Monday, December 12, 2011
Yeah!!!
Sunday, December 4, 2011
Do you have a meaningful life?
Saturday, October 29, 2011
Ayam Kampung, Dulu, Sekarang dan Nanti
Alkisah di sebuah negeri para ayam, tinggallah ayam-ayam yang keserharian meyibukkan diri dengan kegiatan per ayam-an guna menjaga kelangsungan hidupnya masing-masing. Dalam kehidupan strata masyarakatnya, ternyata terdapat kelas-kelas sosial yang terbentuk secara otomatis diakibatkan dari pergulatan panjang sejarah kehidupan bermasyarakat para ayam-ayam ini. Dari berbagai jenis ayam ini terdapat seorang ayam deviant, yang menolak berpikir seperti sesamanya, bertindak seperti sesamanya dan hidup serperti sesamanya. Sesama siapa? Ya sesama ras nya, oke perlu dijelaskan dulu rupanya. Jadi si deviant ini namanya ehmmm Kotek, dia dari ras ayam kampung, ras yang selama ini identik dengan kaum proletar dalam dunia ayam.
Kotek melihat, ada gejala yang tidak beres dengan eksistensi ayam kampung dalam kancah perayaman. Ayam kampung yang mustinya paling sehat, paling banyak jumlahnya ternyata semakin terdesak dalam peran-peran sosial yang ada di masyarakat. Padahal coba lah kau lihat teman, bisik Kotek dalam hati, kami ini kalau bicara jumlah bukan main banyaknya, bukankah jumlah itu potensi yang luar biasa? Dan lagi, sebenarnya Ras kami ini ngga sepenuhnya miskin loh! Dari sekitar 20% ayam kaya yang menguasai 80% kekayaan di negeri ayam ini, banyak juga yang merupakan ras ayam kampung. Tapi justru itu yang bikin saya bingung dari 80% ayam yang kesulitan mengais-ngais cacing, sebagai catatan cacing-cacing dan makanan lain di dunia ayam yang berkaitan dengan hajat hidup ayam banyak dikuasai oleh negara ayam, adalah bagian ras si Kotek juga. Ras Ayam Kampung.
Dan mulailah Kotek mempelajari, apa yang salah dengan ayam ayam ini. Dengan ayam ayam kampung ini. Mula-mula setelah merumuskan metode riset yang sesuai dengan kaidah ilmiah perayaman, Kotek mulai ngobrol sama para ayam-ayam kampung yang hidupnya lemah, tersisih dan teraniaya. Yang dia dapat adalah, bahwa ayam ayam ini sejak semula memang lemah etos kerjanya, tidak semangat sebab dimanjakan oleh keadaan yang sangat mendukung mereka untuk hidup, seperti tanah yang begitu subur dan sumber air yang berlimpah serta musim yang bersahabat. Sehingga mereka tidak perlu bekerja keras untuk bertahan hidup. Hmmmm ya ya ya.
Kemudian Kotek pergi ke golongan ayam-ayam kampung yang kaya raya. Mereka ini rata-rata adalah ayam-ayam tuan tanah, pengusaha dan pegawai pemerintah negeri ayam. Lalu dia mendapati fakta bahwa untuk dapat kaya di negeri ayam, mereka telah melakukan usaha yang bermacam-macam mulai dari yang jujur, sampai yang keji seperti korupsi, dan trik-trik bisnis yang kejam dan melanggar pri-pri keayaman. Golongan kedua luar biasa banyaknya, sebab seperti sudah termasyur di dunia ayam sedunia, negara tempat Kotek bernaung ini terkenal dengan budaya kolektifnya yang buruk.
