Monday, February 25, 2013

Mengapa Saya tidak Menyerah

Malam ini saya sedang stuck, bergadang menyelesaikan tugas yang benar-benar menguras tenaga saya untuk belajar tidak hanya dalam waktu yang singkat, namun juga menghasilkan hasil kerja dengan standar yang tinggi. Ya, lusa saya harus mempresentasikan perkembangan Thesis saya yang berkaitan dengan tema membangun Predictive Model dengan logika Neural Network. Dan besok ada beberapa tugas yang harus dikumpulkan dan masih dalam proses pengerjaan. Dalam segala tekanan ini, saya selalu ingat mengapa saya tidak menyerah, mengapa saya tidak mau mengaku kalah terhadap tekanan akademis sebesar apapun. Karena saya punya cita cita yang jelas, untuk kembali ke Almamater saya suatu saat nanti dengan sebaik-baiknya kapasitas pengajar. Maka bila sekarang ataupun bertahun tahun kedepan saya harus belajar keras, saya rasa itu adalah bayaran yang setimpal.

Saya punya banyak cita-cita, dan yang sekarang saya yakini adalah untuk menjadi dosen. Satu hal yang saya ingat betul saat saya membulatkan tekat menjadi seorang dosen adalah apa yang terjadi pada pertengahan tahun 2010. Ketika itu, saya yang menjabat ketua Ikatan Mahasiswa Teknik Industri, tengah memperjuangkan sebuah konsep pembinaan mahasiswa baru kepada ayah dan ibu pengurus Dekanat yang kami hormati. Ketika saya dan teman teman selesai memamparkan rancangan kami, seorang profesor dengan enteng mengatakan.

"Kamu mau sok-sokan ngajarin juniormu bikin paper ilmiah? Kamu tahu? Mahasiswa saya saya suruh bikin paper, nyontek semua!! Ini lagi kamu suruh mahasiswa baru bikin karya ilmiah"

Ucapan di atas masih membekas di benak saya, lengkap dengan nada dan raut wajah sang profesor. Yang buat saya tercengang bukan kalimatnya, oke kalimatnya juga. Tapi lebih dari itu, yang tidak bisa saya terima adalah bahwa kalimat tersebut keluar dari lisan seorang guru besar yang sangat saya hormati. Lalu kenapa jika mahasiswa sekarang tukang nyontek saat bikin paper? Apakah ini berarti mahasiswa baru tidak perlu dilatih untuk merumuskan pola berpikir ilmiah? Tidak perlu diajarkan cara berpikir dengan sistematis?

Jika institusi pendidikan tinggi kita berangkat dengan pola pikir demikian (semoga ini hanya tertanam di satu guru besar itu saja), maka jelas sudah dimata saya dimana kapal bernama Universitas ini akan kandas. Maka dari itu saya putuskan, jika hari ini saya tetap berkeinginan untuk belajar pada level tertinggi. Untuk terus mengasah kemampuan saya dalam ranah yang saya tekuni, semua adalah untuk kalian mahasiswa-mahasiswaku. Ya kalian mahasiswaku yang bahkan belum aku temui, tapi sudah mulai aku cintai.

Tuesday, February 12, 2013

Visi-Misi Sih, Tapi....


"Ngakunya sih calon pemimpin masa depan, tapi visi-misinya......masa gitu?"



Pertanyaan itu nyangkut di kepala gua sehabis makan siang tadi, secara nggak sengaja mata gua menangkap poster kampanye yang nangkring di mading, dan setelah gua baca dan amati tampaknya ada yang sedikit kurang pas dengan poster kampanye ini. Ya coba temen-temen amati poster diatas, oh iya, corat-coret itu disengaja oleh penulis (ceilah penulis, gua maksudnya) biar nggak ada pihak yang merasa tersakiti, terdzolimi, teraniaya atau terampas hak asasinya. Kalaupun masih ada yang tersakiti juga, gua minta maap dah #ihik

Nah sekarang biar pada ngeh, coba sok dibaca dulu tulisan yang ada di poster tersebut, mulai dari visi, sampai misinya. Menurut gua, yang sempat beberapa kali menyusun visi-misi untuk organisasi di kampus, contoh diatas bukan contoh visi misi yang ideal.  Karena terlalu melebar, dan terlalu tidak terukur. Poin, poin Misi juga terkesan utopis, contoh Melengkapi kebutuhan setiap anggota di berbagai tempat dan organisasi baik di ******* maupun diluar *******. Gua jadi bingung, apakah kebutuhan itu mencakup kasur palembang, sarapan tiap pagi, imunisasi atau bahkan pasangan hidup. Misi ini bisa memicu ambiguitas dibenak calon pemilih (ceilah). Selanjutnya bisa dinilai sendiri, dah sama temen temen.

