Saturday, November 30, 2013

Mengapa Anies Baswedan?


Teman: “Kenapa sih Dwik dukung Anies Baswedan?”
Saya: “Karena Anies Baswedan pantas didukung”



Seminggu kemarin, lebih dari sekali saya mendapatkan pertanyaan serupa diatas. Pertanyaan pertanyaan itu mendorong saya untuk menulis pandangan saya mengapa Anies Baswedan adalah sosok yang perlu didukung untuk maju dalam perhelatan politik Indonesia tahun 2014 nanti. Semoga sedikit yang saya tuliskan ini dapat membantu menjawab rasa ingin tahu teman teman yang mungkin, memiliki pertanyaan yang sama. Selamat membaca

Saya pertama kali melihat secara langsung Pak Anies Baswedan menyampaikan orasi pada sebuah seminar kepemimpinan pada tahun 2010. Dalam acara tersebut Pak Anies bicara tentang daya saing bangsa, terutama terkait dengan kualitas pendidikan dan peran yang dapat diambil oleh generasi muda dalam mengatasi berbagai permasalahan bangsa.

Jujur saja, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk terkesan pada sosok beliau. Gaya penyampaian pendapat beliau yang terstruktur, logis, lugas dan disampaikan dalam bahasa yang sederhana membuat saya mengambil kesimpulan singkat saat itu. “Orang ini satu diantara sedikit tokoh yang paham apa yang pertama tama harus dibenahi dari bangsa ini.”

Sesudahnya, saya mencoba mencari tahu tentang Anies Baswedan. Dengan berjalannya waktu, beberapa alasan saya rasa cukup untuk mendukung Anies Baswedan menjadi Presiden Republik Indonesia pada tahun 2014.

Sosok Inspiratif

Ketika banyak pihak menuding apatisme sebagai akar masalah dari keterpurukan yang selama ini menghiasi berbagai halaman kehidupan bangsa Indonesia, Anies Baswedan menolak berhenti disitu. Dia mencari lebih jauh dan percaya bahwa masih banyak elemen bangsa yang memiliki animo dan semangat yang tinggi untuk berkontribusi mengatasi permasalahan pelik bangsa Indonesia.

Ketika salah satu gerakan yang dia inisiasi diluncurkan, saya mengernyitkan dahi. Indonesia Mengajar, mengirim anak anak terbaik Indonesia ke pelosok pelosok republik, ke daerah daerah terpencil yang sinyal telekomunikasi malas mampir untuk selama satu tahun menginspirasi, mengajar dan mewakili kehadiran negara untuk turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Siapa yang mau?

Faktanya saya salah, gerakan ini disambut penuh antusiasme oleh putra putri terbaik bangsa. Jumlahnya jauh melampaui kuota relawan yang sanggup diakomodir oleh tim Indonesia Mengajar sendiri, menjadikan Indonesia Mengajar sebagai salah satu gerakan sosial dengan tingkat kompetisi untuk bergabung paling kompetitif di Indonesia.

Bayangkan, bukan hanya bersedia, namun putra putri terbaik bangsa ini berlomba lomba untuk memberikan kontribusi terbaiknya. Dan tidak hanya berhenti disitu, semangat ini kemudian seperti virus yang menyebar luas menjangkiti anak anak muda untuk mulai memandang kontribusi terhadap bangsa ini memiliki banyak sekali pilihan selain diam, mengumpat dan mengeluh.

Dengan sambutan hangat atas beberapa gerakan lain yang diinisiasi oleh Anies Baswedan, seperti Indonesia Menyala, yang berfokus pada pendonasian buku buku untuk pendirian perpustakaan di pelosok Indonesia. Atau Kelas Inspirasi dimana ribuan orang dengan berbagai latar belakang diajak untuk selama sehari mengajar di sekolah Sekolah Dasar untuk bersama berbagi inspirasi dan menyelami langsung permasalahan pendidikan kita.  Menunjukkan bahwa Anies Baswedan bukan hanya memiliki ide segar dan kreatif untuk mengajak kita peduli terhadap permasalahan bangsa, namun juga memiliki kemampuan untuk menginspirasi orang lain untuk turut bergerak dan berkontribusi nyata.

