Monday, February 20, 2012

Tuesday, February 14, 2012

Kesatria dan Padepokan

Suatu ketika, di negeri bernama Endonesya seorang ksatria bertubuh tegap, berkulit hitam legam dan berkumis tipis tengah terduduk khidmad di pelataran sebuah padepokan ternama di Endonesya tempat ia melatih olah ilmu pikir dan kanuragan. Sudah sejak sebelum fajar memerah dia berlatih disitu, mengulang kembali hafalan-hafalan gerakan dan mantra yang selama ini telah dengan sungguh sungguh dai pelajari tanpa pernah sehari pun dia tinggalkan.

Angin lembut menerpa wajah sang ksatria, Karna namanya, sebuah nama yang gagah, nama yang seakan-akan menyimpan semangat membara untuk membasmi segala angkara murka yang berkelebatan di muka bumi Endonesya. Tengah beristirahat tiba-tiba dia dikejutkan oleh dering smart phone yang sedari tadi dia timang, device yang telah sedari tadi membantunya dalam berlatih, menampilkan gerakan-gerakan yang harus dia ulang dan juga mantra-mantra kanuragan yang harus dirapal.

Dengan sekali slide lembut di permukaan smart phone nya, Karna segera dapat melihat pesan yang membuat alat mungil itu berdering. Rupanya pesan itu datang dari Arjuna, murid padepokan yang sama, namun masuk satu tahun lebih dahulu daripada Karna sehingga dia kini telah turun gunung dan tidak lagi menuntuk ilmu di Padepokan yang sama. Ketika masih di padepokan Arjuna adalah sama seperti Karna, seorang ksatria unggulan pilih tanding, yang menguasai olah pikir dan kanuragan terbaik. Hanya saja Arjuna lebih dikenal, sebab sedari masih menjadi murid padepokan, Arjuna telah berlaku selayaknya seorang ksatria, yang lantang menghalau kemungkaran meski belum sempurna benar aji kesaktiannya.

Rupanya pesan tersebut berisi sebuah link yang apabila ditelusuri akan terhubung pada jaringan warta nasional Endonesya yang rupanya tengah membahas kisruh di Padepokan tempat dia menuntut elmu. Karna memandangnya dengan dahi berkerut, "Urusan apa Arjuna mengirimi aku link ini". Baru selesai ia membaca masuk sebuah panggilan dari Arjuna

"Udah kau baca Bro?" tanya Arjuna

"Sudah bang, apa maksud abang kirimin aku beginian?" tanya Karna sedikit ketus.

"Hahaha, tenang adikku, begitu kah kau perlakukan abangmu yang sudah lama tidak bertukar kabar? Begitukah Karna sang kesatria pilih tanding? Ceritakanlah dulu pada Abangmu ini tentang bagaimana kabarmu? Tentang apa kegiatanmu sekarang?" sergah Arjuna

"Yah aku sekarang sedang giat berlatih bang, mempersiapkan untuk final pertandingan strategi FMCG tingkat nasional, juga sedang menyusun full paper untuk pertemuan ksatria tingkat Amerta Tenggara membahas tentang stabilitas pangan dan persenjataan. Jadi tolong lah Bang to the point, oke?" jawab Karna tegas.

"Hahaha tak berubah watakmu Karna, selalu fokus terhadap apa yang telah kau rencanakan dan kau targetkan, itu sangat bagus, itu sifat seorang ksatria, selalu dapat memfokuskan seluruh perhatiannya pada suatu tujuan yang mulia" puji Arjuna, seraya geleng-geleng kepala.

"Abang hanya ingin berpesan, tentang isu yang sekarang sedang melanda Padepokan kita Karna, Isu yang mengatakan bahwa Maha Guru Resi Durna, telah salah urus dalam menyelenggarakan KBM di padepokan kita Bro, tidak kah ini menjadi perhatianmu?" tanya Arjuna

"Ah, yang aku dengar ini hanya perseteruan antara para brahmana-brahmana priyayi itu dengan dengan kalangan ksatria-ksatria yang dulu dikirim untuk berguru di sebelah barat Pringgondani itu ya Kakang, apa perlunya kah aku terlibat? biarkan saja kulihat gajah-gajah itu bertempur kakang, dan aku akan menikmati manasaja yang akan menang, lagipula itu tak mengganggu kepentinganku" jawab Karna

