Mengapa Anies Baswedan?
Teman: “Kenapa sih Dwik dukung Anies Baswedan?”
Saya: “Karena Anies Baswedan pantas didukung”
Seminggu kemarin, lebih dari sekali saya mendapatkan
pertanyaan serupa diatas. Pertanyaan pertanyaan itu mendorong saya untuk
menulis pandangan saya mengapa Anies Baswedan adalah sosok yang perlu didukung
untuk maju dalam perhelatan politik Indonesia tahun 2014 nanti. Semoga sedikit
yang saya tuliskan ini dapat membantu menjawab rasa ingin tahu teman teman yang
mungkin, memiliki pertanyaan yang sama. Selamat membaca
Saya pertama kali melihat secara langsung Pak Anies Baswedan
menyampaikan orasi pada sebuah seminar kepemimpinan pada tahun 2010. Dalam acara
tersebut Pak Anies bicara tentang daya saing bangsa, terutama terkait dengan
kualitas pendidikan dan peran yang dapat diambil oleh generasi muda dalam mengatasi
berbagai permasalahan bangsa.
Jujur saja, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk terkesan
pada sosok beliau. Gaya penyampaian pendapat beliau yang terstruktur, logis,
lugas dan disampaikan dalam bahasa yang sederhana membuat saya mengambil
kesimpulan singkat saat itu. “Orang ini satu diantara sedikit tokoh yang paham
apa yang pertama tama harus dibenahi dari bangsa ini.”
Sesudahnya, saya mencoba mencari tahu tentang Anies
Baswedan. Dengan berjalannya waktu, beberapa alasan saya rasa cukup untuk
mendukung Anies Baswedan menjadi Presiden Republik Indonesia pada tahun 2014.
Sosok Inspiratif
Ketika banyak pihak menuding apatisme sebagai akar masalah
dari keterpurukan yang selama ini menghiasi berbagai halaman kehidupan bangsa
Indonesia, Anies Baswedan menolak berhenti disitu. Dia mencari lebih jauh dan
percaya bahwa masih banyak elemen bangsa yang memiliki animo dan semangat yang
tinggi untuk berkontribusi mengatasi permasalahan pelik bangsa Indonesia.
Ketika salah satu gerakan yang dia inisiasi diluncurkan,
saya mengernyitkan dahi. Indonesia Mengajar, mengirim anak anak terbaik
Indonesia ke pelosok pelosok republik, ke daerah daerah terpencil yang sinyal
telekomunikasi malas mampir untuk selama satu tahun menginspirasi, mengajar dan
mewakili kehadiran negara untuk turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
Siapa yang mau?
Faktanya saya salah, gerakan ini disambut penuh antusiasme
oleh putra putri terbaik bangsa. Jumlahnya jauh melampaui kuota relawan yang
sanggup diakomodir oleh tim Indonesia Mengajar sendiri, menjadikan Indonesia Mengajar
sebagai salah satu gerakan sosial dengan tingkat kompetisi untuk bergabung
paling kompetitif di Indonesia.
Bayangkan, bukan hanya bersedia, namun putra putri terbaik
bangsa ini berlomba lomba untuk memberikan kontribusi terbaiknya. Dan tidak
hanya berhenti disitu, semangat ini kemudian seperti virus yang menyebar luas
menjangkiti anak anak muda untuk mulai memandang kontribusi terhadap bangsa ini
memiliki banyak sekali pilihan selain diam, mengumpat dan mengeluh.
Dengan sambutan hangat atas beberapa gerakan lain yang
diinisiasi oleh Anies Baswedan, seperti Indonesia Menyala, yang berfokus pada
pendonasian buku buku untuk pendirian perpustakaan di pelosok Indonesia. Atau
Kelas Inspirasi dimana ribuan orang dengan berbagai latar belakang diajak untuk
selama sehari mengajar di sekolah Sekolah Dasar untuk bersama berbagi inspirasi
dan menyelami langsung permasalahan pendidikan kita. Menunjukkan bahwa Anies Baswedan bukan hanya
memiliki ide segar dan kreatif untuk mengajak kita peduli terhadap permasalahan
bangsa, namun juga memiliki kemampuan untuk menginspirasi orang lain untuk turut
bergerak dan berkontribusi nyata.
Kemampuan beliau untuk mengajak kita untuk peduli dan turun
tangan langsung dalam mengatasi persoalan persoalan bangsa, tidak lain karena
beliau adalah sosok yang inspiratif. Seseorang yang mampu menjadikan
kegelisahan dirinya menjadi kegelisahan bersama. Seorang yang mampu, dengan
kredibilitas dan integritas yang dia jaga dan rawat sejak lama, memancarkan
semangat dan optimisme pada orang disekitarnya untuk bergerak menyelesaikan
permasalahan yang sudah lama ada di sekitar kita.
