Monday, November 23, 2009
OR oh OR
Besok rutinitas yang begitu indah sudah menunggu,, kuliah jam 8 pagi,, kimia dasar yang kalo telat suruh bikin resume jurnal Internasional. Trus disambung kuliah Fisika Dasar yang sangat menarik,, dan praktikum Fisika Yang benar-benar menyenangkan (hueeekkk..) hehehehe Setelah ituuu, yahhh menyiapkan seminar buat hari Rabuuu... ahahaha
Yupp hari besok harus lebih manthaaabbb..
Bismillah...
Friday, November 20, 2009
Hari juga Bisa diibaratkan kumpulan Proker ^__^

Ahahaha, pagi ini saya nginep di Teknik lhow,, yahh ngikutin kampanye ketua BEM FT dari kemaren malem. Entah kenapa kampanye kali ini yang diikuti oleh dua kandidat Maman (Mesin 07) dan Umar (Metalurgi 2007) terasa tidak semenggigit kampanye biasanya. Tapi bukan kampanye itu yang pengen saya curhatin di sini saya lebih pengen sharing tentang pandangan saya tentang apa yang saya dapat dari seminggu terakhir hidup saya yang... ehem... porak polanda...
Saya melakukan evaluasi diri atas betapa tidak teraturnya hidup saya akhir akhir ini. Ujian UTS kurang sukses, beberapa tugas dan kuis lewat,, dan persiapan UAS belum optimal. Padahal, enggak lama lagi semester yang indah ini bakal segera berakhir... Huhhhh setelah saya lihat lihat ternyata hari-hari saya berjalan secara kurang produktif. Bisa jadi waktu yang saya habiskan untuk berbagai kegiatan cukup banyak, tapi berapa yang memberikan nilai tambah untuk saya?? Hemmmm, tak banyak ternyata
Ibarat sebuah organisasi, saya ibarat organisasi yang memiliki begitu banyak proker, dari luar terlihat seolah-olah saya aktif, banyak kegiatan, dan berkontribusi untuk banyak orang,, namun apa artinya bila ternyata nilai tambah yang diberikan untuk diri sendiri adalah nol?? Ibarat organisasi, saya adalah organisasi yang menyusun proker tanpa melihat kebutuhan. Punya banyak proker tapi tidak punya timeline yang baik.
Namun semua sudah di tengah jalan, yang bisa saya lakukan adalah melakukan yang terbaik yang saya bisa!! Nonsense dengan menyesal karena saya yakin banyak pelajaran yang saya petik di sini. Mulai sekarang hari ini 21 November 2009 saya berjanji akan mengoptimalkan tiap hari saya. Target terdekat!! Ujian OR hari Senin!!!!! Fight Fight Fight!!!!!!!!!
Bismillah...
Seseorang tidak benar-benar gagal selama dia masih bisa memetik hikmah dari kegagalanya. (Dwiki Drajat Gumilar)
Sunday, September 27, 2009
Mudik, Sebuah Sisi Lain dari Salah Satu Pergerakan Manusia Terbesar di Indonesia

Operator : “Ya dengan reservasi kereta, ada yang bisa saya bantu”
Dwiki : “Mau book tiket untuk tanggal 26 atau 25 mbak, tujuan Jakarta keberangkatan dari stasiun Gubeng”
Operator : “Semuanya sudah terisi bapak”
Dwiki : “Kalau yang lewat Pasar Turi?”
Operator : “Ada bapak, tinggal satu untuk Argo Anggrek keberangkatan pukul 20.00 malam ini. Semua tiket jurusan Jakarta baru ada lagi di atas tanggal 30.”
Dwiki : “Ok, saya ambil”
Potongan percakapan itu terjadi antara saya dan operator reservasi tiket kereta api pada tanggal 25 September 2009. Saya termasuk beruntung, sangat-sangat beruntung karena masih kebagian tiket kereta untuk pulang, padahal saya baru cari tiket pada hari H keberangkatan lhow. Seorang teman saya yang udah jauh-jauh hari nyari, eh ternyata nggak kebagian dan dia terpaksa pulang ke Jakarta naik Bus, mengingat tanggal 28 perkuliahan sudah dimulai dan tiket baru tersedia di atas tanggal 30 September.
Berangkat dari Jombang, kebetulan lagi saya masih diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk diantar pake kendaraan kantor tempat bapak kerja. Jadi saya nggak perlu ikut berdesak-desakan dengan orang –orang yang pada balik dari Jombang ke Surabaya. Sepanjang perjalanan, saya nggak henti bersyukur karena Mudik saya tahun ini berjalan dengan sangat sangat lancar dengan fasilitas yang cukup prima.
Sampai di Stasiun Pasar Turi, lagi-lagi saya disambut dengan kemudahan. Ruang tunggu yang tadinya penuh, eh begitu saya masuk penumpangnya pada kluar, soalnya ada kereta yang brangkat juga. Waktu lagi nunggu itulah saya sempet liat acara liputan arus balik yang ditayangin di TV. Di liputan itu dilaporkan bahwa arus balik akan memuncak pada malam itu (25 September) dan Besok (26 September). Serta ditampilkan pula gambar orang yang tengah berdesakan di Stasiun Madiun. Yang paling membuat saya tertegun adalah statement akhir dari pembawa berita tersebut yang mengatakan bahwa jumlah orang yang terlibat dalam Mudik 2009 ini meningkat dari tahun lalu secara tajam.
Bayangkan teman, tak kurang dari 16 Juta orang terlibat dalam arus mudik tahun ini! Mereka umumnya bergerak dari kota-kota besar ke daerah-daerah asal mereka. Perpindahan ini tentu tidak hannya perpindahan manusia, tapi juga menyangkut perpindahan aliran Uang yang cukup besar. Sedikitnya di Jawa Tengah saja, tahun ini uang yang mengalir diperkirakan tak kurang dari 1,4 Triliun.
Kalau mau kita cermati, sebenarnya fenomena mudik ini bisa memberikan beberapa gambaran tentang keadaan negeri ini, baik pembangunannya, pendidikanya bahkan hingga mental bangsanya.
Dari segi pembangunan, maka jelas fenomena Mudik ini memperlihatkan masih jelasnya kesenjangan pembangunan antara kota dan daerah. Desa belum begitu menarik untuk tinggal dan mencari rezeki dibandingan dengan perkotaan yang menawarkan berbagai kemudahan. Ini artinya bertani relatif kurang diminati dari pada sektor industri. Hal ini harus mendapatkan penanganan serius kalau tidak mau ketahanan pangan kita terancam di masa yang akan datang. Industri Pertanian bukan tidak punya potensi untuk dikembangkan lhow.
Dari segi pendidikan, jelas bahwa fasilitas pendidikan belum tersedia secara merata di Indonesia. Universitas-Universitas papan atas rata-rata baru bercokol di pulau Jawa. Padahal kalau kita mau melihat lebih luas, Indonesia bukan hanya pulau Jawa.
Dari segi mental bangsa, fenomena ini menurut saya menunjukkan mentalitas bangsa ini yang masih komunal. Mereka tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh kuat kesukuan, asal dan daerah. Hal ini bukan sesuatu yang buruk bahkan bisa jadi suatu media untuk melestarikan budaya daerah yang ada. Hanya saja, jangan sampai rasa cinta pada rekan sedaerah, lantas membuat kita menutup mata akan tantangan yang ada di Ibukota, dan membawa ramai-ramai teman dari daerah untuk hidup dan mencari nafkah di Ibu Kota. Bila tak bisa bertahan, salah salah malah menambah jumlah pengangguran.
Kira-kira itu lah sedikit dari hal-hal yang bergelayut dibenak saya saat melihat mudik sebagai sebuah pergerakan manusia terbesar di Indonesia. Masalah infrastruktur mudik lah yang masih menjadi pengganjal dari kenyamanan mudik tahun ini. Entah kenapa saya berharap suatu saat nanti persebaran penduduk di negeri ini bisa merata. Sehingga suatu saat nanti mudik hanya merupakan ritual silaturahmi.