"Adikku Karna, mungkin benar semua yang kau pikir dan katakan itu, adalah sangat mungkin ini semua hanya permainan guna memperebutkan posisi Eyang guru Durna yang selama memimpin dirasa kurang arif. Namun tidakkah kau cermati bahwa perlambang kesemrawutan ini telah semakin nyata? Telah diselidiki oleh beberapa pakar dari beberapa jawatan yang bertanggung jawab atas tata kelola Bro, Bukankah ini bukti nyata terhadap adanya ketidak adilan?" tanya Arjuna menyelidik.

"......." Karna terdiam

"Apakah yang menjadi kewajiban golongan Kesatria duhai adikku Karna? kewajiban golongan yang berilmu dan mengerti?" tanya Arjuna tegas

"......" Karna masih terdiam, sembari menghirup nafas panjang

"Apa!? Lupakah kau?" tandas Arjuna

"Tidak kakak, Menegakkan Keadilan, itulah sejatinya amanah yang diemban pada urat nadi setiap Ksatria" jawab Karna dengan suara tergetar.

"Maka tak seharusnya kau berdiam diri Adikku, tegakkan dengan semampu mampunya, dengan senyata nyatanya."

"Dan lagi" Arjuna meneruskan bicaranya "Ketauhilah adikku Karna, peran Padepokan ini sungguh tidak sekecil yang sedang kau pandang. Padepokan ini padepokan terpandang, yang dijadikan rujukan oleh padepokan lain di seluruh negeri. Dan dari padepokan ini banyak dihasilkan para ksatria yang mengisi baris-baris terdepan peperangan melawan angkara murka, dapat kau bayangkan apabila budaya luhur padepokan ini runtuh? Akan seperti apa rupa ksatria-ksatria bentukannya ketika dihadapkan pada angkara yang sanggup membuat malaikat berbuat dosa adikku?!" tanya Arjuna tegas

"Tidak MyBro....." lirih Karna bersuara

"Oke My Bro, sekian dulu abangmu ini menelefon, kelak akan abang tanya lagi sikapmu, semoga sukses untuk semua pertandingan yang akan kau ikuti bawa Endonesya setinggi tinggi dijagad para Ksatria adikku, hingga terdengar oleh para Dewa jika perlu. Sebenarnya abang masih ingin cerita banyak, namun abang ada rapat komisi. Maklum abangmu ini jadi Staff Ahli Komisi I di gedung perwakilan, bertarung dengan senyata-nyatanya dosa dan angkara" curcol dia si Arjuna

"Oke bang semoga Abang Sukses, Assalamualaikum" pungkas Karna

"Heh, ngga sopan kau tuh. Abang yang telfon masa kau yang tutup, macam mana logika Ksatria mu itu?" protes Arjuna

"Oh sorry Bang, kirain udahan oke monggo kalo abang mau tutup" kilah Karna

"Oke, sekian dulu, nitip padepokan yah Karna, oh iya minggu depan abang ke kampus mau legalisir Akta Ksatria sekaligus nyobain perpustakaan baru Padepokan kita, denger-dengenr es kopi nya standar dunia perwayangan internasional, kamu temenin yah? sekaligus ngobrol2 kita" ajak Arjuna

"Oke Bro, BBM aja kalo ada di sekitar padepokan" kata Karna

"Oke, Assalamualaikum" pungkas Arjuna

"Waalaikumsalam," jawab Karna

Sambil mengunci layar sentuh smart phone nya, Karna menunduk khusyu, masuk benar-benar dalam pikirannya tentang apa yang baru saja kakak seperguruannya katakan. Namun ntah mengapa belum ada rasa yakin tentang apa sikap yang harus dia ambil terkait dengan kisruh padepokan yang kini tengah menjadi perhatian di segenap negeri Endonesya.

Dia memang belum akan mengambil sikap, namun setidaknya dengan sebuah perkataan sakti yang selama ini dia pengang "Amanah yang mengalir dalam darah setiap Ksatria adalah satu, menegakkan keadilan" dia akan mulai mencari wangsit dan perlambang tentang apa yang harus dikerjakannya, dia teringat pesan seorang kakak seperguruan ketika pertama menjejakkan kaki di padepokan ini, tentang kalimat ajakan penuh semangat, "Seorang Ksatria harus berlaku ksatria sejak mulai di alam pikirnya dan sejak dia mulai bertekat menjadi seorang Ksatria." Maka benar, tak perlu tamat dahulu dari Padepokan ini untuk lantang menentang angkara murka.