Saya tidak sabar dan tidak mau diam menunggu semangat ini
menjadi semangat nasional, yang menggetarkan setiap hati bangsa Indonesia,
setiap detak jantung putra putrid terbaik bangsa, untuk terus berbuat yang
terbaik ditengah carut marut permasalahan dan tingginya gelombang pesimisme.
Maka saya memilih untuk turun tangan memperkenalkan sosok dan gagasan Anies
Baswedan kepada masyarakat luas. Agar sosok inspiratif ini dikenal lebih banyak
orang dan mendorong lebih banyak orang untuk bergerak.
Totalitas dan
Prestasi dalam Rekam Jejaknya
Sekarang mari sedikit berimajinasi, bayangkan anda adalah
seorang pelatih sepak bola, yang diminta untuk memilih seorang pemain untuk
dijadikan target transfer untuk dimasukkan dalam tim anda dan dijadikan pemain
andalan satu musim kedepan. Anda dihadapkan pada berbagai pilihan, untuk setiap
pilihan ada harga yang harus dibayar, serta ada resiko yang akan
dipertimbangkan. Apa yang pertama tama akan anda lakukan?
Saya tidak memiliki pengalaman sebagai pelatih sepak bola,
apalagi dihadapkan pada permasalahan pelik seperti yang tertuang diatas. Namun
jika harus dihadapkan pada permasalahan diatas, salah satu langkah yang akan
saya ambil adalah memeriksa rekam jejak dari pemain pemain yang saya jadikan
kelompok target untuk dipilih. Apakah rekam jejak yang baik adalah jaminan
seseorang tidak melakukan kesalahan kedepannya? Tentu tidak. Namun setidaknya
ini membantu kita untuk mengurangi ketidak pastian dari sebuah pilihan. Ini
membantu kita untuk mendapatkan gambaran pilihan terbaik dari berbagai
kemungkinan pilihan yang ada.
1985- Anies Baswedan melalui pelatihan kepemimpinan bersama
300 ketua OSIS Se-Indonesia dipilih menjadi Ketua OSIS Se-Indonesia.
1987- Anies Baswedan terpilih menjadi peserta AFS, program
pertukaran pelajar siswa Indonesia-Amerika. Selama satu tahun Anies tinggal di
Mlwakuee, Wisconsin, Amerika Serikat.
1992- Terpilih menjadi Ketua Senat UGM. Anies memimpin senat
UGM setelah organisasi kampus tersebut lama dibekukan oleh Orde Baru.
1993- Anies Baswedan mengikuti program musim panas di Sophia
University, Jepang. Beasiswa oleh Japan Airlines Scholarship atau JAL
Foundation.
1997- Mendapatkan beasiswa untuk studi master dalam bidang
International Security and Economic Policy di University of Maryland, College
Park.
1998- Sewaktu menempuh studi master, Anies Baswedan
dianugerahi William P. Cole III Fellowship dari School of Public Policy,
University of Maryland. Di tahun ini pula dia dianugrahi ASEAN Student Awards
Program dari USAID-USIA-NAFSA
1999- Anies melanjutkan studinya setelah mendapat beasiswa
program doctoral dari Northern Illinois University. Disertasi beliau tentang “Otonomi
Daerah dan Pola Demokrasi di Indonesia”.
2004- meraih Gerald S. Maryanov Fellow dari Norhern Illinois
University. Beasiswa untuk mahasiswa dengan prestasi dan integritas dalam
pengembangan ilmu politik.
2007- Anies Baswedan menjadi rector termuda di Indonesia (38
tahun) saat dipilih menjadi Rektor Universitas Paramadina. Beliau menggagas
pengajaran anti korupsi dengan membuat mata kuliah wajib anti korupsi.
2008- Terpilih sebagai satu satunya figure dari Indonesia
dan Asia Tenggara yang masuk dalam daftar 100 intelektual dunia versi Majalah
Foreign Policy.
2009- Mendirikan Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar. Gerakan
ini mengirimkan anak-anak muda terbaik bangsa untuk mengajar di Sekolah Dasar
di daerah daerah terpencil di Indonesia. Gerakan ini memilliki visi selain
untuk mengisi kekurangan guru berkualitas di daerah juga untuk mencetak
pemimpin pemimpin masa depan yang memiliki kompetensi global dan pemahaman akar
rumput.
2010- Terpilih menjadi salah satu dari World’s 20 Future
Figure dari Majalah Foresight. Yaitu 20 orang yang diprediksi akan mengubah dunia
dalam dua puluh tahun yang akan datang.
2010- Ketika KPK diterpa kasus dugaan kriminalisasi dua
pimpinannya, Bibid Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah. Anies Baswedan dipilih
sebagai salah satu anggota Tim 8 untuk meneliti kasus tersebut.
2010- Royal Islamic Strategic Centre, Yordania menempatkan
Anies Baswedan sebagai salah satu dari 500 orang yang tergolong sebagai Muslim
berpengaruh.
