Bola ditempatkan di titik putih, algojo yang dipercaya adalah Firman Utina kapten sekaligus salah satu pemain senior dalam Timnas Garuda. Detik paling menegangkan terjadi, jutaan pasang mata masyarakat Indonesia melihat lekat-lekat pada sang eksekutor. Dan, peluit pun ditiup dengan cepat eksekutor bergerak. Hap! Bola placing yang sebenarnya cukup akurat, ternyata tidak cukup kuat untuk menggetarkan jala Khairul Fahmi. Penjaga gawang Harimau Malaya yang malam itu tampil begitu gemilang.
Momentum awal itu seakan menjadi awal bagi pertanda buruk, bahwa malam itu tampaknya bukan malam bagi Indonesia untuk merayakan tahta superioritas sepakbola Asia Tenggara. Bicara mengenai momentum pertandingan yang berkesudahan dengan angka 2-1 kegagalan Firman ini memang berpengaruh besar. Mungkin, jika eksekusi itu bisa dilaksanakan dengan manis hasil bisa lain cerita. Inilah momentum, dia terjadi dalam waktu yang singkat bisa hitungan menit atau bahkan detik, namun apa yang membedakan kesuksesan dalam memanfaatkan momentum tersebut?
Ternyata kesuksesan dalam mengambil momentum itu tidak sesederhana yang terlihat. Keberhasilan atau kegagalan dalam memanfaatkanya bukan ditentukan dalam hitungan detik. Melainkan dari ratusan bahkan ribuan hari yang dilalui sebelumnya. Artinya ada sedikitnya dua hal yang dibutuhkan untuk memanfaatkan momentum tersebut yaitu kesiapan dan kesempatan. Masalah kesempatan, bukan semata dengan menunggu hadirnya kesempatan namun juga dengan menciptakanya. Sedangkan bicara tentang kesiapan dalam hal ini perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang profesional menjadi syarat mutlak.
Bicara tentang kesempatan mungkin kita lebih banyak bicara pada faktor-faktor pada saat pertandingan dimulai. Maka mari kita lebih banyak bicara soal kesiapan. Sudah sejauh apa PSSI selaku institusi Induk persepakbolaan Indonesia melakukan persiapan bagi Timnas Indonesia. Persiapan suatu Tim nasional pada tataran pemain senior adalah terkait dengan bagaimana Timnas dalam waktu yang singkat dapat melakukan pembentukan tim yang solid dengan melakukan proses screening dan seleksi yang ketat dengan melibatkan seluruh pemain profesional yang tersebar di berbagai klub di Indonesia. Untuk poin ini, tampaknya PSSI telah menyiapkan Tim yang cukup solid. Di tim AFF 2010 ini nama-nama pemain muda dan senior telah dapat dipadukan dengan baik di bawah kepemimpinan Firman Utina.
Namun, jika kita bicara soal kesiapan yang jauh ke belakang. Ternyata PSSI belum melakukan pembinaan yang optimal dalam tataran klub. Sebab sejatinya klub lah yang menjadi kawah bagi pembinaan pemain nasional. Menilik juara dunia lima kali, Brasil maka konsistensi dari prestasi tim ini hingga diakui sebagai negara sepak bola adalah karena banyak dari pemainya yang mencicipi kompetisi dunia di berbagai klub sepakbola ternama. Sedangkan kita, jangankan pengalaman internasional, atmosfer liga yang ada di Indonesia belum terasa profesional sekarang.
Nah dalam pengkondisian atmosfer liga yang kondusif inilah PSSI seharusnya mengambil peran. Peran tersebut terutama terkait dengan pengetatan regulasi pertandingan, pengaturan jadwal hingga ke aturan-aturan yang mendorong peningkatan profesionalitas tim peserta Indonesian Super League. Dengan melakukan langkah-langkah kongkrit seperti pembagian dana tiket penonton yang jelas, pembuatan regulasi tentang pemain binaan tim sebagai syarat mengikuti liga dan struktur pendanaan tim yang jelas, maka perkembangan sepak bola di Indonesia akan lebih terarah dan terpantau.
Dengan menyelenggarakan liga dengan atmosfir yang kondusif pula, maka dengan sendirinya pembinaan usia dini akan tersentuh. Jika kita mau menilik negara-negara yang konsisten menunjukkan prestasi di tingkat internasional, maka kita akan mendapati fakta bahwa negara tersebut rata-rata memiliki tim dengan akademi sepakbola yang luar biasa. Sebutlah Spanyol yang punya La Mansia (Barcelona FC), atau Belanda yang memiliki akademi sepakbola Ajax yang elit, dan bolehlah kita menengok Jerman dimana akademi sepakbola dari tim Bayer Munchen selalu konsisten melahirkan bintang-bintang besar.
Pembinaan usia dini yang ideal juga harus dengan menyelenggarakan liga usia muda dengan konsisten. Sehingga bibit-bibit unggulan dapat termonitor sejak awal dan dapat dibina dengan lebih intensif, sehingga pada saat dewasa nanti mereka telah mendapatkan sense untuk bermain di tingkat Internasional mewakili negaranya. Pengembangan ini tentu bukan pengembangan yang mudah semudah membalikkan tangan, namun dengan arahan yang jelas maka kualitas tim nasional Indonesia akan meningkat secara signifikan. Semoga momentum kekalahan di piala AFF 2010 ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak.
Thursday, December 30, 2010
Dale Carniage : Bagaimana Memenangkan Teman dan Mempengaruhi Orang Lain
Dalam postingan kali ini saya mau ngebagi apa yang saya dapet dari Ilvan, dalam sebuah acara studi pustaka di PPSDMS.
Dari banyak hal yang saya dapet dari bedah buku dengan judul dia atas, berikut adalah beberapa hal aplikatif yang dapet kita terapkan dengan mudah
Berikut adalah Enam Cara untuk Membuat Orang Menyukai Anda :
1. Prinsip 1: Bersungguh-Sungguhlah dalam menaruh minat pada orang lain. Lakukan sesuatu dengan tingkat keantusiasan yang tinggi. Artinya tunjukkan, bahwa sebelum menginginkan orang lain mencintai kita adalah dengan terlebih dahulu mencintai orang tersebut.
2. Prinsip 2: Tersenyumlah. Orang sekacau apapun akan terlihat keren saat tersenyum.
3. Prinsip 3: Ingatlah bahwa mengingat nama adalah suara termanis dalam bahasa berinteraksi.
4. Prinsip 4: Be agood listener
5. Prinsip 5: Rangsang orang lain untuk bercerita dengan dirinya.
6. Prinsip 6: Bicara dalam bidang yang orang lain merasa tertarik. Buat orang lain merasa penting dan lakukan dengan tulus.
Demikian adalah cara-cara yang bisa membuat orang merasa nyaman dan senang berkomunikasi dengan anda. Selamat Mencoba!!
Dari banyak hal yang saya dapet dari bedah buku dengan judul dia atas, berikut adalah beberapa hal aplikatif yang dapet kita terapkan dengan mudah
Berikut adalah Enam Cara untuk Membuat Orang Menyukai Anda :
1. Prinsip 1: Bersungguh-Sungguhlah dalam menaruh minat pada orang lain. Lakukan sesuatu dengan tingkat keantusiasan yang tinggi. Artinya tunjukkan, bahwa sebelum menginginkan orang lain mencintai kita adalah dengan terlebih dahulu mencintai orang tersebut.
2. Prinsip 2: Tersenyumlah. Orang sekacau apapun akan terlihat keren saat tersenyum.
3. Prinsip 3: Ingatlah bahwa mengingat nama adalah suara termanis dalam bahasa berinteraksi.
4. Prinsip 4: Be agood listener
5. Prinsip 5: Rangsang orang lain untuk bercerita dengan dirinya.
6. Prinsip 6: Bicara dalam bidang yang orang lain merasa tertarik. Buat orang lain merasa penting dan lakukan dengan tulus.
Demikian adalah cara-cara yang bisa membuat orang merasa nyaman dan senang berkomunikasi dengan anda. Selamat Mencoba!!
Monday, December 27, 2010
Revolusi Beludru, Refleksi Keterampilan Seorang Pemimpin Perubahan

Vaclav Havel
Apa yang temen-temen dengar saat mendengar kata komunis? genangan darah? palu arit? tangan besi? diktator? mungkin itu adalah sederet kata-kata seram yang akan menjadi penyanding bagi kata komunis. Maka wajar, ketika komunis telah menjadi rezim, diperlukan suatu gerakan yang bersifat pemberangusan total untuk mengenyahkanya. Pemberangusan yang bukan hanya menyangkut pemimpin, namun juga simpatisan, kader, dan bahkan ideologi. Pemberangusan ini seringkali meninggalkan luka sejarah yang dalam, lebih lanjut melahirkan generasi yang bimbang atas menyikapi sebuah perbedaan ideologi.
Seperti sejarah mengajarkan tentang luka, sejarah juga mengajarkan kita tentang kebaikan, dan kebijaksanaan. Di belahan bumi Eropa, sejarah pernah mencatatkan nama seorang pemimpin yang telah berhasil melawan rezim komunis tanpa pertumpahan darah, Vaclav Havel. Vaclav Havel lahir pada 5 Oktober 1936 di Praha Cekoslowakia. Terlahir di kota yang sebelum penguasaan rezim komunis menjadi pusat peradaban di Eropa, dengan Universitas Praha yang begitu terkenal. Havel menjadi saksi betapa rezim komunis yang totaliter telah menggerus negeri yang dia cintai Cekoslowakia. Terlahir di keluarga yang berada, Havel mengalami sendiri bagaimana rezim komunis merampas kekayaan pribadi keluarganya dan menjadikannya sebagaimana warga yang lain. Serba teratur, tertakar dan tertindas. Toh fakta ini tidak membuat havel menyimpan bara dendam terhadap rezim komunis.
Havel adalah seorang sastrawan, mungkin latar belakang ini juga yang membuatnya mewarnai gerakan secara sangat menyentuh. Bukan dengan fisik atau bentrokan berdarah, bukan melalui gerakan-gerakan yang bersifat pelampiasan terhadap keterpurukan. Namun lebih jauh, Havel mengajak rakyat Cekoslowakia untuk bukan hanya melawan rezim komunis, namun juga bertanggung-jawab atas keterpurukan yang kini mereka hadapi. Artinya semangat yang dibangun oleh Havel sejak awal bukan sekedar semangat impulsif yang bertujuan meruntuhkan kekuasaan atau kritik-kritik tajam yang tanpa tindak lanjut. Namun juga mempersiapkan untuk membangun sebuah semangat produktif untuk perbaikan setelah rezim tersebut runtuh. Havel menempatkan bahwa seluruh rakyat Cekoslowakia harus bertanggung jawab atas keterpurukan yang mereka sedang alami sendiri.