Monday, August 24, 2009
Hak Milik Atas Kebudayaan

Hari ini, di KoMpas saya membaca sebuah berita tentang tuduhan pencurian budaya yang dilakukan oleh Malaysia terhadap budaya Asli Indonesia dengan munculnya seorang penari sedang menarikan Tari Pendhet,salah satu tarian khas Bali, dalam iklan komersial pariwisata negeri Jiran tersebut. Hal ini tentu saja menyulut reaksi dari berbagai pihak untuk mencela dan memojokkan apa yang dilakukan oleh pihan negara tetangga tersebut.
Bagi saya, selain menujuk-nunjuk pada pihak Malaysia, ada baiknya juga kita melihat dan mengoreksi pada diri kita dulu (sebagai bangsa dan sebagai pribadi). Mengapa hal ini bisa kembali terjadi, setelah sebelumnya juga telah terjadi klaim kebudayaan Indonesia oleh Malaysia. Sehingga jangan sampai kita menjadi korban dari peribahasa "Kuman di seberang lautan tampak,Gajah di Pelupuk mata TAK TAMPAK,".
Mula mula, mari kita tinjau. Menurut para pakar kebudayaan, apa seh yang dimaksud dengan kebudayaan.
Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski menempatkan usur "turun menurun dari satu generasi ke generasi lain" dalam mengenali ciri dari suatu kebudayaan. Maka bila ini benar ada sebuah lubang besar dalam masyarakat Indonesia agar kebudayaanya tidak terus bocor dan diakui oleh negara-negara lain. Kita harus mengaca pada diri sendiri, masihkah kebudayaan tradisional bangsa ini eksis dalam keseharian kita? Masihkan dia diturunkan dari satu generasi ke generasi lain? Ataukah itu semua hanya jadi masa lalu, yang baru kita lindungi saat ada yang mengusik? Menurut saya, kebudayaan berbeda dengan kekayaan materil lain yang dapat secara jelas kita tentukan siapa pemiliknya. Perlu suatu usaha bersama untuk menjadikan sebuah kebudayaan tetap menjadi milik kita. Dengan melestarikanya, bukan dengan semata-mata berteriak lantang tanpa ada usaha untuk melestarikanya.
Terlepas dari tindakan tidak terpuji yang dilakukan pemerintah Malaysia, ada hal lain yang lebih penting untuk dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Yaitu untuk menjaga eksistensi budaya itu sendiri. Salah satunya dengan mempopulerkan kebudayaan tradisional, dan dengan memasang filter yang jelas atas budaya-budaya luar yang berpotensi merong-rong budaya tradisional Indonesia. Jayalah Bangsaku!!!!
Friday, July 31, 2009
Goenawan Mohamad, Sang Penentang Pemikiran Monodimensional

Dari kecil saya orang yang suka berdebat (dan sekarang saya tau ini gak baek), suka mengkritisi sesuatu, suka berpikiran berbeda dengan orang orang di sekitar saya. Saya nggak terlalu suka terikat dalam suatu pakem tertentu, suatu faham tertentu dan suatu dasar pemikiran tertentu. Tentu saja ketidak konsistenan pandangan ini hanya berlaku terhadap hal-hal yang berhubungan dengan urusan-urusan yang tidak menyentuh akidah agama. Mungkin ini bisa terlihat dari gaya menulis Blog saya yang suka berubah-ubah, kadang pake "saya" kadang "gw" kadang serius, kadang becanda, tapi yang pasti. Saya selalu berusaha berusaha menulis dengan sejujur mungkin, sesuai dengan apa yang sedang saya rasakan dan alami. =)
Kemarin, sewaktu saya membereskan buku-buku kuliah semester 2 untuk mempersiapkan ruang bagi datangnya buku-buku materi kuliah semseter 3. Secara nggak sengaja mata saya tertuju pada sebuah buku, buku ini lumayan tebal, sampulnya abu abu, di depanya ada gambar seorang laki-laki sedang menimang dagu, dengan pandangan mata teduh dan senyum simpul. Setelah saya ambil ternyata itu adalah salah satu buku favorit saya yang sudah lama tidak saya baca lagi, sebuah kumpulan tulisan dari seorang yang saya sangat kagumi atas keluasan wawasan dan pandanganya akan sebuah fenomena. Beliau adalan Goenawan Mohamad. Dan buku yang saya pegang waktu itu adalah salah satu kumpulan karyanya yang berjudul Setelah Revolusi tak Ada Lagi
Setiap membaca tulisan Goenawan Mohamad, saya selalu bingung. Apakah sebenarnya yang diinginkan oleh Goen ini? Apakah dia mau menulis untuk dirinya sendiri ataukah orang lain? Apakah dia mau membakar semangat ato hanya menyentil ringan? Apakah dia menyampaikan fakta atau memancing opini? dan banyak lagi apakah-apakah lain yang bermunculan dalam kepala saya. Mungkin karena saya orang yang awam sastra, sehingga alur berpikir saya terkadang bingung dengan apa yang coba diungkapkan Goenawan Mohamad dalam tulisanya. Namun, untuk mendeskripsikan seperti apa tulisan dia (setidaknya menurut saya) beliau ini bukan orang yang akan bersusah susah untuk mencari cara yang efektif untuk menyampaikan ide yang ingin dia sampaikan. Dia santai saja mengayun kata dari satu kata ke kata lain merakit makna dari satu frase ke frase lain, yang oleh orang yang tidak berada pada kapasitas seperti dia mungkin terasa janggal dan aneh.
Caranya untuk menelisik pemikiran yang bersifat doktrin sungguh unik, dia gabungkan berbagai analogi analogi yang cerdas dan penuh wawasan. Sebuah kesan yang seakan ingin di suratkan adalah bahwa dia adalah seorang liberalis sejati, ya seorang liberalis mungkin ini kata yang cukup menggambarkan bagi saya. Lompatan-lompatan idenya sungguh menyenangkan, seakan-akan kita sedang membaca karya dari seorang bule yang besar di belahan dunia barat, dan baru datang ke Indonesia belakangan karena tertarik pada masalah korupsi, demokrasi, dan HAM di negeri yang karena akrabnya dengan masalah-masalah itu, seakan sudah menjadi trade mark bagi negeri ini. Namun ternyata bukan bule lho, si penulis (Goenawan Mohamad) adalah seorang liberalis pro-Barat yang terjebak dalam tubuh pribumi kelahiran Karanganyar! Luar biasa.
Mungkin kekritisan pria kelahiran 29 Juli 1941 ini terasah dari seringnya dia membaca literatur-literatur barat yang pada tahun-tahun itu tengah menyemarakkan kampanye liberisasi (yang sekarang tampak sudah hasilnya). Mulai menulis sejak 17 tahun, menekuni bidang bolitik di Luar Negeri, akrab dengan literatur barat dan besar pada era negeri ini dikangkang tirani mungkin merupakan kombinasi tepat dari terbentuknya mental kritis Goenawan Mohamad.
Meski kagum dengan wawasan dan caranya menyampaikan rangkaian ide menjadi sebuah tulisan yang membius. Tetap saja saya sayangkan beberapa pemikiran Beliau yang terkadang terlalu radikal.. =) Namun siapakah saya? Dibandingkan dengan wawasan dia saya tentu jauh tertinggal. ukan hak saya untuk mempermasalahkan keradikalan pemikiran Goen. Namun salut tetap salut, salut atas ketidak patuhanya terhadap pemikiran monodimensional.
Thursday, July 30, 2009
Nyobain Ngirim SMS Pake Telum di FT UI
Habis balik dari kampung di Jombang, ada sedikit perbedaan yang tampak di beberapa sudut kampus teknik. Sebuah benda yang bulet, ngegemesin ,oranye dan terlihat bermanfaat, hayooo apa hayooo... granat manggis?? Bukan!! Tong sampah?? Bukan!! Kulkas?? Bukan!! Ada jawaban lain?? Karena pada gak bisa gw kasi tau dah..hehe..itu tuh Telum (Telepon Umum)!... Awalnya sih gw gak tertarik, tapi setelah dilliat-liat jadi pengen nyobain hehehe.. dasar gw usil.
