Pagi ini saya tercubit, atau tertusuk dengan twit Jumat dari Gus Mus
Hehehe, kalau pada kenal saya di kehidupan sehari hari, saya tipe orang yang boleh dibilang cukup banyak "ngemeng" :p (sorry guys). Dan dalam beberapa kasus saya sering ngomong secara menggurui, sok bijak dan sok pinter. Nggak asik lah pokoknya :)) Maka twit ini nampol banget buat orang orang macam saya, yang sering kali lebih terampil nasehatin orang lewat kata kata dibanding lewat perbuatan. Semoga menjadi bahan instrospeksi di hari Jumat yang semangat ini :)))
Thursday, February 27, 2014
Wednesday, February 26, 2014
Soal Cinta
Beberapa hari yang lalu, saya dapet pertanyaan yang cukup lucu.
"Mas, kenapa sih lo suka nyinyir sama golongan A? Posisi lo gimana? Sebenernya tujuan lo apa?"
Pertanyaan macam ini bikin saya berkesimpulan, beberapa orang beranggapan bahwa kritik bukan bagian dari proses mencintai. Padahal saya beranggapan sebaliknya, kritik adalah bentuk perhatian, bentuk kepedulian dan bentuk pengorbanan.
Coba cek orang di sekitar anda, siapa yang paling sering mengkritik anda? Yang paling keras mengingatkan ketika anda berbuat salah? Besar kemungkinan mereka adalah orang orang yang nyata nyata sangat cinta pada anda. Bisa Ayah, Ibu, Saudara, Sahabat, Guru dan lain lain.
Bagi saya, orang yang dalam cinta nya tidak mengenal kritik maka belajar dia tentang cinta baru sampai semester dua.
Sekian
"Mas, kenapa sih lo suka nyinyir sama golongan A? Posisi lo gimana? Sebenernya tujuan lo apa?"
Pertanyaan macam ini bikin saya berkesimpulan, beberapa orang beranggapan bahwa kritik bukan bagian dari proses mencintai. Padahal saya beranggapan sebaliknya, kritik adalah bentuk perhatian, bentuk kepedulian dan bentuk pengorbanan.
Coba cek orang di sekitar anda, siapa yang paling sering mengkritik anda? Yang paling keras mengingatkan ketika anda berbuat salah? Besar kemungkinan mereka adalah orang orang yang nyata nyata sangat cinta pada anda. Bisa Ayah, Ibu, Saudara, Sahabat, Guru dan lain lain.
Bagi saya, orang yang dalam cinta nya tidak mengenal kritik maka belajar dia tentang cinta baru sampai semester dua.
Sekian
Monday, February 3, 2014
Kesatria, Menang, Kalah
Senja menjelang dilangit Kurusetra, keheningan yang semestinya menjadi milik langit menjelang malam, saat itu terusik dengan berita yang sampai ketelinga para Pandhawa. Dari pihak Kurawa, Adipati Karna memutuskan melanjutkan perang, merangsek ke perkemahan para prajurit pihak Pandhawa yang tengah beristirahat. Pun telah ditetapkan bahwa selepas senja adalah saat beristirahat dan perang semestinya dihentikan, namun inilah peperangan, diatas kertas boleh ada peraturan, namun dimedan laga senjata dan amarah seringkali punya aturan sendiri. Prajurit dari pihak Pandhawa pun kocar kacir, bukan karena mereka tidak siap, bukan mereka tidak sigap, namun harus diketahui bahwa Adipati Karna bukan ksatria sembarangan, kesaktiannya tidak bisa dibandingkan dengan ksatria biasa, bahkan dibandingkan dengan para Pandhawa pun, hanya Arjuna yang kabarnya sanggup menandingi kemahiran Adipati Karna dalam ilmu memanah.
Pandhawa tidak bisa terus berdiam, menunda pengambilan keputusan artinya sama dengan menambah jumlah prajurit yang meregang nyawa. Harus segera diputuskan, siapa yang harus dikirim untuk meredam serangan mematikan Kurawa yang dipimpin oleh Adipati Karna. Keputusan ini tidak boleh main main, gegabah mengambil tindakan dapat berujung petaka. Siapapun tahu, tidak banyak ksatria yang bisa pulang masih bernyawa setelah berhadapan dengan Adipati Karna.