Semangat inilah yang terinternalisasi secara mengakar ke rakyat Cekoslowakia yang dibangun selama puluhan tahun sebelum akhirnya berubah dari gerakan moral menjadi gerakan politik. Dan Revolusi beludru pada tahun 1989 ini telah melahirkan suatu semangat perubahan baru yang tidak hanya segar, namun juga memberikan paradigma jangka panjang yang utuh. Terbukti ketika akhirnya negara ini terpecah menjadi dua negara Republik Ceko dan Slowakia (Slovakia). Perpecahan tersebut terjadi secara damai. Jauh dari kesan pertumpahan darah. Terlepas dari segala perbedaan pendapat yang ada diantara elit mereka, termasuh Havel sendiri pada saat itu.
Hingga kini revolusi ini berbuah manis, kedua negara berhasil eksis dengan indeks perkembangan manusia yang cukup membanggakan untuk negara yang pernah dijajah secara politik ini. Mereka menempati kasta teratas dalam HDI 2010 (Human Development Index), yaitu masuk dalam jajaran negara dengan titel Very High Human Development. Republik Ceko pada posisi 28 sedangkan Slovakia berada pada peringkat 31. Sebuah gambaran dari keberhasilan revolusi yang dilakukan secara utuh.
Dan dimanakah posisi bangsa ini teman? Kita ada di peringkat 108 dunia dan masuk dalam kategori Medium Human Development. Dengan berbagai konflik internal yang mewarnai perjalanan republik ini. Lalu haruskah kita berkecil hati dan sibuk mengeluh? Tidak teman, kalaupun sejarah mengajarkan pada kita bahwa negeri ini diwarnai dengan kisruh para elit, baik pergantian rezimnya atau dalam perjalanan pemerintahanya. Maka ini adalah peluang bagi kita untuk mengambil peran sebagai tokoh sejarah itu sendiri. Bukankah apa yang kita lakukan sekarang adalah sejarah untuk masa depan?
Menjadi individu yang bertanggung jawab atas keterpurukan adalah suatu posisi ideal yang bisa kita ambil dalam patahan sejarah bangsa ini teman. Mulailah berhenti sekedar mengeluhkan pemerintahan, baik Negara, Universitas, bahkan BEM sekalipun. Kalaupun kita melihat ada yang tidak beres dengan kepemimpinan di sekitar kita maka percayalah, kita bertanggung jawab pula atas ketidak-beresan itu. Vaclav Havel hanya satu diantara warga Cekoslowakia yang merasakan ketertindasan, yang membedakan dia dengan yang lain adalah dia tidak hanya mengeluh, namun juga membangun kerangka dan semangat perubahan yang utuh, serta secara nyata memobilisasi gerakan untuk mewujudkanya.
Sekian, semoga bermanfaat.
-Dwiki Drajat Gumilar-
Sunday, December 26, 2010
Semester ini bukan Semester Gua (Seperti Selalu)
Ini postingan saya bikin di tengah penantian sebelum ujian UAS terakhir di semester ini. Daripada bosen nunggu, nah saya memutuskan buat ngepos aja. Ahaha. Oke karena ini blog pribadi, maka suka-suka gua mau ngepos apaan. Nah di sini gua ceritanya mau curhat aja neh.
Hmmmmmhhh...semester ini bukan semester gua, seperti juga semester-semester sebelumnya di akhir semester 5 ini gua nggak ngrasa udah ngelakuin usaha maksimal, justru sebaliknya ini adalah semester dimana gua ngrasa hidup gua mengalami akselerasi negatif. Di semester ini ada beberapa kekalahan yang gua bersumpah akan gua jadikan pelecut untuk gal lagi melakukan kesalahan yang sama. Kekalahan pahit ini cuman sekali boleh terjadi!!!!
Kekalahan itu:
1. Menjadi kelompok dengan peringkat terendah di PPIC Games 2010.
2. Kekalahan sebagai kandidat ketua BEM FT 2011.
3. Kekalahan gua untuk mempertahankan IPS 3,5
Kegagalan-kegagalan ini cukup memukul buat gua, namun di satu sisi juga memberikan banyak evaluasi buat gua secara personal. Terutama dalam manajemen diri dan manajemen waktu dan personal. Gua ngrasa belum matang, dan ini bahaya karena waktu gua di UI udah ga lama lagi. Maka gua bener-bener jadiin liburan ini buat masa perbaikan. Semangat!!!
Hmmmmmhhh...semester ini bukan semester gua, seperti juga semester-semester sebelumnya di akhir semester 5 ini gua nggak ngrasa udah ngelakuin usaha maksimal, justru sebaliknya ini adalah semester dimana gua ngrasa hidup gua mengalami akselerasi negatif. Di semester ini ada beberapa kekalahan yang gua bersumpah akan gua jadikan pelecut untuk gal lagi melakukan kesalahan yang sama. Kekalahan pahit ini cuman sekali boleh terjadi!!!!
Kekalahan itu:
1. Menjadi kelompok dengan peringkat terendah di PPIC Games 2010.
2. Kekalahan sebagai kandidat ketua BEM FT 2011.
3. Kekalahan gua untuk mempertahankan IPS 3,5
Kegagalan-kegagalan ini cukup memukul buat gua, namun di satu sisi juga memberikan banyak evaluasi buat gua secara personal. Terutama dalam manajemen diri dan manajemen waktu dan personal. Gua ngrasa belum matang, dan ini bahaya karena waktu gua di UI udah ga lama lagi. Maka gua bener-bener jadiin liburan ini buat masa perbaikan. Semangat!!!
Kuncinya adalah Kompetitif
Well, sabtu kemarin saya dapet pelajaran yang cukup berharga dari salah satu acara di PPSDMS. Yaitu tentang bagaimana agar sesuatu bisa mendapat dukungan dari banyak orang dalam waktu yang singkat. Atau dengan kata lain, bagaimana membuat orang merasa bahwa apa yang kita perjuangkan merupakan bagian dari perjuangan mereka juga. Ternyata, suatu hal yang sederhana namun sering kita lupakan adalah kata kompetitif.
Maksudnya apa? Ya, selama ini saya selalu bertanya-tanya. Apa yang menjadikan begitu banyak orang mau untuk setia pada visi seorang pemimpin. Maka inilah kuncinya, pemimpin tersebut sanggup memperlihatkan karakter bahwa dia adalah yang terbaik diantara orang-orang yang ada. Sedari awal, para pemimpin ini bukan sekedar berani berkompetisi, namun juga berani untuk memenangkanya. Artinya mereka secara sadar membangun kapabilitas unbtuk itu. Bukan semata bergantung pada momentum dan kekuatan jamaah. Alih-alih bergantung, mereka justru menciptakan momentum dan menjadi tulang punggung dari jamaah yang kelak akan dipimpinya.
Era sekarang adalah era kompetisi, dimana segala sesuatu akan eksis berdasarkan seberapa besar kemampuanya untuk berkompetisi. Pola pikir rezimis tidak akan bertahan, baik di kampus maupun di luar kampus. Dan jujur saya muak dengan pola rezimis dan alur pemenangan "botol kecap". Pola yang selama ini sukses menjadi faktor utama dari penurunan kualitas gerakan kemahasiswaan.
Bukankah kualitas dibentuk oleh kompetisi? Dan kompetisi membutuhkan rival? Lalu mengapa selama ini yang saya lihat di kampus justru sikap permusuhan antar golongan politikus kampus? Bukankah ini adalah keegoisan? Bukankah seharusnya perbedaan ideologi membuat kita berlomba-lomba menghasilkan kader terbaik?
Maksudnya apa? Ya, selama ini saya selalu bertanya-tanya. Apa yang menjadikan begitu banyak orang mau untuk setia pada visi seorang pemimpin. Maka inilah kuncinya, pemimpin tersebut sanggup memperlihatkan karakter bahwa dia adalah yang terbaik diantara orang-orang yang ada. Sedari awal, para pemimpin ini bukan sekedar berani berkompetisi, namun juga berani untuk memenangkanya. Artinya mereka secara sadar membangun kapabilitas unbtuk itu. Bukan semata bergantung pada momentum dan kekuatan jamaah. Alih-alih bergantung, mereka justru menciptakan momentum dan menjadi tulang punggung dari jamaah yang kelak akan dipimpinya.
Era sekarang adalah era kompetisi, dimana segala sesuatu akan eksis berdasarkan seberapa besar kemampuanya untuk berkompetisi. Pola pikir rezimis tidak akan bertahan, baik di kampus maupun di luar kampus. Dan jujur saya muak dengan pola rezimis dan alur pemenangan "botol kecap". Pola yang selama ini sukses menjadi faktor utama dari penurunan kualitas gerakan kemahasiswaan.
Bukankah kualitas dibentuk oleh kompetisi? Dan kompetisi membutuhkan rival? Lalu mengapa selama ini yang saya lihat di kampus justru sikap permusuhan antar golongan politikus kampus? Bukankah ini adalah keegoisan? Bukankah seharusnya perbedaan ideologi membuat kita berlomba-lomba menghasilkan kader terbaik?
Wednesday, September 1, 2010
Orientasi Nilai bukan Konsep

Hari ini adalah untuk pertama kalinya saya mendapatkan mata kuliah Pemasaran Industri, Pertama kalinya pula saya diajar oleh Ir. Erlinda Muslim, MEE. Beliau adalah dosen yang memang memiliki bidang pengajaran di mata kuliah ini. Pada pertemuan pertama ini, Bu Er, begitu beliau biasa disapa, hanya menyentuh sebagian kecil dari mata kuliah Pemasaran Industri.
Sebagian waktu justru Beliau manfaatkan waktu ini untuk menyentil kesadaran para mahasiswanya tentang fenomena yang sering menghinggapi mahasiswa dan menjadi pola umum dari kepribadian bangsa Indonesia. Pembahasan diawali dengan pernyataan beliau yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang mudah puas. Dan hal ini dapat dilihat dari karakteristik mahasiswanya. Kami yang memang merasakan hal itu tiba-tiba mendapatkan tes dadakan dari Beliau.
