Monday, December 31, 2012



Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi





Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bukanlah hak 

prerogratif dari suatu bangsa, agama, budaya atau si-kaya/miskin

tapi hak seluruh umat manusia.

Bacharuddin Jusuf Habibie/ Dalam Pidato Ilmiah Dies

 Natalis ITS ke-52 

Perasaan Terbaik Adalah......


Perasaan terbaik adalah ketika kita bisa bangkit lagi dari keterpurukan tanpa sedikitpun kehilangan antusiasme.

-Dwiki Drajat Gumilar-

Friday, December 7, 2012

Kita Jarang Mensyukuri Guruh


"Dwik petirnya kenceng banget dah. Jadi serem"

Petir (Sumber: Wikipedia)

Itu kata temen saya waktu hujan lagi deras dan petir saling silang menghiasi langit Bandung di suatu sore. Yang dia maksud petir, itu pastilah guruh, suara menggelegar yang muncul sesaat setelah petir menghantam bumi. Yang getarannya sering-sering bikil alarm mobil meraung-raung. Untung gua bawa motor, dan motor gua nggak ada alarm nya. Oke, itu bukan poin yang perlu disoroti.

Ngomong ngomong, gua suka bingung sama mereka yang takut sama guruh, bukannya guruh itu musti kita syukuri? Kenapa musti kita syukuri? Karena fakta bahwa kita bisa mendengar guruh adalah bukti nyata bahwa bukan kita yang kesamber petir!!! Bayangkan kalau kita yang disambar petir yang mengalir begitu cepat dengan arus ribuan ampere dan tegangan ribuan (atau jutaan, tidak penting) volt. Sempat kah bunyi guntur mampir ke telinga kita? Atau jantung kita duluan protol karena tingginya tegangan sengatan petir? Ya tentu saja saya yang tidak pernah kesamber petir tidak bisa memberikan komentar empiris, tapi kok secara analitis kayaknya enggak yah.

Tentang Ki Ageng Selo & Petir

Dulu waktu kecil, saya sering main hujan hujanan atau sekedar lari-lari di lapangan waktu hujan, dan setiap ada guruh mampir ke kuping, saya dan temen temen akan tiarap sambil teriak "Aku putune Ki Ageng Selooooooooooooo!!!" (Translate: Saya cucunya Ki Ageng Selooooo!!!!). Siapa Ki Ageng Selo ini? Dia adalah tokoh spiritual di Jawa, yang konon dulu gurunya Jaka Tingkir dan termasuk pendiri Kerajaan Mataram. Jadi ceritanya dulu, waktu Ki Ageng Selo ini lagi di sawah, ada petir iseng yang nyoba-nyoba nyamber beliau. Ya salah petirnya juga sih, udah tau orang sakti disamber. Singkat cerita, petir ini ditangkep sama Ki Ageng Selo (mungkin jaman itu, petir ini semacam Pokemon), dan dilepas dengan syarat dia dan temen-temennya nggak akan nyamber anak cucu Ki Ageng Selo.

Belakangan setelah belajar lebih lanjut, saya baru nyadar hal ini hoax belaka. Bukan, saya bukan bicara tentang Ki Ageng Selo nangkep petir, tapi fakta bahwa ketika petir menyambar, sepertinya kita tidak akan sempat bawa bawa nama Ki Ageng Selo sebelum otak kita hangus dan jantung kita copot. Jadi jangankan ngomong, mengaduh aja mungkin kita tidak sempat.

Mulai sekarang, mari bersyukur tiap mendengar guruh. Juga terhadap fenomena-fenomena lain dalam hidup, coba mulai ditelaah satu satu, barangkali ketemu fenomena fenomena yang selama ini sering kita takuti atau ratapi padahal seharusnya kita syukuri.



Saturday, December 1, 2012

Desember 2012

Yap, sekitar sebulanan sejak terakhir gua post di blog ini. Daannn it's December coming. Bulan terakhir ini selalu datang tiba-tiba. Setiba-tiba begitu banyak resolusi yang tau-tau belum kecapai aja di tahun 2012. Salah satu yang paling gua sadari adalah, bahwa hidup gua selama ini masih di situ-situ aja. Padahal umur gua udah 23 tahun. Ini tidak baik, sangat sangat tidak baik. Waktunya mencoba hal hal baru :D

Thursday, November 1, 2012

Dulu Aku Pernah Bersumpah



Dulu aku pernah bersumpah
Dibawah terik matahari, diatas aspal, rapat dalam barisan didepan aparat berseragam
Bahwa suatu saat, suara suara ini akan terdengar
Dalam bentuk yang menentukan langkah kaki republik ini

Dulu aku pernah bersumpah
Didalam kelas-kelas kumuh, di depan muka muka haus ilmu, yang seragam tanpa seragam
Bahwa suatu saat, tidak akan ada lagi anak negeri yang berbeda di depan gerbang ilmu pengetahuan
Semua sama mulia!

Dulu aku pernah bersumpah
Diantara bapak ibu yang tidur beralas trotoar, berselimut angin malam
Bahwa suatu saat tidak ada lagi orang perlu menderita
Atas suatu yang menjadi hak mereka!

Kepada kalian generasi tua yang kolot, korup dan mewariskan kebisuan atas ketidakadilan
Bersiaplah
Karena apapun resikonya
Kalian akan kami gantikan!

