Friday, March 23, 2012

Jangan Takut

Pagi ini kembali aku rasakan romansa yang sama seperti dulu
Saat pertama kali aku bertemu kalian
Muka muka polos
Menatap penuh tanda tanya
Dengan mulut cemong bekas ingus dan makan siang yang tampaknya tidak terlalu sedap

Pagi ini kembali aku rasakan romansa yang sama seperti dulu
Saat pertama kali aku berteriak atas nama kalian
Dengan kepal tangan menantang langit
Menatap angkuhnya gedung Dewan Pencoleng
Dengan nafas naik turun dibalut semangat yang menggebu

Pagi ini kembali aku rasakan romansa yang sama seperti dulu
Saat pertama aku dengar tawa-tawa riuh itu
Bersama kalian anak-anak kecil yang belum juga lancar membaca
Bersama kalian yang terdiam ketika kutanya ingin jadi apa
Dengan niat yang pantang putus untuk terus belajar dan bermimpi

Jangan takut orang orang tertindas
Jangan takut anak-anak yang dikhianati sistem pendidikan formal
Jangan takut orang-orang yang tersisih
Aku bersama kalian




Saturday, March 3, 2012

Bersosial Media




"Eh jangan sembarangan loh kalo ngetwit, itu bakal dijadiin perusahaan pertimbangan kalo mau ngrekrut orang. Jadi ati-ati kalo ngetwit"

"Eh jangan ngetwit gini jangan bikin status gitu, itu citra kita yang bakal terekam di Internet"

"Eh jangan protes pemerintah ntar bla bla bla bla....."

Sering nggak dapet peringatan kaya gitu? Kalo gua sih sering banget, bahkan ada temen yang bikin twitter berseri (istilahnya Kultwit, gua ngga tau Kul nya itu apa, Kuliah kek ato kulintang ato mungkin juga Kutil karena sekali keluar biasanya dia banyak dan cenderung membesar) tentang ini. Tentang etika bersosial media. Bahkan di negara ini ada mentri yang hobi banget ngurusin pertwitteran. Pake bikin legalisasi penutupan akun yang dianggap mengganggu pula, yang mana ini sangat subjektif dan menurut gua jauh diluar kewenangan dia yang sebenernya buat ngurusin urusan komunikasi dan informasi di negara ini.

Oke etika itu penting, dan semua sepakat kita suka sama yang baek-baek, yang santun-santun, bahkan orang jahat aja suka sama yang baik-baik. Tapi kalo aturan itu jadi beribet dan mencegah lo jadi yang bukan diri lo, seriously, itu jadi ngga asik men. Maksud gua ya ini social media gitu, dan ini media buat berinteraksi manusia bukan mesin, robot, kacang polong atau kalkulator beras. Ya adalah sangat wajar kalo muncul hal-hal yang sangat manusiawi di situ. Ada marah, kecewa, sedih, galau, pecengisan, petakilan, tarak dung dung, maupun dek cek deg dess. Oke ini mulai absurd. Ya contohnya macam Twitter. Menurut gua, People is tweeting just for the sake of tweet. No More. Ngga semua yang lo bagi musti tentang sesuatu yang bernilai moral tinggi, mentereng, canggih dan berguna bagi nusa dan bangsa. Oke yang terakhir mungkin iya. Gua suka kasihan aja gitu ngeliat temen yang twit nya kaku. Atau disusun dengan berhati hati, dengan kata-kata yang intelek, tapi melangit gitu. Orang ngga ngerti dan ngga nangkep apa yang pengen lo bagi ke mereka. Ini hidup lo, kalo karena alasan-alasan, yang itupun menurut gua sangat inferior lo rubah ya ini jadi hidup siapa dong? Kenapa inferior? Karena menurut gua kalo lo yakin jago, lo ngga perlu pencitraan men, lo cukup jadi diri lo sendiri.

Terus gimana? Ngga perlu aturan? Bebas aja gitu?

Ya ngga juga sob, aturan yang dipake menurut gua cukup norma-norma pribadi yang dipegang dengan dewasa dan bertanggung jawab.

Kalo gua sih, ini baru dapet tadi pagi loh ilmunya, sebisa mungkin memakan empat syarat ini untuk syarat menebar informasi di sosial media:

1. Jangan ada bau-bau maksiat nya.
2. Jangan bercampur ama kebohongan.
3. Jangan mengadu domba. Misal lo mention @domba1 sama @domba2 terus bikin mereka ribut. Oke ini Jayus.
4. Jangan bernada-nada ujub, congkak atau secara edan menggurui. Ini memuakkan men.
5. Sebisa mungkin kata-kata nya jangan menyakiti orang lain.

Emang oke sih kalo setiap yang kita lakuin bisa bermanfaat, dan bikin orang lain seneng termasuk dalam bersosial media, tapi jangan sampai juga orang malah jadi empet dengan ketidak-jujuran kita dalam berekspresi. Dalam beberapa kasus,twitter atau facebook, justru memulai hal besar karena di situ tertuang informasi yang secara etika umum kurang pantas, tapi penting buat diketahui orang banyak. Mari pelihara kesantunan bersosial media tanpa harus kehilangan kejujuran sebagai manusia apa adanya.