Bu Erlinda mengambil sebuah spidol dan meminta salah seorang dari kami untk menggambarkan fungsi permintaan. Sederhana bukan, dibandingkan hal-hal besar yang seringkali kita bicarakan dalam percakapan mahasiswa yang sering sok serius. Nyatanya teman kami yang mencoba gagal menggambarkan dengan sempurna. Hanya sebuah kurva sederhana. Ini belum termasuk jumlah mahasiswa di kelas tersebut yang bisa jadi tidak mendapat bayangan sama sekali tentang apa itu Kurva Permintaan.
Pertanyaan selanjutnya pun bergulir, mulai dari kurva BEP, persamaan linear, fungsi tujuan dan fungsi batasan dan semuanya berujung sama. Jawaban yang tidak memuaskan. Hanya sedikit sekali dari kita yang sanggup mengembalikan umpan pertanyaan yang dilontarkan Bu Er. Bahkan banyak yang menutupi ketidaktauan itu dengan terdiam
Satu hal yang Beliau sampaikan adalah, sebagian besar dari kalian belajar bukan berangkat dari filosofi atau konsep. Melainkan langsung pada pengerjaan yang lebih berorientasi kepada nilai. Akibatnya pemahaman itu hilang begitu saja sejalan dengan selesainya ujian.
Hmmmm,, ini benar-benar tamparan buat saya. Di jurusan Teknik Industri, yang merupakan salah satu jurusan terbaik di UI. Yang Passing Grade masuknya cukup susah ternyata keadaan mahasiswanya cukup bikin miris. Namun satu hal yang bikin kita bersyukur adalah karena kita baru menginjak semester 5 minggu ini. Dimana kita masih punya sangat-sangat cukup kesempatan jika kita mau bekerja keras untuk menyerap sebanyak-banyaknya ilmu selama masa study kita di kampus perjuangan ini.
Sekian yang bisa saya bagi semoga menjadi pengingat yang bermanfaat bagi kita semua.
^^
-Jadilah titik tertinggi dari piramida kualitas kelulusan Mahasiswa Indonesia-
Bu Erlinda
Friday, July 23, 2010
Idealisme Pemuda dan Cara Mempertahankanya (Idealitas Vs Realitas)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, kemarin malem dalam salah satu agenda wajib bagi peserta PPSDMS angkatan V regional I, saya dapat sebuah materi yang sangat menarik dengan judul Idelaisme Kaum Muda. Namun dalam berjalanya materi yang diisi oleh Dr. M Sohibul Iman, M.Eng yang merupakan salah satu anggota DPR RI 2009-2014, lebih terarah ke bagaimana menjaga agar idealisme yang dipupuk selama di bangku kuliah agar tidak luntur dan hilang seiring dengan benturan-benturan yang terjadi antara Idealisme Kampus dan Realitas dunia nyata. Dan di sini saya ingin mencoba sharing tentang apa yang saya dapat semalam, harapanya nilai positif dan kebaikan yang dikandung dapat dirasakan dalam cakupan yang lebih luas.
Idealisme adalah sebuah kata yang ideal dan seakan telah lekat dengan profesi Mahasiswa. Mahasiswa yang rata-rata berada pada usia muda, seolah menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya berbagai ideologi yang bersemayam dan mengakar dalam dirinya. Mahasiswa yang lingkungan internal kampusnya bertemu dan berinteraksi dengan individu-individu yang relatif sejenis menjadikan dia mentransformasi dirinya menjadi makhluk Sosial Terbatas. Artinya kehidupan kemahasiswaan diisi oleh orang-orang yang relatif sama secara pola pikir, mereka rata-rata adalah orang yang Idealis dan belum menyadari realita di dunia nyata. Maka wajarlah kalau apa yang mereka pikirkan, lakukan, dan impikan sarat dengan Idealisme. Justru aneh bila ada Mahasiswa yang tidak Idealis.
Dewasa ini, dalam dunia Kemahasiswaan, kita temui berbagai macam idealisme. Mulai dari nasionalis, religius, maupun sosialis. Perpotongan diantara jenis-jenis idealisme nasionalis, religius, dan sosialis pun tak sulit untuk kita temukan. Beragamnya idealisme tersebut boleh saja beragam, tapi secara garis besar mereka memiliki kesamaan yaitu sebagian besar diantaranya membawa isu Perubahan. Perubahan ini seringkali disandarkan pada kenyataan keadaan keseharian yang jauh dari kondisi Ideal.
Masalah muncul apabila Mahasiswa telah lulus dan keluar dari lingkungan serba idealnya menuju kehidupan yang sesungguhnya. Dimana norma-norma ideal sudah bergeser menjadi norma-norma kontekstual dan realis. Di sinilah tantangan sebenarnya bagi idealisme yang diagung-agungkan semasa menjadi mahasiswa diuji. Apakah akan luntur atau justru membantu mereka sukses di dunia nyata. Kebanyakan orang yang berhasil mempertahankan idealismenya adalah mereka yang semasa menjadi mahasiswa tidak hanya menekankan perubahan akan hal-hal yang jauh dari dirinya, melainkan melakukan perubahan dimulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil di sekitarnya. Mereka telah menjadikan idealisme melebihi sekedar jargon, namun telah menjadikannya jalan hidup yang akan terus terbawa.
Tantangan Idealisme Vs Realitas mulai dirasakan saat kita mulai jadi seorang fress graduate. Biasanya tantangan itu muncul dalam bentuk :
1. Pemenuhan Kebutuhan Pribadi.
2. Pemenuhan Kebutuhan Keluarga.
3. Budaya Kerja yang telah Terbentuk di Masyarakat.
Untuk dapat survive, maka Tips yang diberikan oleh Doktor Sohibul Iman adalah dengan memiliki integritas dan kejujuran yang setidaknya harus melingkupi 3 aspek.
1. Jujur pada akal sehat, artinya kita harus mengedeppankan akal untuk menakar sejauh apa tantangan harus diikuti, dirubah, atau bahkan ditinggalkan sama sekali.
2. Jujur pada nurani, kita harus berani mengatakan mana yang benar dan mana yang salah sesuai dengan hati nurani.
3. Jujur pada nilai diri yang kita Pegang, sebagai contoh sebagai seorang Muslim kita harus dapat menerapkan ajaran Islam secara istiqoman sehingga nilai-nilai tersebut akan membentengi diri kita dari cobaan yang mungkin dapat menjerumuskan kita dan mencuci habis idealisme kita.
Yang penting juga terkait dengan peran kita di masyarakat nantinya adalah bukan hanya sekedar mempertahankan, namun juga menyebarkan idealisme positif kita pada lingkungan kerja sekitar. Untuk itulah kita harus dapat membaur dengan lingkungan tersebut, bukan sekedar mengisolasi diri demi menjaga keutuhan idealisme kita. Sebab yang menjadi tanggung jawab kita adalah meyakinkan lingkungan kita yang salah bahwa apa yang kita bawa adalah idealisme yang benar. Untuk dapat mencapai hal itu kita harus memiliki modal yang kuat, dan di kampus inilah kita memperkuat modal tersebut. Dalam lingkungan kerja nantinya bila menggunakan istilah yang digunakan oleh Sayyid Qutb adalah kita harus bercampur, namun tidak larut.
Setidaknya akan ada tiga periode yang akan kita jalani di dunia kerja nanti terkait dengan idealisme yang kita bawa. Dimana batasan dari masing-masing periode ini berbeda untuk setiap individu yang berbeda. Periode tersebut adalah :
1.Critical Periode, dimana pada periode ini seseorang ada pada batas dimana dia merasa begitu terancam idealismenya di lingkungan tempat dia bekerja.
2. Posiioning Periode, dimana ketika seseorang telah mengetahui dan mengenal medan tempat dia berjuang sehingga telah dapat memetakan siapa kawan dan siapa lawan. Pada periode ini Idealisme sudah cukup aman.
3. Establishment Periode, pada periode ini tantangan sudah dapat diatasi dan bahkan individu tersebut sudah dapat menularkan idealismenya pada lingkungan perjuanganya.
Sooo.. Bagi kita yang masih mahasiswa rajin-rajinlah "mengisi" diri, hal ini dapat dengan memperkaya diri dengan berbagai skill, maupun dengan aktif dalam diskusi Paska Kampus. Hal ini akan bermanfaat untuk memperpendek masa Critical Periode kita, sehingga Idealisme yang telah kita bangun dan resapi selama masih berada di kampus dapat berkembang dan semakin kuat.
Demikian sekilas yang dapat saya tangkap dan bagi, semoga bermanfaat.
Terus Belajar, karena belajar adalah bentuk syukur kita atas Akal yang dianugrahkan Allah SWT. ^^
Alhamdulillah, kemarin malem dalam salah satu agenda wajib bagi peserta PPSDMS angkatan V regional I, saya dapat sebuah materi yang sangat menarik dengan judul Idelaisme Kaum Muda. Namun dalam berjalanya materi yang diisi oleh Dr. M Sohibul Iman, M.Eng yang merupakan salah satu anggota DPR RI 2009-2014, lebih terarah ke bagaimana menjaga agar idealisme yang dipupuk selama di bangku kuliah agar tidak luntur dan hilang seiring dengan benturan-benturan yang terjadi antara Idealisme Kampus dan Realitas dunia nyata. Dan di sini saya ingin mencoba sharing tentang apa yang saya dapat semalam, harapanya nilai positif dan kebaikan yang dikandung dapat dirasakan dalam cakupan yang lebih luas.
Idealisme adalah sebuah kata yang ideal dan seakan telah lekat dengan profesi Mahasiswa. Mahasiswa yang rata-rata berada pada usia muda, seolah menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya berbagai ideologi yang bersemayam dan mengakar dalam dirinya. Mahasiswa yang lingkungan internal kampusnya bertemu dan berinteraksi dengan individu-individu yang relatif sejenis menjadikan dia mentransformasi dirinya menjadi makhluk Sosial Terbatas. Artinya kehidupan kemahasiswaan diisi oleh orang-orang yang relatif sama secara pola pikir, mereka rata-rata adalah orang yang Idealis dan belum menyadari realita di dunia nyata. Maka wajarlah kalau apa yang mereka pikirkan, lakukan, dan impikan sarat dengan Idealisme. Justru aneh bila ada Mahasiswa yang tidak Idealis.