Karna berlalu, pulang, membawa gendewa nya dan duduk tenang di Halte, menunggu kereta kencana kuning yang lewat secara periodik.


NB: -Pemilihan nama, tidak dikaitkan dengan karakter serupa dalam karya apapun. Semata kesukaan dari penulis. :D

Monday, February 6, 2012

Rindu

Malam ini gua berkesempatan mendapatkan tausiyah sekaligus ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang Turki. Mereka ini adalah aktivis gerakan di Turki yang berperan aktif dalam pemberdayaan Muslim di negara-negara berkembang. Gua kurang yakin mereka ini dari golongan apa tapi melihan pendekatan mereka yang moderat dan kembencian mereka terhadap sekularitas dan seringnya mereka menyanjung Rejep Tayyip Erdogan gua kira kira mereka ini orang-orang Ikhwanul Muslimin. Tapi apapun haraqahnya gua tetap enjoy dengan apa yang mereka sampaikan.

Abdul, seorang Turki sudah setahun dia di Malaysia berdakwah gitu doi sekalian ngajar bahasa Turki di salah satu lembaga di sana dan belajar agama juga. Meski terkendala bahasa dimana si Abdul ini nyampaiin pakai bahasa melayu bercampur Turki (untung temen gua ada yang ngerti dikit-dikit). Tapi gua nangkep semangat dia untuk berbagi dan memotivasi gua dan temen-temen sebagai aktivis Muslim untuk bangkit dan semangat dalam menuntut ilmu dan menegakkan perintah Allah. Nah yang unik adalah ketika dia nyebut 3 musuh utama Islam saat ini yang harus segera ditanggulangi, tau ngga apa yang disebut? Dia ngga bilang Yahudi, Kristen atau agama-agama atau faham lain. Musuh yang harus dihadapi utama adalah: 1. Perpecahan 2. Kebodohan dan 3. Kemiskinan. Great!!! Keren cing!!! dan gua yakin tiga biji masalah itu adalah masalah yang diutamakan di semua agama.

Ya kali gitu kan ada agama yang mencintai tiga hal itu, ngga mungkin karena agama itu turun untuk menyempurnakan akhlak umatnya, dan wujud nyata dari akhlak yang baik adalah produktifitas hidup dan kualitas hidup yang meningkat :D Nah pendek kata, Abdul menyampaikan kalo generasi pemuda pembelajar macam kita ini musti memandang diri kita layaknya burung pipit. Ya burung pipit yang punya dua sayap dan butuh keduanya untuk bisa terbang, satu sayap itu ya Ilmu Agama, Spiritualitas dan hal-hal yang terkait dengan pedoman hidup, sementara sayap yang satu lagi adalah ilmu pengetahuan maka dua hal ini harus berimbang dan tidak saling menghilangkan. Well sebuah masukan yang ringan, sederhana tapi cukup mengena buat gua.

Lha terus kenapa postingan ini judulnya Rindu? Lha apa ini salah judul? ngga men. Jujur aja abis ngobrol ama tuh temen-temen turki gua jadi rindu aja, udah lama gua ngga ngomongin (diskusi) tentang hal-hal yang tulus kaya gini tanpa embel-embel politik, tanpa keraguan akan konspirasi dan tanpa tetek bengek yang bikin ribet. Gua rindu saat dimana ada orang yang ngingetin gua kalo hidup itu ya hidup, dateng, hidup singkat tapi penuh makna terus pulang deh ke hadirat Allah SWT. Coba lo lihat di sekitar lo berapa orang yang lupa, lengah, atau mendramatisir tentang aksioma hidup yang mestinya sederhana ini. Betapa banyaknya orang yang mencoba membangun kedamaian diatas kecurigaan, padahal musuh-musuh humanisme itu sama dan kenapa kita ngga lupain perbedaan perbedaan itu dan mulai berbuat yang baik dari langkah terkecil.

Gua rindu utopia mungkin. :D