Saturday, July 14, 2012

Hal yang Selalu Bikin Saya Ngiri


Saya tau ngiri itu tanda ngga bersyukur, ya tapi namanya orang toh : D Saya itu seneng loh kalo liat ada keluarga adem gitu, makan bareng lah, jalan-jalan, senyum-senyum bareng. Dan yang kadang bikin saya makin iri itu kalo ternyata, hal serupa bisa terjadi di keluarga yang tingkat ekonominya ngga bagus. Berarti harusnya saya bisa dong yah punya yang macam itu, ya nggak papa, kalo ngga sekarang nanti saya mau bikin keluarga macam itu : D


Thursday, June 7, 2012

Andai Bung Hatta dan Bung Karno Punya Twitter


Sungguh saya nggak bermaksud kurang ajar pada kedua founding father negeri ini yang fotonya saya pasang di atas. Tapi memang pertanyaan ini muncul tiba-tiba di benak saya. Dan tolong, jangan dibuat rumit, jangan pake nanya-nanya dimana logika penulis tahun 1920-an bisa ada twitter padahal internet baru beredar luas taun 90 an. Dan jangan nanya apa HP nya Sukarno dan Hatta, apa mereka pake Samsung, Apple atau Nexian. Apalagi nanya siapa yang follow duluan, dan apa yang satu minta "folbek aku eaaaahhh". Tolong jangan. Karena memang agaknya penulis tanpa jluntrungan telah melahirkan ide ini. Terima saja yah.

Oke, menurut temen-temen kalo ini lagi jaman perjuangan kemerdekaan terus kedua orang itu punya twitter, gimana menurut temen-temen interaksi antar keduanya? Kalau dalam pandangan saya, mereka pasti akan banyak berdebat kritis satu sama laen. Ibarat kate, kalo kita follow nih dua orang, pasti ngga jarang deh TL kita bakal dihiasi oleh balas-membalas opini antar keduanya. Atau saling singgung dengan pake hastag #nomention. Ya, mungkin banyak yang ngira kedua tokoh ini selalu seiya sekata dalam pemikiran. Namun faktanya kedua tokoh ini justru sering sekali berbeda pendapat satu sama lain. Menyangkut begitu banyak hal, mulai dari kebijakan ekonomi, arah pergerakan hingga pandangan terkait komunisme.

Ambil lah contoh dalam hal arah pergerakan menuju kemerdekaan. Tahun 1930-an, waktu Hatta baru membangun pergerakan politik di Indonesia, terjadi polemik tentang makna pergerakan yang "Non-Cooperation". Kedua tokoh ini memang semangat mengikuti sikap politik Gandhi, yang mendorong perjuangan tanpa bekerja sama dengan penjajah. Seiya sekata dalam konsep, bisa jadi berbeda jauh dalam praktek. Ketidak sepahaman ini juga besar kemungkinan dipengaruhi karna keduanya punya garis simpul massa masing masing. Soekarno dengan Partindo dan Hatta dengan PNI (Pendidikan Nasional Indonesia)

Pematiknya adalah, telegram yang meminta kesediaan Hatta untuk dicalonkan menjadi calon anggota parlemen belanda oleh partai sosialis belanda (OSP). Belum lagi dijawab permohonan ini oleh Hatta, namun ternyata beritanya telah menyebar bahwa Hatta bersedia. Hal inilah yang diangkat oleh Ir Soekarno dalam tulisannya di beberapa media yang berafiliasi dengan Partindo untuk meluncurkan serangan terhadap Hatta. Dengan tidak kalah cerdas, Hatta pun membalas dengan sanggahan-sanggahan yang ilmiah dan lugas melalui tulisan melalui Media PNI. Dan perdebatan mengenai tuduhan menghianati sikap gerakan "non-cooperation" ini berlangsung hingga beberapa tulisan muncul di kedua media. 

Sukarno berkeras bahwa duduk di perwakilan rakyat Belanda adalah bentuk kerja sama dengan Belanda. Artinya menghianati sifat gerakan "non-cooperation", diambilnya contoh gerakan kemerdekaan Irlandia atas Inggris sebagai penguat argumennya. Sementara Hatta berpendapat bahwa "non-cooperation" tidak terkait dengan duduk atau tidak duduk di parlemen. Sebab duduk di parlemen itu sendiri dapat digunakan sebagai instrumen perjuangan untuk menolak penjajahan, dia juga berkeras bahwa contoh gerakan di Irlandia tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia. Sebab Irlandia-Inggris terlampau jauh hubungannya dengan Indonesia-Belanda. Inggris tidak menjajah Irlandia, mereka dipandang sebagai satu negara hanya saja yang satu lebih dominan atas yang lain. Maka wajar apabila Irlandia menuntut pemisahan parlemen untuk kedaulatan negaranya.

Balas membalas antara keduanya berlangsung cukup sengit melalui media masing-masing. Hingga akhirnya masalah ini berkesudahan begitu saja (akhirnya Hatta pun menolak dicalonkan OSP). Kalo sekilas mirip-mirip lah sama kelakuan aktipis kampus beda mahzab yang sering beradu argumen di twitter kalo beda pendapat terhadap suatu fenomena di masyarakat. 

