tersangkut kasus hukum ketika dia diberikan sebuah jabatan publik.

Bagaimana dengan kekurangan dan kritik yang muncul selama Jokowi menjabat sebagai pemimpin? Seperti yang pernah saya katakan, pemimpin yang banyak berkarya, pasti banyak dikritik. Sebab sudah takdirnya bahwa karya akan identik dengan ketidaksempurnaan. Ingin sepi dari kritik? Mudah, duduk manis saja, jangan berkarya, dan gencarlah bikin iklan selama bertahun tahun dengan dana yang fantastis. Kritik secara berimbang tentu perlu agar dijadikan catatan, namun ketika kita tutup mata dan hanya melihat kekurangan, niscaya semua pemimpin akan terlihat buruk.

Maka teman teman, kembali saya ingatkan, sebelum terlalu dini memberikan label “pengkhianat”, “tidak amanah”, “penipu” kepada seorang pemimpin, tariklah nafas dulu dalam dalam, berikan otak kesempatan untuk berpikir jernih. Mari melihat lebih luas aspek aspek dalam kepemimpinan yang layak ditinjau sebagai standar menilai tingkat ke-amanah-an seorang pemimpin. Jika kita sepakat bahwa bersih, berprestasi dan berkarya selama dia menjabat adalah standar yang bisa kita jadikan tolok ukur dalam menilai tingkat keamanahan seorang pemimpin, rasa rasanya sulit untuk mentah mentah mengatakan bahwa Jokowi tidak amanah.

Sumber:

  • Pendapat Quraish Shihab diambil dari:  http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/01/29/mhdoai-amanah-terbesar

Saturday, June 21, 2014

Soal Diuji dan Diujo

Gusti Allah itu memberi cobaan pada hamba nya bisa dalam dua bentuk. Bisa diuji, bisa diujo (dilimpahi kenikmantan).

Nabi Ayub itu diuji, Fir'aun itu diujo. Nabi Ayub selamat, Fir'aun binasa.

Ya Gusti Allah, Engkau Maha Melihat aib hambamu. Jika engkau buka aib-aibku, niscaya bercermin pun aku ragu.

Dan denganpun semua kesalahan itu, Engkau masih berikan aku nikmat yang berlimpah limpah. Ya Allah, golongkan hamba kedalam golongan hambamu yang mahir bersyukur dan tidak melampaui batas. Ya Allah, masukkan hamba kedalam golongan orang orang yang gemar bertaubat, memohon ampunan kepadaMu.

Amin