Monday, May 25, 2009

Bisakah Loyalitas Terhadap Idealisme Diikat Undang-Undang?

Siang ini, sebenernya niat gw adalah buat mosting (bener-bener ngepost surat) surat keterangan buat Bapak di Jombang. Tapi ternyata gw datang di saat yang ndak tepat karena baru masuk PAU UI, tempat kantor pos Universitas Indonesia bersemayam, jam 12 siang, jadilah gw terbentur waktu istirahat makan siang. huuuhhh....Harus nunggu sejam dah buat dapet pelayanan dari petugas.

Tapiiii ndak papa, kebetulan saya lagi bawa Hagaba Yagaba (Nama Laptop Saya haha), jadilah saya manfaatkan waktu sejam yang singkat ini buat browsing. yaahh sapa tau ada informasi menarik yang bisa didapet. (Padahal Niat utama adalah....yapsss...buka FB hahaha)

Karena kulino (bahasa jawa, artinya kira2 biasa.red) ngebuka kompas, jari saya gatel buat ngebuka website ini, nah kebiasaan nih kalo buka Kompas biasanya yang saya lihat langsung berita-berita di Tab Internasional (Soalnya yang Nasional dan Regional isinya politik muluuuu haha).

Waktu lagi milih-milih kira-kira berita yang mana yang mau gw baca, tiba-tiba mata menangkap sebuah judul nan Menarik. Judulnya itu "RUU Sumpah Setia Pada Negara Yahudi"





Yang mau baca coba klik di sini dah http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/05/26/07575694/ruu.sumpah.setia.pada.negara.yahudi

Nah pas ngebaca isi berita itu, saya kok sedikit geli yah, Bangsa Yahudi tuh bukanya identik dengan sikap cerdas dan percaya diri yah? Tapi cara untuk menjadikan undang undang sebagai pengikat loyalitas itu, menurut saya sedikit menggambarkan rasa kurang percaya diri.

"Partai ultra nasionalis Yisrael Beitenu pimpinan Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman telah menyusun rancangan undang-undang untuk mewajibkan warga negara Israel mengucapkan sumpah setia kepada Israel sebagai negara Yahudi, Zionis dan Demokratis." dari kutipan berita ini, dapat kita ambil kesimpulan kalo Undang-Undang itu, nantinya akan dijadikan sebagai alat bagi pemerintah Israel buat ngejadiin setiap orang terikat pada paham Zionisme guna mendukung negara Yahudi itu tetep eksis keberadaanya.

Sebelumnya mungkin masih banyak dari kita yang belum tau apa itu gerakan Zionisme, Zionisme berasal dari kata Zion, sebuah bukit di Yerusalem tempat yang mereka inginkan dari awal untuk membentuk negara Yahudi. Gerakan ini diresmikan setelah konggres zionis pertama di Bassel Swiss tahun 1897. Jadi gerakan ini menyatukan orang-orang Yahudi di seluruh dunia untuk membentuk suatu gerakan mendirikan negara Yahudi yang mengakomodir kepentingan orang-orang Yahudi ini. Yang lucu adalah ternyata paham ini dianggap oleh PBB dengan mengeluarkan Resolusi 3379 yang menyatakan bahwa gerakan Zionisme adalah tindakan yang rasialis mesipun resolusi ini dicabut pada 19 Desember 1991. Tentunya dengan desakan dari pelobi ulung Yahudi.

Cukup membahas tentang zionisme, kembali pada RUU itu, jadi berdasarkan yang ada di Kompas RUU itu ditujukan untuk mengikat warga Arab Israel yang jumlahnya sekitar seperlima dari seluruh penduduk Israel itu sendiri. Jadi wajar kalo sebenarnya warga Arab ini bersifat antipati terhadap sikap negara Israel yang senantiasa memperlakukan mereka sebagai warga kelas dua. Ketidaksetiaan ini dianggap mengancam keberadaan negara Israel. Jadi pemerintah Negara Tanpa Tanah Air itu merasa perlu untuk memberlakukan aturan mengikat bagi warganya (Undang-Undang).