Jadilah sehabis shalat Isya’ gw nyobain tuh benda, kebetulan di dekat mustek ada juga tuh salah satu benda ginian teronggok di tembok depan ruang BEM. Pertama gw liat liat tuh benda, trus gw siapin dah sebuah koin 500 rupiah. Naaahh giliran gw mau mencet nomer rumah di Jombang, eh mata gw tertuju pada pilihan sms. Waawwwww, mungkin bagi lo ini biasa prend, tapi bagi gw, seorang anak Djombang, telp umum bisa sms itu aneh..heheheh..maaph yah kalo katrok.. maklum..
Si Telum Baru Teknik... =)
Tombol pilihan buat nge-sms n petunjuk langkah buat sms... =)
Ceritanya abis gw masukin tuh koin, langsung dah gw teken tombol buat bikin sms, buat nomor percobaan pesen ini gw minta Bang Daus buat jadi sukarelawan keisengan gw.. Ahaha.. Lalu gw ketiklah sms berbunyi..
“Halo Bang Ini SMS”
Dan tak lamaa kemudiaaaannnn, terkirimlah pesan gw ituuu..ahahahaha... senang bukan maen dah... Dan ternyata Bang Daus (yang juga belum pernah nyobain) penasaran jg buat ngebales tuh sms. Tapi ternyata gak bisa,, (ya iya lahhh...)..hehehe...Anyway thanx for bang Daus n Tegar yang dah mau jadi partner keisengan gw.. :)
Langkah SMS pake telum :
1. Masukin koin, bisa 200, 500, ato 1000
2. Teken pilihan buat sms.
3. Masukin nomer tujuan loh (nah loh...apal gak?? hehe)
4. Ketik pesen (spasi pake # kalo mau nindes pake *)
5. Pencet lagi tombol pilihan buat sms.
6 . Bedoa biar kekirim..hehehe
Tips biar sms asik lewat telum:
1. Apalin dah tuh nomer se-phonebook. hahaha
Hikmah:
1. Buat temen2 FT dah gak ada alesan tuh gak bisa sms gara-gara hape gak ada pulsa... ahaha
2. Sms pake Telpon umum tuh mahal!! 300 dah,, mana gw kasi 500 gak kembali, hehehe so jangan ngirim sms pake telum sering-sering.. (jiaahh sapa juga yang mau... :p )
Selamat mencoba.....
Thursday, July 23, 2009
Mengapa SMS Kita Sering Tidak Dibalas? Atau Tidak Segera Dibalas

"Besok rapat jam 3 bisa datang kan? bales ASAP"
Potongan pesan pendek atau sms macam di atas itu sering banget saya dapati, dan secara tidak sadar, sering juga saya gunakan. Sebenarnya, apabila kita berpikir secara nilai etika, apa yang kita sering temui dalam akhir pesan pendek tersebut adalah hal yang kurang etis teman. Kenapa? Sebab tanpa kita suruh sekalipun, apabila hal yang kita sampaikan dalam pesan tersebut adalah hal yang penting maka dengan sendirinya penerima pesan tersebut tidak akan berlama-lama untuk membalas maupun menanggapi pesan yang kita kirimkan. Alasan lain dari ketidak etisan dari hal tersebut adalah adanya unsur paksaan atau desakan dalam penyampaian maksud yang kita sampaikan, mungkin bukan masalah apabila kita melakukan ini pada teman sebaya. Namun apa jadinya bila kebiasaan ini terbawa sampai pada saat kita berhubungan dengan relasi yang menginginkan hubungan formal. Tentu hal ini dapat menimbulkan masalah.
Dalam tulisan ini saya bukan ingin mengulas permasalahan ini secara psikologis. Karena jelas itu bukan kompetensi saya. Namun ada baiknya kita melihat masalah ini dari segi yang sederhana-sederhana saja, yang nyantai-nyantai saja. hehehe... Masalah seperti ini rentan timbul karena:
1. Kita tidak punya prioritas yang jelas antara mana pesan yang harus dipahami, ditanggapi, atau cukup sekedar kita baca sekilas lalu kita hapus karena isinya nggak lebih dari HOAX belaka.
2. Kita cenderung tidak segera melakukan apa yang diminta oleh pengirim pesan, sehingga kita menundanya. Menunda meskipun terhadap hal yang sangat sederhana dapat berakibat fatal. Terutama bagi orang orang yang memiliki kebiasaan untuk bersifat kurang disiplin (contohnya saya.. hahaha)
contoh :
sms : "Tolong kirimkan nama anda, alamat email dan nomor kartu identitas yang anda miliki, penting untuk pendaftaran seminar SUPER GENIUS MEMORY!! Segera, tempat terbatas"
Nah karena saat menerima SMS itu anda sedang tidak membawa dompet atau anda lagi asik melakukan hal lain, kita cenderung menunda hal itu dan memilih untuk meneruskan apa yang sedang asyik kita tekuni. Hal ini akan merugikan karena bisa-bisa kesempatan kita buat ikut seminar hilang hanya karena kita tidak segera menanggapi tawaran tersebut. Sangat disayangkan kan. Itu baru undangan seminar lho, gimana kalo yang sms nawarin calon istri idaman (agak ekstrim contohnya..hehehe)
Tips :
Tips sekedarnya buat masalah ini :
1.Biasakan untuk memprioritaskan berbagai pesan yang anda terima berdasarkan tingkat kepentinganya dan seberapa mendesak isi pesan tersebut.
2.Segera tanggapi pesan yang anda terima, jika memang isinya adalah suatu yang penting.
3.Bila anda orang yang pelupa dan kurang bertanggung jawab, cobalah untuk mengambil tanggung jawab yang berhubungan dengan meneruskan informasi di lingkungan anda. Misal jadi penanggung jawab jarkom di angkatan kuliah. Atau masuk ke bidang Humas dari sebuah kepanitiaan. Percayalah, terkadang kita perlu paksaan untuk berubah.
Lalu apa untungnya buat kita dengan cepat membalas pesan orang, apa baiknya buat kita? Menurut saya, dengan kita membiasakan untuk memperlakukan orang dengan baik, secara otomatis kita akan mendapatkan perlakuan yang sama ketika kita membutuhkan respon cepat dari orang yang kita hubungi. Jadi Insya Allah kita gak akan terkatung-katung menunggu jawaban dari orang yang kita butuhkan selama kita tidak melakukan hal serupa pada orang lain. Sebab bukankah sudah hukum alam bahwa yang menanam akan memetik ?
Semoga Bermanfaat bagi yang membaca, dan yang menulis.
Si Sanky, Fasilitas Baru Kos Kahfi
Masuk dengan menenteng tas yang cukup besar huhhh capek juga, mana kamar gw paling belakang lagi makin capek dan maleslah. Kebetulan kamar gw paling pojok dan sebelum masuk kamar di sebelahnya dari jalan di jalan sebelum jalanan ke kamar gw (lah kok jadi mbulet, hehe, pokoknya gitu lahhhh) ekor mata gw menangkap ada sesosok benda asing berdiri di situ. Waw... dia angkuh, kuat dan mempesona... sekilas gw gak percaya dengan apa yang gw lihat (mulaiiii...berlebihan.. ahaha). Ternyata itu adalaaaaahhhh... Mesin Cuci Baruuuuuuuuuuuuuu. Untuk informasi sebelumnya telah ada 2 mesin cuci di kosan Kahfi ini. Tapi kali ini tiga man! Tigaaaa!!! Ahahahaha... seneng juga rasanya.
Abis gw liat-liat gw langsung mencari-cari nama untuk benda ini, karena udah kebiasaan gw buat menamain apapun yang dekat dengan gw. Ahaha meskipun itu bukan punya gw. Akhirnya gw namain tuh mesin cuci baru dengan mana Sanky!!!!! (Sank*n Pinky). Sank*n itu mereknya prend. Jadilah benda itu gw namain Sanky. Karena emang ada corak-corak pink di bagian penutup mesin cuci ini. Ehehehehehe.
Penasaran dengan seberapa gantengnya mesin cuci itu? nih potonya:

Sanky si mesin cuci baru Kahfi.. hehehehe
Bis itu langsung gw coba, dan Alhamdulilllah, sejauh percobaan pertama benda ini bekerja dengan baik. Makin nyaman aja Kos Kahfi ini, buat anak anak UI yang nyari kosan yang Kondusif, nyaman buat blajar, asri dan bisa membantu pembesaran betis. Kahfi bisa jadi pilihan. hehehehehehe.. Udah gitu banyak kegiatan bermanfaatnya lho prend.
