
Dari kecil saya orang yang suka berdebat (dan sekarang saya tau ini gak baek), suka mengkritisi sesuatu, suka berpikiran berbeda dengan orang orang di sekitar saya. Saya nggak terlalu suka terikat dalam suatu pakem tertentu, suatu faham tertentu dan suatu dasar pemikiran tertentu. Tentu saja ketidak konsistenan pandangan ini hanya berlaku terhadap hal-hal yang berhubungan dengan urusan-urusan yang tidak menyentuh akidah agama. Mungkin ini bisa terlihat dari gaya menulis Blog saya yang suka berubah-ubah, kadang pake "saya" kadang "gw" kadang serius, kadang becanda, tapi yang pasti. Saya selalu berusaha berusaha menulis dengan sejujur mungkin, sesuai dengan apa yang sedang saya rasakan dan alami. =)
Kemarin, sewaktu saya membereskan buku-buku kuliah semester 2 untuk mempersiapkan ruang bagi datangnya buku-buku materi kuliah semseter 3. Secara nggak sengaja mata saya tertuju pada sebuah buku, buku ini lumayan tebal, sampulnya abu abu, di depanya ada gambar seorang laki-laki sedang menimang dagu, dengan pandangan mata teduh dan senyum simpul. Setelah saya ambil ternyata itu adalah salah satu buku favorit saya yang sudah lama tidak saya baca lagi, sebuah kumpulan tulisan dari seorang yang saya sangat kagumi atas keluasan wawasan dan pandanganya akan sebuah fenomena. Beliau adalan Goenawan Mohamad. Dan buku yang saya pegang waktu itu adalah salah satu kumpulan karyanya yang berjudul Setelah Revolusi tak Ada Lagi
Setiap membaca tulisan Goenawan Mohamad, saya selalu bingung. Apakah sebenarnya yang diinginkan oleh Goen ini? Apakah dia mau menulis untuk dirinya sendiri ataukah orang lain? Apakah dia mau membakar semangat ato hanya menyentil ringan? Apakah dia menyampaikan fakta atau memancing opini? dan banyak lagi apakah-apakah lain yang bermunculan dalam kepala saya. Mungkin karena saya orang yang awam sastra, sehingga alur berpikir saya terkadang bingung dengan apa yang coba diungkapkan Goenawan Mohamad dalam tulisanya. Namun, untuk mendeskripsikan seperti apa tulisan dia (setidaknya menurut saya) beliau ini bukan orang yang akan bersusah susah untuk mencari cara yang efektif untuk menyampaikan ide yang ingin dia sampaikan. Dia santai saja mengayun kata dari satu kata ke kata lain merakit makna dari satu frase ke frase lain, yang oleh orang yang tidak berada pada kapasitas seperti dia mungkin terasa janggal dan aneh.
Caranya untuk menelisik pemikiran yang bersifat doktrin sungguh unik, dia gabungkan berbagai analogi analogi yang cerdas dan penuh wawasan. Sebuah kesan yang seakan ingin di suratkan adalah bahwa dia adalah seorang liberalis sejati, ya seorang liberalis mungkin ini kata yang cukup menggambarkan bagi saya. Lompatan-lompatan idenya sungguh menyenangkan, seakan-akan kita sedang membaca karya dari seorang bule yang besar di belahan dunia barat, dan baru datang ke Indonesia belakangan karena tertarik pada masalah korupsi, demokrasi, dan HAM di negeri yang karena akrabnya dengan masalah-masalah itu, seakan sudah menjadi trade mark bagi negeri ini. Namun ternyata bukan bule lho, si penulis (Goenawan Mohamad) adalah seorang liberalis pro-Barat yang terjebak dalam tubuh pribumi kelahiran Karanganyar! Luar biasa.
Mungkin kekritisan pria kelahiran 29 Juli 1941 ini terasah dari seringnya dia membaca literatur-literatur barat yang pada tahun-tahun itu tengah menyemarakkan kampanye liberisasi (yang sekarang tampak sudah hasilnya). Mulai menulis sejak 17 tahun, menekuni bidang bolitik di Luar Negeri, akrab dengan literatur barat dan besar pada era negeri ini dikangkang tirani mungkin merupakan kombinasi tepat dari terbentuknya mental kritis Goenawan Mohamad.
Meski kagum dengan wawasan dan caranya menyampaikan rangkaian ide menjadi sebuah tulisan yang membius. Tetap saja saya sayangkan beberapa pemikiran Beliau yang terkadang terlalu radikal.. =) Namun siapakah saya? Dibandingkan dengan wawasan dia saya tentu jauh tertinggal. ukan hak saya untuk mempermasalahkan keradikalan pemikiran Goen. Namun salut tetap salut, salut atas ketidak patuhanya terhadap pemikiran monodimensional.