Nahhhh,, singkat. Menurut saya indikasi ini menunjukkan bahwa, sebenarnya dalam diri Pemerintah Israel sendiri terdapat rasa tidak percaya diri terhadap keberlangsungan negara yang mereka dirikan secara paksa ini. Kalu saja mereka percaya bahwa ideologi yang mereka angkat sebagai dasar negara adalah Ideologi yang mutlak kebenaranya, tentulah tidak diperlukan suatu peraturan perundangan untuk mengikat kesetiaan warganya. Dan seandainya saja negara itu tidak memperlakukan rakyatnya secara diskriminatif tentu tidak akan timbul tekanan terhadap pemerintah berkuasa.

Ideologi dibangun secara bertahap, dan berangsur-angsur, bukan suatu yang dapat berubah dan berbolak balik secara cepat dan drastis. Kalau saja Pemerintah negara Yahudi ini mau sedikit belajar, ada baiknya mereka belajar dari Negara Indonesia, Negara yang di dalam undang-undang dasarnya terdapat pasal bela negara ini. Ternyata masih juga banyak elit warganya yang berkelit dan menelikung NKRI. Itu adalah bukti nyata bahwa ideologis, dan paradigma bukan bersumber pada undang-undang, namun sebaliknya seharusnya undang-undanglah yang disusun berdasarkan Ideologis.

Huhhh... Serius banget yah postingan kali ini,, hehe.. Sekian dulu dah.. Soalnya kantor posnya dah buka tuh..hehe

Assalamualaikum..

Saturday, May 23, 2009

Ketika Roh Lebih Memilih Berputih Tulang daripada Berputih Mata

Roh Moo-hyun adalah seorang korean kelahiran Gimhae dekat Busan pada 6 August 1946. Sebuah usaha keras dari orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan Tinggi ini menjadikanya mampu meraik profesi sebagai pengacara bidang Hak Asasi Manusia yang cukup tenar, dimana di kemudian hari profesinya ini mampu mengantarkan dia menduduki kursi Presiden Korea Selatan, untuk masa jabatan dari 25 Februari 2003 hingga 25 Februari 2008. Selama kepemimpinanya itu, seperti juga pemimpin-pemimpin lain di Dunia, Roh juga mengalami pasang surut popularitas. Dengan jualan "Tidak Akan menjadi Antek Amerika" Roh sempat meraih simpati golongan muda korea selatan sehingga popularitasnya menjanjak sepanjang masa pemilihan dan awal kepemimpinan. Pada 2004 melalui impeachment lawan politik Roh sempat mengoyang kekuasaanya namun gagal. Sehingga Roh dapat kembali berkuasa dan menjalankan sisa masa kepemimpinanya.

Sepanjang kepemimpinanya, Beberapa kebijakan dinilai kurang populer dan menjatuhnya popularitasnya di kalangan masyarakat Korea, seperti kebijakan untuk mengirimkan tentara Korsel ke IRak, rencana untuk memindahkan ibu Kota Negara dari Seoul ke Chungcheong hingga inisiatifnya untuk melakukan konsolidasi dengan pihak oposisi terbesar di Korsel yaitu Partai Nasionalis Utama yang menjatuhkan popularitasnya di mata basis massanya.

Berakhirnya masa jabatan Roh ternyata bukan mengakhiri masa kelam dalam karir politiknya. Roh justru semakin terpuruk setelah keluarganya dirongrong kasus korupsi. Jaksa penuntut Korea Selatan memeriksa kakak mantan Presiden Korea Selatan itu Roh Moo-pyeong mengenai dugaan pengaruh yang digunakannya terhadap penjualan sebuah firma yang terancam bangkrut ke sebuah bank yang disupervisi oleh negara. Roh Gun-pyeong (66) diduga menerima uang untuk membantu firma keuangan Sejong Capital menjual unit usahanya Sejong Sekuritas ke Federasi Koperasi Pertanian Nasional yang dikenal dengan sebutan Nonghyup pada 2006 saat adiknya masih menjabat sebagai Presiden Korea Selatan.

Kasus dugaan korupsi keluarga ini tampaknya begitu memukul Roh yang sebelumnya begitu menjunjung tinggi kejujuran dan slogan anti korupsi. Hingga begitu terpukulnya Roh memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari tebing pada tanggal 23 Maret 2009 dini hari. Kematian Roh sontak membuat seluruh korea bahkan dunia kaget. Begitu tragis dan pilu akhir hayat dari seorang Roh Moo-hyun, seorang mantan orang nomor satu di Korea Selatan, seorang yang penah memiliki mimpi untuk memmajukan kekuatan Asia.