Kondisi pemerintahan negeri yang tidak berpihak pada ayam-ayam tertindas ini ternyata turut berpengaruh terhadap keadaan dimana yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Dengan semakin rendahnya kepedulian kaum ayam kaya, ayam-ayam miskin pun semakin beringas dalam mempertahankan hidup, akibatnya hanya demi rupiyam (mata uang negara Kotek) yang tidak seberapa ayam-ayam miskin ini bisa nekat merampok, mencopet dan mematuk korbannya sampai mati, kejam, keras dan brutal. Semua dilakukan demi mempertahankan hidupnya.
Semakin si Kotek ini meneliti, ternyata semakin banyak permasalahan yang mengancam bangsanya, memang di satu sisi, bangsa dia dengan berbagai potensinya diramalkan bakal menjadi negara yang maju di kancah perayaman global, namun banyak juga skenario-skenario mengerikan yang meramalkan bahwa negara ayam ini akan menjadi negara agama ayam radikal, negara yang terus menerus tergelincir, negara dictator, atau yang paling mengerikan adalah negara gagal, terpecah menjadi negara-negara ayam kecil.
Salah satu kesimpulan diakhir riset si Kotek ini adalah bahwa ada sekelompok ayam yang menjadi harapan bangkitnya negeri ayam ini, ini adalah sekelompok ayam-ayam muda baik ayam kampung maupun dari ras lain, yang tengah mengenyam pendidikan tinggi di padepokan ilmu tertinggi di negara ayam itu, ada banyak jumlahnya padepokan ini di negeri ayam. Dulu dari golongan seperti ini lah negeri tempat Kotek tinggal ini dibebaskan dari cengkraman para ayam imperialis.
Namun kini, keadaan golongan ini rupanya belum menunjukkan harapan itu segera terwujud. Mereka ternyata tidak lepas dari karakter pendahulunya, banyak yang tidak peduli, oportunis dan mereka terbagi-bagi menjadi berbagai identitas yang seolah saling berebut kekuasaan, mirip seperti yang senior mereka lakukan di kancah nasional negara ayam. Hmmm, tampaknya saya harus mulai menyadarkan golongan ini, bahwa mereka memegang peranan penting bagi kemajuan bangsa ini kelak.
Baru saja berpikir, ternyata hari sudah mulai senja mata Kotek mulai rabun dan ini saatnya dia masuk ke kandang. Di pintu kandang, sebelum masuk kotek tersenyum ringan dan berkata “Untung saja aku hanya seekor ayam, maka tak penting semua yang aku teliti tadi, toh kami akan berakhir di tempat yang sama, meja saji para manusia. Hmmmm mungkin semua yang aku pikirkan ini bakal menjadi penting, jika aku manusia.” Kotek masuk kandang dengan riang dan bersiap menutup mata.
Monday, July 11, 2011
Di Suatu Negeri
Monday, July 4, 2011
Mengomtimalkan Industri Kreatif Tanah Air
Sejak diperkenalkan secara nasional pada tahun 2005, industri kreatif di Indonesia mulai mendapatkan tempat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dengan banyaknya usaha dalam bidang industri kreatif yang dibesut oleh putra-putri bangsa yang berhasil bertahan di pasar dalam negeri bahkan eksis hingga ke mancanegara. Hal ini membuktikan bahwa potensi kita di dunia sangat besar. Bidang industri yang mencakup periklanan, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, disain, video film dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan percetakan, layanan computer dan piranti lunak, serta industri media ini telah banyak menyerap tenaga kerja dan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan nasional Indonesia.
Industri kreatif sebagai keunggulan bangsa Indonesia
Industri kreatif adalah sektor-sektor produksi barang maupun jasa yang menjadikan modal intelektual, bakat, kreatifitas dan kebudayaan sebagai bahan bakar utamanya. Maka tak heran bangsa Indonesia mempunyai initial capital yang unggul dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Besarnya tingkat keragaman budaya yang ada di Indonesia rasanya telah diakui oleh siapapun di dunia ini, ini sekaligus menjadi bukti mutlak bahwa kreatifitas bangsa Indonesia telah diwariskan sejak jama nenek moyang kita.
