Friday, July 23, 2010

Idealisme Pemuda dan Cara Mempertahankanya (Idealitas Vs Realitas)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, kemarin malem dalam salah satu agenda wajib bagi peserta PPSDMS angkatan V regional I, saya dapat sebuah materi yang sangat menarik dengan judul Idelaisme Kaum Muda. Namun dalam berjalanya materi yang diisi oleh Dr. M Sohibul Iman, M.Eng yang merupakan salah satu anggota DPR RI 2009-2014, lebih terarah ke bagaimana menjaga agar idealisme yang dipupuk selama di bangku kuliah agar tidak luntur dan hilang seiring dengan benturan-benturan yang terjadi antara Idealisme Kampus dan Realitas dunia nyata. Dan di sini saya ingin mencoba sharing tentang apa yang saya dapat semalam, harapanya nilai positif dan kebaikan yang dikandung dapat dirasakan dalam cakupan yang lebih luas.

Idealisme adalah sebuah kata yang ideal dan seakan telah lekat dengan profesi Mahasiswa. Mahasiswa yang rata-rata berada pada usia muda, seolah menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya berbagai ideologi yang bersemayam dan mengakar dalam dirinya. Mahasiswa yang lingkungan internal kampusnya bertemu dan berinteraksi dengan individu-individu yang relatif sejenis menjadikan dia mentransformasi dirinya menjadi makhluk Sosial Terbatas. Artinya kehidupan kemahasiswaan diisi oleh orang-orang yang relatif sama secara pola pikir, mereka rata-rata adalah orang yang Idealis dan belum menyadari realita di dunia nyata. Maka wajarlah kalau apa yang mereka pikirkan, lakukan, dan impikan sarat dengan Idealisme. Justru aneh bila ada Mahasiswa yang tidak Idealis.

Dewasa ini, dalam dunia Kemahasiswaan, kita temui berbagai macam idealisme. Mulai dari nasionalis, religius, maupun sosialis. Perpotongan diantara jenis-jenis idealisme nasionalis, religius, dan sosialis pun tak sulit untuk kita temukan. Beragamnya idealisme tersebut boleh saja beragam, tapi secara garis besar mereka memiliki kesamaan yaitu sebagian besar diantaranya membawa isu Perubahan. Perubahan ini seringkali disandarkan pada kenyataan keadaan keseharian yang jauh dari kondisi Ideal.

Masalah muncul apabila Mahasiswa telah lulus dan keluar dari lingkungan serba idealnya menuju kehidupan yang sesungguhnya. Dimana norma-norma ideal sudah bergeser menjadi norma-norma kontekstual dan realis. Di sinilah tantangan sebenarnya bagi idealisme yang diagung-agungkan semasa menjadi mahasiswa diuji. Apakah akan luntur atau justru membantu mereka sukses di dunia nyata. Kebanyakan orang yang berhasil mempertahankan idealismenya adalah mereka yang semasa menjadi mahasiswa tidak hanya menekankan perubahan akan hal-hal yang jauh dari dirinya, melainkan melakukan perubahan dimulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil di sekitarnya. Mereka telah menjadikan idealisme melebihi sekedar jargon, namun telah menjadikannya jalan hidup yang akan terus terbawa.

Tantangan Idealisme Vs Realitas mulai dirasakan saat kita mulai jadi seorang fress graduate. Biasanya tantangan itu muncul dalam bentuk :
1. Pemenuhan Kebutuhan Pribadi.
2. Pemenuhan Kebutuhan Keluarga.
3. Budaya Kerja yang telah Terbentuk di Masyarakat.

Untuk dapat survive, maka Tips yang diberikan oleh Doktor Sohibul Iman adalah dengan memiliki integritas dan kejujuran yang setidaknya harus melingkupi 3 aspek.