Begitulah jalan hidup yang dipilih Roh, yang baginya lebih baik berputih tulang (mati) daripada hidup berputih mata (menahan malu). Sebuah pelajaran getir, yang harusnya bisa menyentak setiap pemimpin di Dunia, bahwa kekuasaan, pengaruh dan amanah yang diemban tidak mungkin tidak dipertanggungjawabkan. Jika di depan manusia saya pertanggung jawaban itu sungguh begitu berat, lantas bagaimana dengan pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT kelak? tentu lebih berat.

Bagi calon-calon presiden dan wapres yang hendak mengelu-elukan diri dan golonganya, agar mawas diri!! selalu berhati hati, jangan sampai kekuasaan yang didapat hanya membawa kesulitan bagi orang banyak!! Jikalau sedetik saja kalian! Para pemimpin lengah akan tanggung jawab kalian, kehinaan akan menyertai seumur hidup.

Bertanya dan Bertanya lah tanpa Ragu!!

Selama saya sekolah,,dari mulai SD, SMP, SMA kuliah di ITS sampai akhirnya pindah ke UI saya nemuin satu hal yang selalu terjadi di lingkungan akademis yang saya tinggali. Mungkin karena terus-menerus tinggal di lingkungan yang homogen saya jadi bisa menarik suatu benang merah dari orang orang di sekitar lingkungan belajar saya. Yaitu adalah kurangnya minat dan keberanian untuk BERTANYA. entah karena tidak ada yang ditanyakan, atau takut terlihat bodoh di depan orang banyak. haha

Mungkin bagi kebanyakan orang, masalah ini bukan masalah yang penting, sebab paradigma yang dibangun oleh alur pendidikan di Indonesia adalah paradigma untuk menjawab pertanyaan. Jadi masa bodo apakah kita mahir bertanya atau tidak, bisa melihat celah dari sebuah argumen atau tidak asalkan kita bisa menjawab pertanyaan dengan baik maka masalah akan terselesaikan. Padahal menurut saya, mencari jawaban dan kebenaran dengan metode bertanya, adalah jauuuuh lebih menarik, lebih menantang dan lebih berkesan daripada menemukan jawaban dengan menjawab.

Bukankah setiap inovasi-inovasi di dunia ini, berawal dari sebuah pertanyaan? Berawal dari ketidak tahuan? Sehingga sebuah pertanyaan, yang dilontarkan oleh seorang yang mungkin tidak begitu hebat, tapi berani dan mampu untuk berpikir di luar batas mampu menjadi pemicu bagi ledakan jawaban-jawaban dari orang-orang di sekitarnya, mereka yang lambat laun melengkapi akar,batang daun dari pohon pemikiran yang bibitnya disemai melalui sebuah pertanyaan, bukan sebuah jawaban.

Menurut saya pribadi neh,, ada beberapa penyebab orang males buat bertanya:

1. Kurang memperhatikan topik, sehingga gak ngerti dah, apa yang mau ditanyain.
2. Ngerasa udah jago, jadi ndak perlu nanya.
3. Takut pertanyaan saya dinilai "dangkal" trus diketawain oleh seisi forum.
4. Dst (hahaha)

Sebenernya hal-hal itu bisa sedikit teratasi dengan beberapa tips berikut, tips biar kita g malu buat nanya:

1.Pantengin baik-baik tuh,, apa yang dijelasin dan perhatikan benar-benar apa unsur-unsur 5W+1H udah benar benar terakomodasi dalam penjelasan yang disampaikan. Kalo belum, tanyai gan!! itu ladang kita buat menggali lebih jauh.

2.Banyak bacaaaaaa.... Apapun baca aja dah, haha suatu saat pasti pengetahuan itu bakal berguna kok. (Jadi inget pas diskusi ama Bang Randi di atap EC..hehe)

3.Jangan pernah takut buat diketawain, orang-orang yang ketawa cekikikan itu belum tentu bisa bertanya sebagus pertanyaan anda.

Nah step-step sederhana itu Insya Allah bisa membantu kita untuk enggak segan buat bertanya. Dengan bertanya gan, kita bakal dapet lebiiiiihhh banyaaaakk hal lagi, percaya dah.


