Thursday, June 7, 2012

Andai Bung Hatta dan Bung Karno Punya Twitter


Sungguh saya nggak bermaksud kurang ajar pada kedua founding father negeri ini yang fotonya saya pasang di atas. Tapi memang pertanyaan ini muncul tiba-tiba di benak saya. Dan tolong, jangan dibuat rumit, jangan pake nanya-nanya dimana logika penulis tahun 1920-an bisa ada twitter padahal internet baru beredar luas taun 90 an. Dan jangan nanya apa HP nya Sukarno dan Hatta, apa mereka pake Samsung, Apple atau Nexian. Apalagi nanya siapa yang follow duluan, dan apa yang satu minta "folbek aku eaaaahhh". Tolong jangan. Karena memang agaknya penulis tanpa jluntrungan telah melahirkan ide ini. Terima saja yah.

Oke, menurut temen-temen kalo ini lagi jaman perjuangan kemerdekaan terus kedua orang itu punya twitter, gimana menurut temen-temen interaksi antar keduanya? Kalau dalam pandangan saya, mereka pasti akan banyak berdebat kritis satu sama laen. Ibarat kate, kalo kita follow nih dua orang, pasti ngga jarang deh TL kita bakal dihiasi oleh balas-membalas opini antar keduanya. Atau saling singgung dengan pake hastag #nomention. Ya, mungkin banyak yang ngira kedua tokoh ini selalu seiya sekata dalam pemikiran. Namun faktanya kedua tokoh ini justru sering sekali berbeda pendapat satu sama lain. Menyangkut begitu banyak hal, mulai dari kebijakan ekonomi, arah pergerakan hingga pandangan terkait komunisme.

Ambil lah contoh dalam hal arah pergerakan menuju kemerdekaan. Tahun 1930-an, waktu Hatta baru membangun pergerakan politik di Indonesia, terjadi polemik tentang makna pergerakan yang "Non-Cooperation". Kedua tokoh ini memang semangat mengikuti sikap politik Gandhi, yang mendorong perjuangan tanpa bekerja sama dengan penjajah. Seiya sekata dalam konsep, bisa jadi berbeda jauh dalam praktek. Ketidak sepahaman ini juga besar kemungkinan dipengaruhi karna keduanya punya garis simpul massa masing masing. Soekarno dengan Partindo dan Hatta dengan PNI (Pendidikan Nasional Indonesia)

Pematiknya adalah, telegram yang meminta kesediaan Hatta untuk dicalonkan menjadi calon anggota parlemen belanda oleh partai sosialis belanda (OSP). Belum lagi dijawab permohonan ini oleh Hatta, namun ternyata beritanya telah menyebar bahwa Hatta bersedia. Hal inilah yang diangkat oleh Ir Soekarno dalam tulisannya di beberapa media yang berafiliasi dengan Partindo untuk meluncurkan serangan terhadap Hatta. Dengan tidak kalah cerdas, Hatta pun membalas dengan sanggahan-sanggahan yang ilmiah dan lugas melalui tulisan melalui Media PNI. Dan perdebatan mengenai tuduhan menghianati sikap gerakan "non-cooperation" ini berlangsung hingga beberapa tulisan muncul di kedua media. 

Sukarno berkeras bahwa duduk di perwakilan rakyat Belanda adalah bentuk kerja sama dengan Belanda. Artinya menghianati sifat gerakan "non-cooperation", diambilnya contoh gerakan kemerdekaan Irlandia atas Inggris sebagai penguat argumennya. Sementara Hatta berpendapat bahwa "non-cooperation" tidak terkait dengan duduk atau tidak duduk di parlemen. Sebab duduk di parlemen itu sendiri dapat digunakan sebagai instrumen perjuangan untuk menolak penjajahan, dia juga berkeras bahwa contoh gerakan di Irlandia tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia. Sebab Irlandia-Inggris terlampau jauh hubungannya dengan Indonesia-Belanda. Inggris tidak menjajah Irlandia, mereka dipandang sebagai satu negara hanya saja yang satu lebih dominan atas yang lain. Maka wajar apabila Irlandia menuntut pemisahan parlemen untuk kedaulatan negaranya.

Balas membalas antara keduanya berlangsung cukup sengit melalui media masing-masing. Hingga akhirnya masalah ini berkesudahan begitu saja (akhirnya Hatta pun menolak dicalonkan OSP). Kalo sekilas mirip-mirip lah sama kelakuan aktipis kampus beda mahzab yang sering beradu argumen di twitter kalo beda pendapat terhadap suatu fenomena di masyarakat. 

Itu hanya satu contoh dari perbedaan pendapat diantara keduanya. Tentu bila ditelisik, banyak hal lagi yang mewarnai perbedaan diantara keduanya. Yang paling tajam bisa jadi yang membuat Hatta mundur sebagai wakil presiden. Tapi bagi saya, perbedaan diantara keduanya toh memberi warna yang unik dan saling mengisi dalam perjuangan kemerdekaan RI. Sukarno yang kental nuansa agitasi nya, berpadu dengan Hatta yang lekat dengan budaya ilmiah, dan kadang terkesan lebih kaku. Rasa-rasanya kita rindu juga yah dengan pola kepemimpinan macam ini. Yang saling mengisi, bukan kombinasi dimana yang presiden jago ngeluh, dan wapresnya hobi ngilang ngga kliatan. Hehehe kok jadi kemana-mana. 

Intinya kalo mereka berdua punya twitter, follower-follower mereka bakal sering dapet pencerdasan gratis. Dan mungkin juga bakal sering ribut-ribut lebih kenceng daripada si empunya akun. Yang pasti kalo kita follow dua-duanya, kita pasti akan cepet nyadar. Kalau perbedaan pendapat itu biasa diantara para pemimpin. Asal kepentingan yang lebih luas ngga disandra aja cuman demi kepopuleran salah seorang. Semoga bangsa ini bisa belajar dari keduanya, meski mereka ngga pernah dan nggak akan pernah punya akun twitter.

Sumber Inspirasi: Buku Otobiografi Muhammad Hatta "Berjuang dan Dibuang".