Itu hanya satu contoh dari perbedaan pendapat diantara keduanya. Tentu bila ditelisik, banyak hal lagi yang mewarnai perbedaan diantara keduanya. Yang paling tajam bisa jadi yang membuat Hatta mundur sebagai wakil presiden. Tapi bagi saya, perbedaan diantara keduanya toh memberi warna yang unik dan saling mengisi dalam perjuangan kemerdekaan RI. Sukarno yang kental nuansa agitasi nya, berpadu dengan Hatta yang lekat dengan budaya ilmiah, dan kadang terkesan lebih kaku. Rasa-rasanya kita rindu juga yah dengan pola kepemimpinan macam ini. Yang saling mengisi, bukan kombinasi dimana yang presiden jago ngeluh, dan wapresnya hobi ngilang ngga kliatan. Hehehe kok jadi kemana-mana. 

Intinya kalo mereka berdua punya twitter, follower-follower mereka bakal sering dapet pencerdasan gratis. Dan mungkin juga bakal sering ribut-ribut lebih kenceng daripada si empunya akun. Yang pasti kalo kita follow dua-duanya, kita pasti akan cepet nyadar. Kalau perbedaan pendapat itu biasa diantara para pemimpin. Asal kepentingan yang lebih luas ngga disandra aja cuman demi kepopuleran salah seorang. Semoga bangsa ini bisa belajar dari keduanya, meski mereka ngga pernah dan nggak akan pernah punya akun twitter.

Sumber Inspirasi: Buku Otobiografi Muhammad Hatta "Berjuang dan Dibuang". 



Thursday, April 19, 2012

Khatib yang Bermonolog dan Umat yang Tertidur

Ilustrasi. tapi asli

Bagi seorang muslim dewasa, tentu saja Shalat Jumat merupakan ibadah mingguan yang wajib dan sarat akan nilai. Di momen inilah, setidaknya sekali dalam seminggu seorang pria diwajibkan untuk ke mesjid, menunaikan shalat dua rakaat setelah sebelumnya didahului dengan mendengarkan khutbah. Nah pada posting kali ini saya akan mengamati sebuah fenomena yang jamak terjadi ketika Shalat Jumat tepatnya pada bagian Khutbah Jumat.

Tidak jarang kita temui, pada setiap Shalat Jumat sebuah fenomena yang menarik. Mengantuknya kita saat Khatib membacakan Khotbah tapi sesaat setelah selesai shalat rasanya segar bukan main. Kantuk yang tadi datang secara tiba-tiba hilang entah kemana. Hal ini unik dan berbahaya, sebab momen shalat Jumat yang seharusnya menjadi momen penggugahan spiritual bagi umat muslim terlewatkan begitu saja dan berubah menjadi ritual ritual seremonial semata.

Kalau teman-teman melihat shalat Jumat sebagai sebuah sistem, maka ada banyak hal yang berkontribusi membidani lahirnya fenomena ini. Salah satu yang saya cermati adalah, tema Khotbah yang tidak kontekstual. Lemah nafas kekinian dan kedisinian. Memang tidak semua, namun disebagian besar Masjid yang ada di Indonesia saya rasa hal serupa terjadi. Seringkali sang Khotib hanya bermonolog, menyampaikan teks yang telah disusun dengan runtut. Dengan kata-kata yang seringkali dibuat terdengar cerdas atau modern. Dengan memasukkan hal hal yang dianggap scientific tapi kadang ngawur. Hal seperti ini yang akhirnya membuat makmum tidak antusias untuk mendengarkan khutbah. Dan memilih tidur.

Hal ini bukan aksioma, maksud saya tidak semua khotib melakukan hal seperti itu. Saya sendiri sering mengikuti khotbah shalat Jumat yang begitu menggugah dan mencerahkan. Begitu menginspirasi, namun sebagian besar tak lebih dari playlist jadul yang diulang-ulang. Sebuah momen yang disayangkan.

Faktor lain yang membuat budaya tidur saat khotbah ini adalah rendahnya animo umat muslim yang memiliki kapasitas intelektual mumpuni untuk secara serius turun dalam mimbar-mimbar Shalat Jumat. Evaluasi ini termasuk untuk saya sebagai seorang muslim yang hingga saat ini belum pernah secara langsung mempraktekkan rukun-rukun khotbah Jumat. Al hasil khotbah-khotbah yang menarik hanya terjadi di masjid-masjid besar atau masjid-masjid kampus yang sarat nafas intelektualnya. Padahal sebagian besar muslim Indonesia justru berada di pelosok desa. Memang untuk hal ini sebuah pembelaan sering digunakan, yaitu bahasa disesuaikan dengan pendengar. Orang awam harus bahas yang awam-awam. Ini keliru!! Awamisasi ini menyesatkan dan menyebabkan Umat muslim susah menjadi pribadi yang progresif. Ini tak beda dengan ucapan seorang teman "Saya jadi jundi saja" ketika diminta memegang amanah.

