Khatib yang Bermonolog dan Umat yang Tertidur
Ilustrasi. tapi asli
Bagi seorang muslim dewasa, tentu saja Shalat Jumat merupakan ibadah mingguan yang wajib dan sarat akan nilai. Di momen inilah, setidaknya sekali dalam seminggu seorang pria diwajibkan untuk ke mesjid, menunaikan shalat dua rakaat setelah sebelumnya didahului dengan mendengarkan khutbah. Nah pada posting kali ini saya akan mengamati sebuah fenomena yang jamak terjadi ketika Shalat Jumat tepatnya pada bagian Khutbah Jumat.
Tidak jarang kita temui, pada setiap Shalat Jumat sebuah fenomena yang menarik. Mengantuknya kita saat Khatib membacakan Khotbah tapi sesaat setelah selesai shalat rasanya segar bukan main. Kantuk yang tadi datang secara tiba-tiba hilang entah kemana. Hal ini unik dan berbahaya, sebab momen shalat Jumat yang seharusnya menjadi momen penggugahan spiritual bagi umat muslim terlewatkan begitu saja dan berubah menjadi ritual ritual seremonial semata.
Kalau teman-teman melihat shalat Jumat sebagai sebuah sistem, maka ada banyak hal yang berkontribusi membidani lahirnya fenomena ini. Salah satu yang saya cermati adalah, tema Khotbah yang tidak kontekstual. Lemah nafas kekinian dan kedisinian. Memang tidak semua, namun disebagian besar Masjid yang ada di Indonesia saya rasa hal serupa terjadi. Seringkali sang Khotib hanya bermonolog, menyampaikan teks yang telah disusun dengan runtut. Dengan kata-kata yang seringkali dibuat terdengar cerdas atau modern. Dengan memasukkan hal hal yang dianggap scientific tapi kadang ngawur. Hal seperti ini yang akhirnya membuat makmum tidak antusias untuk mendengarkan khutbah. Dan memilih tidur.
Hal ini bukan aksioma, maksud saya tidak semua khotib melakukan hal seperti itu. Saya sendiri sering mengikuti khotbah shalat Jumat yang begitu menggugah dan mencerahkan. Begitu menginspirasi, namun sebagian besar tak lebih dari playlist jadul yang diulang-ulang. Sebuah momen yang disayangkan.
Faktor lain yang membuat budaya tidur saat khotbah ini adalah rendahnya animo umat muslim yang memiliki kapasitas intelektual mumpuni untuk secara serius turun dalam mimbar-mimbar Shalat Jumat. Evaluasi ini termasuk untuk saya sebagai seorang muslim yang hingga saat ini belum pernah secara langsung mempraktekkan rukun-rukun khotbah Jumat. Al hasil khotbah-khotbah yang menarik hanya terjadi di masjid-masjid besar atau masjid-masjid kampus yang sarat nafas intelektualnya. Padahal sebagian besar muslim Indonesia justru berada di pelosok desa. Memang untuk hal ini sebuah pembelaan sering digunakan, yaitu bahasa disesuaikan dengan pendengar. Orang awam harus bahas yang awam-awam. Ini keliru!! Awamisasi ini menyesatkan dan menyebabkan Umat muslim susah menjadi pribadi yang progresif. Ini tak beda dengan ucapan seorang teman "Saya jadi jundi saja" ketika diminta memegang amanah.
Secara luas dalam potret umat muslim Indonesia Nasional. Potret serupa menggambarkan situasi beragama yang jamak kita temui di Indonesia. Umat muslim di negara ini rata-rata mudah tersulut ketika agamanya di usik. Namun enggan menjaga agamanya dengan melaksanakan ritual ibadah secara berkualitas. Ini kontradiktif karena Rasulullah SAW nyata-nyata mengatakan bahwa tiang agama adalah Shalat, bukan yang lain. Shalat sesuatu yang dekat dengan kita, mudah dilaksanakan dan teratur waktu pelaksananya ternyata adalah substansi yang menjadi tiang agama. Dan ini paling doyan ditinggalkan baik substansi atau ritualnya oleh masyarakat muslim Indonesia.
Saya punya mimpi suatu saat nanti ustadz-ustadz yang memiliki kapasitas mumpuni dalam penggugahan umat sanggup mengisi mimbar-mimbar shalat Jumat dengan menghadirkah khutbah-khutbah berkualitas. Yang membumi tapi menggerakkan, yang bernilai agama tinggi namun tetap mengedepankan aspek moderat serta faktor kekinian dan kedisinian. Di masa-masa itu shalat Jumat akan menjadi momen strategis dalam pembangkitan semangat umat untuk berkontribusi lebih bagi dunia. Saya nantikan dan akan turut aktif dalam mewujudkan masa itu, masa dimana Khatib tak lagi bermonolog di depan umat yang tertidur.