Kemampuan beliau untuk mengajak kita untuk peduli dan turun tangan langsung dalam mengatasi persoalan persoalan bangsa, tidak lain karena beliau adalah sosok yang inspiratif. Seseorang yang mampu menjadikan kegelisahan dirinya menjadi kegelisahan bersama. Seorang yang mampu, dengan kredibilitas dan integritas yang dia jaga dan rawat sejak lama, memancarkan semangat dan optimisme pada orang disekitarnya untuk bergerak menyelesaikan permasalahan yang sudah lama ada di sekitar kita.

Saya tidak sabar dan tidak mau diam menunggu semangat ini menjadi semangat nasional, yang menggetarkan setiap hati bangsa Indonesia, setiap detak jantung putra putrid terbaik bangsa, untuk terus berbuat yang terbaik ditengah carut marut permasalahan dan tingginya gelombang pesimisme. Maka saya memilih untuk turun tangan memperkenalkan sosok dan gagasan Anies Baswedan kepada masyarakat luas. Agar sosok inspiratif ini dikenal lebih banyak orang dan mendorong lebih banyak orang untuk bergerak.

Totalitas dan Prestasi dalam Rekam Jejaknya

Sekarang mari sedikit berimajinasi, bayangkan anda adalah seorang pelatih sepak bola, yang diminta untuk memilih seorang pemain untuk dijadikan target transfer untuk dimasukkan dalam tim anda dan dijadikan pemain andalan satu musim kedepan. Anda dihadapkan pada berbagai pilihan, untuk setiap pilihan ada harga yang harus dibayar, serta ada resiko yang akan dipertimbangkan. Apa yang pertama tama akan anda lakukan?

Saya tidak memiliki pengalaman sebagai pelatih sepak bola, apalagi dihadapkan pada permasalahan pelik seperti yang tertuang diatas. Namun jika harus dihadapkan pada permasalahan diatas, salah satu langkah yang akan saya ambil adalah memeriksa rekam jejak dari pemain pemain yang saya jadikan kelompok target untuk dipilih. Apakah rekam jejak yang baik adalah jaminan seseorang tidak melakukan kesalahan kedepannya? Tentu tidak. Namun setidaknya ini membantu kita untuk mengurangi ketidak pastian dari sebuah pilihan. Ini membantu kita untuk mendapatkan gambaran pilihan terbaik dari berbagai kemungkinan pilihan yang ada.

Mari kita simak sedikit tentang rekam jejak Anies Baswedan, (dapat diakses lengkap di: http://aniesbaswedan.com/biografi-anies-baswedan)

1985- Anies Baswedan melalui pelatihan kepemimpinan bersama 300 ketua OSIS Se-Indonesia dipilih menjadi Ketua OSIS Se-Indonesia.

1987- Anies Baswedan terpilih menjadi peserta AFS, program pertukaran pelajar siswa Indonesia-Amerika. Selama satu tahun Anies tinggal di Mlwakuee, Wisconsin, Amerika Serikat.

1992- Terpilih menjadi Ketua Senat UGM. Anies memimpin senat UGM setelah organisasi kampus tersebut lama dibekukan oleh Orde Baru.

1993- Anies Baswedan mengikuti program musim panas di Sophia University, Jepang. Beasiswa oleh Japan Airlines Scholarship atau JAL Foundation.

1997- Mendapatkan beasiswa untuk studi master dalam bidang International Security and Economic Policy di University of Maryland, College Park.

1998- Sewaktu menempuh studi master, Anies Baswedan dianugerahi William P. Cole III Fellowship dari School of Public Policy, University of Maryland. Di tahun ini pula dia dianugrahi ASEAN Student Awards Program dari USAID-USIA-NAFSA

1999- Anies melanjutkan studinya setelah mendapat beasiswa program doctoral dari Northern Illinois University. Disertasi beliau tentang “Otonomi Daerah dan Pola Demokrasi di Indonesia”.