Secara luas dalam potret umat muslim Indonesia Nasional. Potret serupa menggambarkan situasi beragama yang jamak kita temui di Indonesia. Umat muslim di negara ini rata-rata mudah tersulut ketika agamanya di usik. Namun enggan menjaga agamanya dengan melaksanakan ritual ibadah secara berkualitas. Ini kontradiktif karena Rasulullah SAW nyata-nyata mengatakan bahwa tiang agama adalah Shalat, bukan yang lain. Shalat sesuatu yang dekat dengan kita, mudah dilaksanakan dan teratur waktu pelaksananya ternyata adalah substansi yang menjadi tiang agama. Dan ini paling doyan ditinggalkan baik substansi atau ritualnya oleh masyarakat muslim Indonesia.

Saya punya mimpi suatu saat nanti ustadz-ustadz yang memiliki kapasitas mumpuni dalam penggugahan umat sanggup mengisi mimbar-mimbar shalat Jumat dengan menghadirkah khutbah-khutbah berkualitas. Yang membumi tapi menggerakkan, yang bernilai agama tinggi namun tetap mengedepankan aspek moderat serta faktor kekinian dan kedisinian. Di masa-masa itu shalat Jumat akan menjadi momen strategis dalam pembangkitan semangat umat untuk berkontribusi lebih bagi dunia. Saya nantikan dan akan turut aktif dalam mewujudkan masa itu, masa dimana Khatib tak lagi bermonolog di depan umat yang tertidur.


Wednesday, April 11, 2012

Gagal dan atau Ditolak itu Biasa Saja



Ditolak, atau gagal seringkali jadi hal yang bikin kita terpuruk, jatuh, tertindas, tergilas dan pecah berantakan hingga berkeping keping, oke ini mulai lebay ngga asik, pokoknya bikin down deh. Semangat membuncah yang udah dibangun bisa tiba-tiba ilang kayak dana BLBI, langit yang semula biru cerah, bisa tiba-tiba jadi merah kehitaman gitu, pokoknya serem. Dan jujur aja sih, penulis (ceilah penulis, saya maksudnya guys) baru saja mengalami penolakan yang cukup nylekit kemarin. Ditolak permintaan rekomendasi untuk beasiswa nya sama seorang dosen yang selama ini sangat saya hormati. Jujur saya kecewa, emosi, dan jadi males setelah ke jadian itu. Tapi inget beberapa kegagalan yang berujung nikmat justru saya jadi malu sendiri dan terdorong untuk menulis tulisan ini (ciamik ngga alasan gua? jadi terlihat penting kan tulisan ini? ada bakat gua jadi anggota DPR)

Oke bicara tentang kegagalan atau penolakan mari kita ambil contoh dari yang keren-keren atau yang kece-kece. Contoh yang saya ambil pertama ini adalah seorang yang agak serius guys, an expert bahasa oke nya. Kalau temen-temen belajar tentang Teknik Industri, atau minimal suka mengamati perkembangan Industri. Temen-temen akan menyadari dan dipaksa mengakui bahwa salah satu sistem produksi yang paling yahud dan topcer itu adalah punya toyota. Yang biasa kita kenal dengan TPS (Toyota Production System), sistem ini diakui merevolusi dunia Industri.

Toyota Production System

Diatas merupakan gambar diagram alur Toyota Production System yang mulai tahun 1960 menjadi filosofi yang kuat yang dapat dipelajari untuk digunakan oleh semua jenis bisnis dan proses. Jika kita cermati, maka dalam proses tersebut ada sebuah upaya untuk secara terus menerus meningkatkan efisiensi adan efektifitas proses pengerjaan (yang bagian tengah). Nah untuk mencapai peningkatan kualitas itu digunakan sebuah framework evaluasi performa yang
sistematis dengan urutan PDCA (PLAN-DO-CHECK-ACTION). Siklus ini kemudian dikenal dengan mana Deming Cycle.

W. Edward Deming


Disini bagian menariknnya guys, jadi penerapan konsep ini oleh mula-mula industri Jepang, justru didorong oleh seorang Amerika. Bernama W. Edwards Deming. Meski akhirnya dikenal sebagai salah seorang pemikir statistik kualitas yang paling berpengaruh di Amerika dan mendapat penghargaan National Medal dari Presiden Reagan. Konsep yang dibawa Deming ternyata tidak diterima dengan baik oleh perusahaan-perusahaan di Amerika yang kala itu sedang memimpin pasar dan telah memiliki sistem produksi yang robust. Namun di belahan dunia lain yang tengah porak poranda oleh perang dunia di Jepang konsep yang dibawa Deming ternyata berhasil memicu perkembangan industri Jepang sehingga menjadi penantang serius bagi perusahaan Amerika.

Selain budaya Kaizen yang dimiliki oleh bangsa Jepang sehingga apa yang dibawa Deming menjadi lebih mudah diterima faktor kegigihan dan kepercayaan diri yang dimiliki Deming untuk dapat mensintesa sistem perbaikan kualitas yang mendobrak budaya manufaktur lama adalah suatu hal yang harus diakui menjadi faktor penentu kesuksesan berkembangnya sistem ini. Baru hampir setelah dua puluh tahun konsep ini pertama digagas perusahaan Amerika yang sedang dalam masa sulit terdorong untuk memakai konsep yang dikembangkan oleh Deming. Perusahaan Amerika pertama yang menggunakan konsep ini adalah Ford pada tahun 1981.

