Karena minggu kemarin sudah mulai ada adik kelas saya yang menghubungi dan bertanya seputar persiapan menjelang suksesi lembaga kemahasiswaan di kampus saya, Universitas Indonesia. Dan terpicu juga oleh tulisan Faldo Maldini di portal Selasar (ini portal gagasan yang menurut saya akan sangat potensial berkembang menjadi "bank gagasan" anak muda Indonesia, yang tentu akan lebih oke kalau twit twit motivasi klise nya dikurangin :p #ihik), saya jadi terdorong untuk mencurahkan uneg uneg tentang lembaga kemahasiswaan ini dalam sebuah tulisan. Sebelumnya perlu diketahui Aku bukan siapa siapaaaaa~ Untukmuuuuuu~ (#terD'Massiv), hanya seorang yang pernah ada disana dan masih memandang lembaga kemahasiswaan sebagai wadah yang baik untuk berkontribusi.
Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada adek adek (ceileh adek) yang ingin berkontribusi di ranah ini. Semoga bisa jadi masukan yang bermanfaat.
Niat
Luruskan niat kamu, ini hal terpenting sebelum kamu mulai mengambil keputusan untuk berkontribusi di lembaga kemahasiswaan. Buang jauh jauh niat menghias CV, direkrut jadi staff ahli anggota DPR dari Parpol yang diem diem tapi nyata dukung kamu nyalon, dapet jaringan strategis yang akan kasih kamu kemudahan dalam nyari kerja, dapet jodoh kiyut dan kece ( oke untuk yang ini debatable) dll dll. Dua niat yang (menurut saya) boleh dipelihara adalah niat untuk belajar, dan niat untuk mengabdi. Kenapa? Karena kalau niat kamu adalah bahwa dengan jadi ketua atau pengurus lembaga kamu akan dapet berbagai kemudahan dan keuntungan pribadi yang dangkal, saya pastikan kamu akan kecewa, karena sejujurnya kalian nggak akan untung untung amat dalam hal itu. Kalaupun setelah menjabat beberapa kemudahan menghampiri kamu, itu semata efek samping dari keseriusan dan dedikasi kamu selama mengemban amanah, syukuri tapi jangan jadikan itu tujuan.
Hanya "Bagian" dari Jalan Panjang Perjuangan
Banyak temen-temen mahasiswa yang menjadikan lembaga kemahasiswaan atau secara umum masa perjuangan di kampus adalah puncak perjuangan. Begitu banyak tenaga, usaha, dan perhatian dicurahkan mati matian untuk fase ini. Tanpa disadari, bahwa selepas masa kuliah, perjuangan yang sebenarnya baru dimulai. Akibatnya? Tidak sedikit yang setelah lulus hilang orientasi. Idealisme yang dulu dipupuk matang matang, jadi harus dikompromikan karena tidak mempersiapkan bekal yang cukup untuk menghadapi tantangan paska kampus. Maka bukan sedikit kita dapati mereka yang selama di kampus dikenal sebagai "aktivis", "macan podium", "singa pergerakan" setelah lulus melempem gurat perjuangannya dan mentok mentok jadi senior gagal move on yang rutin ngerecokin adek adeknya bikin terobosan dalam gerakan kemahasiswaan karena merasa jamannya paling kece.
Jadi saran saya, jadikan masa perjuangan di kampus sebagai masa mencari bekal. Selesaikan hal hal yang terkait dengan kapasitas pribadi, baik kompetensi, ketrampilan interpersonal, wawasan, dan perencanaan karir dan keberlanjutan studi dengan matang. Seimbangkan antara eksekusi kontribusi jangka pendek, dan persiapan untuk kontribusi jangka panjang selepas nanti keluar dari pagar almamater. Dengan demikian perlahan akan bisa dikikis image bahwa idealisme seorang aktifis hanya utuh semasa dia disimpan dalam batas pagar kampus.