Arjuna, mengetahui fakta bahwa dialah yang memiliki kesaktian yang setara dengan Karna angkat bicara. "Kanda Yudhistira, biarlah saya yang turun gelanggang menyambut Kakang Adipati Karna. Tidak sampai hati saya mengetahui akan lebih banyak lagi darah prajurit kita tertumpah semasa kita termenung disini". Yudhistira terdiam, dia mengetahui bahwa apa yang disampaikan Arjuna adalah hal yang masuk akal, namun sebagai sulung Pandhawa, belum sampai hatinya mengizinkan adiknya turun berperang melawan Adipati Karna, terlebih karena perang itu berlangsung diwaktu yang sebenarnya terlarang untuk berperang, diwaktu yang tidak sewajarnya seorang Kesatria mengangkat senjata.
Kresna, penasihat di kubu Pandhawa kemudian bersuara, "Saya rasa, tidaklah bijak mengirim Arjuna menuju medan peperangan berhadapan dengan Adipati Karna. Saran saya, biarlah Gatotkaca, ksatria dari Pringgandani yang maju memimpin sebagai senopati dari pasukan Pandhawa".
Mendengar itu Werkudara terpatik rasa tanya bercampur khawatir "Hai Kresna, meski Gatotkaca kubesarkan sebagai kesatria, dan sudah semestinya seorang kesatria bergi melaksanakan budi dharma nya melumat angkara murka. Apakah dasarnya kau mengirimkan anakku menghadapi Adipati Karna? Siapkah kau bertanggung jawab apabila sesuatu terjadi padanya?" sungut Werkudara.
"Dinda Werkudara, kalah, menang kematian dan hidup bukan kah itu telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa? Dan bukankah Baratayudha ini telah tertulis dalam lembaran takdir siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah?"
Situasi hening, namun sebenarnya setiap orang yang ada dalam ruangan itu, para Pandhawa, penasihat kerajaan, senopati perang sedang sibuk meresapi perkataan Kresna, kata demi katanya. "Dinda Werkudara, diantara kita yang ada disini, hanya putramu, Gatotkaca yang memiliki mata Suryakanta yang dapat melihat dengan jelas dimalam hari, dan juga kutang Antakusuma, pusaka yang dari dadanya dapat bersinar cahaya yang terang. Yang tentu kedua hal ini akan menjadi keuntungan bagi pihak Pandhawa untuk menghadapi bala Kurawa yang dipimpin Adipati Karna". Sebelum kata kata itu terlepas dari mulut Kresna, sebenarnya dia telah mengetahui dengan mengintip dari kitab Jitabsara bahwa telah tiba waktu Gatotkaca menghadap Yang Maha Kuasa. Dan kepulangan Gatotkaca malam itu, akan berakibat besar pada keberlangsungan perang Baratayudha.
Mendengar penjelasan yang jernih dari Kresna, Werkudara pun akhirnya bisa menerima masukan dari penasihat Pandhawa yang kebijaksanaannya telah terkenal di seantero dunia wayang tersebut. Akhirnya Gatotkaca dipanggil. Setelah disampaikan kepadanya maksud pemanggilan, bahwa dia akan diutus meredam serangan Kurawa yang dipimpin oleh kesatria pilih tanding Adipati Kresna. Gatotkaca tersenyum, "Sudah lama aku menantikan saat saat ini, saat dimana aku diamanahkan untuk turun ke gelanggang perang, melumat angkara murka dan menegakkan kebenaran sebenar benarnya." Semua yang hadir terdiam, dan terpukau dengan keberanian Gatotkaca yang tercermin lewat rangkaian kata katanya yang diucapkan tanpa sedikitpun nada ragu.