2004- meraih Gerald S. Maryanov Fellow dari Norhern Illinois University. Beasiswa untuk mahasiswa dengan prestasi dan integritas dalam pengembangan ilmu politik.

2007- Anies Baswedan menjadi rector termuda di Indonesia (38 tahun) saat dipilih menjadi Rektor Universitas Paramadina. Beliau menggagas pengajaran anti korupsi dengan membuat mata kuliah wajib anti korupsi.

2008- Terpilih sebagai satu satunya figure dari Indonesia dan Asia Tenggara yang masuk dalam daftar 100 intelektual dunia versi Majalah Foreign Policy.

2009- Mendirikan Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar. Gerakan ini mengirimkan anak-anak muda terbaik bangsa untuk mengajar di Sekolah Dasar di daerah daerah terpencil di Indonesia. Gerakan ini memilliki visi selain untuk mengisi kekurangan guru berkualitas di daerah juga untuk mencetak pemimpin pemimpin masa depan yang memiliki kompetensi global dan pemahaman akar rumput.

2010- Terpilih menjadi salah satu dari World’s 20 Future Figure dari Majalah Foresight. Yaitu 20 orang yang diprediksi akan mengubah dunia dalam dua puluh tahun yang akan datang.

2010- Ketika KPK diterpa kasus dugaan kriminalisasi dua pimpinannya, Bibid Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah. Anies Baswedan dipilih sebagai salah satu anggota Tim 8 untuk meneliti kasus tersebut.

2010- Royal Islamic Strategic Centre, Yordania menempatkan Anies Baswedan sebagai salah satu dari 500 orang yang tergolong sebagai Muslim berpengaruh.

2011- Menggerakkan ratusan orang dan institusi untuk membentuk perpustakaan di daerah daerah melalu gerakan Indonesia Menyala.

2012- Mengajak ribuan orang di berbagai orang untuk mengorganisir dan mengajar selama satu hari di Sekolah Dasar. Mengajak mereka untuk bersama menyelami kondisi pendidikan di lapanngan dan turun tangan langsung untuk ambil bagian menyelesaikannya. Gerakan keren ini dikenal dengan nama Kelas Inspirasi.

Dari rekam jejak diatas kita bisa ambil beberapa kesimpulan. Kontribusi Anies Baswedan memiliki pola sama yang berulang ulang. Ketika diberikan kesempatan, Anies Baswedan selalu menunjukkan prestasi manis. Anies Baswedan bukan hanya peka terhadap permasalahan yang ada disekitar kita, namun mampu mengajak orang banyak untuk tidak berhenti pada mencetuskan ide, melainkan  mengeksekusi ide kreatif tersebut kedalam bentuk gerakan nyata.

Maka saya rasa tidak belebihan jika akhirnya banyak orang yang secara suka rela, tanpa iming iming materi, bersedia mendukung Anies Baswedan untuk berkontribusi lebih besar bagi bangsa ini. Untuk menjadikan gagasan-gagasan dia menjadi gagasan besar yang bisa menjadi bahan bakar langkah besar bangsa Indonesia. Rekam jejak Anies Baswedan yang telah digoreskan dalam lembaran kontribusinya membuat orang yakin untuk mulai melipat lengan baju dan mulai turun tangan.

Memilih Pemimpin ibarat Memilih Jodoh

Ahad lalu, KH. A. Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesatren Raudlatuh Tholibin, Rembang atau yang sering disapa Gus Mus melalui akun twitternya merangkai kata kata yang membuat saya tergelitik sekaligus mengangguk angguk dalam waktu yang sama. Kata Gus Mus “ Fatwa Ahad: Barangsiapa mencari isteri/suami yang sempurna tanpa cela, dia akan jomblo selamanya :) ”


Fakta bahwa jomblo mungkin telah menjadi permasalahan nasional sehingga tokoh sekaliber Gus Mus menyentil golongan ini dalam cuit nya tentu menarik untuk dibahas dilain kesempatan. Namun kita harus akui bahwa yang beliau sampaikan itu sangat masuk akal. Kita tidak akan mendapatkan pasangan yang sempurna tanpa cela, karena itu bukan fitrah manusia. Jika demikian adanya dengan jodoh, lalu bagaimana dengan pemimpin? Mungkinkah kita mendapatkan pemimpin yang sempurna tanpa cela?