Jangan Takut Menawarkan Ide Baru
Sering, saya menemukan ketakutan yang sama dari teman teman yang ingin maju meneruskan estafet lembaga kemahasiswaan. Mereka takut apakah ide baru yang mereka tawarkan akan bisa diimplementasikan karena terbentur dengan kultur kemahasiswaan yang ada di lingkungan mereka. Kebanyakan juga mempertanyakan budaya atau program kerja turunan yang selama ini dirasa tidak efektif namun masih dijalankan atas nama budaya dan program turunan. Disini saya ingin katakan, bahwa selama kalian punya dasar yang kuat dan didukung dengan studi yang matang, jangan takut membawa nilai nilai baru. Jangan takut mendobrak tradisi, kenapa? Karena setiap zaman ada jagoannya. Dan di zaman kalian, ya kalian yang harus muncul sebagai pembaharu.
Saya percaya bahwa setiap produk ada life cycle nya, ada masa kadaluarsanya. Hal yang dulu cocok, bermanfaat dan efektif pasti akan lekang oleh zaman dan tiba saatnya untuk digantikan. Begitu juga dengan gagasan, bentuk pergerakan, kaderisasi dan program kerja lembaga kemahasiswaan. Semua akan berubah seiring dengan perubahan kebutuhan masyarakat, tuntutan zaman, dan kehidupan kemahasiswaan itu sendiri. Sebagai pemimpin kalian harus peka terhadap arus perubahan ini dan berani mewujudkannya dalam langkah nyata organisasi. Organisasi yang tidak bersiap menghadapi perubahan akan digilas oleh perubahan itu sendiri. Ya terserah sih kalau mau bikin organisasi yang heri (heboh sendiri) karena gagal membaca kebutuhan.
Hormati Kawan dan Lawan
Karena pergerakan mahasiswa dan kehidupan lembaga mahasiswa tidak bisa terlepas dari pengaruh politik dan pertarungan ideologi, maka munculnya kubu kubu pemikiran dan gagasan adalah hal yang lumrah. Saran saya adalah, hormati lawan dan kawan kamu. Karena dunia itu sempit, dan sekali lagi kampus hanya satu bagian perjuangan, diluar kampus hal bisa terbolak balik, lawan bisa jadi rekan berjuang dan sebaliknya kawan bisa jadi tukang tikam. Biasakan membaca fenomena dari sudut pandang berbagai ideologi dan pemikiran, selain memperkaya wawasan hal ini akan menambah jaringan pertemanan dan mengurangi friksi friksi antar ideologi yang muncul semata karena tidak saling mengenal. Saya sih percaya, ada hal hal umum yang baik yang bisa sama sama diperjuangkan, perbedaan ideologi bisa menjadi warna yang memperindah dan memperkaya langkah perjuangan yang akan ditempuh.
Bangun Gagasan Independen
Jangan dibiasakan terlalu tergantung pada bisikan bisikan kepentingan luar yang nitip tangan di kampus melalui gerakan kemahasiswaan. Budaya membangun gagasan ilmiah dengan kerangka yang robust harus mengakar di lembaga kemahasiswaan, agar masyarakat tetap bisa memandang pergerakan mahasiswa sebagai kekuatan penyeimbang dalam peta politik nasional. Jangan sampai tercitra bahwa lembaga kemahasiswaan hanya perpanjangan tangan parpol yang buka dan tutup mulutnya semata tergantung pada arahan elite parpol. Mendengar gagasan dan bermitra dengan berbagai elemen masyarakat tentu diperlukan, namun lembaga mahasiswa selayaknya punya mekanisme independen untuk menyikapi suatu fenomena.
