Bola ditempatkan di titik putih, algojo yang dipercaya adalah Firman Utina kapten sekaligus salah satu pemain senior dalam Timnas Garuda. Detik paling menegangkan terjadi, jutaan pasang mata masyarakat Indonesia melihat lekat-lekat pada sang eksekutor. Dan, peluit pun ditiup dengan cepat eksekutor bergerak. Hap! Bola placing yang sebenarnya cukup akurat, ternyata tidak cukup kuat untuk menggetarkan jala Khairul Fahmi. Penjaga gawang Harimau Malaya yang malam itu tampil begitu gemilang.
Momentum awal itu seakan menjadi awal bagi pertanda buruk, bahwa malam itu tampaknya bukan malam bagi Indonesia untuk merayakan tahta superioritas sepakbola Asia Tenggara. Bicara mengenai momentum pertandingan yang berkesudahan dengan angka 2-1 kegagalan Firman ini memang berpengaruh besar. Mungkin, jika eksekusi itu bisa dilaksanakan dengan manis hasil bisa lain cerita. Inilah momentum, dia terjadi dalam waktu yang singkat bisa hitungan menit atau bahkan detik, namun apa yang membedakan kesuksesan dalam memanfaatkan momentum tersebut?
Ternyata kesuksesan dalam mengambil momentum itu tidak sesederhana yang terlihat. Keberhasilan atau kegagalan dalam memanfaatkanya bukan ditentukan dalam hitungan detik. Melainkan dari ratusan bahkan ribuan hari yang dilalui sebelumnya. Artinya ada sedikitnya dua hal yang dibutuhkan untuk memanfaatkan momentum tersebut yaitu kesiapan dan kesempatan. Masalah kesempatan, bukan semata dengan menunggu hadirnya kesempatan namun juga dengan menciptakanya. Sedangkan bicara tentang kesiapan dalam hal ini perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang profesional menjadi syarat mutlak.
Bicara tentang kesempatan mungkin kita lebih banyak bicara pada faktor-faktor pada saat pertandingan dimulai. Maka mari kita lebih banyak bicara soal kesiapan. Sudah sejauh apa PSSI selaku institusi Induk persepakbolaan Indonesia melakukan persiapan bagi Timnas Indonesia. Persiapan suatu Tim nasional pada tataran pemain senior adalah terkait dengan bagaimana Timnas dalam waktu yang singkat dapat melakukan pembentukan tim yang solid dengan melakukan proses screening dan seleksi yang ketat dengan melibatkan seluruh pemain profesional yang tersebar di berbagai klub di Indonesia. Untuk poin ini, tampaknya PSSI telah menyiapkan Tim yang cukup solid. Di tim AFF 2010 ini nama-nama pemain muda dan senior telah dapat dipadukan dengan baik di bawah kepemimpinan Firman Utina.
Namun, jika kita bicara soal kesiapan yang jauh ke belakang. Ternyata PSSI belum melakukan pembinaan yang optimal dalam tataran klub. Sebab sejatinya klub lah yang menjadi kawah bagi pembinaan pemain nasional. Menilik juara dunia lima kali, Brasil maka konsistensi dari prestasi tim ini hingga diakui sebagai negara sepak bola adalah karena banyak dari pemainya yang mencicipi kompetisi dunia di berbagai klub sepakbola ternama. Sedangkan kita, jangankan pengalaman internasional, atmosfer liga yang ada di Indonesia belum terasa profesional sekarang.
Nah dalam pengkondisian atmosfer liga yang kondusif inilah PSSI seharusnya mengambil peran. Peran tersebut terutama terkait dengan pengetatan regulasi pertandingan, pengaturan jadwal hingga ke aturan-aturan yang mendorong peningkatan profesionalitas tim peserta Indonesian Super League. Dengan melakukan langkah-langkah kongkrit seperti pembagian dana tiket penonton yang jelas, pembuatan regulasi tentang pemain binaan tim sebagai syarat mengikuti liga dan struktur pendanaan tim yang jelas, maka perkembangan sepak bola di Indonesia akan lebih terarah dan terpantau.
