Thursday, April 19, 2012

Khatib yang Bermonolog dan Umat yang Tertidur

Ilustrasi. tapi asli

Bagi seorang muslim dewasa, tentu saja Shalat Jumat merupakan ibadah mingguan yang wajib dan sarat akan nilai. Di momen inilah, setidaknya sekali dalam seminggu seorang pria diwajibkan untuk ke mesjid, menunaikan shalat dua rakaat setelah sebelumnya didahului dengan mendengarkan khutbah. Nah pada posting kali ini saya akan mengamati sebuah fenomena yang jamak terjadi ketika Shalat Jumat tepatnya pada bagian Khutbah Jumat.

Tidak jarang kita temui, pada setiap Shalat Jumat sebuah fenomena yang menarik. Mengantuknya kita saat Khatib membacakan Khotbah tapi sesaat setelah selesai shalat rasanya segar bukan main. Kantuk yang tadi datang secara tiba-tiba hilang entah kemana. Hal ini unik dan berbahaya, sebab momen shalat Jumat yang seharusnya menjadi momen penggugahan spiritual bagi umat muslim terlewatkan begitu saja dan berubah menjadi ritual ritual seremonial semata.

Kalau teman-teman melihat shalat Jumat sebagai sebuah sistem, maka ada banyak hal yang berkontribusi membidani lahirnya fenomena ini. Salah satu yang saya cermati adalah, tema Khotbah yang tidak kontekstual. Lemah nafas kekinian dan kedisinian. Memang tidak semua, namun disebagian besar Masjid yang ada di Indonesia saya rasa hal serupa terjadi. Seringkali sang Khotib hanya bermonolog, menyampaikan teks yang telah disusun dengan runtut. Dengan kata-kata yang seringkali dibuat terdengar cerdas atau modern. Dengan memasukkan hal hal yang dianggap scientific tapi kadang ngawur. Hal seperti ini yang akhirnya membuat makmum tidak antusias untuk mendengarkan khutbah. Dan memilih tidur.

Hal ini bukan aksioma, maksud saya tidak semua khotib melakukan hal seperti itu. Saya sendiri sering mengikuti khotbah shalat Jumat yang begitu menggugah dan mencerahkan. Begitu menginspirasi, namun sebagian besar tak lebih dari playlist jadul yang diulang-ulang. Sebuah momen yang disayangkan.

Faktor lain yang membuat budaya tidur saat khotbah ini adalah rendahnya animo umat muslim yang memiliki kapasitas intelektual mumpuni untuk secara serius turun dalam mimbar-mimbar Shalat Jumat. Evaluasi ini termasuk untuk saya sebagai seorang muslim yang hingga saat ini belum pernah secara langsung mempraktekkan rukun-rukun khotbah Jumat. Al hasil khotbah-khotbah yang menarik hanya terjadi di masjid-masjid besar atau masjid-masjid kampus yang sarat nafas intelektualnya. Padahal sebagian besar muslim Indonesia justru berada di pelosok desa. Memang untuk hal ini sebuah pembelaan sering digunakan, yaitu bahasa disesuaikan dengan pendengar. Orang awam harus bahas yang awam-awam. Ini keliru!! Awamisasi ini menyesatkan dan menyebabkan Umat muslim susah menjadi pribadi yang progresif. Ini tak beda dengan ucapan seorang teman "Saya jadi jundi saja" ketika diminta memegang amanah.

Secara luas dalam potret umat muslim Indonesia Nasional. Potret serupa menggambarkan situasi beragama yang jamak kita temui di Indonesia. Umat muslim di negara ini rata-rata mudah tersulut ketika agamanya di usik. Namun enggan menjaga agamanya dengan melaksanakan ritual ibadah secara berkualitas. Ini kontradiktif karena Rasulullah SAW nyata-nyata mengatakan bahwa tiang agama adalah Shalat, bukan yang lain. Shalat sesuatu yang dekat dengan kita, mudah dilaksanakan dan teratur waktu pelaksananya ternyata adalah substansi yang menjadi tiang agama. Dan ini paling doyan ditinggalkan baik substansi atau ritualnya oleh masyarakat muslim Indonesia.