Sekian beberapa masukan yang terlintas dalam pikiran saya untuk temen temen yang berencana mempersiapkan diri untuk berkontribusi di lembaga kemahasiswaan di universitas masing masing. Semoga bermanfaat. Ingat, berkontribusi lewat lembaga kemahasiswaan bukan satu satunya pilihan, sekarang sangat banyak wadah wadah lain baik ekstra maupun intra kampus yang bisa menjadi wadah ideal bagi adek adek mahasiswa untuk belajar. Dan jangan lupa, kompetensi keilmuan adalah hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang mahasiswa. Dan sering kali ini dinomorduakan atas nama "kontribusi". Percayalah itu omong kosong, kamu akan sulit memberikan kontribusi terbaik selama belum tuntas dengan diri sendiri.
Salam,
Dwiki Drajat Gumilar
Saturday, September 13, 2014
Tuesday, September 2, 2014
Semacam Unyu :3
"Halooo Aicaaaaahhh~ Lagi apaaa ciih??? Iyaaa ini Ayah bentar lagi puyaaaang~ Aicah lagi sama Budheee??? Capeek???"
Kata temen sekantor saya yang sedang asik ngobrol dengan putrinya lewat telefon.
"Oh iyaa dooong, Gibran kan anak sholeeeeh~ Iya dong sayang pinter mesti nurut sama Mama yaaah~"
Ucap salah satu bos saya juga lewat telfon kepada jagoan kecilnya diujung telefon di suatu siang.
Saya seneng sekali kalo kebetulan ada temen kantor yang nelfon anak anaknya, saya seperti melihat orang orang jadi begitu berbeda, yang dikeseharian sangat serius, ternyata kalau ngobrol sama anaknya bisa dicadel cadelin :p Dan yang jelas saya bisa lihat adalah, aura wajah yang seketika berubah, dari capek, lelah jadi tetiba berbinar binar. Saya seperti mendapat penjelasan tentang darimana datangnya semangat mereka bekerja :")
Kata temen sekantor saya yang sedang asik ngobrol dengan putrinya lewat telefon.
"Oh iyaa dooong, Gibran kan anak sholeeeeh~ Iya dong sayang pinter mesti nurut sama Mama yaaah~"
Ucap salah satu bos saya juga lewat telfon kepada jagoan kecilnya diujung telefon di suatu siang.
Saya seneng sekali kalo kebetulan ada temen kantor yang nelfon anak anaknya, saya seperti melihat orang orang jadi begitu berbeda, yang dikeseharian sangat serius, ternyata kalau ngobrol sama anaknya bisa dicadel cadelin :p Dan yang jelas saya bisa lihat adalah, aura wajah yang seketika berubah, dari capek, lelah jadi tetiba berbinar binar. Saya seperti mendapat penjelasan tentang darimana datangnya semangat mereka bekerja :")
Friday, August 8, 2014
Kurasi
Belakangan ini, saat beberapa hal dalam hidup saya jadi semakin serius. Saya menyadari bahwa kepala saya banyak diisi dengan hal yang yang tidak relevan dengan bidang yang saya tekuni. Sepertinya saya perlu melakukan kurasi terhadap bahan bacaan, informasi dan hal yang menjadi pusat perhatian saya. Selama setidaknya tiga tahun kedepan, saya akan coba untuk sangat fokus pada hal hal yang terkait dengan Reservoir Engineering, industri petroleum dan operation research. Sebagai implikasinya yah, saya harus siap kudet (kurang updated #ihik) dalam beberapa hal yang sebelumnya saya minati. Yah lagipula hidup itu soal memilih toh :))
Thursday, June 26, 2014
Pentingnya Memeriksa Sumber Informasi bagi Seorang Muslim
Sirkulasi informasi berisi desas desus merisaukan tanpa sumber jelas yang beredar di sekitar saya akhir akhir ini, dimana beberapa disebarkan oleh saudara saudara seiman saya, mendorong saya untuk menyusun tulisan ini. Saya harap ini dapat dihitung sebagai upaya saya sebagai sesama muslim untuk saling menasehati antar sesama kita, agar kita tidak termasuk dalam insan yang merugi.