1. Jujur pada akal sehat, artinya kita harus mengedeppankan akal untuk menakar sejauh apa tantangan harus diikuti, dirubah, atau bahkan ditinggalkan sama sekali.
2. Jujur pada nurani, kita harus berani mengatakan mana yang benar dan mana yang salah sesuai dengan hati nurani.
3. Jujur pada nilai diri yang kita Pegang, sebagai contoh sebagai seorang Muslim kita harus dapat menerapkan ajaran Islam secara istiqoman sehingga nilai-nilai tersebut akan membentengi diri kita dari cobaan yang mungkin dapat menjerumuskan kita dan mencuci habis idealisme kita.

Yang penting juga terkait dengan peran kita di masyarakat nantinya adalah bukan hanya sekedar mempertahankan, namun juga menyebarkan idealisme positif kita pada lingkungan kerja sekitar. Untuk itulah kita harus dapat membaur dengan lingkungan tersebut, bukan sekedar mengisolasi diri demi menjaga keutuhan idealisme kita. Sebab yang menjadi tanggung jawab kita adalah meyakinkan lingkungan kita yang salah bahwa apa yang kita bawa adalah idealisme yang benar. Untuk dapat mencapai hal itu kita harus memiliki modal yang kuat, dan di kampus inilah kita memperkuat modal tersebut. Dalam lingkungan kerja nantinya bila menggunakan istilah yang digunakan oleh Sayyid Qutb adalah kita harus bercampur, namun tidak larut.

Setidaknya akan ada tiga periode yang akan kita jalani di dunia kerja nanti terkait dengan idealisme yang kita bawa. Dimana batasan dari masing-masing periode ini berbeda untuk setiap individu yang berbeda. Periode tersebut adalah :

1.Critical Periode, dimana pada periode ini seseorang ada pada batas dimana dia merasa begitu terancam idealismenya di lingkungan tempat dia bekerja.
2. Posiioning Periode, dimana ketika seseorang telah mengetahui dan mengenal medan tempat dia berjuang sehingga telah dapat memetakan siapa kawan dan siapa lawan. Pada periode ini Idealisme sudah cukup aman.
3. Establishment Periode, pada periode ini tantangan sudah dapat diatasi dan bahkan individu tersebut sudah dapat menularkan idealismenya pada lingkungan perjuanganya.

Sooo.. Bagi kita yang masih mahasiswa rajin-rajinlah "mengisi" diri, hal ini dapat dengan memperkaya diri dengan berbagai skill, maupun dengan aktif dalam diskusi Paska Kampus. Hal ini akan bermanfaat untuk memperpendek masa Critical Periode kita, sehingga Idealisme yang telah kita bangun dan resapi selama masih berada di kampus dapat berkembang dan semakin kuat.

Demikian sekilas yang dapat saya tangkap dan bagi, semoga bermanfaat.


Terus Belajar, karena belajar adalah bentuk syukur kita atas Akal yang dianugrahkan Allah SWT. ^^

Tuesday, July 6, 2010

Menjelang Masuk Pesantren

Alhamdulillah, Semester kemarin emang semester penuh kejutan. Selain banyak hal-hal yang nggak menyenangkan, ternyata banyak juga hal manis terjadi, salah satunya adalaaahhh... Yap,, saya ketrima Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) angkatan V. Hmmm mungkin buat anda, hal ini biasa aja, tapi bagi saya ini luar biasa, Masuk PPSDMS adalah salah satu target yang saya tulis buat tercapai dan gw tempel di dinding kamar saya.

Dari dulu saya selalu ngiri sama temen-temen yang dapat kesempatan buat menempuh pendidikan di pesantren. Saya ngrasa mereka keren banget, karena punya bekal yang cukup dalam hal agama untuk terjun di kehidupan masyarakat yang keras, hehe. Dan Alhamdulillah sekarang kesempatan itu dateng juga buat saya, meski bentuknya adalah pesantren modern,saya yakin ini adalah kesempatan yang diberikan Allah SWT buat saya mengakselerasi diri dalam menimba ilmu Agama. Dan kesempatan ini tidak akan saya lewatkan dengan seadanya, saya akan berusaha mengoptimalkan dua tahun masa belajar di sana sebaik mungkin. Biar bisa ikut berpartisipasi dalam terwujudnya Indonesia yang Lebih Baik dan Bermartabat

^^