Oke, mari beralih ke contoh kedua, ini tentang seorang pemain sepak bola guys. Ya ini tentang Zinedine Zidane. Seorang pemain yang diakui sebagai seorang pesepak bola terbaik yang pernah ada di Dunia. Mencatatkan prestasi lengkap mulai dari liga domestik, eropa, hingga piala dunia bersama Prancis membuat dia meraih berbagai penghargaan individu. Salah satunya adalah pemain terbaik dunia tiga kali.

Zinedine Zidane

Siapa sangka, ternyata seorang Zinedine Zidane pernah ditolak oleh sebuah club di Inggris. Ya, Newcastle United pernah menolak Zidane ketika agennya menawarkannya untuk pindah dari tim Prancis Bordeaux tahun 1996. Saat itu alasan yang dikemukakan adalah bahwa pemain ini tidak cukup bagus untuk memperkuat lini tengah Newcastle United. Ternyata penolakan ini justru berujung manis karena Zidane akhirnya mendapat kesempatan untuk membela Juventus sebelum akhirnya ke Real Madrid dengan status pemain termahan di Dunia.

Dari dua contoh diatas kita bisa lihat bahwa untuk dapat diakui sebagai sebuah hasil kerja yang brilian bahkan sebuah konsep yang benar-benar brilian dan revolusioner membutuhkan waktu berpuluh tahun dan kegigihan yang luar biasa. Bahkan seorang pemain terbaik dunia harus sempat merasakan penolakan oleh tim sepak bola karena dianggap tidak cukup bagus. Ini mestinya jadi pemicu kita guys kalo baru sedikit saja gagal atau ditolak, itu biasa saja. Kita cuman butuh terus mengasah dan konsisten di jalur kita sampai kesempatan itu datang dan ketika dia bertemu dengan kesiapan terciptalah keberuntungna yang akan jadi jalan sukses kita.

Semoga Bermanfaat!!! :D

Monday, April 2, 2012

Terlebih Dahulu

Aku bukan tak mau beradu logika
Aku bukan takut dibilang tidak cerdas
Sedikitpun, catat ini, sedikitpun aku tak takut dengan cap-cap itu
Cap yang hendak kau patenkan pada jidatku

Yang feodal lah, yang liberal lah, yang fanatik lah
Yang Islam lah, Yang Kristen lah, Yang Budha lah, Yang Hindu lah
Yang Masjid lah, Yang Gereja lah, Yang Pura lah, yang Vihara lah
Sedikitpun aku tak takut

Tapi sebelumnya temanku, coba kau tarik akalmu itu panjang panjang
Tak malukah kamu pada awan di atas sana?
Yang jadi saksi bahwa
Dibawah langit yang sama masih ada orang susah makan
Sementara yang lain buang-buang makan.

Tapi sebelumnya musuhku, coba kau tarik akalmu itu panjang panjang
Tak malukah kamu pada cacing-cacing di bawah situ?
Yang jadi saksi bahwa
Di atas bumi yang sama masih ada orang susah baca
Sementara yang lain mahir betul pelintir teorema

Dan kau mau ribut denganku soal yang itu itu lagi?
Aku tak melarang, tapi saranku....
Terlebih Dahulu kita urusi itu mereka yang tiap malam berdoa, dalam susah berdoa, dalam rintih dan keluh kesah berdoa

Karna bisa jadi
Kita yang harusnya jadi jawaban doa mereka.

Friday, March 23, 2012

Jangan Takut

Pagi ini kembali aku rasakan romansa yang sama seperti dulu
Saat pertama kali aku bertemu kalian
Muka muka polos
Menatap penuh tanda tanya
Dengan mulut cemong bekas ingus dan makan siang yang tampaknya tidak terlalu sedap

Pagi ini kembali aku rasakan romansa yang sama seperti dulu
Saat pertama kali aku berteriak atas nama kalian
Dengan kepal tangan menantang langit
Menatap angkuhnya gedung Dewan Pencoleng
Dengan nafas naik turun dibalut semangat yang menggebu

Pagi ini kembali aku rasakan romansa yang sama seperti dulu
Saat pertama aku dengar tawa-tawa riuh itu
Bersama kalian anak-anak kecil yang belum juga lancar membaca
Bersama kalian yang terdiam ketika kutanya ingin jadi apa
Dengan niat yang pantang putus untuk terus belajar dan bermimpi

Jangan takut orang orang tertindas
Jangan takut anak-anak yang dikhianati sistem pendidikan formal
Jangan takut orang-orang yang tersisih
Aku bersama kalian




Saturday, March 3, 2012

Bersosial Media




"Eh jangan sembarangan loh kalo ngetwit, itu bakal dijadiin perusahaan pertimbangan kalo mau ngrekrut orang. Jadi ati-ati kalo ngetwit"

"Eh jangan ngetwit gini jangan bikin status gitu, itu citra kita yang bakal terekam di Internet"

"Eh jangan protes pemerintah ntar bla bla bla bla....."

Sering nggak dapet peringatan kaya gitu? Kalo gua sih sering banget, bahkan ada temen yang bikin twitter berseri (istilahnya Kultwit, gua ngga tau Kul nya itu apa, Kuliah kek ato kulintang ato mungkin juga Kutil karena sekali keluar biasanya dia banyak dan cenderung membesar) tentang ini. Tentang etika bersosial media. Bahkan di negara ini ada mentri yang hobi banget ngurusin pertwitteran. Pake bikin legalisasi penutupan akun yang dianggap mengganggu pula, yang mana ini sangat subjektif dan menurut gua jauh diluar kewenangan dia yang sebenernya buat ngurusin urusan komunikasi dan informasi di negara ini.