Dalam hal ini pun saya berpendapat jika kita menunggu pemimpin yang sempurna tanpa cela, baik dari segi pribadi, kelompok yang mengusung, maupun mekanisme pencalonannya, maka kepemimpinan nasional kita akan senantiasa kering, sepi dan perih laksana perasaan hati seorang jomblo. Dan ekspektasi mendapatkan pemimpin yang sempurna tanpa cela juga pupuk mujarab bagi apatisme. Karena tidak ada yang sempurna tanpa cela, maka saya tidak memilih. Ini berbahaya menurut saya, kita semua tentu patah hati, pernah kecewa namun itu bukan alasan untuk berhenti mencintai (malah kesini nyambungnya).

Saya percaya bahwa kita tidak memerlukan pemimpin yang sempurna tanpa cela, kita tidak membutuhkan Superman. Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki komitmen dan integritas, dengan kedua hal itu, orang orang yang memiliki kompetensi dalam berbagai hal yang tidak dimiliki oleh sang calon pemimpin akan berbondong bondong memberikan sumbangsihnya untuk menutup kekurangan dan memberikan dorongan untuk tercapainya visi sang pemimpin. Komitmen dan integritas yang dimiliki oleh sang calon emimpin yang tak sempurna itu akan menjadi magnet yang menarik dukungan sukarela dari orang orang kompeten yang merasa memiliki mimpi dan visi yang sama.

Demikian saya menulis tulisan ini untuk menjelaskan pertanyaan sederhana mengapa saya mendukung Anies Baswedan untuk turun tangan melunasi janji kemerdekaan. Secara sederhana dapat saya katakan, melalui tulisan, orasi dan berbagai pernyataan beliau yang selama ini saya simak, saya merasa beliau adalah orang yang mengerti apa yang pertama tama harus dibenahi dari negara ini. Dengan mendalami sosok Anies Baswedan dan rekam jejaknya yang gemilang, telah membuat saya yakin dan terdorong untuk bersikap lebih dari diam dan sekedar simpati. Saya memilih untuk ikut turun tangan mendukung ide ide besar Anies Baswedan. Bagaimana dengan kamu?


Thursday, November 28, 2013

Kritik & Puji


Saya suka bingung kalau ada orang/lembaga/kelompok/golongan yang anti kritik. 

Atau bersikap kasar terhadap mereka yang mengkritik. Ketauhilah bahwa orang yang mengkritik anda itu telah:

1. Mempertaruhkan hubungan baik diantara kalian.
2. Mengambil resiko dari segala kritik yang dia keluarkan.

Demi semata mata memberiktahukan ada yang (setidaknya menurut kritikus tersebut) salah dengan perangai/karakter/tindakan/sudut pandang anda.

Sementara orang yang memuji-muji anda, apakah yang mereka pertaruhkan? Tidak sedikitpun mereka mempertaruhkan atau mengambil resiko atas sesuatu.

Mintalah perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa terhadap orang yang kerjanya memuja muji anda melulu, dalam keadaan apapun. 

Karena anda tidak tahu apa yang ada dalam qalbu nya. Qalbu itu ghaib maka berlindunglah atasnya pada yang Maha Berkuasa atas hal yang nyata dan yang ghaib.

Sekian, titik habis
Setiap manusia harusnya berguru pada embun pagi
Dia tau umurnya tak panjang, tapi menyempatkan diri memberi kesejukan

Friday, November 22, 2013

Fortes Fortuna Adiuvat

: )