Monday, May 25, 2009
Bisakah Loyalitas Terhadap Idealisme Diikat Undang-Undang?
Tapiiii ndak papa, kebetulan saya lagi bawa Hagaba Yagaba (Nama Laptop Saya haha), jadilah saya manfaatkan waktu sejam yang singkat ini buat browsing. yaahh sapa tau ada informasi menarik yang bisa didapet. (Padahal Niat utama adalah....yapsss...buka FB hahaha)
Karena kulino (bahasa jawa, artinya kira2 biasa.red) ngebuka kompas, jari saya gatel buat ngebuka website ini, nah kebiasaan nih kalo buka Kompas biasanya yang saya lihat langsung berita-berita di Tab Internasional (Soalnya yang Nasional dan Regional isinya politik muluuuu haha).
Waktu lagi milih-milih kira-kira berita yang mana yang mau gw baca, tiba-tiba mata menangkap sebuah judul nan Menarik. Judulnya itu "RUU Sumpah Setia Pada Negara Yahudi"

Yang mau baca coba klik di sini dah http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/05/26/07575694/ruu.sumpah.setia.pada.negara.yahudi
Nah pas ngebaca isi berita itu, saya kok sedikit geli yah, Bangsa Yahudi tuh bukanya identik dengan sikap cerdas dan percaya diri yah? Tapi cara untuk menjadikan undang undang sebagai pengikat loyalitas itu, menurut saya sedikit menggambarkan rasa kurang percaya diri.
"Partai ultra nasionalis Yisrael Beitenu pimpinan Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman telah menyusun rancangan undang-undang untuk mewajibkan warga negara Israel mengucapkan sumpah setia kepada Israel sebagai negara Yahudi, Zionis dan Demokratis." dari kutipan berita ini, dapat kita ambil kesimpulan kalo Undang-Undang itu, nantinya akan dijadikan sebagai alat bagi pemerintah Israel buat ngejadiin setiap orang terikat pada paham Zionisme guna mendukung negara Yahudi itu tetep eksis keberadaanya.
Sebelumnya mungkin masih banyak dari kita yang belum tau apa itu gerakan Zionisme, Zionisme berasal dari kata Zion, sebuah bukit di Yerusalem tempat yang mereka inginkan dari awal untuk membentuk negara Yahudi. Gerakan ini diresmikan setelah konggres zionis pertama di Bassel Swiss tahun 1897. Jadi gerakan ini menyatukan orang-orang Yahudi di seluruh dunia untuk membentuk suatu gerakan mendirikan negara Yahudi yang mengakomodir kepentingan orang-orang Yahudi ini. Yang lucu adalah ternyata paham ini dianggap oleh PBB dengan mengeluarkan Resolusi 3379 yang menyatakan bahwa gerakan Zionisme adalah tindakan yang rasialis mesipun resolusi ini dicabut pada 19 Desember 1991. Tentunya dengan desakan dari pelobi ulung Yahudi.
Cukup membahas tentang zionisme, kembali pada RUU itu, jadi berdasarkan yang ada di Kompas RUU itu ditujukan untuk mengikat warga Arab Israel yang jumlahnya sekitar seperlima dari seluruh penduduk Israel itu sendiri. Jadi wajar kalo sebenarnya warga Arab ini bersifat antipati terhadap sikap negara Israel yang senantiasa memperlakukan mereka sebagai warga kelas dua. Ketidaksetiaan ini dianggap mengancam keberadaan negara Israel. Jadi pemerintah Negara Tanpa Tanah Air itu merasa perlu untuk memberlakukan aturan mengikat bagi warganya (Undang-Undang).
Nahhhh,, singkat. Menurut saya indikasi ini menunjukkan bahwa, sebenarnya dalam diri Pemerintah Israel sendiri terdapat rasa tidak percaya diri terhadap keberlangsungan negara yang mereka dirikan secara paksa ini. Kalu saja mereka percaya bahwa ideologi yang mereka angkat sebagai dasar negara adalah Ideologi yang mutlak kebenaranya, tentulah tidak diperlukan suatu peraturan perundangan untuk mengikat kesetiaan warganya. Dan seandainya saja negara itu tidak memperlakukan rakyatnya secara diskriminatif tentu tidak akan timbul tekanan terhadap pemerintah berkuasa.
Ideologi dibangun secara bertahap, dan berangsur-angsur, bukan suatu yang dapat berubah dan berbolak balik secara cepat dan drastis. Kalau saja Pemerintah negara Yahudi ini mau sedikit belajar, ada baiknya mereka belajar dari Negara Indonesia, Negara yang di dalam undang-undang dasarnya terdapat pasal bela negara ini. Ternyata masih juga banyak elit warganya yang berkelit dan menelikung NKRI. Itu adalah bukti nyata bahwa ideologis, dan paradigma bukan bersumber pada undang-undang, namun sebaliknya seharusnya undang-undanglah yang disusun berdasarkan Ideologis.
Huhhh... Serius banget yah postingan kali ini,, hehe.. Sekian dulu dah.. Soalnya kantor posnya dah buka tuh..hehe
Assalamualaikum..
Saturday, May 23, 2009
Ketika Roh Lebih Memilih Berputih Tulang daripada Berputih Mata
Sepanjang kepemimpinanya, Beberapa kebijakan dinilai kurang populer dan menjatuhnya popularitasnya di kalangan masyarakat Korea, seperti kebijakan untuk mengirimkan tentara Korsel ke IRak, rencana untuk memindahkan ibu Kota Negara dari Seoul ke Chungcheong hingga inisiatifnya untuk melakukan konsolidasi dengan pihak oposisi terbesar di Korsel yaitu Partai Nasionalis Utama yang menjatuhkan popularitasnya di mata basis massanya.
Berakhirnya masa jabatan Roh ternyata bukan mengakhiri masa kelam dalam karir politiknya. Roh justru semakin terpuruk setelah keluarganya dirongrong kasus korupsi. Jaksa penuntut Korea Selatan memeriksa kakak mantan Presiden Korea Selatan itu Roh Moo-pyeong mengenai dugaan pengaruh yang digunakannya terhadap penjualan sebuah firma yang terancam bangkrut ke sebuah bank yang disupervisi oleh negara. Roh Gun-pyeong (66) diduga menerima uang untuk membantu firma keuangan Sejong Capital menjual unit usahanya Sejong Sekuritas ke Federasi Koperasi Pertanian Nasional yang dikenal dengan sebutan Nonghyup pada 2006 saat adiknya masih menjabat sebagai Presiden Korea Selatan.
Kasus dugaan korupsi keluarga ini tampaknya begitu memukul Roh yang sebelumnya begitu menjunjung tinggi kejujuran dan slogan anti korupsi. Hingga begitu terpukulnya Roh memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari tebing pada tanggal 23 Maret 2009 dini hari. Kematian Roh sontak membuat seluruh korea bahkan dunia kaget. Begitu tragis dan pilu akhir hayat dari seorang Roh Moo-hyun, seorang mantan orang nomor satu di Korea Selatan, seorang yang penah memiliki mimpi untuk memmajukan kekuatan Asia.
Begitulah jalan hidup yang dipilih Roh, yang baginya lebih baik berputih tulang (mati) daripada hidup berputih mata (menahan malu). Sebuah pelajaran getir, yang harusnya bisa menyentak setiap pemimpin di Dunia, bahwa kekuasaan, pengaruh dan amanah yang diemban tidak mungkin tidak dipertanggungjawabkan. Jika di depan manusia saya pertanggung jawaban itu sungguh begitu berat, lantas bagaimana dengan pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT kelak? tentu lebih berat.
Bagi calon-calon presiden dan wapres yang hendak mengelu-elukan diri dan golonganya, agar mawas diri!! selalu berhati hati, jangan sampai kekuasaan yang didapat hanya membawa kesulitan bagi orang banyak!! Jikalau sedetik saja kalian! Para pemimpin lengah akan tanggung jawab kalian, kehinaan akan menyertai seumur hidup.