Dengan menyelenggarakan liga dengan atmosfir yang kondusif pula, maka dengan sendirinya pembinaan usia dini akan tersentuh. Jika kita mau menilik negara-negara yang konsisten menunjukkan prestasi di tingkat internasional, maka kita akan mendapati fakta bahwa negara tersebut rata-rata memiliki tim dengan akademi sepakbola yang luar biasa. Sebutlah Spanyol yang punya La Mansia (Barcelona FC), atau Belanda yang memiliki akademi sepakbola Ajax yang elit, dan bolehlah kita menengok Jerman dimana akademi sepakbola dari tim Bayer Munchen selalu konsisten melahirkan bintang-bintang besar.
Pembinaan usia dini yang ideal juga harus dengan menyelenggarakan liga usia muda dengan konsisten. Sehingga bibit-bibit unggulan dapat termonitor sejak awal dan dapat dibina dengan lebih intensif, sehingga pada saat dewasa nanti mereka telah mendapatkan sense untuk bermain di tingkat Internasional mewakili negaranya. Pengembangan ini tentu bukan pengembangan yang mudah semudah membalikkan tangan, namun dengan arahan yang jelas maka kualitas tim nasional Indonesia akan meningkat secara signifikan. Semoga momentum kekalahan di piala AFF 2010 ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak.
Thursday, December 30, 2010
Dale Carniage : Bagaimana Memenangkan Teman dan Mempengaruhi Orang Lain
Dalam postingan kali ini saya mau ngebagi apa yang saya dapet dari Ilvan, dalam sebuah acara studi pustaka di PPSDMS.
Dari banyak hal yang saya dapet dari bedah buku dengan judul dia atas, berikut adalah beberapa hal aplikatif yang dapet kita terapkan dengan mudah
Berikut adalah Enam Cara untuk Membuat Orang Menyukai Anda :
1. Prinsip 1: Bersungguh-Sungguhlah dalam menaruh minat pada orang lain. Lakukan sesuatu dengan tingkat keantusiasan yang tinggi. Artinya tunjukkan, bahwa sebelum menginginkan orang lain mencintai kita adalah dengan terlebih dahulu mencintai orang tersebut.
2. Prinsip 2: Tersenyumlah. Orang sekacau apapun akan terlihat keren saat tersenyum.
3. Prinsip 3: Ingatlah bahwa mengingat nama adalah suara termanis dalam bahasa berinteraksi.
4. Prinsip 4: Be agood listener
5. Prinsip 5: Rangsang orang lain untuk bercerita dengan dirinya.
6. Prinsip 6: Bicara dalam bidang yang orang lain merasa tertarik. Buat orang lain merasa penting dan lakukan dengan tulus.
Demikian adalah cara-cara yang bisa membuat orang merasa nyaman dan senang berkomunikasi dengan anda. Selamat Mencoba!!
Dari banyak hal yang saya dapet dari bedah buku dengan judul dia atas, berikut adalah beberapa hal aplikatif yang dapet kita terapkan dengan mudah
Berikut adalah Enam Cara untuk Membuat Orang Menyukai Anda :
1. Prinsip 1: Bersungguh-Sungguhlah dalam menaruh minat pada orang lain. Lakukan sesuatu dengan tingkat keantusiasan yang tinggi. Artinya tunjukkan, bahwa sebelum menginginkan orang lain mencintai kita adalah dengan terlebih dahulu mencintai orang tersebut.
2. Prinsip 2: Tersenyumlah. Orang sekacau apapun akan terlihat keren saat tersenyum.
3. Prinsip 3: Ingatlah bahwa mengingat nama adalah suara termanis dalam bahasa berinteraksi.
4. Prinsip 4: Be agood listener
5. Prinsip 5: Rangsang orang lain untuk bercerita dengan dirinya.
6. Prinsip 6: Bicara dalam bidang yang orang lain merasa tertarik. Buat orang lain merasa penting dan lakukan dengan tulus.
Demikian adalah cara-cara yang bisa membuat orang merasa nyaman dan senang berkomunikasi dengan anda. Selamat Mencoba!!
