Dewasa dalam Beragama
Pagi ini saya kembali "ngelus dodo", atas judul berita yang saya baca di salah satu halaman internet sebuah media nasional. Bagaimana tidak, di berita tersebut ditulis bahwa kampung dari penganut Ahmadiyah sedang dijaga ketat oleh warganya, sebagai reaksi atas diserbu dan dibakarnya masjid tempat mereka beribadat. Peristiwa ini tentu hanyalah satu diantara rentetan beberapa peristiwa yang sengaja menimbulkan kesan seolah-olah ada yang salah dengan kehidupan berbangsa kita yang harusnya menjunjung tinggi toleransi.
Saya, bukan pakar Agama, bukan ahli theologi, dan tidak pernah mendalami studi agama apapun secara mendalam. Namun saya juga bukan orang yang asing dari ritual beribadah. Setidaknya selama beberapa tahun terakhir, saya cukup intens meningkatkan usaha saya untuk memahami agama yang saya anut, Islam. Maka apabila dalam pendapat saya berikut ada beberapa yang tidak berkenan, mohonlah ini dipandang sebagai kelemahan saya, dan bukan dipandang sebagai kepongahan dari seorang saya dalam menanggapi fenomena kehidupan beragama di Indonesia.
Seperti dawuh Nabi Muhammad, "Mintalah fatwa kepada hati nuranimu", maka percikan ilham yang merasuk dalam diri saya adalah bahwa sebenarnya kita sebagai seorang muslim, telah dilengkapi dengan starter pack kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Maka, ketika saya merasa ada yang janggal dengan peristiwa penyerangan umat beragama ini, wajarlah kiranya kalau saya ingin menuangkan kegundahan tersebut dalam tulisan yang sedang anda baca.
Dalam tulisan ini, saya akan lebih melakukan evaluasi dan masukan kepada umat Islam di Indonesia. Mengapa? Apakah karena tidak ada kesalahan dari umat lain? Bukan, namun semata-mata karena saya adalah individu yang berpikir bahwa kehidupan antar umat beragama itu ibarat interaksi antara tetangga. Setiap kita bertetangga, kita mungkin akan terusik dengan ulah nakal anak tetangga, namun, tidak bijak jika kita melakukan tindakan langsung, baik menghukum ataupun menegur. Mengapa? Sebab setiap anak, akan memiliki pendekatan yang berbeda untuk menilai suatu permasalahan, demikian pula dengan menerima sebuah nilai baru. Maka tindakan yang lebih bijak adalah, mengkomunikasikan "kenakalan" anak tersebut kepada orang tuanya, baru kemudian agar orang tuanya yang memberikan pengertian kepada anak tersebut.
Alangkah indahnya bila setiap umat beragama sibuk memperbaiki dirinya masing masing, dan mempercayakan "kenakalan" sejumlah anak baru gede agamanya kepada para orang tua dimana dalam konteks ini adalah alim ulama agama masing masing.
Baik, mencermati wajah umat Muslim Indonesia saat ini, kita tidak akan bisa terlepas dari rasa prihatin. Cobalah naik kereta api ekonomi dari Bogor ke Jakarta, dan amatilah wajah-wajah kaum yang meminta minta, berapa dari mereka yang merupakan seorang muslim? Kunjungilah surau-surau atau masjid-masjid di pojok-pojok kompleks pada saat subuh, berapa shaf kah yang terisi? Datangilah kampus-kampus negeri terbaik, dan tanyakan, berapa muslim yang mencurahkan waktu dan hidupnya untuk menghasilkan riset-riset yang kelak akan menjadi tulang punggung kejayaan ummat? Sempatkanlah melirik hasil studi tentang etos kerja mayoritas masyarakat Indonesia, fakta seperti apakah yang anda dapati disana?
Saudaraku, apakah kita masih akan sibuk meributkan hal-hal yang bukan pada domain dan wilayah penegakan hukum kita? Sementara kita membiarkan bahaya-bahaya laten yang terus menggerogoti tulang sumsum dan sendi-sendi beribadat kita?
Apakah kita akan lebih takut ada orang yang memiliki Aqidah berbeda, namun kita diam saja apabila banyak diantara kita yang masih percaya jimat? Pergi ke makam-makam keramat menjelang ujian, mempercayai ramalan bintang dan sebagainya?
Apakah kita akan ngotot menuntut gereja-gereja tanpa izin pembangunan untuk dirobohkan, dan diam saja melihat surau-surau kita masjid-masjid kita kosong? Dan, berapa dari masjid dan surau tersebut dibangun dengan izin yang resmi, serta disertai dengan manajemen keuangan yang modern?
Sesungguhnya agama itu bukanlah apa yang terucap saudaraku, agama adalah masalah keberpihakan hati, tidak mudah untuk memilih agama apa yang akan kita anut, atau mahzab apa yang kita ikuti, ada keterpanggilan hati dan sinar hidayah disana. Dan apakah hal tersebut dapat disampaikan dengan tangan terkepal dan jidat berurat? Ataukah lebih elok disampaikan dengan tangan yang membentangkan pelukan dan wajah yang berseri ramah?
Jikalau mereka, orang-orang yang kalian sentuh dengan kekerasan akhirnya terpaksa berucap dusta, mengikuti standar agama yang kalian tentukan tanpa ada keterpanggilan dalam hatinya, akankah berarti hal itu? Ataukah kita harusnya lebih menyampaikan dakwah Islam ini dengan hikmah? Dengan kelembutan hikmah yang sama yang menyentuk kalmu Umar, Khalid dan Sahabat-Sahabat Rasulullah yang lain?
Kalaupun mulut bisa dikunci, dan tubuh dapat dipasung, namun batin dari orang-orang yang mencari kebenaran tidak akan dapat dibendung saudaraku, maka marilah kita sampaikan kebenaran dengan jalan yang baik dan benar, kita tunjukkan, bahwa dengan memeluk Islam, maka nilai-nilai luhur agama Islam menyatu dalam keseharian kita, dalam darah kita, dalam setiap ditail karakter kita, sehingga apabila dibentangkan secara objektif, maka percayalah, setiap hati akan menunjukkan keberpihakannya kepada kemuliaa. Marilah kita sama sama belajar, mengintospeksi diri, dan selangkah demi selangkah mulai belajar untuk dewasa dalam beragama.