Saya punya mimpi suatu saat nanti ustadz-ustadz yang memiliki kapasitas mumpuni dalam penggugahan umat sanggup mengisi mimbar-mimbar shalat Jumat dengan menghadirkah khutbah-khutbah berkualitas. Yang membumi tapi menggerakkan, yang bernilai agama tinggi namun tetap mengedepankan aspek moderat serta faktor kekinian dan kedisinian. Di masa-masa itu shalat Jumat akan menjadi momen strategis dalam pembangkitan semangat umat untuk berkontribusi lebih bagi dunia. Saya nantikan dan akan turut aktif dalam mewujudkan masa itu, masa dimana Khatib tak lagi bermonolog di depan umat yang tertidur.


Wednesday, April 11, 2012

Gagal dan atau Ditolak itu Biasa Saja



Ditolak, atau gagal seringkali jadi hal yang bikin kita terpuruk, jatuh, tertindas, tergilas dan pecah berantakan hingga berkeping keping, oke ini mulai lebay ngga asik, pokoknya bikin down deh. Semangat membuncah yang udah dibangun bisa tiba-tiba ilang kayak dana BLBI, langit yang semula biru cerah, bisa tiba-tiba jadi merah kehitaman gitu, pokoknya serem. Dan jujur aja sih, penulis (ceilah penulis, saya maksudnya guys) baru saja mengalami penolakan yang cukup nylekit kemarin. Ditolak permintaan rekomendasi untuk beasiswa nya sama seorang dosen yang selama ini sangat saya hormati. Jujur saya kecewa, emosi, dan jadi males setelah ke jadian itu. Tapi inget beberapa kegagalan yang berujung nikmat justru saya jadi malu sendiri dan terdorong untuk menulis tulisan ini (ciamik ngga alasan gua? jadi terlihat penting kan tulisan ini? ada bakat gua jadi anggota DPR)

Oke bicara tentang kegagalan atau penolakan mari kita ambil contoh dari yang keren-keren atau yang kece-kece. Contoh yang saya ambil pertama ini adalah seorang yang agak serius guys, an expert bahasa oke nya. Kalau temen-temen belajar tentang Teknik Industri, atau minimal suka mengamati perkembangan Industri. Temen-temen akan menyadari dan dipaksa mengakui bahwa salah satu sistem produksi yang paling yahud dan topcer itu adalah punya toyota. Yang biasa kita kenal dengan TPS (Toyota Production System), sistem ini diakui merevolusi dunia Industri.

Toyota Production System

Diatas merupakan gambar diagram alur Toyota Production System yang mulai tahun 1960 menjadi filosofi yang kuat yang dapat dipelajari untuk digunakan oleh semua jenis bisnis dan proses. Jika kita cermati, maka dalam proses tersebut ada sebuah upaya untuk secara terus menerus meningkatkan efisiensi adan efektifitas proses pengerjaan (yang bagian tengah). Nah untuk mencapai peningkatan kualitas itu digunakan sebuah framework evaluasi performa yang
sistematis dengan urutan PDCA (PLAN-DO-CHECK-ACTION). Siklus ini kemudian dikenal dengan mana Deming Cycle.

W. Edward Deming


Disini bagian menariknnya guys, jadi penerapan konsep ini oleh mula-mula industri Jepang, justru didorong oleh seorang Amerika. Bernama W. Edwards Deming. Meski akhirnya dikenal sebagai salah seorang pemikir statistik kualitas yang paling berpengaruh di Amerika dan mendapat penghargaan National Medal dari Presiden Reagan. Konsep yang dibawa Deming ternyata tidak diterima dengan baik oleh perusahaan-perusahaan di Amerika yang kala itu sedang memimpin pasar dan telah memiliki sistem produksi yang robust. Namun di belahan dunia lain yang tengah porak poranda oleh perang dunia di Jepang konsep yang dibawa Deming ternyata berhasil memicu perkembangan industri Jepang sehingga menjadi penantang serius bagi perusahaan Amerika.