Maka, daripada mencari arah perkembangan Industri baru atau sekedar mengikuti trend dunia, seharusnya kita memberikan apresiasi yang lebih atas modal yang telah kita miliki. Hal ini dapat diwujudkan dengan lebih menempatkan industri kreatif sebagai ujung tombak bagi perkembangan industri nasional. Di Indonesia kesenian telah menjadi bagian dari terbentuknya Indonesia sebagai sebuah bangsa, keberanian pemerintah untuk mengedepankan industri kreatif sebagai ujung tombak industri nasional bukan hanya memberikan pengaruh positif dalam hal neraca anggaran namun juga sekaligus memupus permasalahan hilangnya identitas bangsa yang kini semakin mengancam.
Strategi pengoptimalan pasar
Industri kreatif domestik perlu didukung sepenuh hati oleh pemerintah agar dapat menjadi raja di negeri sendiri. Penguatan industri kreatif dalam negeri bukan hanya dapat menghasilkan keuntungan dari dalam negeri namun juga dapat memicu datangnya hujan devisa. Untuk dapat meraup untuk di sektor ini, pemerintah wajip menerapkan beberapa strategi yang akan memupuk pertumbuhan industri kreatif di Indonesia yang pada 2014 ditargetkan mencapai 8,9 persen dari pendapatan nasional Indonesia dimana saat ini kontribusinya baru sekitar 7,6 persen.
Pemerintah dapat mempercepat pertumbuhan industri kreatif di Indonesia dengan memberlakukan program nasional Indonesia kreatif. Secara teknis di lapangan dalam program ini diberikan kemudahan-kemudahan bagi para pelaku industri kreatif untuk mengembangkan usahanya seperti kemudahan dalam pinjaman lunak, penurunan nilai pajak, mempermudah proses pencatatan hak kekayaan intelektual Sehingga para pengusaha dapat lebih leluasa dalam melebarkan sayap usahanya.
Kurang berpihaknya iklim perbankan Indonesia sebagai sumber pendanaan utama industri di Indonesia terhadap sektor industri kreatif juga membuat banyaknya pelaku industri kreatif dalam negeri yang memutuskan untuk berkarir di luar negeri. Hal ini tentu menjadi kehilangan yang sangat besar bagi bangsa Indonesia dimana potensi-potensi terbaiknya justru dinikmati hasil kerjanya oleh negara-negara lain. Padahal jika mereka diberikan kesempatan, karya-karya yang mereka hasilkan tidak kalah kualitasnya jika dibandingkan dengan produsen asing. Dengan kualitas yang bersaing tentu mereka dapat menguasai pasar tanah air, sebab secara alamiah mereka tentu lebih mengenal selera, dan animo dan karakter pasar dalam negeri.
Dukungan lain dapat berupa pembangunan infrastruktur yang menunjang tumbuh kembang industri kreatif, seperti investasi pembangunan venue untuk kepentingan konser, pementasan dan panggung hiburan yang memenuhi standar internasional. Sehingga dapat mengakomodir para seniman-seniman dan perajin yang bergerak dalam industri kreatif untuk memperoleh panggung yang layak dalam mementaskan kreatifitasnya. Saat ini venue-venue seperti ini baru terpusat di kota kota besar, itupun jumlahnya sangat sedikit yang dapat memenuhi standar internasional.
Pemberlakukan regulasi yang tegas terhadap pemberantasan pembajakan juga menjadi kunci pokok dalam menjamurnya industri kreatif. Dengan regulasi yang baik masyarakat kreatif dapat menghidupi dirinya secara layak dan kualitas hidup mereka akan meningkat. Dengan demikian karya kreatif yang dihasilkan pun akan semakin berkualitas yang pada akhirnya akan menarik hati pasar dalam negeri dalam mengkonsumsi produk industri kreatif dalam negeri.