Segini dulu dah, soalnya lagi mau UAS, haha..Bertanya terus dan terus hingga ketidak-tahuan lelah membelenggu pikiranmu....:)

Wednesday, May 6, 2009

Ini Bukan Soal Kita Dibayar Berapa,,..

Siang siang,,Ngantuk,,Aus dan kombinasi dosen Pak Sri Bintang Pamungkas adalah perpaduan yang cukup untuk membuat kita bingung memilih. Antara mau berleha-leha saja di Kamar, ngenet di Lobi, Atau kuliah Pengantar Ekonomi dan Bisnis dengan baik.

Tapi mengingat tanggal 13 akan ada ujian kedua sebelum UAS, yang mana bobot ujian ini adalah 50% dari keseluruhan nilai, yahhh apa boleh buat lah. akhirnya saya pilih untuk kuliah aja. Meski dengan berat otak (bukan berat hati cuy)

Nah hari ini Pak Bintang seperti hari biasanya. Tidak pernah telat, datang dengan rapi, dan selalu ngajar dengan media yang sama. Slide Proyektor..Setelah menyiapkan alat pengajaranya, pak bintang mulai masuk ke materi, yang entah kenapa selalu, menarik!!!

Pada kesempatan ini masih nyambung dengan kemaren, Pak Bintang ngejelasin tentang mekanisme pergerakan nilai pertukaran mata uang, ini g mudah teman sama sekali g mudah. Tapi yadah lah kita simak sajah

Setelah bla-bla bla,, tiba tiba pak bintang menyinggung tentang Involunteri Unemployment (Pengangguran yang kagak Ikhlas adalah deskripsi yang tepat untuk ini..haha) yaitu mereka, yang sebenernya tidak mau menganggur, tapi dianggurkan oleh keadaan. Jadinya mereka g bisa kerja dah, kerjaanya mencoba melamar kesana kesini, kerja serabutan dan merenung di rumah mengapa pohon pepaya tidak berduri (lah??)

Terus, pak bintang juga ngejelasin tuh, tentang apa yang dimaksud dengan Volunteri Unemployment (Orang Orang yang rela, ikhlas dan hobi untuk jadi pengangguran). Jadiii apa boleh buat dah,, dia mau g mau harus nganggur. Orang-orang macam ini ada, lantaran dia udah memperhitungkan kalo daripada dia kerja dan dibayar yang g sesuai dengan capek yang dia dapet saat kerja dia lebih baik nganggur. Misal, daripada kerja ngecat Zebra Cross tapi cuma dibayar remason mending nganggur kan?? ya iya laaahhhh..hehe.

Berpijak pada penjelasan tersebut pak Bintang ngejelasin lagi soal mekanisme untuk mewujudkan Full Employment. Tiba-Tiba beliau bilang

Pak Bintang : "Kalian tau,, UI ini tiap ganti rektor ganti kebijakan"
Mahasiswa : "hmmmm....."
Mahasiswa laen : "Wah saya dapet coment baru di wall saya!!" (behh yang ini malah fban)
Pak Bintang : "Salah satunya adalah soal gaji dosen,",, "Bu Ana sudan mengingatkan (yang mana Bu Ana adalah Sekertaris Jurusan TI UI) kalo kita (yang mana kita di sini adalah para dosen TI UI) harus siap siap November nanti gaji kita bakal turun"
Pak Bintang : "Tapi saya g masalah,, saya kan mengajar bukan karena Gaji,,tapi karena Hobi..ha ha ha (tawa Khas Beliau)"

Dari kata kata itu,, saya nyadar, ada perbedaan jelas antara orang yang "Bekerja" dan mereka yang "Mencari Uang"

Ketika seseorang "Mencari Uang" maka Uang lah yang kita dapatkan,, ya to?? sehingga kita bisa dengan mudah syok, atau gendheng (pake h) saat uang itu ilang ato berkurang..

Sedangkan bagi orang yang "Bekerja" uang tidak menjadi tujuan utama gan!! poin utamanya adalah anda bisa bermanfaat dan melakukan apa yang anda sukai.. Perkara lalu banyak uang yang datang.. Yaaa apa boleh buat...hahaha