Selain budaya Kaizen yang dimiliki oleh bangsa Jepang sehingga apa yang dibawa Deming menjadi lebih mudah diterima faktor kegigihan dan kepercayaan diri yang dimiliki Deming untuk dapat mensintesa sistem perbaikan kualitas yang mendobrak budaya manufaktur lama adalah suatu hal yang harus diakui menjadi faktor penentu kesuksesan berkembangnya sistem ini. Baru hampir setelah dua puluh tahun konsep ini pertama digagas perusahaan Amerika yang sedang dalam masa sulit terdorong untuk memakai konsep yang dikembangkan oleh Deming. Perusahaan Amerika pertama yang menggunakan konsep ini adalah Ford pada tahun 1981.

Oke, mari beralih ke contoh kedua, ini tentang seorang pemain sepak bola guys. Ya ini tentang Zinedine Zidane. Seorang pemain yang diakui sebagai seorang pesepak bola terbaik yang pernah ada di Dunia. Mencatatkan prestasi lengkap mulai dari liga domestik, eropa, hingga piala dunia bersama Prancis membuat dia meraih berbagai penghargaan individu. Salah satunya adalah pemain terbaik dunia tiga kali.

Zinedine Zidane

Siapa sangka, ternyata seorang Zinedine Zidane pernah ditolak oleh sebuah club di Inggris. Ya, Newcastle United pernah menolak Zidane ketika agennya menawarkannya untuk pindah dari tim Prancis Bordeaux tahun 1996. Saat itu alasan yang dikemukakan adalah bahwa pemain ini tidak cukup bagus untuk memperkuat lini tengah Newcastle United. Ternyata penolakan ini justru berujung manis karena Zidane akhirnya mendapat kesempatan untuk membela Juventus sebelum akhirnya ke Real Madrid dengan status pemain termahan di Dunia.

Dari dua contoh diatas kita bisa lihat bahwa untuk dapat diakui sebagai sebuah hasil kerja yang brilian bahkan sebuah konsep yang benar-benar brilian dan revolusioner membutuhkan waktu berpuluh tahun dan kegigihan yang luar biasa. Bahkan seorang pemain terbaik dunia harus sempat merasakan penolakan oleh tim sepak bola karena dianggap tidak cukup bagus. Ini mestinya jadi pemicu kita guys kalo baru sedikit saja gagal atau ditolak, itu biasa saja. Kita cuman butuh terus mengasah dan konsisten di jalur kita sampai kesempatan itu datang dan ketika dia bertemu dengan kesiapan terciptalah keberuntungna yang akan jadi jalan sukses kita.

Semoga Bermanfaat!!! :D

Monday, April 2, 2012

Terlebih Dahulu

Aku bukan tak mau beradu logika
Aku bukan takut dibilang tidak cerdas
Sedikitpun, catat ini, sedikitpun aku tak takut dengan cap-cap itu
Cap yang hendak kau patenkan pada jidatku

Yang feodal lah, yang liberal lah, yang fanatik lah
Yang Islam lah, Yang Kristen lah, Yang Budha lah, Yang Hindu lah
Yang Masjid lah, Yang Gereja lah, Yang Pura lah, yang Vihara lah
Sedikitpun aku tak takut

Tapi sebelumnya temanku, coba kau tarik akalmu itu panjang panjang
Tak malukah kamu pada awan di atas sana?
Yang jadi saksi bahwa
Dibawah langit yang sama masih ada orang susah makan
Sementara yang lain buang-buang makan.

Tapi sebelumnya musuhku, coba kau tarik akalmu itu panjang panjang
Tak malukah kamu pada cacing-cacing di bawah situ?
Yang jadi saksi bahwa
Di atas bumi yang sama masih ada orang susah baca
Sementara yang lain mahir betul pelintir teorema

Dan kau mau ribut denganku soal yang itu itu lagi?
Aku tak melarang, tapi saranku....
Terlebih Dahulu kita urusi itu mereka yang tiap malam berdoa, dalam susah berdoa, dalam rintih dan keluh kesah berdoa

Karna bisa jadi
Kita yang harusnya jadi jawaban doa mereka.