Bertanya dan Bertanya lah tanpa Ragu!!
Mungkin bagi kebanyakan orang, masalah ini bukan masalah yang penting, sebab paradigma yang dibangun oleh alur pendidikan di Indonesia adalah paradigma untuk menjawab pertanyaan. Jadi masa bodo apakah kita mahir bertanya atau tidak, bisa melihat celah dari sebuah argumen atau tidak asalkan kita bisa menjawab pertanyaan dengan baik maka masalah akan terselesaikan. Padahal menurut saya, mencari jawaban dan kebenaran dengan metode bertanya, adalah jauuuuh lebih menarik, lebih menantang dan lebih berkesan daripada menemukan jawaban dengan menjawab.
Bukankah setiap inovasi-inovasi di dunia ini, berawal dari sebuah pertanyaan? Berawal dari ketidak tahuan? Sehingga sebuah pertanyaan, yang dilontarkan oleh seorang yang mungkin tidak begitu hebat, tapi berani dan mampu untuk berpikir di luar batas mampu menjadi pemicu bagi ledakan jawaban-jawaban dari orang-orang di sekitarnya, mereka yang lambat laun melengkapi akar,batang daun dari pohon pemikiran yang bibitnya disemai melalui sebuah pertanyaan, bukan sebuah jawaban.
Menurut saya pribadi neh,, ada beberapa penyebab orang males buat bertanya:
1. Kurang memperhatikan topik, sehingga gak ngerti dah, apa yang mau ditanyain.
2. Ngerasa udah jago, jadi ndak perlu nanya.
3. Takut pertanyaan saya dinilai "dangkal" trus diketawain oleh seisi forum.
4. Dst (hahaha)
Sebenernya hal-hal itu bisa sedikit teratasi dengan beberapa tips berikut, tips biar kita g malu buat nanya:
1.Pantengin baik-baik tuh,, apa yang dijelasin dan perhatikan benar-benar apa unsur-unsur 5W+1H udah benar benar terakomodasi dalam penjelasan yang disampaikan. Kalo belum, tanyai gan!! itu ladang kita buat menggali lebih jauh.
2.Banyak bacaaaaaa.... Apapun baca aja dah, haha suatu saat pasti pengetahuan itu bakal berguna kok. (Jadi inget pas diskusi ama Bang Randi di atap EC..hehe)
3.Jangan pernah takut buat diketawain, orang-orang yang ketawa cekikikan itu belum tentu bisa bertanya sebagus pertanyaan anda.
Nah step-step sederhana itu Insya Allah bisa membantu kita untuk enggak segan buat bertanya. Dengan bertanya gan, kita bakal dapet lebiiiiihhh banyaaaakk hal lagi, percaya dah.
Segini dulu dah, soalnya lagi mau UAS, haha..Bertanya terus dan terus hingga ketidak-tahuan lelah membelenggu pikiranmu....:)
Wednesday, May 6, 2009
Ini Bukan Soal Kita Dibayar Berapa,,..
Tapi mengingat tanggal 13 akan ada ujian kedua sebelum UAS, yang mana bobot ujian ini adalah 50% dari keseluruhan nilai, yahhh apa boleh buat lah. akhirnya saya pilih untuk kuliah aja. Meski dengan berat otak (bukan berat hati cuy)
Nah hari ini Pak Bintang seperti hari biasanya. Tidak pernah telat, datang dengan rapi, dan selalu ngajar dengan media yang sama. Slide Proyektor..Setelah menyiapkan alat pengajaranya, pak bintang mulai masuk ke materi, yang entah kenapa selalu, menarik!!!
Pada kesempatan ini masih nyambung dengan kemaren, Pak Bintang ngejelasin tentang mekanisme pergerakan nilai pertukaran mata uang, ini g mudah teman sama sekali g mudah. Tapi yadah lah kita simak sajah
Setelah bla-bla bla,, tiba tiba pak bintang menyinggung tentang Involunteri Unemployment (Pengangguran yang kagak Ikhlas adalah deskripsi yang tepat untuk ini..haha) yaitu mereka, yang sebenernya tidak mau menganggur, tapi dianggurkan oleh keadaan. Jadinya mereka g bisa kerja dah, kerjaanya mencoba melamar kesana kesini, kerja serabutan dan merenung di rumah mengapa pohon pepaya tidak berduri (lah??)
Terus, pak bintang juga ngejelasin tuh, tentang apa yang dimaksud dengan Volunteri Unemployment (Orang Orang yang rela, ikhlas dan hobi untuk jadi pengangguran). Jadiii apa boleh buat dah,, dia mau g mau harus nganggur. Orang-orang macam ini ada, lantaran dia udah memperhitungkan kalo daripada dia kerja dan dibayar yang g sesuai dengan capek yang dia dapet saat kerja dia lebih baik nganggur. Misal, daripada kerja ngecat Zebra Cross tapi cuma dibayar remason mending nganggur kan?? ya iya laaahhhh..hehe.
Berpijak pada penjelasan tersebut pak Bintang ngejelasin lagi soal mekanisme untuk mewujudkan Full Employment. Tiba-Tiba beliau bilang
Pak Bintang : "Kalian tau,, UI ini tiap ganti rektor ganti kebijakan"
Mahasiswa : "hmmmm....."
Mahasiswa laen : "Wah saya dapet coment baru di wall saya!!" (behh yang ini malah fban)
Pak Bintang : "Salah satunya adalah soal gaji dosen,",, "Bu Ana sudan mengingatkan (yang mana Bu Ana adalah Sekertaris Jurusan TI UI) kalo kita (yang mana kita di sini adalah para dosen TI UI) harus siap siap November nanti gaji kita bakal turun"
Pak Bintang : "Tapi saya g masalah,, saya kan mengajar bukan karena Gaji,,tapi karena Hobi..ha ha ha (tawa Khas Beliau)"
Dari kata kata itu,, saya nyadar, ada perbedaan jelas antara orang yang "Bekerja" dan mereka yang "Mencari Uang"
Ketika seseorang "Mencari Uang" maka Uang lah yang kita dapatkan,, ya to?? sehingga kita bisa dengan mudah syok, atau gendheng (pake h) saat uang itu ilang ato berkurang..
Sedangkan bagi orang yang "Bekerja" uang tidak menjadi tujuan utama gan!! poin utamanya adalah anda bisa bermanfaat dan melakukan apa yang anda sukai.. Perkara lalu banyak uang yang datang.. Yaaa apa boleh buat...hahaha
Saturday, March 21, 2009
Wade,,Yani dan Daryono
1. Besok minggu (lahhh...)
2. Libuuuurrrr
3. Ada ngajar TIS!!!
Khusus yang Nomer 3 adalah agenda spesial,,karena di agenda nomor 3 itu seringkali saya mendapatkan pelajaran yang bakal sangat memotivasi saya dalam seminggu kedepan...
ehem...seperti biasa,,saya berangkat dari kosan jam set dua untuk ngajar...berangkat dengan semangat ternyata cuaca berkata lain,,Hujan deras menghadang!! wah sebenernya sempet terpikir untuk balik n g jadi ngajar....tapi kembali terbayang tanggung jawab n komitmen waktu di awal....
Hohhhh....akhirnya setelah nunggu hujan reda, perjalanan dilanjutkan....Nyampai TIS jadi agak telat dah....tapi Untungnya pelajaran baru dimuali....Jadi saya langsung gantiin Tria buat meng-handle anak2 kelas 3
ternyata,,materi yang diajar ini tentang sudut-sudut gitu....
Singkat cetita...Pengajaran berakhir dengan damai (biasanya berakhir ricuh..hehe)...
Nah,,sesuatu mulai unik saat pak kepala sekolah (Bang Agung) memulai evaluasi,,setelah evaluasi nyaris ditutup,,,tiba-tiba Bang Ical datang...jeng jenggg....
Dan di belakang Bang Ical,,mengekorlah 3 orang anak kecil lengkap dengan uku lele dan ecek2...saya langsung bikin hipotesis :
1. Bang ical g ngajar karena sibuk ngamen..hehehe
2. Bang ical selama ini udah punya 3 anak dan baru saja memutuskan untuk membentuk sebuah family band
3. bang ical adalah koordinator pengamen cilik..