Emang gimana sih Visi-Misi yang baik?

Well, gua juga nggak tau apakah standar gua ini bener apa enggak, tapi berdasarkan pengalaman selama ini beberapa yang harus dipenuhi dari visi misi adalah:

1. Menggambarkan harapan dan tujuan dari dijalankannya organisasi.
2. Mudah diingat, catchy, nyantol, sehingga mudah disosialisasikan, baik ke pemilih, maupun warga nantinya. Ingat Visi-Misi ini akan dibawa selama masa kepengurusan organisasi. Jadi semangat yang ada di visi-misi ini diharapkan jadi semangat organisasi.
3. Ini yang sangat penting TERUKUR, kenapa harus terukur? kenapa harus bisa diparameterkan? Karena selain akan diturunkan menjadi visi-misi bidang, hal ini juga penting jika dilihat dari segi evaluasi. Tentu kita tidak ingin organisasi yang kita jalankan gagal, dan di akhir hanya buang buang tenaga dan sumber daya. Maka di setiap jangka waktu tertentu, harus dilakukan evaluasi untuk mengukur seberapa jauh organisasi ini telah mengarah pada tujuan yang ditetapkan diawal. Well, faktor keterukuran ini juga terkait dengan pertanggungjawaban janji-janji kampanye terhadap pemilih, ingat Amanah yang diberikan oleh setiap pemilih akan diminta pertanggungjawabannya.

Poin-poin di atas tentu bukan hal yang baku, penerapan visi-misi tentu harus sangat disesuaikan dengan kultur dari masyarakat yang ada di sekitar organisasi itu sendiri. Jadi mungkin saja apa yang ada di poster itu sudah representatif dengan kultur dan kebutuhan warga dari organisasi tersebut, tapi kok rasanya hmmmm.... ah sudah lah.... #ihik

Sunday, February 3, 2013

Munafik?

fake, knife, mask, masks, society
Sumber: http://favim.com/image/262398/

Belakangan ini kasus dugaan suap terkait penambahan kuota impor sapi yang melibatkan presiden PKS, LHI sedang marak diberitakan di media nasional. Seperti apa yang marak di media nasional, maka marak pula pertempuran argumen di dunia maya, terutama di media sosial. Nah, ketimbang membahas tentang kasusnya sendiri, saya justru lebih tertarik untuk mencermati respon masyarakat terhadap fenomena ini.

Salah satu respon yang sangat jelas tertangkap adalah, adanya sekelompok orang yang bereaksi berlebih terhadap kasus ini, terutama terkait dengan image yang selama ini dibawa PKS sebagai Partai Dakwah yang mengusung jargon Bersih. Hal ini selama ini didukung dengan track record dimana kader PKS yang terbukti terlibat praktik korupsi dapat dikatakan relatif lebih sedikit dari pada partai partai lain.

Beberapa pihak seakan sudah menunggu sambil siap siap toa, untuk bilang "Nah loh!! Rasain! Kebukti juga kan lo sama busuknya!!!" Terutama mereka yang (dalam kaca mata saya) tidak menyukai idealisme yang berbasis agama. Beberapa dari mereka kemudian melontar kata-kata yang sebenarnya tidak kontekstual dengan substansi kasus korupsi itu sendiri. Mulai membawa bawa poligami, jenggot, atribut ritual agama seperti jago ngaji, ustadz, dan lain lain dengan ditambahkan dengan kata korupsi dan diidentikkan dengan kata munafik. 