Dewasa ini, dalam dunia Kemahasiswaan, kita temui berbagai macam idealisme. Mulai dari nasionalis, religius, maupun sosialis. Perpotongan diantara jenis-jenis idealisme nasionalis, religius, dan sosialis pun tak sulit untuk kita temukan. Beragamnya idealisme tersebut boleh saja beragam, tapi secara garis besar mereka memiliki kesamaan yaitu sebagian besar diantaranya membawa isu Perubahan. Perubahan ini seringkali disandarkan pada kenyataan keadaan keseharian yang jauh dari kondisi Ideal.
Masalah muncul apabila Mahasiswa telah lulus dan keluar dari lingkungan serba idealnya menuju kehidupan yang sesungguhnya. Dimana norma-norma ideal sudah bergeser menjadi norma-norma kontekstual dan realis. Di sinilah tantangan sebenarnya bagi idealisme yang diagung-agungkan semasa menjadi mahasiswa diuji. Apakah akan luntur atau justru membantu mereka sukses di dunia nyata. Kebanyakan orang yang berhasil mempertahankan idealismenya adalah mereka yang semasa menjadi mahasiswa tidak hanya menekankan perubahan akan hal-hal yang jauh dari dirinya, melainkan melakukan perubahan dimulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil di sekitarnya. Mereka telah menjadikan idealisme melebihi sekedar jargon, namun telah menjadikannya jalan hidup yang akan terus terbawa.
Tantangan Idealisme Vs Realitas mulai dirasakan saat kita mulai jadi seorang fress graduate. Biasanya tantangan itu muncul dalam bentuk :
1. Pemenuhan Kebutuhan Pribadi.
2. Pemenuhan Kebutuhan Keluarga.
3. Budaya Kerja yang telah Terbentuk di Masyarakat.
Untuk dapat survive, maka Tips yang diberikan oleh Doktor Sohibul Iman adalah dengan memiliki integritas dan kejujuran yang setidaknya harus melingkupi 3 aspek.
1. Jujur pada akal sehat, artinya kita harus mengedeppankan akal untuk menakar sejauh apa tantangan harus diikuti, dirubah, atau bahkan ditinggalkan sama sekali.
2. Jujur pada nurani, kita harus berani mengatakan mana yang benar dan mana yang salah sesuai dengan hati nurani.
3. Jujur pada nilai diri yang kita Pegang, sebagai contoh sebagai seorang Muslim kita harus dapat menerapkan ajaran Islam secara istiqoman sehingga nilai-nilai tersebut akan membentengi diri kita dari cobaan yang mungkin dapat menjerumuskan kita dan mencuci habis idealisme kita.
Yang penting juga terkait dengan peran kita di masyarakat nantinya adalah bukan hanya sekedar mempertahankan, namun juga menyebarkan idealisme positif kita pada lingkungan kerja sekitar. Untuk itulah kita harus dapat membaur dengan lingkungan tersebut, bukan sekedar mengisolasi diri demi menjaga keutuhan idealisme kita. Sebab yang menjadi tanggung jawab kita adalah meyakinkan lingkungan kita yang salah bahwa apa yang kita bawa adalah idealisme yang benar. Untuk dapat mencapai hal itu kita harus memiliki modal yang kuat, dan di kampus inilah kita memperkuat modal tersebut. Dalam lingkungan kerja nantinya bila menggunakan istilah yang digunakan oleh Sayyid Qutb adalah kita harus bercampur, namun tidak larut.
Setidaknya akan ada tiga periode yang akan kita jalani di dunia kerja nanti terkait dengan idealisme yang kita bawa. Dimana batasan dari masing-masing periode ini berbeda untuk setiap individu yang berbeda. Periode tersebut adalah :
1.Critical Periode, dimana pada periode ini seseorang ada pada batas dimana dia merasa begitu terancam idealismenya di lingkungan tempat dia bekerja.
2. Posiioning Periode, dimana ketika seseorang telah mengetahui dan mengenal medan tempat dia berjuang sehingga telah dapat memetakan siapa kawan dan siapa lawan. Pada periode ini Idealisme sudah cukup aman.
3. Establishment Periode, pada periode ini tantangan sudah dapat diatasi dan bahkan individu tersebut sudah dapat menularkan idealismenya pada lingkungan perjuanganya.
Sooo.. Bagi kita yang masih mahasiswa rajin-rajinlah "mengisi" diri, hal ini dapat dengan memperkaya diri dengan berbagai skill, maupun dengan aktif dalam diskusi Paska Kampus. Hal ini akan bermanfaat untuk memperpendek masa Critical Periode kita, sehingga Idealisme yang telah kita bangun dan resapi selama masih berada di kampus dapat berkembang dan semakin kuat.
Demikian sekilas yang dapat saya tangkap dan bagi, semoga bermanfaat.
Terus Belajar, karena belajar adalah bentuk syukur kita atas Akal yang dianugrahkan Allah SWT. ^^
Tuesday, July 6, 2010
Menjelang Masuk Pesantren
Alhamdulillah, Semester kemarin emang semester penuh kejutan. Selain banyak hal-hal yang nggak menyenangkan, ternyata banyak juga hal manis terjadi, salah satunya adalaaahhh... Yap,, saya ketrima Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) angkatan V. Hmmm mungkin buat anda, hal ini biasa aja, tapi bagi saya ini luar biasa, Masuk PPSDMS adalah salah satu target yang saya tulis buat tercapai dan gw tempel di dinding kamar saya.
Dari dulu saya selalu ngiri sama temen-temen yang dapat kesempatan buat menempuh pendidikan di pesantren. Saya ngrasa mereka keren banget, karena punya bekal yang cukup dalam hal agama untuk terjun di kehidupan masyarakat yang keras, hehe. Dan Alhamdulillah sekarang kesempatan itu dateng juga buat saya, meski bentuknya adalah pesantren modern,saya yakin ini adalah kesempatan yang diberikan Allah SWT buat saya mengakselerasi diri dalam menimba ilmu Agama. Dan kesempatan ini tidak akan saya lewatkan dengan seadanya, saya akan berusaha mengoptimalkan dua tahun masa belajar di sana sebaik mungkin. Biar bisa ikut berpartisipasi dalam terwujudnya Indonesia yang Lebih Baik dan Bermartabat
^^
Dari dulu saya selalu ngiri sama temen-temen yang dapat kesempatan buat menempuh pendidikan di pesantren. Saya ngrasa mereka keren banget, karena punya bekal yang cukup dalam hal agama untuk terjun di kehidupan masyarakat yang keras, hehe. Dan Alhamdulillah sekarang kesempatan itu dateng juga buat saya, meski bentuknya adalah pesantren modern,saya yakin ini adalah kesempatan yang diberikan Allah SWT buat saya mengakselerasi diri dalam menimba ilmu Agama. Dan kesempatan ini tidak akan saya lewatkan dengan seadanya, saya akan berusaha mengoptimalkan dua tahun masa belajar di sana sebaik mungkin. Biar bisa ikut berpartisipasi dalam terwujudnya Indonesia yang Lebih Baik dan Bermartabat
^^
Wednesday, May 5, 2010
Nggak Akan Jatuh
boleh sedih, boleh kecewa
Tapi gak boleh jatuh...
Ada mimpi-mimpi yang harus dikejar, dengan atau tanpa ada orang disamping kita.
Ini mungkin postingan terpendek Gw, tapi ini sedikit yang bisa gw bagi. Di hari yang mana gw lagi merasa hampir jatuh.
Tapi gak boleh jatuh...
Ada mimpi-mimpi yang harus dikejar, dengan atau tanpa ada orang disamping kita.
Ini mungkin postingan terpendek Gw, tapi ini sedikit yang bisa gw bagi. Di hari yang mana gw lagi merasa hampir jatuh.
Sunday, April 11, 2010
Menyikapi Organisasi Ekstra Kampus
Haha, kemarin siang saya dapet SMS buat dateng rapat lembaga terkait sikap lembaga FT terhadap FAM UI (Front Aksi Mahasiswa UI) yang belakangan aksinya membawa nama UI dan dinilai sekali lagi dinilai oleh sebagian pihak mencoreng nama UI. Saya jadi kepikiran sendiri, buat apa hal ini dirapatin?? Buat apa ngerapatin sikap IKM FT terhadap organisasi ekstra kampus? Padahal ini sudah jelas-jelas, dalam IKM FT UI tidak ada dan tidak boleh ada keterlibatan organisasi ekstra kampus. Jadi jelas kan cukup satu kata, TOLAK!!!!
Yang saya khawatirkan adalah munculnya sikap-sikap yang mendeskriditkan FAM, bukan apa-apa. Tapi saya khawatir sikap ini jadi tidak berimbang. Sebagai mahasiswa yang mendengung-dengungkan kebebasan berpendapat mestinya kita memasang pola pikir 'case to case' terhadap apapun yang dibawa oleh sebuah lembaga atau organisasi atau lembaga. Bukan 'organitation to organitation'. Maksudnya? Maksudnya begini, kalau memang FAM bikin kesalahan ya kita katakan sikap dia, atau apa yang dia bawa tidak kita setujui. Namun hal itu tidak boleh membuat kita serta-merta melihat FAM sebagai organisasi yang jelek melulu.
Mungkin sekilas anda akan mengira saya pendukung FAM, tapi bukan saya juga kurang simpatis terhadap bentuk gerakan mereka. Namun saya ingin menekankan bahwa kalau kita tidak setuju dengan sebuah kajian, ya lawan dengan kajian. Kalau kita tidak setuju dengan aksi, ya lawan dengan aksi. Jangan pernah, JANGAN PERNAH, melawan kajian atau gerakan dengan kooptasi. Bila itu yang kita lakukan maka kita telah menjadi Tiran di Bumi Kampus kita sendiri. Kalau memang ada Forma yang membahas tentang FAM maka saya menyarankan dan seharusnya ada Forum-Forum yang membahas tentang organisasi ekstra kampus yang lain.
Saran : Mari kita lakukan diskusi terbuka, melibatkan semua pihak dan dimoderatori oleh pihak netral. (Lha terus apa gunanya UI Summit?? :p)
Salam....