Kelanjutan dari cerita ini, memiliki banyak versi. Namun dari sekian banyak versi itu, semuanya berakhir sama. Gatotkaca Gugur. Iya, bagi orang orang yang dangkal, maka akan melihat Gatotkaca sebagai sosok yang kalah disini. Pusaka tersakti Adipati Karna telah menembus dada Gatotkaca. Mencabut nyawanya dan membawanya bertemu Sang Maha Pencipta. Namum apabila kita lihat Baratayudha sebagai pertempuran yang utuh, sesungguhnya kematian Gatotkaca ini tidak sia sia, bahkan boleh dibilang memiliki andil besar memenangkan Pandhawa dalam perang besar Baratayudha.
Dalam perang ini, kematian Gatotkaca harus dibayar mahal oleh senapati Kurawa, Adipati Karna. Karna harus menggunakan pusaka tersaktinya, yang hanya bisa dipakai sekali untuk menghentikan langkah Gatotkaca. Pusaka ini, sebenarnya ingin disimpan oleh Karna untuk menghadapi Arjuna, satu satunya Pandhawa yang bisa menandingi kesaktian Adipati Karna dalam pertempuran memanah. Kedua, sesaat sebelum mati, Gatotkaca mengamalkan ajian yang merubah jasadnya yang terjatuh (Gatotkaca terpanah ketika sedang terbang tinggi menghindari pusaka Adipati Karna) menjadi beberapa kali lebih besar dari tubuhnya, dan kejatuhan jasad ini bukan hanya membunuh banyak prajurit Kurawa, namun juga menyebabkan kerusakan pada kereta perang yang dinaiki Adipati Karna. Dimana kerusakan ini turut mengurangi kehebatan Adipati Karna saat nanti bertempur dengan Arjuna.
Demikianlah epos agung Mahabarata menggambarkan tentang jalan hidup seorang kesatria, dan warna kemenangan dan kekalahan dalam perjuangannya. Bagi seorang kesatria, pertempuran, perjuangan adalah bentuk mengamalkan dharma bakti. Ada hal hal besar, agung dan mulia yang mendorong seorang kesatria untuk turun berjuang, yang jauh lebih penting dari sekedar hitungan menang kalah, jauh lebih bemakna dari sekedar gagal dan berhasil.
Sebagai seorang yang tumbuh dengna membaca kisah kisah heroik dari epos Mahabarata dari kecil, sedikit banyak alam pikiran saya terwarnai dengan nilai nilai yang ada di dalamnya. Jadi ketika saya memilih cita cita, pilihan atau langkah perjuangan dan ada orang yang bilang "Ngapain sih Dwik? Udah nggak akan menang, nggak akan berhasil" secara otomatis hati saya akan jawab "Maaf bro, buat gua ini lebih dari sekedar menang kalah atau gagal berhasil".
Sekian, semoga bermanfaat : D
Mendengar itu Werkudara terpatik rasa tanya bercampur khawatir "Hai Kresna, meski Gatotkaca kubesarkan sebagai kesatria, dan sudah semestinya seorang kesatria bergi melaksanakan budi dharma nya melumat angkara murka. Apakah dasarnya kau mengirimkan anakku menghadapi Adipati Karna? Siapkah kau bertanggung jawab apabila sesuatu terjadi padanya?" sungut Werkudara.
"Dinda Werkudara, kalah, menang kematian dan hidup bukan kah itu telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa? Dan bukankah Baratayudha ini telah tertulis dalam lembaran takdir siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah?"
Situasi hening, namun sebenarnya setiap orang yang ada dalam ruangan itu, para Pandhawa, penasihat kerajaan, senopati perang sedang sibuk meresapi perkataan Kresna, kata demi katanya. "Dinda Werkudara, diantara kita yang ada disini, hanya putramu, Gatotkaca yang memiliki mata Suryakanta yang dapat melihat dengan jelas dimalam hari, dan juga kutang Antakusuma, pusaka yang dari dadanya dapat bersinar cahaya yang terang. Yang tentu kedua hal ini akan menjadi keuntungan bagi pihak Pandhawa untuk menghadapi bala Kurawa yang dipimpin Adipati Karna". Sebelum kata kata itu terlepas dari mulut Kresna, sebenarnya dia telah mengetahui dengan mengintip dari kitab Jitabsara bahwa telah tiba waktu Gatotkaca menghadap Yang Maha Kuasa. Dan kepulangan Gatotkaca malam itu, akan berakibat besar pada keberlangsungan perang Baratayudha.