Oke etika itu penting, dan semua sepakat kita suka sama yang baek-baek, yang santun-santun, bahkan orang jahat aja suka sama yang baik-baik. Tapi kalo aturan itu jadi beribet dan mencegah lo jadi yang bukan diri lo, seriously, itu jadi ngga asik men. Maksud gua ya ini social media gitu, dan ini media buat berinteraksi manusia bukan mesin, robot, kacang polong atau kalkulator beras. Ya adalah sangat wajar kalo muncul hal-hal yang sangat manusiawi di situ. Ada marah, kecewa, sedih, galau, pecengisan, petakilan, tarak dung dung, maupun dek cek deg dess. Oke ini mulai absurd. Ya contohnya macam Twitter. Menurut gua, People is tweeting just for the sake of tweet. No More. Ngga semua yang lo bagi musti tentang sesuatu yang bernilai moral tinggi, mentereng, canggih dan berguna bagi nusa dan bangsa. Oke yang terakhir mungkin iya. Gua suka kasihan aja gitu ngeliat temen yang twit nya kaku. Atau disusun dengan berhati hati, dengan kata-kata yang intelek, tapi melangit gitu. Orang ngga ngerti dan ngga nangkep apa yang pengen lo bagi ke mereka. Ini hidup lo, kalo karena alasan-alasan, yang itupun menurut gua sangat inferior lo rubah ya ini jadi hidup siapa dong? Kenapa inferior? Karena menurut gua kalo lo yakin jago, lo ngga perlu pencitraan men, lo cukup jadi diri lo sendiri.

Terus gimana? Ngga perlu aturan? Bebas aja gitu?

Ya ngga juga sob, aturan yang dipake menurut gua cukup norma-norma pribadi yang dipegang dengan dewasa dan bertanggung jawab.

Kalo gua sih, ini baru dapet tadi pagi loh ilmunya, sebisa mungkin memakan empat syarat ini untuk syarat menebar informasi di sosial media:

1. Jangan ada bau-bau maksiat nya.
2. Jangan bercampur ama kebohongan.
3. Jangan mengadu domba. Misal lo mention @domba1 sama @domba2 terus bikin mereka ribut. Oke ini Jayus.
4. Jangan bernada-nada ujub, congkak atau secara edan menggurui. Ini memuakkan men.
5. Sebisa mungkin kata-kata nya jangan menyakiti orang lain.

Emang oke sih kalo setiap yang kita lakuin bisa bermanfaat, dan bikin orang lain seneng termasuk dalam bersosial media, tapi jangan sampai juga orang malah jadi empet dengan ketidak-jujuran kita dalam berekspresi. Dalam beberapa kasus,twitter atau facebook, justru memulai hal besar karena di situ tertuang informasi yang secara etika umum kurang pantas, tapi penting buat diketahui orang banyak. Mari pelihara kesantunan bersosial media tanpa harus kehilangan kejujuran sebagai manusia apa adanya.



Monday, February 20, 2012

Tuesday, February 14, 2012

Kesatria dan Padepokan

Suatu ketika, di negeri bernama Endonesya seorang ksatria bertubuh tegap, berkulit hitam legam dan berkumis tipis tengah terduduk khidmad di pelataran sebuah padepokan ternama di Endonesya tempat ia melatih olah ilmu pikir dan kanuragan. Sudah sejak sebelum fajar memerah dia berlatih disitu, mengulang kembali hafalan-hafalan gerakan dan mantra yang selama ini telah dengan sungguh sungguh dai pelajari tanpa pernah sehari pun dia tinggalkan.

Angin lembut menerpa wajah sang ksatria, Karna namanya, sebuah nama yang gagah, nama yang seakan-akan menyimpan semangat membara untuk membasmi segala angkara murka yang berkelebatan di muka bumi Endonesya. Tengah beristirahat tiba-tiba dia dikejutkan oleh dering smart phone yang sedari tadi dia timang, device yang telah sedari tadi membantunya dalam berlatih, menampilkan gerakan-gerakan yang harus dia ulang dan juga mantra-mantra kanuragan yang harus dirapal.

Dengan sekali slide lembut di permukaan smart phone nya, Karna segera dapat melihat pesan yang membuat alat mungil itu berdering. Rupanya pesan itu datang dari Arjuna, murid padepokan yang sama, namun masuk satu tahun lebih dahulu daripada Karna sehingga dia kini telah turun gunung dan tidak lagi menuntuk ilmu di Padepokan yang sama. Ketika masih di padepokan Arjuna adalah sama seperti Karna, seorang ksatria unggulan pilih tanding, yang menguasai olah pikir dan kanuragan terbaik. Hanya saja Arjuna lebih dikenal, sebab sedari masih menjadi murid padepokan, Arjuna telah berlaku selayaknya seorang ksatria, yang lantang menghalau kemungkaran meski belum sempurna benar aji kesaktiannya.