Dwiki Drajat Gumilar
HP : 085649437798
"Dalam kehidupan politik kampus, Lembaga Formal Mahasiswa dituntut untuk bersikap netral dan Objektif. Menyikapi Organisasi Ekstra Kampus, Janganlah lembaga menjadi pelindung dan pendukung organisasi tertentu tapi menjadi Inhibitor dari yang lain."
-Dwiki Drajat Gumilar-
Yang saya khawatirkan adalah munculnya sikap-sikap yang mendeskriditkan FAM, bukan apa-apa. Tapi saya khawatir sikap ini jadi tidak berimbang. Sebagai mahasiswa yang mendengung-dengungkan kebebasan berpendapat mestinya kita memasang pola pikir 'case to case' terhadap apapun yang dibawa oleh sebuah lembaga atau organisasi atau lembaga. Bukan 'organitation to organitation'. Maksudnya? Maksudnya begini, kalau memang FAM bikin kesalahan ya kita katakan sikap dia, atau apa yang dia bawa tidak kita setujui. Namun hal itu tidak boleh membuat kita serta-merta melihat FAM sebagai organisasi yang jelek melulu.
Mungkin sekilas anda akan mengira saya pendukung FAM, tapi bukan saya juga kurang simpatis terhadap bentuk gerakan mereka. Namun saya ingin menekankan bahwa kalau kita tidak setuju dengan sebuah kajian, ya lawan dengan kajian. Kalau kita tidak setuju dengan aksi, ya lawan dengan aksi. Jangan pernah, JANGAN PERNAH, melawan kajian atau gerakan dengan kooptasi. Bila itu yang kita lakukan maka kita telah menjadi Tiran di Bumi Kampus kita sendiri. Kalau memang ada Forma yang membahas tentang FAM maka saya menyarankan dan seharusnya ada Forum-Forum yang membahas tentang organisasi ekstra kampus yang lain.
Saran : Mari kita lakukan diskusi terbuka, melibatkan semua pihak dan dimoderatori oleh pihak netral. (Lha terus apa gunanya UI Summit?? :p)
Salam....
Dwiki Drajat Gumilar
HP : 085649437798
"Dalam kehidupan politik kampus, Lembaga Formal Mahasiswa dituntut untuk bersikap netral dan Objektif. Menyikapi Organisasi Ekstra Kampus, Janganlah lembaga menjadi pelindung dan pendukung organisasi tertentu tapi menjadi Inhibitor dari yang lain."
-Dwiki Drajat Gumilar-
Saturday, March 27, 2010
Kenapa tak Mereka Kirimkan saja Pembunuh Bayaran Terbaik???
Siang ini, saya baru pulang dari nganterin buku tentang Ngegambar dengan AutoCAD 3D buat salah satu adik asisten saya di mata kuliah Gambar Teknik. Maklum dia mau ujian hari Senin besok jadi saya rasa dia bakal cukup terbantu dengan saya pinjami buku itu (yang mana buku itu sendiri juga saya dapat dari hasil pinjaman,,hehe).
Masuk ke halaman Kos Kahfi yang teduh, ekor mata saya menangkap ada ceceran koran beberapa jenis yang tercecer begitu saja di depan TV lobi kosan. Ya di kahfi memang disediakan koran berlangganan. Mungkin dengan harapan penghuninya jadi update dengan apa yang terjadi di luar sono. Sebenernya saya males buat baca koran, soalnya minggu ini minggu UTS bro, mestinya saya ngendon di kamar buat bermesraan dengan diktat kuliah dan kumpulan soal soal, dan lagi itu jauh lebih bermanfaat daripada baca lembaran koran yang paling juga isinya itu-itu saja.
Jujur saya cuman tertarik baca kolom olahraganya saja, lebih menghibur baca Messi cetak gol daripada baca pemilihan Ketua Umum sebuah partai besar. Lebih menarik fakta bahwa tim Tenis Spanyol tampil tanpa Rafael Nadal daripada nebak siapa petinggi polisi yang gak terlibat dalam kasus suap menyuap. Lebih bikin geregetan liat ulah elit PSSI yang ketir-ketir kegeser di KSN daripada hiruk pikuk Demokrat-Republik AS yang tikung telikung dengan investor soal reformasi kesehatan di ranah Uncle Sam itu. Tapi gak tau kenapa, tiba-tiba saya terdorong juga buat ngelihat tumpukan koran itu, sapa tau ada berita bagus. Macam Anang kawin lagi atau apa lah.
Dan ternyata, keputusan itu nyata berbuah kekecewaan. Rasa ingin tahu saya soal hiruk pikuk apa yang terjadi terbayar tuntas dengan berita menghilangnya (atau dibiarkanya hilang) seorang makelar kasus, yang ditunjuk hidung oleh seorang mantan petinggi polisi yang sekarang jadi Pati di tubuh kepolisian. Si makelar ternyata eh ternyata udah ngacir duluan ke negeri seberang yang konon dulu ada singanya buat mengamankan diri dengan alas an berobat. Lucunya dia ngacir beberapa hari sebelum perintah cekal keluar. Hwahwahahahaha,, ibarat main catur, baru mindahin kuda buat skak besok, eh rajanya keburu lukir sama benteng. Dan begonyaa lagi si pemain lawan enggak ngeliat gelagat-gelagat mau lukir dari si pemain pion lawan.
Di koran itu juga dicantumin buron-buron korupsi yang ngacir kemana mana sebelum sempet tersabet sabit hukum (saya sebut sabit karena setahu lagi lagi maaf setahu saya hanya tajam ke bawah tapi tumpul luar biasa ke atas). Saya langsung kepikiran, orang-orang ini kan udah kepegang identitasnya, knapa nggak langsung aja sih kirim pembunuh bayaran terbaik buat ngebunuh mereka satu-satu, hehehe mirip aksi KGB buat buron-buron korupsi yang ngacir ke luar negeri waktu Uni Soviet runtuh. Dampaknya, diharapkan buron-buron lain yang liat temenya dilibas tanpa ampun bakal ketakutan dan pulang sendiri-sendiri ke negeri ini buat diadili. Toh paling cuman ditahan beberapa tahun dengan fasilitas plus-plus.
Ini ide radikal dari orang-orang yang mulai skeptis dengan sebuah nafas indah berbunyi keadilan di negeri yang korupsi tumbuh subur ini. Kenapa tak mereka kirim saja pembunuh bayaran terbaik???? Hahaha, sudah ah jadi ngelantur, mending belajar, tidur siang dan berharap waktu bangun Negara ini udah jadi lebih baik.
Kekecewaan tidak merubah dunia, dunia diubah oleh aktor (pelaku) bukan komentator, maka mari awali dengan merubah diri sendiri agar kekecewaan tidak hanya berujung menjadi sebatas komentar....
-Dwiki Drajat Gumilar-
Masuk ke halaman Kos Kahfi yang teduh, ekor mata saya menangkap ada ceceran koran beberapa jenis yang tercecer begitu saja di depan TV lobi kosan. Ya di kahfi memang disediakan koran berlangganan. Mungkin dengan harapan penghuninya jadi update dengan apa yang terjadi di luar sono. Sebenernya saya males buat baca koran, soalnya minggu ini minggu UTS bro, mestinya saya ngendon di kamar buat bermesraan dengan diktat kuliah dan kumpulan soal soal, dan lagi itu jauh lebih bermanfaat daripada baca lembaran koran yang paling juga isinya itu-itu saja.
Jujur saya cuman tertarik baca kolom olahraganya saja, lebih menghibur baca Messi cetak gol daripada baca pemilihan Ketua Umum sebuah partai besar. Lebih menarik fakta bahwa tim Tenis Spanyol tampil tanpa Rafael Nadal daripada nebak siapa petinggi polisi yang gak terlibat dalam kasus suap menyuap. Lebih bikin geregetan liat ulah elit PSSI yang ketir-ketir kegeser di KSN daripada hiruk pikuk Demokrat-Republik AS yang tikung telikung dengan investor soal reformasi kesehatan di ranah Uncle Sam itu. Tapi gak tau kenapa, tiba-tiba saya terdorong juga buat ngelihat tumpukan koran itu, sapa tau ada berita bagus. Macam Anang kawin lagi atau apa lah.
Dan ternyata, keputusan itu nyata berbuah kekecewaan. Rasa ingin tahu saya soal hiruk pikuk apa yang terjadi terbayar tuntas dengan berita menghilangnya (atau dibiarkanya hilang) seorang makelar kasus, yang ditunjuk hidung oleh seorang mantan petinggi polisi yang sekarang jadi Pati di tubuh kepolisian. Si makelar ternyata eh ternyata udah ngacir duluan ke negeri seberang yang konon dulu ada singanya buat mengamankan diri dengan alas an berobat. Lucunya dia ngacir beberapa hari sebelum perintah cekal keluar. Hwahwahahahaha,, ibarat main catur, baru mindahin kuda buat skak besok, eh rajanya keburu lukir sama benteng. Dan begonyaa lagi si pemain lawan enggak ngeliat gelagat-gelagat mau lukir dari si pemain pion lawan.
Di koran itu juga dicantumin buron-buron korupsi yang ngacir kemana mana sebelum sempet tersabet sabit hukum (saya sebut sabit karena setahu lagi lagi maaf setahu saya hanya tajam ke bawah tapi tumpul luar biasa ke atas). Saya langsung kepikiran, orang-orang ini kan udah kepegang identitasnya, knapa nggak langsung aja sih kirim pembunuh bayaran terbaik buat ngebunuh mereka satu-satu, hehehe mirip aksi KGB buat buron-buron korupsi yang ngacir ke luar negeri waktu Uni Soviet runtuh. Dampaknya, diharapkan buron-buron lain yang liat temenya dilibas tanpa ampun bakal ketakutan dan pulang sendiri-sendiri ke negeri ini buat diadili. Toh paling cuman ditahan beberapa tahun dengan fasilitas plus-plus.
Ini ide radikal dari orang-orang yang mulai skeptis dengan sebuah nafas indah berbunyi keadilan di negeri yang korupsi tumbuh subur ini. Kenapa tak mereka kirim saja pembunuh bayaran terbaik???? Hahaha, sudah ah jadi ngelantur, mending belajar, tidur siang dan berharap waktu bangun Negara ini udah jadi lebih baik.