4. Kombinasi 1 dan 3
5. Kombinasi 2 dan 3
Ternyata ke lima hipitesis saya salah....setelah dijelaskan,,ternyata ketiga anak itu adalah calon-calon murid TIS yang baru,,Mereka ini anak-anak jalanan yang sehari-harinya biasa ngamen...dan kebetulan mereka berhasil diringkus oleh bang Ical di kantek dan diajak buat ikutan ni sekolah Informal....
naahhh..berhubung mereka bertiga bakal jadi keluarga baru di TIS,,akhirnya diadakan acara perkenalan mamen....
Nahhh..anak pertama mengenalkan diri
Anak 1 : Ehmmm Ehmmm Ehmmmm
Salah satu pengajar,,Mungkin Tria,,atau Sofrida ataauuu sapa gt : Adek namanya sapa??
Anak 1 : Namanya Wandae
Dwiki (Dalam Hati) : Gokil!! Namanya Oneday!!!
Anak 1 (Seolah mendengar kata hati saya,,dia klarifikasi): Nama saya Wande
Dwiki : owwww
Tria : Wande tinggal dmana
Anak 1 (untuk selanjutnya disebut Oneday eh Wande) : deket sini kak
Agung : ehmm wande masih sekolah??
Anak 1,,duhh maksudnya Wande: Udah enggak kak....saya dah berhenti skul...
Dialog yang sama terjadi umntuk 3 orang anak yang laen...Kesimpulan saya :
Mereka bertiga adalah korban dari Ibu kota yang memupus hak pereka untuk memupus hak mereka atas pendidikan yang layak gan!!! ini tidak bisa dibiarkan!!
Akhirnya,,berdasarkan ajakan dari bang Ical,,saya ikut dah ke rumah ke tiga anak kecil itu...
Rumah pertama,,Rumah Wande...Karena udah banyak temen-temen yang kesini,,saya memutuskan untuk ndak masuk, tapi langsung aja ngluyur ke rumah si Yani...
BErtiga kami ke rumah si Yani...
Dwiki, Tria, Latief : Assalamualaikum....
Seseorang dengan suara parau dan agak serak serak dikit : Waalaikumsalam...
Tria : maaf pak menganggu,,boleh mampir sebentar??
Seseorang dengan suara parau dan agak serak serak dikit : Oh silahkan,,masuk-masuk
nah,,begitu saya masuk,,langsung saya lakukan analisis terhadap kamar tersebut luasnya g lebih dari 3.8765 m kali 2,32343 m..hemmm lumayan sempit untuk tinggal 3 orang (Asumsi,,Seseorang dengan suara parau dan agak serak serak dikit,,Yani dan Ibunya...)
Dwiki: Benar dengan Ayahnya Yani??
Seseorang dengan suara parau dan agak serak serak dikit: Benar,,seratus untuk anda (kata kata seratus untuk anda adalah hasil rekayasa saya)
Dwiki : jadi begini pak,,kami ini dari TIS,,sekolah informal yang didirikan oleh mahasiswa Teknik,,untuk anak-anak di sekitar kampung Liu....
Seseorang dengan suara parau dan agak serak serak dikit: Owww...
Tria : Kalau boleh nih pak,,kan yani masih kecil,,sayang kalau dia g sekolah,,gimana kalau yani diikutkan TIs saja pak ??
Seseorang dengan suara parau dan agak serak serak dikit: Gut Gut,,ide bagus gan (rekayasa lagi,,hehehe,,)
Dwiki : kalau boleh tahu yani berhenti sekolah kelas brapa ya gan?? (hehehe gan diganti pak)
Seseorang dengan suara parau dan agak serak serak dikit: Yaa kelas 5 lah mas...mestinya sekarang dia udah SMP kelas 1
Dwiki,Tria,Latif : Owwww.....
Seseorang dengan suara parau dan agak serak serak dikit: Yah namanya juga orang susas,,Anaknya banyak sih....(Lah,,kenapa jadi nyalahin jumlah anak????)
Tria : Berapa pak?? bertanya dengan nada empati..
Seseorang dengan suara parau dan agak serak serak dikit: 4 gan,,Yani ini yang nomor 2
Dwiki (dalam hati): Apaaaaaaa!!!!!!!! Jadi ruangan 3.8765 m kali 2,32343 m ini buat 6 oraaaanggg!!!!! pak kenapa g pulang aja ente ke kampung??
Duh duh duh....
Agung sang ketua TIS akhirnya datang
Agung : Assalamualaikum bapaakkk,,saya Aguung...
Akhirnya terjadi pembicaraan intens antara si bapak dan Agung, dan bang agung berhasil mendapatkna izin buat ngajak si bocah ikutan TIS buat hari Sabtu dan Jumat...
Huhh...akirnya kami pun pamit..
Sebelum pamit,,saya sempet melihat bagian belakang lapak kecil itu,,ternyata di situ adalah tempat sampah!! duh duh...makin prihatin dah...
Sepulang dari rumah itu,,saya bener-bener kepikiran,,BEgitu hidup ini penuh dengan ketimpangan,,begitu hidup ini sarat dengan paradoks....
Negeri ini,,dimana tiap jengkalnya adalah amanah bagi WNI untuk menjadi khalifah di atasnya,,ternyata masih banyak menyimpan dukanya sendiri....
Satu hal yang saya tahu,,Saya begitu beruntung karena memiliki banyak kesempatan yang tidak semua orang miliki,,Insya Allah ini semakin memperkuat tekat saya untuk ndak maen-maen dalam kuliah!!
Saya musti belajar keras sebagai bentuk rasa syukur terhadap salah satu nikmat Allah yaitu kesempatan Belajar...Fight!!!!
Thanks for Wade,Yani, n Daryono...
Friday, March 20, 2009
Hoahmmmm......
Diawali dengan hari Minggu yang melelahkan,,seharian berjuang menyelesaikan tugas gambar,,lalu hari senin yang mengenaskan....tepar di hari Rabu dan Kamis (Sakit dah...)
Untungnya pas hari Jumat ini peforma sedikit membaik....Semmoga trend positif ini berlanjut ke depan...
Next target!!! hajar UTS!!!!
Sunday, February 22, 2009
Hijrah Ke Kahfi
Konon katanya di kosan ini ada kegiatan-kegiatan yang membangun pribadi loh..semacam ngaji bareng,,dll...
Doakan ini keputusan yang baik yah...
Amiiiinnn....
Tuesday, February 10, 2009
Alhamdulillah Amanah Bertambah
Jadi Amanah saya sekarang :
1. Kabid PSDM Rohis TI 2009
2. BP Kemahasiswaan IMTI 2009
3. Pengajar tetap TIS
4. BP Sosma BEM UI
Alhamdulillah...semoga saya amanah..Amiiiinnnn
Sunday, February 8, 2009
Growing Pain
1. Menggambar Teknik Manual.
2. MEnggambar Teknik AutoCAD
3. Meresume artikel tentang Fuzzy Logic
4. Membuat Diagram Algoritma dari penyelesaian tugas no 3.
Waaawwwww.....
Tugas, tugas tersebut baru diberikan pada pertemuan pertama! artinya tugas dikasihin gitu aja tanpa ada pengenalan teknik sebelumnya....
Yah mungkin ini berat yah awalnya...tapi semoga ini merupakan "Growing Pain",,semacam rasa sakit yang dialami seorang anak saat giginya akan tumbuh....
Semoga dibalik kesulitan ini tersimpan banyak manfaat,,Amiiiiinnn.....
Wednesday, February 4, 2009
Inkonsistensi Mahasiswa
Salah satu bentuk inkonsistensi sederhana yang dapat saya cermati di kampus saya sendiri (Fakultas Teknik Universitas Indonesia). Adalah penyikapan mengenai diselenggarakanya SIMAK UI sebagai sarana penerimaan mahasiswa baru dengan porsi yang paling besar. Ujian ini ditengarai sarat dengan intrik dan berpeluang untuk menjadi blunder seperti pelaksanaan UMB 2008.
