Mengapa Saya tidak Menyerah
Malam ini saya sedang stuck, bergadang menyelesaikan tugas yang benar-benar menguras tenaga saya untuk belajar tidak hanya dalam waktu yang singkat, namun juga menghasilkan hasil kerja dengan standar yang tinggi. Ya, lusa saya harus mempresentasikan perkembangan Thesis saya yang berkaitan dengan tema membangun Predictive Model dengan logika Neural Network. Dan besok ada beberapa tugas yang harus dikumpulkan dan masih dalam proses pengerjaan. Dalam segala tekanan ini, saya selalu ingat mengapa saya tidak menyerah, mengapa saya tidak mau mengaku kalah terhadap tekanan akademis sebesar apapun. Karena saya punya cita cita yang jelas, untuk kembali ke Almamater saya suatu saat nanti dengan sebaik-baiknya kapasitas pengajar. Maka bila sekarang ataupun bertahun tahun kedepan saya harus belajar keras, saya rasa itu adalah bayaran yang setimpal.
Saya punya banyak cita-cita, dan yang sekarang saya yakini adalah untuk menjadi dosen. Satu hal yang saya ingat betul saat saya membulatkan tekat menjadi seorang dosen adalah apa yang terjadi pada pertengahan tahun 2010. Ketika itu, saya yang menjabat ketua Ikatan Mahasiswa Teknik Industri, tengah memperjuangkan sebuah konsep pembinaan mahasiswa baru kepada ayah dan ibu pengurus Dekanat yang kami hormati. Ketika saya dan teman teman selesai memamparkan rancangan kami, seorang profesor dengan enteng mengatakan.
"Kamu mau sok-sokan ngajarin juniormu bikin paper ilmiah? Kamu tahu? Mahasiswa saya saya suruh bikin paper, nyontek semua!! Ini lagi kamu suruh mahasiswa baru bikin karya ilmiah"
Ucapan di atas masih membekas di benak saya, lengkap dengan nada dan raut wajah sang profesor. Yang buat saya tercengang bukan kalimatnya, oke kalimatnya juga. Tapi lebih dari itu, yang tidak bisa saya terima adalah bahwa kalimat tersebut keluar dari lisan seorang guru besar yang sangat saya hormati. Lalu kenapa jika mahasiswa sekarang tukang nyontek saat bikin paper? Apakah ini berarti mahasiswa baru tidak perlu dilatih untuk merumuskan pola berpikir ilmiah? Tidak perlu diajarkan cara berpikir dengan sistematis?
Jika institusi pendidikan tinggi kita berangkat dengan pola pikir demikian (semoga ini hanya tertanam di satu guru besar itu saja), maka jelas sudah dimata saya dimana kapal bernama Universitas ini akan kandas. Maka dari itu saya putuskan, jika hari ini saya tetap berkeinginan untuk belajar pada level tertinggi. Untuk terus mengasah kemampuan saya dalam ranah yang saya tekuni, semua adalah untuk kalian mahasiswa-mahasiswaku. Ya kalian mahasiswaku yang bahkan belum aku temui, tapi sudah mulai aku cintai.