Kekecewaan tidak merubah dunia, dunia diubah oleh aktor (pelaku) bukan komentator, maka mari awali dengan merubah diri sendiri agar kekecewaan tidak hanya berujung menjadi sebatas komentar....
-Dwiki Drajat Gumilar-
Tuesday, March 16, 2010
Sedikit Jawaban dari Kantek
"Mas, ya coba kamu sepertinya kamu lagi pegang PD PRT yah (Maksudnya PD PRT IKM FTUI), coba bacakan di depan forum bunyi kode etik IKM FTUI" Pinta Bang Titos, "Ok Bang" Qi Yahya, ketua IMS 2010, maju dan membacakan kode etik IKM FT UI poin demi poin.
Penggalan kejadian itu yang saya saksikan di Forum Pembahasan Progress PPAM I yang diadakan di Kantin Teknik hari senin 15 Maret 2010 jam 16.00. Bang Titos (PO PPAM 2008), mengawali pemaparanya tentang sejarah dan kilas singkat PPAM dengan meminta salah satu dari peserta forum untuk membacakan poin demi poin kode etik IKM FTUI. Awalnya saya bingung kenapa Bang Titos mengambil start begitu jauh, kenapa gak langsung hajar saja dengan fakta-fakta tentang pengaruh PPAM terhadap dunia kemahasiswaan dan dampak positifnya terhadap aspek akademis mahasiswa FT.
Tapi setelah saya simak, ternyata saya dapat hal yang akhirnya menjadi judul dari postingan kali ini, Sedikit Jawaban dari Kantek.
Biar kebayang berikut saya cantumkan kode etik IKM FTUI, yang menjadi jantung pergerakan dan pembinaan di wilayah IKM FTUI :
1. Anggota PPAM merupakan insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaa Esa.
2. Anggota IKM FTUI merupakan insan terpelajar yang selalu menunjukkan komitmen yang tinggi pada dunia pendidikan.
3. Anggota IKM FTUI merupakan mahasiswa yang berperan aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Bangsa Indonesia.
4. Anggota IKM FTUI merupakan insan yang berjiwa kemanusiaan tinggi dan peka terhadap perkembangan politik, ekonomi, sosial, budaya , pertahanan dan keamanan di masyarakat.
5. Anggota IKM FTUI menjunjung tinggi semangat kebersamaan, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan IKM FTUI sesuai dengan hukum yang berlaku di lingkungan IKM FTUI.
6. Aggota IKM FTUI selalu menghormati dan menjunjung tinggi serta menjaga nama baik almamater dan civitas akademikanya.
Selesai Qi Yahya membacakan kode etik tersebut,, Bang Titos mengambil alih lagi forum dan memberikan penekanan bahwa Pembinaan yang dilakukan di IKM FTUI adalah pembinaan yang tepat karena kampus tidak menjamin, individu individu mahasiswa di FTUI memiliki karakteristik seperti yang diamanatkan oleh kode etik IKM FTUI
Wah,, karena situasinya waktu itu lagi sore-sore gitu (perut lapar gan), saya butuh waktu buat mencernya perkataan Bang Titos yang bagi orang cetek seperti saya kata-kata termasuk berbobot berat, hehe..
Semenit dua menit,, akhirnya saya nangkep apa yang dimaksud ama Bang Titos, kalau semestinya Pihak Kampus dan mahasiswa bisa bekerja sama demi tercapainya tujuan yang sama-sama mulia, tercetaknya mahasiswa FT yang berkualitas dan sangggup untuk survive di dunia nyata. Bukan sekedar jaya saat jadi mahasiswa tapi juga bisa berkontribusi nyata saat udah terjun langsung di dunia nyata.
Coba kita sama-sama sadari kalo apa yang diamanatkan oleh kode etik itu selama ini kita dapat bukan semata dari kampus, namun juga dari keterlibatan IKM FTUI melalui program program kerja yang dilaksakan oleh struktur lembaganya, poin 1. Tentang mahasiswa yang berketuhanan, bisa kita rasakan dari organisasi-organisasi keagamaan (FUSI, KUKTEK, PO, KMB, dan WKK lain), 2. Tentang komitmen pada dunia pendidikan, bisa kita rasakan dari PIPTek berbagai lembaga, TIS, Teknika dll. 3. Tentang mahasiswa yang aktif dalam dalam perkembagan ilmu pengetahuan dan teknologi, dapat kita rasakan dari Piptek dan proker-proker yang berhubungan dengan penerapan teknologi (LKTM, LKTI, SPWI, PGD, dll misalnya). 4. Mahasiswa yang berjiwa kemanusiaan tinggi dan peka sospolekbudhankam, bisa kita dapat dari proker proker sosial dan kebudayaan, BEM FT punya kersos, BKST punya CRAFT. 5. Mahasiswa dengan semangat kebersamaan, kekeluargaan dan kesatuan di IKM FTUI, contoh gampangnya adalah pada proker Teknik Cup dan proker liga-liga jurusan, dimana semangat kebersamaan menjadi penggeraknya 6. Menghormati dan menjunjung tinggi nama baik civitas akademika, contoh kecilnya dapat kita ambil dari penyelenggaraan MAP (Malam Apresiasi Prestasi,) yang akan menghasilkan mapres-mapres yang akan mengharumkan nama FTUI di tingkat Univ dan Nasional.
Bayangkan siapa yang berperan dalam pembentukan karakter tersebut pada mahasiswa FT, bila pembinaan IKM FTUI tidak berjalan dan berujung pada tidak adanya suplai kader dalam meneruskan IKM. Tentu hal ini akan membawa dampak yang buruk pada seluruh entitas di FT UI.
Jadi jelas, bahwa sebenarnya tidak ada alasan bagi Pihak Kampus dan Mahasiswa untuk berada pada pihak yang bersebrangan dalam memandang pembinaan di IKM FTUI. Yang perlu adalah untuk dijalin suatu komunikasi yang sebaik-baiknya untuk sama-sama mewujudkan situasi pembinaan yang menyeluruh bagi individu-individu mahasiswa FT UI. Semoga hal itu dapat terwujud.
Hidup teknik UI, Hidup teknik UI, Fakultas Teknik yang Kucintai..... (Potongan Mars Teknik UI)
Wasalam...
Penggalan kejadian itu yang saya saksikan di Forum Pembahasan Progress PPAM I yang diadakan di Kantin Teknik hari senin 15 Maret 2010 jam 16.00. Bang Titos (PO PPAM 2008), mengawali pemaparanya tentang sejarah dan kilas singkat PPAM dengan meminta salah satu dari peserta forum untuk membacakan poin demi poin kode etik IKM FTUI. Awalnya saya bingung kenapa Bang Titos mengambil start begitu jauh, kenapa gak langsung hajar saja dengan fakta-fakta tentang pengaruh PPAM terhadap dunia kemahasiswaan dan dampak positifnya terhadap aspek akademis mahasiswa FT.
Tapi setelah saya simak, ternyata saya dapat hal yang akhirnya menjadi judul dari postingan kali ini, Sedikit Jawaban dari Kantek.
Biar kebayang berikut saya cantumkan kode etik IKM FTUI, yang menjadi jantung pergerakan dan pembinaan di wilayah IKM FTUI :
1. Anggota PPAM merupakan insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaa Esa.
2. Anggota IKM FTUI merupakan insan terpelajar yang selalu menunjukkan komitmen yang tinggi pada dunia pendidikan.
3. Anggota IKM FTUI merupakan mahasiswa yang berperan aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Bangsa Indonesia.
4. Anggota IKM FTUI merupakan insan yang berjiwa kemanusiaan tinggi dan peka terhadap perkembangan politik, ekonomi, sosial, budaya , pertahanan dan keamanan di masyarakat.
5. Anggota IKM FTUI menjunjung tinggi semangat kebersamaan, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan IKM FTUI sesuai dengan hukum yang berlaku di lingkungan IKM FTUI.
6. Aggota IKM FTUI selalu menghormati dan menjunjung tinggi serta menjaga nama baik almamater dan civitas akademikanya.
Selesai Qi Yahya membacakan kode etik tersebut,, Bang Titos mengambil alih lagi forum dan memberikan penekanan bahwa Pembinaan yang dilakukan di IKM FTUI adalah pembinaan yang tepat karena kampus tidak menjamin, individu individu mahasiswa di FTUI memiliki karakteristik seperti yang diamanatkan oleh kode etik IKM FTUI
Wah,, karena situasinya waktu itu lagi sore-sore gitu (perut lapar gan), saya butuh waktu buat mencernya perkataan Bang Titos yang bagi orang cetek seperti saya kata-kata termasuk berbobot berat, hehe..
Semenit dua menit,, akhirnya saya nangkep apa yang dimaksud ama Bang Titos, kalau semestinya Pihak Kampus dan mahasiswa bisa bekerja sama demi tercapainya tujuan yang sama-sama mulia, tercetaknya mahasiswa FT yang berkualitas dan sangggup untuk survive di dunia nyata. Bukan sekedar jaya saat jadi mahasiswa tapi juga bisa berkontribusi nyata saat udah terjun langsung di dunia nyata.
Coba kita sama-sama sadari kalo apa yang diamanatkan oleh kode etik itu selama ini kita dapat bukan semata dari kampus, namun juga dari keterlibatan IKM FTUI melalui program program kerja yang dilaksakan oleh struktur lembaganya, poin 1. Tentang mahasiswa yang berketuhanan, bisa kita rasakan dari organisasi-organisasi keagamaan (FUSI, KUKTEK, PO, KMB, dan WKK lain), 2. Tentang komitmen pada dunia pendidikan, bisa kita rasakan dari PIPTek berbagai lembaga, TIS, Teknika dll. 3. Tentang mahasiswa yang aktif dalam dalam perkembagan ilmu pengetahuan dan teknologi, dapat kita rasakan dari Piptek dan proker-proker yang berhubungan dengan penerapan teknologi (LKTM, LKTI, SPWI, PGD, dll misalnya). 4. Mahasiswa yang berjiwa kemanusiaan tinggi dan peka sospolekbudhankam, bisa kita dapat dari proker proker sosial dan kebudayaan, BEM FT punya kersos, BKST punya CRAFT. 5. Mahasiswa dengan semangat kebersamaan, kekeluargaan dan kesatuan di IKM FTUI, contoh gampangnya adalah pada proker Teknik Cup dan proker liga-liga jurusan, dimana semangat kebersamaan menjadi penggeraknya 6. Menghormati dan menjunjung tinggi nama baik civitas akademika, contoh kecilnya dapat kita ambil dari penyelenggaraan MAP (Malam Apresiasi Prestasi,) yang akan menghasilkan mapres-mapres yang akan mengharumkan nama FTUI di tingkat Univ dan Nasional.