Rupanya pesan tersebut berisi sebuah link yang apabila ditelusuri akan terhubung pada jaringan warta nasional Endonesya yang rupanya tengah membahas kisruh di Padepokan tempat dia menuntut elmu. Karna memandangnya dengan dahi berkerut, "Urusan apa Arjuna mengirimi aku link ini". Baru selesai ia membaca masuk sebuah panggilan dari Arjuna

"Udah kau baca Bro?" tanya Arjuna

"Sudah bang, apa maksud abang kirimin aku beginian?" tanya Karna sedikit ketus.

"Hahaha, tenang adikku, begitu kah kau perlakukan abangmu yang sudah lama tidak bertukar kabar? Begitukah Karna sang kesatria pilih tanding? Ceritakanlah dulu pada Abangmu ini tentang bagaimana kabarmu? Tentang apa kegiatanmu sekarang?" sergah Arjuna

"Yah aku sekarang sedang giat berlatih bang, mempersiapkan untuk final pertandingan strategi FMCG tingkat nasional, juga sedang menyusun full paper untuk pertemuan ksatria tingkat Amerta Tenggara membahas tentang stabilitas pangan dan persenjataan. Jadi tolong lah Bang to the point, oke?" jawab Karna tegas.

"Hahaha tak berubah watakmu Karna, selalu fokus terhadap apa yang telah kau rencanakan dan kau targetkan, itu sangat bagus, itu sifat seorang ksatria, selalu dapat memfokuskan seluruh perhatiannya pada suatu tujuan yang mulia" puji Arjuna, seraya geleng-geleng kepala.

"Abang hanya ingin berpesan, tentang isu yang sekarang sedang melanda Padepokan kita Karna, Isu yang mengatakan bahwa Maha Guru Resi Durna, telah salah urus dalam menyelenggarakan KBM di padepokan kita Bro, tidak kah ini menjadi perhatianmu?" tanya Arjuna

"Ah, yang aku dengar ini hanya perseteruan antara para brahmana-brahmana priyayi itu dengan dengan kalangan ksatria-ksatria yang dulu dikirim untuk berguru di sebelah barat Pringgondani itu ya Kakang, apa perlunya kah aku terlibat? biarkan saja kulihat gajah-gajah itu bertempur kakang, dan aku akan menikmati manasaja yang akan menang, lagipula itu tak mengganggu kepentinganku" jawab Karna

"Adikku Karna, mungkin benar semua yang kau pikir dan katakan itu, adalah sangat mungkin ini semua hanya permainan guna memperebutkan posisi Eyang guru Durna yang selama memimpin dirasa kurang arif. Namun tidakkah kau cermati bahwa perlambang kesemrawutan ini telah semakin nyata? Telah diselidiki oleh beberapa pakar dari beberapa jawatan yang bertanggung jawab atas tata kelola Bro, Bukankah ini bukti nyata terhadap adanya ketidak adilan?" tanya Arjuna menyelidik.

"......." Karna terdiam

"Apakah yang menjadi kewajiban golongan Kesatria duhai adikku Karna? kewajiban golongan yang berilmu dan mengerti?" tanya Arjuna tegas

"......" Karna masih terdiam, sembari menghirup nafas panjang

"Apa!? Lupakah kau?" tandas Arjuna

"Tidak kakak, Menegakkan Keadilan, itulah sejatinya amanah yang diemban pada urat nadi setiap Ksatria" jawab Karna dengan suara tergetar.

"Maka tak seharusnya kau berdiam diri Adikku, tegakkan dengan semampu mampunya, dengan senyata nyatanya."

"Dan lagi" Arjuna meneruskan bicaranya "Ketauhilah adikku Karna, peran Padepokan ini sungguh tidak sekecil yang sedang kau pandang. Padepokan ini padepokan terpandang, yang dijadikan rujukan oleh padepokan lain di seluruh negeri. Dan dari padepokan ini banyak dihasilkan para ksatria yang mengisi baris-baris terdepan peperangan melawan angkara murka, dapat kau bayangkan apabila budaya luhur padepokan ini runtuh? Akan seperti apa rupa ksatria-ksatria bentukannya ketika dihadapkan pada angkara yang sanggup membuat malaikat berbuat dosa adikku?!" tanya Arjuna tegas

"Tidak MyBro....." lirih Karna bersuara

"Oke My Bro, sekian dulu abangmu ini menelefon, kelak akan abang tanya lagi sikapmu, semoga sukses untuk semua pertandingan yang akan kau ikuti bawa Endonesya setinggi tinggi dijagad para Ksatria adikku, hingga terdengar oleh para Dewa jika perlu. Sebenarnya abang masih ingin cerita banyak, namun abang ada rapat komisi. Maklum abangmu ini jadi Staff Ahli Komisi I di gedung perwakilan, bertarung dengan senyata-nyatanya dosa dan angkara" curcol dia si Arjuna

"Oke bang semoga Abang Sukses, Assalamualaikum" pungkas Karna

"Heh, ngga sopan kau tuh. Abang yang telfon masa kau yang tutup, macam mana logika Ksatria mu itu?" protes Arjuna

"Oh sorry Bang, kirain udahan oke monggo kalo abang mau tutup" kilah Karna

"Oke, sekian dulu, nitip padepokan yah Karna, oh iya minggu depan abang ke kampus mau legalisir Akta Ksatria sekaligus nyobain perpustakaan baru Padepokan kita, denger-dengenr es kopi nya standar dunia perwayangan internasional, kamu temenin yah? sekaligus ngobrol2 kita" ajak Arjuna

"Oke Bro, BBM aja kalo ada di sekitar padepokan" kata Karna

"Oke, Assalamualaikum" pungkas Arjuna

"Waalaikumsalam," jawab Karna

Sambil mengunci layar sentuh smart phone nya, Karna menunduk khusyu, masuk benar-benar dalam pikirannya tentang apa yang baru saja kakak seperguruannya katakan. Namun ntah mengapa belum ada rasa yakin tentang apa sikap yang harus dia ambil terkait dengan kisruh padepokan yang kini tengah menjadi perhatian di segenap negeri Endonesya.