Yang saya tangkap dari respon-respon tersebut adalah seakan akan mereka mau bilang "Kalau mau bangsat ya bangsat aja, nggak usah berlagak suci, nggak usah tampil agamis, toh ujungnya sama sama aja, gua lebih terima mereka yang korupsi dengan nggak bawa bawa predikat agama. Sekalian ancur dari awal, nggak munafik" 

Nah disini saya menangkap keganjilan, dan jadi bertanya tanya, siapa sebenarnya yang munafik? Apakah salah suatu partai, golongan, kelompok, atau seseorang membangung image yang positif terhadap dirinya? Mari kita tanya diri kita masing masing, apakah dari kita ada yang menonjolkan kejelekan atau aib kita setiap kita berkenalan atau mempromosikan diri? Dan apakah kalau kita memunculkan image tersebut kita jadi tidak boleh berbuat salah?

Saya juga tidak menemukan ada partai lain yang memasang jargon "Busuk, Korup dan Pemangsa Uang Rakyat" atau "Partai Biasa Biasa saja, Tidak akan Membawa Perubahan, Jauh Panggang dari Api" tidak, dan saya juga tidak menemukan ideologi manapun yang lalu mengizinkan pengikutnya untuk berbuat curang, korupsi maling atau ngrampok. Maka semestinya semua individu yang korupsi pastilah melanggar ideologi partai. Dan bukan karena ada orang yang melanggar maka ideologi partai atau kelompok tersebut menjadi salah.

Dan kalau memang menampilkan image positif yang diharapkan menjadi visi suatu kelompok dianggap munafik bila tidak sesuai seratus persen dengan apa yang dilakukan di lapangan. Maka berbahagialah, karena bisa jadi kita lah orang orang paling munafik. Lihat apa yang tertuang dalam Pancasila maupun Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, tidak satu nilai luhur pun dalam kedua hal tersebut saya temukan diterapkan secara menyeluruh dalam keseharian kita. 

Latar belakang gua nulis tulisan ini cuman satu, Gua takut suatu hari nanti kita semua lebih memilih diam daripada menyuarakan kebenaran, hanya karena takut dicap munafik dikemudian hari.






Friday, February 1, 2013

Topeng Monyet

Bandung emang kota yang kreatif, di sudut sudut lampu merahnya, banyak atraksi atraksi yang nggak pernah gua temuin di kota-kota lain di tempat gua tinggal sebelumnya. Mulai dari orang yang ngecat tubuhnya pake cat silver gitu, jadi keliatan kayak patung krom (tapi sayang sering pake kolornya nggak krom, jadi ganggu, banget), orang ngamen pake biola, bencong (ini dimane mane ada kayaknya), sampai yang paling gua suka, atraksi makan lampu merah dipinggir jalan. Oke gua bohong, diulang, sampai yang paling gua suka, Topeng Monyet.

Berkas:Topeng monyet.jpg
(Ilustrasi (ya iyalah ilustrasi), sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Topeng_monyet.jpg)

Nah, terakhir kali gua liat ini topeng monyet, itu minggu kemarin. Waktu lagi jalan sama temen-temen kosan. Topeng monyet ini oke banget, pertama! Dia bisa naik sepeda, Kedua! Dia bisa make topeng!! Btw, itu biasa ya Topeng Monyet bisa gitu #ihik. Ya tapi gua berpikir positif, sebenernya itu karena dia nampil di lampu merah aja makannya aksinya sedikit. Gua yakin kalo itungan lampu merah itu sampai 3452398 pasti lebih banyak yang bisa ditampilin (dan dijamin kagak ada yang lewat situ sih, tapi, ah sudah lah), seperti mungkin monyet itu bisa nampilin aksi yang lebih kontemporer, gangnam style misalnya, niruin anggota dewan rapat, atau nyelesain predictive model buat EOR dengan Neural Network (ini mah kerjaan gua -,- #pamer.net). Nah di akhir perjumpaan gua dengan monyet itu, muncul pertanyaan dalam diri gua. "Ngeliat tingkah manusia yang kayak gini akhir akhir ini, kira kira, andai ini monyet bisa ngomong, dia malu nggak yah disuruh berlagak jadi manusia." Ini permasalahan serius men, sebab bisa saja suatu saat Topeng Monyet digolongkan sebagai bentuk pelecehan terhadap monyet karena disamakan seperti manusia, seperti sekarang ngatain orang monyet dianggap cacian.

Sekian #ihik