Mendengar penjelasan yang jernih dari Kresna, Werkudara pun akhirnya bisa menerima masukan dari penasihat Pandhawa yang kebijaksanaannya telah terkenal di seantero dunia wayang tersebut. Akhirnya Gatotkaca dipanggil. Setelah disampaikan kepadanya maksud pemanggilan, bahwa dia akan diutus meredam serangan Kurawa yang dipimpin oleh kesatria pilih tanding Adipati Kresna. Gatotkaca tersenyum, "Sudah lama aku menantikan saat saat ini, saat dimana aku diamanahkan untuk turun ke gelanggang perang, melumat angkara murka dan menegakkan kebenaran sebenar benarnya." Semua yang hadir terdiam, dan terpukau dengan keberanian Gatotkaca yang tercermin lewat rangkaian kata katanya yang diucapkan tanpa sedikitpun nada ragu.
Kelanjutan dari cerita ini, memiliki banyak versi. Namun dari sekian banyak versi itu, semuanya berakhir sama. Gatotkaca Gugur. Iya, bagi orang orang yang dangkal, maka akan melihat Gatotkaca sebagai sosok yang kalah disini. Pusaka tersakti Adipati Karna telah menembus dada Gatotkaca. Mencabut nyawanya dan membawanya bertemu Sang Maha Pencipta. Namum apabila kita lihat Baratayudha sebagai pertempuran yang utuh, sesungguhnya kematian Gatotkaca ini tidak sia sia, bahkan boleh dibilang memiliki andil besar memenangkan Pandhawa dalam perang besar Baratayudha.
Dalam perang ini, kematian Gatotkaca harus dibayar mahal oleh senapati Kurawa, Adipati Karna. Karna harus menggunakan pusaka tersaktinya, yang hanya bisa dipakai sekali untuk menghentikan langkah Gatotkaca. Pusaka ini, sebenarnya ingin disimpan oleh Karna untuk menghadapi Arjuna, satu satunya Pandhawa yang bisa menandingi kesaktian Adipati Karna dalam pertempuran memanah. Kedua, sesaat sebelum mati, Gatotkaca mengamalkan ajian yang merubah jasadnya yang terjatuh (Gatotkaca terpanah ketika sedang terbang tinggi menghindari pusaka Adipati Karna) menjadi beberapa kali lebih besar dari tubuhnya, dan kejatuhan jasad ini bukan hanya membunuh banyak prajurit Kurawa, namun juga menyebabkan kerusakan pada kereta perang yang dinaiki Adipati Karna. Dimana kerusakan ini turut mengurangi kehebatan Adipati Karna saat nanti bertempur dengan Arjuna.
Demikianlah epos agung Mahabarata menggambarkan tentang jalan hidup seorang kesatria, dan warna kemenangan dan kekalahan dalam perjuangannya. Bagi seorang kesatria, pertempuran, perjuangan adalah bentuk mengamalkan dharma bakti. Ada hal hal besar, agung dan mulia yang mendorong seorang kesatria untuk turun berjuang, yang jauh lebih penting dari sekedar hitungan menang kalah, jauh lebih bemakna dari sekedar gagal dan berhasil.
Sebagai seorang yang tumbuh dengna membaca kisah kisah heroik dari epos Mahabarata dari kecil, sedikit banyak alam pikiran saya terwarnai dengan nilai nilai yang ada di dalamnya. Jadi ketika saya memilih cita cita, pilihan atau langkah perjuangan dan ada orang yang bilang "Ngapain sih Dwik? Udah nggak akan menang, nggak akan berhasil" secara otomatis hati saya akan jawab "Maaf bro, buat gua ini lebih dari sekedar menang kalah atau gagal berhasil".
Sekian, semoga bermanfaat : D
Subscribe to:
Posts (Atom)