Dalam tulisan kali ini, saya ingin menekankan bahwa bagi seorang muslim, memeriksa sumber informasi sebelum disebarkan adalah hal yang sangat penting dan telah dibudayakan dalam keseharian umat muslim sejak zaman Rasulullah, para Sahabat, dan terus dipelihara hingga saat ini oleh para kaum shalih. Tentu sebagai manusia yang tidak mungkin luput dari kesalahan, menyebarkan informasi yang tidak jelas sumber dan kebenarannya jelas sulit untuk dihindari. Harapan saya, agar setidaknya kalaupun hal itu harus terjadi, tidak didahului oleh niat dan kesengajaan, sebab sekali lagi, hal itu jauh dari akhlak seorang muslim.
Dalam tulisan kali ini saya mengambil studi kasus saat penulisan Mushhaf Al Qur'an. Adapun detail informasi ini saya ambil dari sebuah buku buah karya Prof Quraish Shihab yang berjudul "Membumikan Al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat".
Ketika terjadi perang Yamamah, terdapat puluhan penghafal Al Qur'an yang menjemput syahid dalam dahsyatnya pertempuran. Hal ini membuat Umar bin Khattab merasa perlu melakukan upaya untuk menjaga kelestarian Al Qur'an di masa depan. Beliau mengusulkan pada Khalifah Abu Bakar agar mengumpulkan tulisan-tulisan yang pernah ditulis pada masa Rasul. Walaupun pada mulanya Abu Bakar ragu menerima usul tersebut dikarenakan bahwa pengumpulan seperti itu tidak dilakukan pada masa Rasulullah SAW, namun pada akhirnya beliau dapat diyakinkan oleh Umar.
Keduanya lantas membentuk tim penyusunan yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit. Dipercayai untuk memimpin tim yang memikul tugas suci nan besar itu Zaid awalnya merasa berat dan ragu, setelah diyakinkan bahwa Zaid memiliki kapasitas yang cukup untuk mengemban tugas tersebut, Zaid pun bersedia. Abu Bakar memerintahkan kepada seluruh kaum muslim untuk membawa naskah tulisan ayat Al Qur'an ke Masjid Nabawi untuk kemudian diteliti dan diperiksa oleh Zaid beserta timnya.
Dalam proses pemeriksaan dan penelitian ini, Abu Bakar memberi petunjuk agar tim tidak menerima satu naskah kecuali dia memenuhi dua syarat:
- Harus sesuai dengan hafalan para sahabat lain.
- Tulisan tersebut benar-benar adalah yang ditulis atas perintah dan di hadapan Nabi SAW. Karena sebagian sahabat ada yang menulis atas inisiatif sendiri.
- Untuk membuktikan syarat kedua tersebut, diharuskan adanya dua orang saksi mata.
Dalam proses pemeriksaan dan penelitian ini, sejarah mencatat bahwa Zaid ketika itu menemukan kesulitan karena dia dan sekian banyak sahabat menghafal ayat "Laqad ja'akum Rasul min anfusikum 'azis 'alayh ma 'anittun harish 'alaykum bi al-mu'minina Ra'uf al-rahim" (QS 9:128). Namun, naskah yang ditulis di hadapan Nabi SAW berkaitan dengan ayat tersebut tidak ditemukan. Pencarian pun terus dilakukan, hingga akhirnya naskah tersebut ditemukan juga di tangan seorang sahabat yang bernama Abi Khuzaimah Al-Anshari. Demikian, upaya yang ditempuh Zaid dan timnya untuk menjaga kemurnian dan keontetikan Al Qur'an. Dengan demikian dapat dipertanggung jawabkan bahwa Al Qur'an yang kita baca sekarang ini adalah otentik dan tidak berbeda sedikitpun dengan apa yang diterima dan dibaca oleh Rasulullah SAW dan para sahabat berabad abad yang lalu.
