Alkisah di sebuah negeri para ayam, tinggallah ayam-ayam yang keserharian meyibukkan diri dengan kegiatan per ayam-an guna menjaga kelangsungan hidupnya masing-masing. Dalam kehidupan strata masyarakatnya, ternyata terdapat kelas-kelas sosial yang terbentuk secara otomatis diakibatkan dari pergulatan panjang sejarah kehidupan bermasyarakat para ayam-ayam ini. Dari berbagai jenis ayam ini terdapat seorang ayam deviant, yang menolak berpikir seperti sesamanya, bertindak seperti sesamanya dan hidup serperti sesamanya. Sesama siapa? Ya sesama ras nya, oke perlu dijelaskan dulu rupanya. Jadi si deviant ini namanya ehmmm Kotek, dia dari ras ayam kampung, ras yang selama ini identik dengan kaum proletar dalam dunia ayam.
Kotek melihat, ada gejala yang tidak beres dengan eksistensi ayam kampung dalam kancah perayaman. Ayam kampung yang mustinya paling sehat, paling banyak jumlahnya ternyata semakin terdesak dalam peran-peran sosial yang ada di masyarakat. Padahal coba lah kau lihat teman, bisik Kotek dalam hati, kami ini kalau bicara jumlah bukan main banyaknya, bukankah jumlah itu potensi yang luar biasa? Dan lagi, sebenarnya Ras kami ini ngga sepenuhnya miskin loh! Dari sekitar 20% ayam kaya yang menguasai 80% kekayaan di negeri ayam ini, banyak juga yang merupakan ras ayam kampung. Tapi justru itu yang bikin saya bingung dari 80% ayam yang kesulitan mengais-ngais cacing, sebagai catatan cacing-cacing dan makanan lain di dunia ayam yang berkaitan dengan hajat hidup ayam banyak dikuasai oleh negara ayam, adalah bagian ras si Kotek juga. Ras Ayam Kampung.
Dan mulailah Kotek mempelajari, apa yang salah dengan ayam ayam ini. Dengan ayam ayam kampung ini. Mula-mula setelah merumuskan metode riset yang sesuai dengan kaidah ilmiah perayaman, Kotek mulai ngobrol sama para ayam-ayam kampung yang hidupnya lemah, tersisih dan teraniaya. Yang dia dapat adalah, bahwa ayam ayam ini sejak semula memang lemah etos kerjanya, tidak semangat sebab dimanjakan oleh keadaan yang sangat mendukung mereka untuk hidup, seperti tanah yang begitu subur dan sumber air yang berlimpah serta musim yang bersahabat. Sehingga mereka tidak perlu bekerja keras untuk bertahan hidup. Hmmmm ya ya ya.
Kemudian Kotek pergi ke golongan ayam-ayam kampung yang kaya raya. Mereka ini rata-rata adalah ayam-ayam tuan tanah, pengusaha dan pegawai pemerintah negeri ayam. Lalu dia mendapati fakta bahwa untuk dapat kaya di negeri ayam, mereka telah melakukan usaha yang bermacam-macam mulai dari yang jujur, sampai yang keji seperti korupsi, dan trik-trik bisnis yang kejam dan melanggar pri-pri keayaman. Golongan kedua luar biasa banyaknya, sebab seperti sudah termasyur di dunia ayam sedunia, negara tempat Kotek bernaung ini terkenal dengan budaya kolektifnya yang buruk.
Kondisi pemerintahan negeri yang tidak berpihak pada ayam-ayam tertindas ini ternyata turut berpengaruh terhadap keadaan dimana yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Dengan semakin rendahnya kepedulian kaum ayam kaya, ayam-ayam miskin pun semakin beringas dalam mempertahankan hidup, akibatnya hanya demi rupiyam (mata uang negara Kotek) yang tidak seberapa ayam-ayam miskin ini bisa nekat merampok, mencopet dan mematuk korbannya sampai mati, kejam, keras dan brutal. Semua dilakukan demi mempertahankan hidupnya.
Semakin si Kotek ini meneliti, ternyata semakin banyak permasalahan yang mengancam bangsanya, memang di satu sisi, bangsa dia dengan berbagai potensinya diramalkan bakal menjadi negara yang maju di kancah perayaman global, namun banyak juga skenario-skenario mengerikan yang meramalkan bahwa negara ayam ini akan menjadi negara agama ayam radikal, negara yang terus menerus tergelincir, negara dictator, atau yang paling mengerikan adalah negara gagal, terpecah menjadi negara-negara ayam kecil.
Salah satu kesimpulan diakhir riset si Kotek ini adalah bahwa ada sekelompok ayam yang menjadi harapan bangkitnya negeri ayam ini, ini adalah sekelompok ayam-ayam muda baik ayam kampung maupun dari ras lain, yang tengah mengenyam pendidikan tinggi di padepokan ilmu tertinggi di negara ayam itu, ada banyak jumlahnya padepokan ini di negeri ayam. Dulu dari golongan seperti ini lah negeri tempat Kotek tinggal ini dibebaskan dari cengkraman para ayam imperialis.
Namun kini, keadaan golongan ini rupanya belum menunjukkan harapan itu segera terwujud. Mereka ternyata tidak lepas dari karakter pendahulunya, banyak yang tidak peduli, oportunis dan mereka terbagi-bagi menjadi berbagai identitas yang seolah saling berebut kekuasaan, mirip seperti yang senior mereka lakukan di kancah nasional negara ayam. Hmmm, tampaknya saya harus mulai menyadarkan golongan ini, bahwa mereka memegang peranan penting bagi kemajuan bangsa ini kelak.
Baru saja berpikir, ternyata hari sudah mulai senja mata Kotek mulai rabun dan ini saatnya dia masuk ke kandang. Di pintu kandang, sebelum masuk kotek tersenyum ringan dan berkata “Untung saja aku hanya seekor ayam, maka tak penting semua yang aku teliti tadi, toh kami akan berakhir di tempat yang sama, meja saji para manusia. Hmmmm mungkin semua yang aku pikirkan ini bakal menjadi penting, jika aku manusia.” Kotek masuk kandang dengan riang dan bersiap menutup mata.