Bayangkan siapa yang berperan dalam pembentukan karakter tersebut pada mahasiswa FT, bila pembinaan IKM FTUI tidak berjalan dan berujung pada tidak adanya suplai kader dalam meneruskan IKM. Tentu hal ini akan membawa dampak yang buruk pada seluruh entitas di FT UI.
Jadi jelas, bahwa sebenarnya tidak ada alasan bagi Pihak Kampus dan Mahasiswa untuk berada pada pihak yang bersebrangan dalam memandang pembinaan di IKM FTUI. Yang perlu adalah untuk dijalin suatu komunikasi yang sebaik-baiknya untuk sama-sama mewujudkan situasi pembinaan yang menyeluruh bagi individu-individu mahasiswa FT UI. Semoga hal itu dapat terwujud.
Hidup teknik UI, Hidup teknik UI, Fakultas Teknik yang Kucintai..... (Potongan Mars Teknik UI)
Wasalam...
Sunday, February 28, 2010
UP BOP jadi sistem Keringanan??
Siang ini saya lagi berniat buat ngedonlod beberapa slide materi yang bakal diujikan dalam rangkaian beberapa kuis minggu depan. Jadilah siang ini nangkring di Lobi buat ngenet. Ditemani anjing-anjing teknik yang tidur males-malesan di lantai lobi yang dingin. Hmmmm sebelum saya duduk dan ngeluarin Laptop, saya keingen sms dari Maman (ketua BEM FT UI 2010) yang bilang kalau SK Rektor UI tentang UP BOP udah dipajang di mading BEM FT. Tergerak ingin tahu, saya pun mengurungkan niat buat ngenet dan mutusin buat ngeliat dulu seperti apa bunyi SK ini.
Hmmmm... ternyata di Mading ini emang sudah tertempel sekelumit tentang SK tersebut, tapi dari yang saya baca (atau mungkin saya kurang teliti) yang tercantum di situ cuman lampiran-lampiran saja. Yang isinya adalah besaran yang harus dibayar oleh mahasiswa baru 2010. Hmmmmm....NGebaca lampiranya memang belum cukup untuk menggambarkan isi keseluruhan dari Surat Keputusan tersebut. Namun jika benar yang tertulis dalam narasi di Mading itu, bahwa BOP sekarang menjadi sistem keringanan bukan sistem pembayaran maka ini sebuah keputusan yang ironis dari pihak birokrat. Tidakkah mereka melihat masih banyak celah dari sistem yang lama?? Mengapa mengambil keputusan begitu Beresiko?? yang dipertaruhkan bukan main-main. Hak warga negara untuk mendapatkan pendidikan.
Mungkin pembaca bertanya, apa bedanya sistem keringanan dan sistem pembayaran??
Sistem Pembayaran : Secara makna maka seluruh mahasiswa diwajibkan mengumpulkan berkas, untuk kemudian dilihat berapa besaran yang cocok dengan kemampuan ekonomi mahasiswa. Apabila si mahasiswa menolak memenuhi berkas barulah dia terkena sanksi, yaitu bayar penuh.
Sistem Keringanan : (Secara gampang bahasanya jadi seperti ini), Si mahasiswa diminta bayar penuh (Flat, Rata, Sama) kalo nggak mampu, yaaa boleh laaah dicicil,, gak mampu juga?? baru lah anda minta keringanan.
Dua sistem ini jelas memberikan dampak yang berbeda terhadap mahasiswa...Sebab dengan sistem pembayaran maka seolah-olah default system nya mengharuskan kita membayar dengan besaran tertentu. Ini jelas akan mempengaruhi input mahasiswa yang akan mendaftar menjadi mahasiswa baru di Universitas Indonesia. Universitas yang konon merupakan salah satu yang terbaik di negeri ini. Universitas yang menyandang nama negara..
Besok, Senin 1 Maret 2010 jam 16.00 akan dilakukan diskusi lebih lanjut tentang SK UP-BOP ini dengan menghadirkan MWA UI unsur mahasiswa (Bhakti), Ketua BEM UI, Ketua BEM beberapa Fakultas, dan sumber sumber lain. Saya mengundang siapapun yang PEDULI untuk turut hadir di Kantek / R.BEM FT pada waktu tersebut.
Semoga Mahasiswa UI bisa bersikap taktis dalam menyikapi isu ini, karena sungguh kali ini bukan hal main main yang dipertaruhkan.
Jika ada yang salah dengan tulisan saya, monggo dikoreksi.
Semoga UI selalu menjadi kampus Rakyat.
Hmmmm... ternyata di Mading ini emang sudah tertempel sekelumit tentang SK tersebut, tapi dari yang saya baca (atau mungkin saya kurang teliti) yang tercantum di situ cuman lampiran-lampiran saja. Yang isinya adalah besaran yang harus dibayar oleh mahasiswa baru 2010. Hmmmmm....NGebaca lampiranya memang belum cukup untuk menggambarkan isi keseluruhan dari Surat Keputusan tersebut. Namun jika benar yang tertulis dalam narasi di Mading itu, bahwa BOP sekarang menjadi sistem keringanan bukan sistem pembayaran maka ini sebuah keputusan yang ironis dari pihak birokrat. Tidakkah mereka melihat masih banyak celah dari sistem yang lama?? Mengapa mengambil keputusan begitu Beresiko?? yang dipertaruhkan bukan main-main. Hak warga negara untuk mendapatkan pendidikan.
Mungkin pembaca bertanya, apa bedanya sistem keringanan dan sistem pembayaran??
Sistem Pembayaran : Secara makna maka seluruh mahasiswa diwajibkan mengumpulkan berkas, untuk kemudian dilihat berapa besaran yang cocok dengan kemampuan ekonomi mahasiswa. Apabila si mahasiswa menolak memenuhi berkas barulah dia terkena sanksi, yaitu bayar penuh.
Sistem Keringanan : (Secara gampang bahasanya jadi seperti ini), Si mahasiswa diminta bayar penuh (Flat, Rata, Sama) kalo nggak mampu, yaaa boleh laaah dicicil,, gak mampu juga?? baru lah anda minta keringanan.
Dua sistem ini jelas memberikan dampak yang berbeda terhadap mahasiswa...Sebab dengan sistem pembayaran maka seolah-olah default system nya mengharuskan kita membayar dengan besaran tertentu. Ini jelas akan mempengaruhi input mahasiswa yang akan mendaftar menjadi mahasiswa baru di Universitas Indonesia. Universitas yang konon merupakan salah satu yang terbaik di negeri ini. Universitas yang menyandang nama negara..
Besok, Senin 1 Maret 2010 jam 16.00 akan dilakukan diskusi lebih lanjut tentang SK UP-BOP ini dengan menghadirkan MWA UI unsur mahasiswa (Bhakti), Ketua BEM UI, Ketua BEM beberapa Fakultas, dan sumber sumber lain. Saya mengundang siapapun yang PEDULI untuk turut hadir di Kantek / R.BEM FT pada waktu tersebut.
Semoga Mahasiswa UI bisa bersikap taktis dalam menyikapi isu ini, karena sungguh kali ini bukan hal main main yang dipertaruhkan.
Jika ada yang salah dengan tulisan saya, monggo dikoreksi.
Semoga UI selalu menjadi kampus Rakyat.
Monday, February 22, 2010
SPWI 2010
Hmmmmm hari Sabtu 20 Februari 2010 kemarin dilaksanakan salah satu Program Kerja IMTI 2010 yang cukup besar (karena merupakan proker turunan). Ada yang tahuuu??? Heheh yap benar sekali itu adalah Seminar Pengembangan Wawasan Industri 2010. Acara yang berbentuk seminar ini memiliki tujuan untuk meningkatkan wawasan peserta seminar tentang dunia Industri.
SPWI 2010 ini menurut saya, merupakan SPWI yang cukup berani. Karena di penyelenggaraannya yang ke-11 ini panitia materi (saya termasuk di dalamnya lhow..hehe) berani mengambil sebuah keputusan yang cukup beresiko dengan mengambil tema yang kurang familiar di lingkungan Teknik Industri. Tema tersebut memang masih mengandung keterkaitan dengan SPWI 2009 yang mengangkat tema " Empowering Indonesian Industry " Namun tema kali ini (SPWI 2010) lebih spesifik dengan mencantumkan tema khusus "Optimizing Television Industri". Tema yang riskan bukan?? Hehe bukanya membahas tentang manufaktur yang biasa dibahas oleh seminar Teknik Industri, kami secara Liar memilih tema yang cukup berbeda.
Saya sendiri sebelum terpilih menjadi ketua IMTI 2010. Adalah anggota dari tim materi SPWI yang turut serta dalam menggodok dan akhirnya melahirkan tema final ini. Pengambilan tema ini pun bukanya tanpa alasan. Kami (Tim Materi SPWI yang dinahkodai oleh Stefan Darmansyah) berpikir bahwa tema ini sangat menantang, karena sesuai dengan arahan dari Memperindag pada tahun 2009 yang menyatakan bahwa Industri Kreatif harus digalakkan dan diusahakan menjadi tulang punggung sektor Industri Indonesia di masa depan, sebab konon sebagai ras Bangsa Asia kita memang diberikan anugrah berupa kelebihan dalam hal kreativitas, imajinasi dan hal-hal yang berhubungan dengan otak kanan. Oleh sebab itu Industri Kreatif yang bahan bakunya sebagian besar adalah IDE sangat pas untuk dijadikan Industri unggulan oleh Bangsa ini.
Singkat kata, setelah otak-atik sana sini, gojek kanan gojek kiri, ditolak pembicara sana sini. Dan Akhirnyaaaaa,,, Fix juga pembicara dan moderator untuk SPWI 2010 ini. Berikut susunan fixnya....
Daftar Pembicara, Topik, dan Moderator – SPWI 2010
Sesi 1 – Eksplorasi Industri Televisi Indonesia
Moderator : Hardijanto Suroso (SCTV)
• Mendesain Sebuah Industri Televisi
Pembicara : Ishadi S.K.