Promosi yang selama ini menjadi kelemahan bagi industri kreatif yang baru berkembang pun menjadi sektor yang harus dipermak habis-habisan oleh pemerintah. Industri kreatif dalam negeri pun harus dijadikan primadona di negeri sendiri, diangkat sehingga potensi yang selama ini tersembunyi dapat dioptimalkan, potensi pariwisata kita misalnya, sering kurang terpromosikan keindahanya sehingga banyak wisatawan domestik yang lebih memilih berwisata keluar negeri padahal di dalam negeri keindahan alam dan potensi pariwisata lainnya tak kalah memukau.
Industri kreatif sejatinya adalah peluang bagi Indonesia untuk bangkit, dengan modal yang relatif kecil industri ini memiliki nilai potensi yang sangat luar biasa. Indonesia dengan 240 juta penduduknya tentu merupakan pasar yang besar dan menjanjikan. Dukungan pemerintah secara serius dalam memenangkan pasar industri kreatif dalam negeri berpotensi besar menghasilkan keuntungan yang luar biasa bahkan sanggup menjadi tambang devisa yang dapat meningkatkan daya saing bangsa di mata dunia internasional.
NB : Ini ditulis buat dikirim ke opini Seputar-Indonesia tapi belum tau deh bakal dimuat disana apa nggak. :D
I am amazed by the way they fight for their dreams
This afternoon while I was waiting for my manager called me for early report for my internship program. I browse some cool websites to kill my time. Once I opened MIT website and interested to read about how people with limited financial support could passed MIT test and run their study there.
Then I read some of their profile, some of them are coming from a really poor family. Even one of them comes from the full conflict country, Palestine. Reading their story about how they got in MIT makes me feel like a coward.
I came from a better family, growing up in full financial support. Some of them are coming from broken home family, unstable country but they can proof that destiny is too valuable to give up for. And now they can enjoy learning what they love at the best Technological Institute in the world. Of course that also offers them limitless opportunity to learn from the best lecturers and a worldwide professional network.
Reading those stories, I realize one fact. That life is too short to stay comfort, life is too big to be usual, and life without danger is not a real life. Viverse pericoloso.
Sunday, July 3, 2011
Pagi yang Letih
Dalam Sebuah Tanya
Kajian, Emang Perlu?
Saturday, July 2, 2011
Finally I found what I want most to be
Honestly, my three years study in University of Indonesia wasn't well prepared. I always do anything as a last minutes (or sometimes seconds) action. That's why most of my work didn't show my best. And now, in my last one year, I think i found what i want most.
To be a Professional Consultant


Friday, May 20, 2011
Paradoks 13 Tahun
Dalam terik dalam hujan, dalam siang dalam malam.
Berteriak mereka tentang reformasi, tentang perubahan,
Tentang bayi cacat yang tumbuh besar.
Di depan gerbang kokoh rumah Presiden.
Berkumpul mereka riuh.
Sebagian karena warisan semangat perubahan.
Sebagian karena pencarian identitas,
Sebagian karena pembuktian eksistensi.
Sebagian hadir sebagai masa jarkoman.
Tak jauh dari situ, sungguh tak jauh.
Sang raja sedang ramah-ramah.
Dengan sekelompok anak pintar.
Anak rajin yang manis manis.
Depan istana jaket kuning depan sang raja jaket kuning.
Yang di depan Istana tak sanggup sampaikan suara hati.
Yang di depan Raja tak sanggup mendengarkan suara hati.
Yang di istana nunggu dengan hati miris.
Yang di depan sang raja senyum-senyum anak manis.
Yang di depan raja cerita pulang acaranya menarik.
Yang di depan istana sedang membangun nuansa heroik.
Dan aku terdiam di sini,
Terlalu sibuk dengan diriku sendiri.
NB : Terinspirasi dengan saudara saya yang baru brangkat aksi nginep di Istana, dan seorang teman yang baru pulang dari jamuan harkitnas. Paradoks.