Pada awal-awal dikeluarkanya SIMAK UI hampir seluruh elemen pergerakan mahasiswa yang ada di Universitas Indonesia menyatakan menolak, bahkan beberapa merasa ditelikung (lagi) oleh pihak rektorat yang mengeluarkan keputusan itu tanpa melibatkan mahasiswa dalam proses pengambilan keputusan. Beberapa aksi protes digelar, dan diantaranya diikuti oleh banyak elemen pergerakan, seperti BEM Fakultas contohnya.
Namun apa yang terjadi beberapa hari yang lalu sungguh mengagetkan. Saat diadakan Open Recrutment untuk dilaksanakanya SIMAK UI di Fakultas Teknik. Ternyata tempat pendaftaran justru diambil di BEM FT!! Bayangkan teman teman. Dimana mereka yang dulu menjadi barisan terdepan saat menolak SIMAK UI? Dimana mereka yang meneriakkan Tolak BHP dan Siman UI di bawah guyuran hujan Desember lalu? dimana? Apa mereka diam?? Atau bersuara tapi saya tak mendengar? Bahkan saya mengetahui ada orang orang yang saat aksi menentan SIMAK UI ikut dengan semangat, sekarang dengan semangat yang tidak kalah tinggi malah mendaftar menjadi pengawas!! Ada apa ini?
Saya memang belum mencoba untuk mengkonfirmasi hal ini kepada elemen BEM FT, namun terlepas dari apapun alasan di balik itu, saya merasa ini adalah benih dari permisifisme terhadap kebijakan rektorat yang tidak perpihak pada masyarakat. Kalau hal seperti ini terus menerus dilakukan maka bukan tidak mungkin pergerakan mahasiswa akan semakin dipandang remeh. Dan ingat di Indonesia, UI menjadi barometer pergerakan mahasiswa. Kalau kita habis? Habislah sudah pilar kelima demokrasi di negeri ini.
Jika memang Totalitas Perjuangan hanya ada dalam lagu, maka jangan pernah nyanyikan lagu itu lagi saat aksi! Karena sungguh itu merupakan suatu penghinaan.
Kesan Pertama Buat Pak Bintang
Dan ternyata saya dipindahkan ke kelas yang diajar oleh Ir. Sri Bintang Pamungkas M.Si., PhD., SE, Wah saya bingung dah,, di satu sisi saya seneng karena Pak Bintang ini adalah orang yang saya kagumi karena pada zaman semua orang menerapkan prinsip ABS (Asal Bapak Senang), Pak Bintang berani menjadi sosok yang fokal, bahkan Beliau sempat beberapa kali merasakan dinginya dinding hotel prodeo.
Karena belum pernah bertemi dengan Pak Bintang, awalnya saya mengira beliau adalah pribadi yang kaku dan tidak menyenangkan, kesan pertama yang saya dapat adalah beliau adalah orang yang rapi, masuk ke kelas menggunakan pakaian rapi lengkap dengan dasi, beliau membawa 3 buah buku, dua diantaranya bertuliskan nama beliau besar besar SRI BINTANG PAMUNGKAS, dari sini saya menyimpulkan mungkin beliau orang yang terbuka (sotoy mode "on"!! hehehe)...
Kuliah diawali dengan suasana yang hening, wajar sebab teman-teman sudah punya penafsiran sendiri soal Pak Bintang dalam benaknya masing-masing, hehehehe,,,dan rata rata mereka berpersepsi bahwa Pak Bintang ini orangnya agak kaku,,
Tapi perlahan situasi berubah, Pak Bintang mulai menjelaskan silabus dengan lancar dan lugas. waktu beliau nerangin, g terdengar satupun suara dari temen-temen. Pada diem semua. Lalu pak bintang mulai menyisipkan joke-jokenya yang menyenangkan. Jadi situasi menjadi cair dan menyenangkan. Namun tetap penuh kejutan. hehehe
Beliau langsung mengingatkan bahwa bagi beliau Absensi itu tidak penting, jadi terserah kami apakah mau masuk atau tudak, beliau juga tidak menerapkan kuis sehingga parameter penilaian hanya menggunakan UTS dan UAS (50% @ masing-masing ujian)..Waw berat memang tapi Insya Allah saya bisa dapet bagus..Amiiiiinnnn
Pak Bintang juga bilang bahwa aneh jika seorang akademisi tidak terlibat atau minimal suka pada politik. Karena dasar dari hak-hak mengajar kata beliau adalah pasal 31 UUD 45,,Yang notabene adalah bagian dari Undang Undang Dasar yang merupakan buah dari sistem Politik.
Intinya kesan untuk pak BIntang : Akademisi, Ahli, Politik, Berselera Humor, Suka yang rapi rapi..
Mohon Bimbinganya Pak!!!
Friday, January 30, 2009
Rohingnya, Minoritas yang Tersakiti (Lagi)
Taruhlah berita tentang kedukaan rakyat Palestina telah mendunia sekarang ini, dan kekejaman serta kelicikan kaum Zionis Yahudi telah tersingkap boroknya, namun yang harus kita tau, bahwa sebenarnya di tempat tempat lain, Perlakuan serupa masih banyak ditemukan. Tidak perlu jauh, jauh ke Eropa atau ke Amerika untuk menemukan kasus serupa, di wilayah regional kita sendiri pun, Asia Tenggara hal serupa nyata-nyata ada.
Merekalah Muslim Rohingnya, minoritas yang di negerinya, Myanmar, ditekan dan diperlakukan secara tidak manusiawi oleh Junta Militer, dilarang untuk melaksanakan hak asasinya untuk beribadah sesuai dengan keyakinan mereka. Dan dibunuh semudah mereka membunuh hewan. Dimanakah dunia saat itu? Dimana negara adidaya yang mengaku sebagai pemimpin dunia? Tidak ada, padahal kasus ini bisa dibilang bukan kasus lama, salah satu media bulanan Indonesia sempat mengulasnya sebagai topik, bahkan media tersebut berani memasang judul “Palestina di Asia Tenggara” untuk artikel yang mengulas tentang penderitaan masyarakat Rohingnya.
Beberapa saat yang lalu, beberapa dari mereka ditemukan selamat dari amukan ombak dan terdampar di Sabang NAD, keadaan mereka sungguh mengenaskan. Mereka masih beruntung dibandingkan dengan beberapa bagian lain yang justru terdampar di Thailand, mereka mendapatkan perlakuan yang buruk di sana, beberapa sumber mengatakan bahwa Angkatan Laut Thailand melakukan penyiksaan dan pembunuhan terhadap mereka. Yang lebih parah lagi adalah Angkatan Laut Thailang ini kemudian menggiring para manusia perahu ini ke tengah laut dan melepaskan mereka tanpa perbekalan dan mesin kapal!
Sampai kapan kita akan terus menutup mata? Sungguh kini sudah saatnya kita berbenah dan berhenti memikirkan diri sendiri. Karena kita sebagai Muslim, harusnya menjadi rahmat bagi Alam semesta. Menjadi khalifah di muka bumi, lalu bisakah jika kita lemah? Jika kita terus ditindas? Bangkit saudaraku!!!!
Thursday, January 29, 2009
RUU Rahasia Negara (Sebuah Pendapat)
Jika kita lihat, kayak apa sih bunyi asli dari pasal 28 "f" ini?? maka beginilah bunyi pasal tersebut.
Pasal 28F
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. (sumber : http://id.wikisource.org/wiki/Perubahan_Kedua_Undang-Undang_Dasar_Negara_Republik_Indonesia_Tahun_1945)
Nah bukankah aneh jika pasal yang secara tertulis jelas-jelas mendukung untuk dijaminya kebebeasan publik itu justru dijadikan dasar untuk membentuk suatu hak perlindungan atas rahasia negara?
Ok, kalaupun kita malas bergelut dengan pasal (karena dewan perwakilan rakyat yang terhormat itu mahir memain-mainkan pasal) mari lah kita tengok secara esensi pengadaan Undang-Undang tersebut. Alasan kuatnya adalah, bahwa kepemimilikan Undang - Undang rahasia negara adalah sesuatu yang mutlak bagi sebuah negara yang berdaulat. Ok mungkin ini benar, namun apakah Pemerintah juga telah menyediakan variabel control yang tepat? artinya siapa yang kelak akan mengawasi berjalanya Undang-Undang ini? Indonesia belum punya lembaga pers yang kredibel dan memiliki bargaining position macam CNN,atau Al Jazeera, atau macam BBC gitu. Lalu siapa yang akan mengawasi? Sementara pers sendiri masih terbelenggu oleh ancaman membocorkan rahasia negara??