Monday, December 27, 2010
Revolusi Beludru, Refleksi Keterampilan Seorang Pemimpin Perubahan

Vaclav Havel
Apa yang temen-temen dengar saat mendengar kata komunis? genangan darah? palu arit? tangan besi? diktator? mungkin itu adalah sederet kata-kata seram yang akan menjadi penyanding bagi kata komunis. Maka wajar, ketika komunis telah menjadi rezim, diperlukan suatu gerakan yang bersifat pemberangusan total untuk mengenyahkanya. Pemberangusan yang bukan hanya menyangkut pemimpin, namun juga simpatisan, kader, dan bahkan ideologi. Pemberangusan ini seringkali meninggalkan luka sejarah yang dalam, lebih lanjut melahirkan generasi yang bimbang atas menyikapi sebuah perbedaan ideologi.
Seperti sejarah mengajarkan tentang luka, sejarah juga mengajarkan kita tentang kebaikan, dan kebijaksanaan. Di belahan bumi Eropa, sejarah pernah mencatatkan nama seorang pemimpin yang telah berhasil melawan rezim komunis tanpa pertumpahan darah, Vaclav Havel. Vaclav Havel lahir pada 5 Oktober 1936 di Praha Cekoslowakia. Terlahir di kota yang sebelum penguasaan rezim komunis menjadi pusat peradaban di Eropa, dengan Universitas Praha yang begitu terkenal. Havel menjadi saksi betapa rezim komunis yang totaliter telah menggerus negeri yang dia cintai Cekoslowakia. Terlahir di keluarga yang berada, Havel mengalami sendiri bagaimana rezim komunis merampas kekayaan pribadi keluarganya dan menjadikannya sebagaimana warga yang lain. Serba teratur, tertakar dan tertindas. Toh fakta ini tidak membuat havel menyimpan bara dendam terhadap rezim komunis.
Havel adalah seorang sastrawan, mungkin latar belakang ini juga yang membuatnya mewarnai gerakan secara sangat menyentuh. Bukan dengan fisik atau bentrokan berdarah, bukan melalui gerakan-gerakan yang bersifat pelampiasan terhadap keterpurukan. Namun lebih jauh, Havel mengajak rakyat Cekoslowakia untuk bukan hanya melawan rezim komunis, namun juga bertanggung-jawab atas keterpurukan yang kini mereka hadapi. Artinya semangat yang dibangun oleh Havel sejak awal bukan sekedar semangat impulsif yang bertujuan meruntuhkan kekuasaan atau kritik-kritik tajam yang tanpa tindak lanjut. Namun juga mempersiapkan untuk membangun sebuah semangat produktif untuk perbaikan setelah rezim tersebut runtuh. Havel menempatkan bahwa seluruh rakyat Cekoslowakia harus bertanggung jawab atas keterpurukan yang mereka sedang alami sendiri.
Semangat inilah yang terinternalisasi secara mengakar ke rakyat Cekoslowakia yang dibangun selama puluhan tahun sebelum akhirnya berubah dari gerakan moral menjadi gerakan politik. Dan Revolusi beludru pada tahun 1989 ini telah melahirkan suatu semangat perubahan baru yang tidak hanya segar, namun juga memberikan paradigma jangka panjang yang utuh. Terbukti ketika akhirnya negara ini terpecah menjadi dua negara Republik Ceko dan Slowakia (Slovakia). Perpecahan tersebut terjadi secara damai. Jauh dari kesan pertumpahan darah. Terlepas dari segala perbedaan pendapat yang ada diantara elit mereka, termasuh Havel sendiri pada saat itu.
Hingga kini revolusi ini berbuah manis, kedua negara berhasil eksis dengan indeks perkembangan manusia yang cukup membanggakan untuk negara yang pernah dijajah secara politik ini. Mereka menempati kasta teratas dalam HDI 2010 (Human Development Index), yaitu masuk dalam jajaran negara dengan titel Very High Human Development. Republik Ceko pada posisi 28 sedangkan Slovakia berada pada peringkat 31. Sebuah gambaran dari keberhasilan revolusi yang dilakukan secara utuh.
