Kita Jarang Mensyukuri Guruh
"Dwik petirnya kenceng banget dah. Jadi serem"
Petir (Sumber: Wikipedia)
Itu kata temen saya waktu hujan lagi deras dan petir saling silang menghiasi langit Bandung di suatu sore. Yang dia maksud petir, itu pastilah guruh, suara menggelegar yang muncul sesaat setelah petir menghantam bumi. Yang getarannya sering-sering bikil alarm mobil meraung-raung. Untung gua bawa motor, dan motor gua nggak ada alarm nya. Oke, itu bukan poin yang perlu disoroti.
Ngomong ngomong, gua suka bingung sama mereka yang takut sama guruh, bukannya guruh itu musti kita syukuri? Kenapa musti kita syukuri? Karena fakta bahwa kita bisa mendengar guruh adalah bukti nyata bahwa bukan kita yang kesamber petir!!! Bayangkan kalau kita yang disambar petir yang mengalir begitu cepat dengan arus ribuan ampere dan tegangan ribuan (atau jutaan, tidak penting) volt. Sempat kah bunyi guntur mampir ke telinga kita? Atau jantung kita duluan protol karena tingginya tegangan sengatan petir? Ya tentu saja saya yang tidak pernah kesamber petir tidak bisa memberikan komentar empiris, tapi kok secara analitis kayaknya enggak yah.
Tentang Ki Ageng Selo & Petir
Dulu waktu kecil, saya sering main hujan hujanan atau sekedar lari-lari di lapangan waktu hujan, dan setiap ada guruh mampir ke kuping, saya dan temen temen akan tiarap sambil teriak "Aku putune Ki Ageng Selooooooooooooo!!!" (Translate: Saya cucunya Ki Ageng Selooooo!!!!). Siapa Ki Ageng Selo ini? Dia adalah tokoh spiritual di Jawa, yang konon dulu gurunya Jaka Tingkir dan termasuk pendiri Kerajaan Mataram. Jadi ceritanya dulu, waktu Ki Ageng Selo ini lagi di sawah, ada petir iseng yang nyoba-nyoba nyamber beliau. Ya salah petirnya juga sih, udah tau orang sakti disamber. Singkat cerita, petir ini ditangkep sama Ki Ageng Selo (mungkin jaman itu, petir ini semacam Pokemon), dan dilepas dengan syarat dia dan temen-temennya nggak akan nyamber anak cucu Ki Ageng Selo.
Belakangan setelah belajar lebih lanjut, saya baru nyadar hal ini hoax belaka. Bukan, saya bukan bicara tentang Ki Ageng Selo nangkep petir, tapi fakta bahwa ketika petir menyambar, sepertinya kita tidak akan sempat bawa bawa nama Ki Ageng Selo sebelum otak kita hangus dan jantung kita copot. Jadi jangankan ngomong, mengaduh aja mungkin kita tidak sempat.
Mulai sekarang, mari bersyukur tiap mendengar guruh. Juga terhadap fenomena-fenomena lain dalam hidup, coba mulai ditelaah satu satu, barangkali ketemu fenomena fenomena yang selama ini sering kita takuti atau ratapi padahal seharusnya kita syukuri.