Jika benar Undang Undang ini benar disahkan, maka besar kemungkinan bahwa kasus-kasus yang berkaitan dengan militer akan semakin sulit disentuh, semakin sulit dicari data dan faktanya. Apakah ini sebuah langkah pencerdasan? atau upaya pengembalian Supremasi Militer atas Sipil? kami,rakyat, senantiasa menunggu Jawaban. Semoga Undang Undang ini (kalaupun jadi ada) bisa menjadi sarana untuk mencapai kestabilan nasional, yang selama ini baru menjadi utopia di ranah pertiwi.
Menjadi Manusia Bebas
Faktanya, manusia lebih banyak membelenggu mimpi daripada membiarkanya mekar dan berbuah. Bahkan pada beberapa orang, mimpi telah terbonsai sejak mereka meninggalkan masa anak-anak. Ibarat mimpi itu adalah sebuah pohon, maka mimpi sebagian orang di antara kita telah tergerat jaringan xilemnya oleh krasnya parang realita. Akar-akarnya telah digerogoti oleh cacing-cacing pesimisme dan daun daunya, kalah bersaing dengan gulma-gulma kegagalan. Lengkaplah sudah syarat yang dibutuhkan untuk memupus sebuah mimpi. Bahkan sebelum putik berja keras dibuahi oleh kesempatan.
Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah kesempatan untuk mengajar di sebuah sekolah informal yang diprakarsai oleh teman-teman teknik UI. Saya kebetulan mengajar siswa-siswi dari kelas dua SD. Sebelum mulai pelajaran, saya mencoba melakukan sedikit pemanasan (macam olah raga saja), bukan dengan menengokkan kepala kiri dan kanan sampai pegal. Atau dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi, namun dengan menanyakan sebuah pertanyaan sederhana. “Apa cita-cita kalian?” tanya saya dengan wajah dibikin seimut mungkin (default wajah saya agak seram). Dan apa yang terjadi saudara-saudara? Tidak ada jawaban dalam tiga detik pertama, ok fine saya kira mereka butuh waktu berpikir, tapi setelah tiga menit tak ada yang kunjung membuka mulut dan bicara saya rasa saya mulai berhak memutuskan, ada yang salah dengan anak didik saya ini.
Ok, melihat wajah mereka yang pias dan pucat lalu toleh kanan-kiri itu, saya jadi mahfum bahwa cita cita mereka tengah hilang. Terbunuh oleh keadaan. Ya Allah, padahal secara fisik mereka begitu dekat dengan Universitas Indonesia, kampus yang konon dulu benar-benar pernah menjadi kampus rakyat kampus yang konon di dalamnya terdapat pemikir-pemikir tangguh yang tengah malamnya dihabiskan mengkaji naskah-naskah ilmiah dari negeri yang konon kemajuan teknologinya beberapa ratus tahun di depan zaman kita. Lalu di sinikah mereka? Terdiam saat ditanya mau jadi apa kelak. Oh...benar benar ada yang salah dengan bangsa ini ketika membiarkan tunas bangsanya berhenti bermimpi. Berarti mereka telah merelakan bangsanya seumur alam menjadi budak bagi bangsa lain.
Yang saya temui di sebuah kampung di Depok itu, baru seulir beras dalam gudang Bulog jika dibandingkan denga jumlah keseluruhan anak-anak di Indonesia. Bayangkan, di Depok saja, yang ironisnya, hanya berjarak beberapa kilometer dari Ibu Kota kita Tercinta (sebagai catatan, asrama UI Depok itu masih berada di wilayah Jakarta Selatan) realita telah dengan sukses memupus mimpi anak-anak ini. Lalu bagaimana dengan mereka yang berada puluhan bahkan ratusan kilometer dari tampuk kekuasaan republik ini? Ya Allah, ampuni dosa insan-insan berilmu yang lena dan lupa akan kewajibanya.
Lalu apa yang harus dilakukan? Menunggu ini dan itu? Yang harus kita lakukan adalah membebaskan mereka dari stigma mematikan itu. Tapi bisakah kita melakukanya, bila kita sendiri terjangkit penyakit yang sama? Layakah seorang mahasiswa yang masuk ke Universitas dengan menggolontorkan uang ratusan juta menasehati siswa siswi SMA tentang semgangat menghadapi SNMPTN? Bisakah seorang pengangguran senior memberikan suatu wejangan bagi mereka yang menyandang gelar fresh graduate untuk mencari kerja? Dapatkah? Tentu tidak, sebelum memberikan tutorial yang manfaat, seseorang haruslah menjadi tutor terlebih dahulu.
Nah, berarti yang harus kita lakukan pertama-tama adalah berpikir masihkah kaki-kaki kita terpasung oleh realita. Kalau iya, segeralah lepaskan, karna realita itu sesungguhnya hanya untaian fakta fakta yang dikemas dengan ketidak pastian. Jadi bila kita merasa takut akan suatu impian atau harapan, bisa jadi itu karena sebenarnya kita menyadari, bahwa sebenarnya kita punya potensi untuk menghadapi tantangan itu (terinspirasi dari kata-kata Nelson Mandela). Jadi kini saatnya kita untuk memilih. Menjadi tawanan, atau menjadi manusia bebas.
Sunday, January 25, 2009
Menarik Titik Jadi Garis
Namun kalimat Pram yang mengawali tulisan ini membuat saya sadar, bodoh amat dengan apa kata orang. Bukankah tulisan yang baik adalah tulisan yang jujur? Jujur dalam arti sesuai dengan gaya kepenulisan kita. Kalau kita memang orang hiperbolik maka dapat dikatakan bahwa gaya menulis kita yang melebih lebihkan peristiwa, melucu-lucukan hal kecil dan membual kesana kemari dapat pula dipandang sebagai tulisan yang jujur. Karena dari tulisan itu dapat dilihat watak asli sang penulis. Tulisan itu telah berkata jujur tentang apa yang dipikirkan sang penulis dalam alam pikiranya. Perkara orang lain menganggapnya sebagai bualan, itu berarti pembaca dan penulis membaca dengan frame berpikir yang berbeda.
Begitu dengan seorang akademisi yang menggunakan diksi-diksi sulit, ribuan catatan kaki, menulis secara serampangan. Maka itulah yang ada dalam benaknya, impuls-impuls di otaknya bergerak sedemikian rupa sehingga sulit diikuti apabila pembaca berada pada tingkat intelegensi yang berbeda. Apakah sang penulis harus sok down to earth dengan memakai bahasa-bahasa familiar. Atau pembaca yang harus mendongak tinggi-tinggi hingga sendi atlasnya remuk? Keduanya tidak perlu terjadi, cukuplah kita cari rujukan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan. Dan tulislah tulisan anda dengan kapasitas anda, agar tak terlihat pongah, tapi juga tidak terlihat merendah. Hantam saja pertimbangan-pertimbangan itu.
Dengan era sepertri ini, bukan waktunya lagi untuk menyembunyikan gagasan dalam otak kita, apalagi kalau alasanya hanya karena takut ini dan itu. Malu karena ini dan itu. Stigma-stigma itu sudah lama mati! Dan saya telah membunuhnya saat saya menulis paragraf ini. Saya ingin terus menuangkan ide-ide dan gagasan tanpa batas. Karena dalam kepala saya berloncatan kutu-kutu informasi yang ribut laksana titik-titik kupang di laut dan tugas jari jari ini adalah merangkai kutu kutu itu menjadi untaikan vokal spasi dan konsonan. Karena titik-titik itu sudah semestinya ditarik menjadi garis. Agar tak lagi absurd.
“Karena tanpa dituliskan, ide ide itu hanya akan menjadi titik bukan garis dan hanya masalah waktu sampai titik-titik itu hilang dan dilupakan”