Dan dimanakah posisi bangsa ini teman? Kita ada di peringkat 108 dunia dan masuk dalam kategori Medium Human Development. Dengan berbagai konflik internal yang mewarnai perjalanan republik ini. Lalu haruskah kita berkecil hati dan sibuk mengeluh? Tidak teman, kalaupun sejarah mengajarkan pada kita bahwa negeri ini diwarnai dengan kisruh para elit, baik pergantian rezimnya atau dalam perjalanan pemerintahanya. Maka ini adalah peluang bagi kita untuk mengambil peran sebagai tokoh sejarah itu sendiri. Bukankah apa yang kita lakukan sekarang adalah sejarah untuk masa depan?
Menjadi individu yang bertanggung jawab atas keterpurukan adalah suatu posisi ideal yang bisa kita ambil dalam patahan sejarah bangsa ini teman. Mulailah berhenti sekedar mengeluhkan pemerintahan, baik Negara, Universitas, bahkan BEM sekalipun. Kalaupun kita melihat ada yang tidak beres dengan kepemimpinan di sekitar kita maka percayalah, kita bertanggung jawab pula atas ketidak-beresan itu. Vaclav Havel hanya satu diantara warga Cekoslowakia yang merasakan ketertindasan, yang membedakan dia dengan yang lain adalah dia tidak hanya mengeluh, namun juga membangun kerangka dan semangat perubahan yang utuh, serta secara nyata memobilisasi gerakan untuk mewujudkanya.
Sekian, semoga bermanfaat.
-Dwiki Drajat Gumilar-
Sunday, December 26, 2010
Semester ini bukan Semester Gua (Seperti Selalu)
Ini postingan saya bikin di tengah penantian sebelum ujian UAS terakhir di semester ini. Daripada bosen nunggu, nah saya memutuskan buat ngepos aja. Ahaha. Oke karena ini blog pribadi, maka suka-suka gua mau ngepos apaan. Nah di sini gua ceritanya mau curhat aja neh.
Hmmmmmhhh...semester ini bukan semester gua, seperti juga semester-semester sebelumnya di akhir semester 5 ini gua nggak ngrasa udah ngelakuin usaha maksimal, justru sebaliknya ini adalah semester dimana gua ngrasa hidup gua mengalami akselerasi negatif. Di semester ini ada beberapa kekalahan yang gua bersumpah akan gua jadikan pelecut untuk gal lagi melakukan kesalahan yang sama. Kekalahan pahit ini cuman sekali boleh terjadi!!!!
Kekalahan itu:
1. Menjadi kelompok dengan peringkat terendah di PPIC Games 2010.
2. Kekalahan sebagai kandidat ketua BEM FT 2011.
3. Kekalahan gua untuk mempertahankan IPS 3,5
Kegagalan-kegagalan ini cukup memukul buat gua, namun di satu sisi juga memberikan banyak evaluasi buat gua secara personal. Terutama dalam manajemen diri dan manajemen waktu dan personal. Gua ngrasa belum matang, dan ini bahaya karena waktu gua di UI udah ga lama lagi. Maka gua bener-bener jadiin liburan ini buat masa perbaikan. Semangat!!!
Hmmmmmhhh...semester ini bukan semester gua, seperti juga semester-semester sebelumnya di akhir semester 5 ini gua nggak ngrasa udah ngelakuin usaha maksimal, justru sebaliknya ini adalah semester dimana gua ngrasa hidup gua mengalami akselerasi negatif. Di semester ini ada beberapa kekalahan yang gua bersumpah akan gua jadikan pelecut untuk gal lagi melakukan kesalahan yang sama. Kekalahan pahit ini cuman sekali boleh terjadi!!!!