Dia memang belum akan mengambil sikap, namun setidaknya dengan sebuah perkataan sakti yang selama ini dia pengang "Amanah yang mengalir dalam darah setiap Ksatria adalah satu, menegakkan keadilan" dia akan mulai mencari wangsit dan perlambang tentang apa yang harus dikerjakannya, dia teringat pesan seorang kakak seperguruan ketika pertama menjejakkan kaki di padepokan ini, tentang kalimat ajakan penuh semangat, "Seorang Ksatria harus berlaku ksatria sejak mulai di alam pikirnya dan sejak dia mulai bertekat menjadi seorang Ksatria." Maka benar, tak perlu tamat dahulu dari Padepokan ini untuk lantang menentang angkara murka.

Karna berlalu, pulang, membawa gendewa nya dan duduk tenang di Halte, menunggu kereta kencana kuning yang lewat secara periodik.


NB: -Pemilihan nama, tidak dikaitkan dengan karakter serupa dalam karya apapun. Semata kesukaan dari penulis. :D

Monday, February 6, 2012

Rindu

Malam ini gua berkesempatan mendapatkan tausiyah sekaligus ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang Turki. Mereka ini adalah aktivis gerakan di Turki yang berperan aktif dalam pemberdayaan Muslim di negara-negara berkembang. Gua kurang yakin mereka ini dari golongan apa tapi melihan pendekatan mereka yang moderat dan kembencian mereka terhadap sekularitas dan seringnya mereka menyanjung Rejep Tayyip Erdogan gua kira kira mereka ini orang-orang Ikhwanul Muslimin. Tapi apapun haraqahnya gua tetap enjoy dengan apa yang mereka sampaikan.

Abdul, seorang Turki sudah setahun dia di Malaysia berdakwah gitu doi sekalian ngajar bahasa Turki di salah satu lembaga di sana dan belajar agama juga. Meski terkendala bahasa dimana si Abdul ini nyampaiin pakai bahasa melayu bercampur Turki (untung temen gua ada yang ngerti dikit-dikit). Tapi gua nangkep semangat dia untuk berbagi dan memotivasi gua dan temen-temen sebagai aktivis Muslim untuk bangkit dan semangat dalam menuntut ilmu dan menegakkan perintah Allah. Nah yang unik adalah ketika dia nyebut 3 musuh utama Islam saat ini yang harus segera ditanggulangi, tau ngga apa yang disebut? Dia ngga bilang Yahudi, Kristen atau agama-agama atau faham lain. Musuh yang harus dihadapi utama adalah: 1. Perpecahan 2. Kebodohan dan 3. Kemiskinan. Great!!! Keren cing!!! dan gua yakin tiga biji masalah itu adalah masalah yang diutamakan di semua agama.

Ya kali gitu kan ada agama yang mencintai tiga hal itu, ngga mungkin karena agama itu turun untuk menyempurnakan akhlak umatnya, dan wujud nyata dari akhlak yang baik adalah produktifitas hidup dan kualitas hidup yang meningkat :D Nah pendek kata, Abdul menyampaikan kalo generasi pemuda pembelajar macam kita ini musti memandang diri kita layaknya burung pipit. Ya burung pipit yang punya dua sayap dan butuh keduanya untuk bisa terbang, satu sayap itu ya Ilmu Agama, Spiritualitas dan hal-hal yang terkait dengan pedoman hidup, sementara sayap yang satu lagi adalah ilmu pengetahuan maka dua hal ini harus berimbang dan tidak saling menghilangkan. Well sebuah masukan yang ringan, sederhana tapi cukup mengena buat gua.

Lha terus kenapa postingan ini judulnya Rindu? Lha apa ini salah judul? ngga men. Jujur aja abis ngobrol ama tuh temen-temen turki gua jadi rindu aja, udah lama gua ngga ngomongin (diskusi) tentang hal-hal yang tulus kaya gini tanpa embel-embel politik, tanpa keraguan akan konspirasi dan tanpa tetek bengek yang bikin ribet. Gua rindu saat dimana ada orang yang ngingetin gua kalo hidup itu ya hidup, dateng, hidup singkat tapi penuh makna terus pulang deh ke hadirat Allah SWT. Coba lo lihat di sekitar lo berapa orang yang lupa, lengah, atau mendramatisir tentang aksioma hidup yang mestinya sederhana ini. Betapa banyaknya orang yang mencoba membangun kedamaian diatas kecurigaan, padahal musuh-musuh humanisme itu sama dan kenapa kita ngga lupain perbedaan perbedaan itu dan mulai berbuat yang baik dari langkah terkecil.

Gua rindu utopia mungkin. :D