Komisaris – PT Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV)
• Memahami Operasional dalam Industri Televisi
Pembicara : Harsiwi Achmad
Direktur Program – PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI)
Sesi 2 – Optimalisasi Industri Pertelevisian Indonesia
Moderator : Prof. Dr. Ir. H. Teuku Yuri M. Zagloel, M.Eng.Sc. (FT UI)
• Mengenali Ilmu Optimalisasi dalam Industri Pertelevisian
Pembicara : Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, DEA
Guru Besar Madya dalam Ilmu Teknik Industri – Universitas Trisakti
• Aplikasi Optimalisasi dalam Industri Pertelevisian
Pembicara : Alex Kumara
Ketua Komisi Teknik – Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI)
Sesi 3 – Kontribusi Industri Pertelevisian Indonesia
Moderator : Aiman Witjaksono (RCTI)
• Kontribusi Industri Televisi bagi Perusahaan Pengguna Iklan Televisi
Pembicara : Bahrun Afriansyah
Senior Brand Manager – PT Unilever, Tbk.
• Pengaruh Industri Televisi bagi Pengembangan Masyarakat Madani
Pembicara : Effendi Ghazali, Ph.D., MPS ID
Dosen S2 Ilmu Komunikasi Politik – Universitas Indonesia
• Kontribusi Industri Televisi Berbayar bagi Pengembangan Wawasan Masyarakat
Pembicara : Handhi S. Kentjono
Wakil Direktur Utama – PT MNC Sky Vision (Indovision)
Sabtu, 20 Februari 2010 / Kirana Ballroom Hotel Kartika Chandra
Acara berlangsung dengan cukup lancar meskipun diwarnai dengan kesalahan teknis di sana sini. Sesi awal yang berlangsung cukup seru karena memberikan pandangan yang cukup komperhensif dari tataran seorang Komisaris Trans TV ( Bapak Ishadi) hingga pandangan yang cukup ditail dan sarat data dari seorang Direktur Program dari RCTI (Ibu Harsiwi) membuat sesi ini sangat tepat menyandang kata "Eksporasi" dalam judul sesinya.
Sesi kedua berjalan dengan cukup serius karena terdapat paparan yang memang agak berat dari Prof Dadan Daihani (Guru Besar Teknik Industri Univ Trisakti) dan Bapak Alex Kumara (Ketua Komisi Teknik ATVSI) keduanya memberikan gambaran yang jelas tentang bagian-bagian mana dari Industri Pertelevisian yang dapat dan yang belum bisa dioptimalisasi (beberapa usaha optimalisasi ternyata tidak selalu memberikan hasil yang sejalan)
Sesi terakhir ditutup dengan sesi yang sangat interaktif, perpaduan antara Bapak Handy yang menjelaskan keuntungan TV Berbayar, Bang Bahrun yang memberikan gambaran tentang bagaimana seorang marketer memandang Iklan dan efektivitasnya serta paparan Bapak Efendy Ghazali tentang kontribusi media dalam membentuk masyarakat madani diramu dengan kocak dan atraktif oleh Aiman Wicaksono yang telah mapan secara jam terbang memoderatori seminar-seminar besar.
Dari segi pelaksanaan saya kira SPWI 2010 telah sukses memenuhi apa yang dijanjikan oleh judul seminar itu. Yaitu memperluas wawasan peserta tentang Industri Pertelevisian. Meski masih jauh dari Sempurna namun saya rasa apa yang telah kami berikan telah cukup optimal. Semoga IMTI melalui program kerja SPWI 2010 dapat menjadi bagian dari kepingan yang menyusun mozaik kejayaan Industri Pertelevisian Indonesia.. Amiiinnn
(Terimakasih untuk selurh panitia SPWI 2010 yang telah bekerja keras dalam pembuatan seminar ini, Seluruh Sponsor yang telah mensuport acara ini, Departmen dan Warga TI UI yang telah sangat mendukung dan semua pihak yang telah mendukung suksesnya acara ini)
Semoga SPWI 2011 lebih dahsyaaaatttt....Amiiiin.....
SPWI 2010 ini menurut saya, merupakan SPWI yang cukup berani. Karena di penyelenggaraannya yang ke-11 ini panitia materi (saya termasuk di dalamnya lhow..hehe) berani mengambil sebuah keputusan yang cukup beresiko dengan mengambil tema yang kurang familiar di lingkungan Teknik Industri. Tema tersebut memang masih mengandung keterkaitan dengan SPWI 2009 yang mengangkat tema " Empowering Indonesian Industry " Namun tema kali ini (SPWI 2010) lebih spesifik dengan mencantumkan tema khusus "Optimizing Television Industri". Tema yang riskan bukan?? Hehe bukanya membahas tentang manufaktur yang biasa dibahas oleh seminar Teknik Industri, kami secara Liar memilih tema yang cukup berbeda.
Saya sendiri sebelum terpilih menjadi ketua IMTI 2010. Adalah anggota dari tim materi SPWI yang turut serta dalam menggodok dan akhirnya melahirkan tema final ini. Pengambilan tema ini pun bukanya tanpa alasan. Kami (Tim Materi SPWI yang dinahkodai oleh Stefan Darmansyah) berpikir bahwa tema ini sangat menantang, karena sesuai dengan arahan dari Memperindag pada tahun 2009 yang menyatakan bahwa Industri Kreatif harus digalakkan dan diusahakan menjadi tulang punggung sektor Industri Indonesia di masa depan, sebab konon sebagai ras Bangsa Asia kita memang diberikan anugrah berupa kelebihan dalam hal kreativitas, imajinasi dan hal-hal yang berhubungan dengan otak kanan. Oleh sebab itu Industri Kreatif yang bahan bakunya sebagian besar adalah IDE sangat pas untuk dijadikan Industri unggulan oleh Bangsa ini.
Singkat kata, setelah otak-atik sana sini, gojek kanan gojek kiri, ditolak pembicara sana sini. Dan Akhirnyaaaaa,,, Fix juga pembicara dan moderator untuk SPWI 2010 ini. Berikut susunan fixnya....
Daftar Pembicara, Topik, dan Moderator – SPWI 2010
Sesi 1 – Eksplorasi Industri Televisi Indonesia
Moderator : Hardijanto Suroso (SCTV)
• Mendesain Sebuah Industri Televisi
Pembicara : Ishadi S.K.
Komisaris – PT Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV)
• Memahami Operasional dalam Industri Televisi
Pembicara : Harsiwi Achmad
Direktur Program – PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI)
Sesi 2 – Optimalisasi Industri Pertelevisian Indonesia
Moderator : Prof. Dr. Ir. H. Teuku Yuri M. Zagloel, M.Eng.Sc. (FT UI)
• Mengenali Ilmu Optimalisasi dalam Industri Pertelevisian
Pembicara : Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, DEA
Guru Besar Madya dalam Ilmu Teknik Industri – Universitas Trisakti
• Aplikasi Optimalisasi dalam Industri Pertelevisian
Pembicara : Alex Kumara
Ketua Komisi Teknik – Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI)
Sesi 3 – Kontribusi Industri Pertelevisian Indonesia
Moderator : Aiman Witjaksono (RCTI)
• Kontribusi Industri Televisi bagi Perusahaan Pengguna Iklan Televisi
Pembicara : Bahrun Afriansyah
Senior Brand Manager – PT Unilever, Tbk.
• Pengaruh Industri Televisi bagi Pengembangan Masyarakat Madani
Pembicara : Effendi Ghazali, Ph.D., MPS ID
Dosen S2 Ilmu Komunikasi Politik – Universitas Indonesia
• Kontribusi Industri Televisi Berbayar bagi Pengembangan Wawasan Masyarakat
Pembicara : Handhi S. Kentjono
Wakil Direktur Utama – PT MNC Sky Vision (Indovision)
Sabtu, 20 Februari 2010 / Kirana Ballroom Hotel Kartika Chandra
Acara berlangsung dengan cukup lancar meskipun diwarnai dengan kesalahan teknis di sana sini. Sesi awal yang berlangsung cukup seru karena memberikan pandangan yang cukup komperhensif dari tataran seorang Komisaris Trans TV ( Bapak Ishadi) hingga pandangan yang cukup ditail dan sarat data dari seorang Direktur Program dari RCTI (Ibu Harsiwi) membuat sesi ini sangat tepat menyandang kata "Eksporasi" dalam judul sesinya.
Sesi kedua berjalan dengan cukup serius karena terdapat paparan yang memang agak berat dari Prof Dadan Daihani (Guru Besar Teknik Industri Univ Trisakti) dan Bapak Alex Kumara (Ketua Komisi Teknik ATVSI) keduanya memberikan gambaran yang jelas tentang bagian-bagian mana dari Industri Pertelevisian yang dapat dan yang belum bisa dioptimalisasi (beberapa usaha optimalisasi ternyata tidak selalu memberikan hasil yang sejalan)
Sesi terakhir ditutup dengan sesi yang sangat interaktif, perpaduan antara Bapak Handy yang menjelaskan keuntungan TV Berbayar, Bang Bahrun yang memberikan gambaran tentang bagaimana seorang marketer memandang Iklan dan efektivitasnya serta paparan Bapak Efendy Ghazali tentang kontribusi media dalam membentuk masyarakat madani diramu dengan kocak dan atraktif oleh Aiman Wicaksono yang telah mapan secara jam terbang memoderatori seminar-seminar besar.
Dari segi pelaksanaan saya kira SPWI 2010 telah sukses memenuhi apa yang dijanjikan oleh judul seminar itu. Yaitu memperluas wawasan peserta tentang Industri Pertelevisian. Meski masih jauh dari Sempurna namun saya rasa apa yang telah kami berikan telah cukup optimal. Semoga IMTI melalui program kerja SPWI 2010 dapat menjadi bagian dari kepingan yang menyusun mozaik kejayaan Industri Pertelevisian Indonesia.. Amiiinnn
(Terimakasih untuk selurh panitia SPWI 2010 yang telah bekerja keras dalam pembuatan seminar ini, Seluruh Sponsor yang telah mensuport acara ini, Departmen dan Warga TI UI yang telah sangat mendukung dan semua pihak yang telah mendukung suksesnya acara ini)
Semoga SPWI 2011 lebih dahsyaaaatttt....Amiiiin.....
Subscribe to:
Posts (Atom)