Kekalahan itu:
1. Menjadi kelompok dengan peringkat terendah di PPIC Games 2010.
2. Kekalahan sebagai kandidat ketua BEM FT 2011.
3. Kekalahan gua untuk mempertahankan IPS 3,5
Kegagalan-kegagalan ini cukup memukul buat gua, namun di satu sisi juga memberikan banyak evaluasi buat gua secara personal. Terutama dalam manajemen diri dan manajemen waktu dan personal. Gua ngrasa belum matang, dan ini bahaya karena waktu gua di UI udah ga lama lagi. Maka gua bener-bener jadiin liburan ini buat masa perbaikan. Semangat!!!
Kuncinya adalah Kompetitif
Well, sabtu kemarin saya dapet pelajaran yang cukup berharga dari salah satu acara di PPSDMS. Yaitu tentang bagaimana agar sesuatu bisa mendapat dukungan dari banyak orang dalam waktu yang singkat. Atau dengan kata lain, bagaimana membuat orang merasa bahwa apa yang kita perjuangkan merupakan bagian dari perjuangan mereka juga. Ternyata, suatu hal yang sederhana namun sering kita lupakan adalah kata kompetitif.
Maksudnya apa? Ya, selama ini saya selalu bertanya-tanya. Apa yang menjadikan begitu banyak orang mau untuk setia pada visi seorang pemimpin. Maka inilah kuncinya, pemimpin tersebut sanggup memperlihatkan karakter bahwa dia adalah yang terbaik diantara orang-orang yang ada. Sedari awal, para pemimpin ini bukan sekedar berani berkompetisi, namun juga berani untuk memenangkanya. Artinya mereka secara sadar membangun kapabilitas unbtuk itu. Bukan semata bergantung pada momentum dan kekuatan jamaah. Alih-alih bergantung, mereka justru menciptakan momentum dan menjadi tulang punggung dari jamaah yang kelak akan dipimpinya.
Era sekarang adalah era kompetisi, dimana segala sesuatu akan eksis berdasarkan seberapa besar kemampuanya untuk berkompetisi. Pola pikir rezimis tidak akan bertahan, baik di kampus maupun di luar kampus. Dan jujur saya muak dengan pola rezimis dan alur pemenangan "botol kecap". Pola yang selama ini sukses menjadi faktor utama dari penurunan kualitas gerakan kemahasiswaan.
Bukankah kualitas dibentuk oleh kompetisi? Dan kompetisi membutuhkan rival? Lalu mengapa selama ini yang saya lihat di kampus justru sikap permusuhan antar golongan politikus kampus? Bukankah ini adalah keegoisan? Bukankah seharusnya perbedaan ideologi membuat kita berlomba-lomba menghasilkan kader terbaik?
Maksudnya apa? Ya, selama ini saya selalu bertanya-tanya. Apa yang menjadikan begitu banyak orang mau untuk setia pada visi seorang pemimpin. Maka inilah kuncinya, pemimpin tersebut sanggup memperlihatkan karakter bahwa dia adalah yang terbaik diantara orang-orang yang ada. Sedari awal, para pemimpin ini bukan sekedar berani berkompetisi, namun juga berani untuk memenangkanya. Artinya mereka secara sadar membangun kapabilitas unbtuk itu. Bukan semata bergantung pada momentum dan kekuatan jamaah. Alih-alih bergantung, mereka justru menciptakan momentum dan menjadi tulang punggung dari jamaah yang kelak akan dipimpinya.
Era sekarang adalah era kompetisi, dimana segala sesuatu akan eksis berdasarkan seberapa besar kemampuanya untuk berkompetisi. Pola pikir rezimis tidak akan bertahan, baik di kampus maupun di luar kampus. Dan jujur saya muak dengan pola rezimis dan alur pemenangan "botol kecap". Pola yang selama ini sukses menjadi faktor utama dari penurunan kualitas gerakan kemahasiswaan.
Bukankah kualitas dibentuk oleh kompetisi? Dan kompetisi membutuhkan rival? Lalu mengapa selama ini yang saya lihat di kampus justru sikap permusuhan antar golongan politikus kampus? Bukankah ini adalah keegoisan? Bukankah seharusnya perbedaan ideologi membuat kita berlomba-lomba menghasilkan kader terbaik?
Subscribe to:
Posts (Atom)