2011- Menggerakkan ratusan orang dan institusi untuk
membentuk perpustakaan di daerah daerah melalu gerakan Indonesia Menyala.
2012- Mengajak ribuan orang di berbagai orang untuk
mengorganisir dan mengajar selama satu hari di Sekolah Dasar. Mengajak mereka
untuk bersama menyelami kondisi pendidikan di lapanngan dan turun tangan
langsung untuk ambil bagian menyelesaikannya. Gerakan keren ini dikenal dengan
nama Kelas Inspirasi.
Dari rekam jejak diatas kita bisa ambil beberapa kesimpulan.
Kontribusi Anies Baswedan memiliki pola sama yang berulang ulang. Ketika
diberikan kesempatan, Anies Baswedan selalu menunjukkan prestasi manis. Anies
Baswedan bukan hanya peka terhadap permasalahan yang ada disekitar kita, namun
mampu mengajak orang banyak untuk tidak berhenti pada mencetuskan ide,
melainkan mengeksekusi ide kreatif
tersebut kedalam bentuk gerakan nyata.
Maka saya rasa tidak belebihan jika akhirnya banyak orang
yang secara suka rela, tanpa iming iming materi, bersedia mendukung Anies
Baswedan untuk berkontribusi lebih besar bagi bangsa ini. Untuk menjadikan
gagasan-gagasan dia menjadi gagasan besar yang bisa menjadi bahan bakar langkah
besar bangsa Indonesia. Rekam jejak Anies Baswedan yang telah digoreskan dalam
lembaran kontribusinya membuat orang yakin untuk mulai melipat lengan baju dan
mulai turun tangan.
Memilih Pemimpin
ibarat Memilih Jodoh
Ahad lalu, KH. A. Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesatren
Raudlatuh Tholibin, Rembang atau yang sering disapa Gus Mus melalui akun
twitternya merangkai kata kata yang membuat saya tergelitik sekaligus
mengangguk angguk dalam waktu yang sama. Kata Gus Mus “ Fatwa Ahad: Barangsiapa
mencari isteri/suami yang sempurna tanpa cela, dia akan jomblo selamanya :) ”
Fakta bahwa jomblo mungkin telah menjadi permasalahan
nasional sehingga tokoh sekaliber Gus Mus menyentil golongan ini dalam cuit nya
tentu menarik untuk dibahas dilain kesempatan. Namun kita harus akui bahwa yang
beliau sampaikan itu sangat masuk akal. Kita tidak akan mendapatkan pasangan
yang sempurna tanpa cela, karena itu bukan fitrah manusia. Jika demikian adanya
dengan jodoh, lalu bagaimana dengan pemimpin? Mungkinkah kita mendapatkan
pemimpin yang sempurna tanpa cela?
Dalam hal ini pun saya berpendapat jika kita menunggu
pemimpin yang sempurna tanpa cela, baik dari segi pribadi, kelompok yang
mengusung, maupun mekanisme pencalonannya, maka kepemimpinan nasional kita akan
senantiasa kering, sepi dan perih laksana perasaan hati seorang jomblo. Dan
ekspektasi mendapatkan pemimpin yang sempurna tanpa cela juga pupuk mujarab
bagi apatisme. Karena tidak ada yang sempurna tanpa cela, maka saya tidak
memilih. Ini berbahaya menurut saya, kita semua tentu patah hati, pernah kecewa
namun itu bukan alasan untuk berhenti mencintai (malah kesini nyambungnya).
Saya percaya bahwa kita tidak memerlukan pemimpin yang
sempurna tanpa cela, kita tidak membutuhkan Superman. Kita membutuhkan pemimpin
yang memiliki komitmen dan integritas, dengan kedua hal itu, orang orang yang
memiliki kompetensi dalam berbagai hal yang tidak dimiliki oleh sang calon
pemimpin akan berbondong bondong memberikan sumbangsihnya untuk menutup
kekurangan dan memberikan dorongan untuk tercapainya visi sang pemimpin.
Komitmen dan integritas yang dimiliki oleh sang calon emimpin yang tak sempurna
itu akan menjadi magnet yang menarik dukungan sukarela dari orang orang
kompeten yang merasa memiliki mimpi dan visi yang sama.
Demikian saya menulis tulisan ini untuk menjelaskan
pertanyaan sederhana mengapa saya mendukung Anies Baswedan untuk turun tangan
melunasi janji kemerdekaan. Secara sederhana dapat saya katakan, melalui
tulisan, orasi dan berbagai pernyataan beliau yang selama ini saya simak, saya
merasa beliau adalah orang yang mengerti apa yang pertama tama harus dibenahi
dari negara ini. Dengan mendalami sosok Anies Baswedan dan rekam jejaknya yang
gemilang, telah membuat saya yakin dan terdorong untuk bersikap lebih dari diam
dan sekedar simpati. Saya memilih untuk ikut turun tangan mendukung ide ide
besar Anies Baswedan. Bagaimana dengan kamu?