Contoh dalam studi kasus diatas mungkin memang teramat istimewa, sebab yang dilakukan adalah aktivitas suci maha besar yang akan menyangkut kitab suci yang dibaca oleh milyaran orang hingga akhir zaman. Namun dapat kita petik hikmah, bahwa oleh para sahabat, yang beberapa diketahui sebagai penghafal Al Qur'an dan dikenal dalam kesehariannya memiliki akhlak mulia dan tabiat yang utama, ternyata bukti tertulis pun masih diperlukan untuk memperkuat informasi hafalan ayat suci Al Qur'an yang mereka simpan. Dan ketika sumber tertulis tersebut tidak ditemukan, mereka tidak serta merta saling percaya, namun terus mencari hingga pada akhirnya sumber penguat tersebut didapati ada pada salah seorang sahabat.
Kita memang tidak sedang dalam hal sedang mendokumentasikan kitab suci hari hari ini. Namun ada baiknya dalam mengelola informasi kita dapat meneladani apa yang para sahabat lakukan. Mari kita biasakan memeriksa sumber informasi yang kita terima sebelum kita sebarluaskan. Tidak cukup dengan sekedar "Wah yang menyebarkan orang baik kok" lalu serta merta kita percaya. Kita harus tetap mencari kejelasan atas informasi yang dikandung dan kredibilitas sumber informasinya. Sebab berita yang kita sebarkan bisa jadi akan dijadikan acuan untuk bertindak bagi sang penerima informasi. Maka, dapat kita bayangkan apabila kita dengan sengaja menyebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan lebih lebih berisi fitnah. Yang terjadi bukannya upaya saling menasehati, malah akan berujung pada upaya saling berbagi fitnah dan hasutan bukan? Semoga kita tergolong dalam barisan orang orang yang gemar memperbaiki diri dan saling menasehati dalam kebenaran. Amin
Sumber:
Shihab, M. Quraish, "Membumikan Al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat", Mizan, Bandung, Edisi ke-2 Cetakan I, 2013
Wednesday, June 25, 2014
Mendadak Tausiyah
Saya menemukan pengalaman yang sangat menyenangkan sore ini, baru beberapa menit menyandarkan punggung ke sandaran kursi taksi yang saya naiki menuju Stasiun Gambir, si bapak supir bertanya pada saya.
S: "Mas muslim?"
D: "Iya Pak"
S: "Oh saya kira non muslim, makanya tadi saya matikan radio ngaji nya"
D: "......." *senyum* sambil membatin "Masya Allah, begitu kerennya Bapak ini, sepanjang jalan mencari penumpang mobilnya dihiasi lantunan Al Qur'an dan begitu dapat penumpang yang dia kira bukan Muslim, dia matikan agar tidak mengganggu"
S: "Saya nyalain lagi ya Mas" pinta si Bapak dengan hormat, setelah saya mengangguk si Bapak menyalakan lagi radio nya.
Saya lagi melihat keluar ketika tiba tiba Bapak tersebut bicara, Beliau melantunkan dengan fasih sepotong ayat dari Al Qur'an. Surat Yasin ayat 82
“Inama Amruhu Idza Arada Sya’ian An Yaqula Lahu Kun Fayakun”
“Sesungguhnya bilamana Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah..”
S: "Mas muslim?"
D: "Iya Pak"
S: "Oh saya kira non muslim, makanya tadi saya matikan radio ngaji nya"
D: "......." *senyum* sambil membatin "Masya Allah, begitu kerennya Bapak ini, sepanjang jalan mencari penumpang mobilnya dihiasi lantunan Al Qur'an dan begitu dapat penumpang yang dia kira bukan Muslim, dia matikan agar tidak mengganggu"
S: "Saya nyalain lagi ya Mas" pinta si Bapak dengan hormat, setelah saya mengangguk si Bapak menyalakan lagi radio nya.
Saya lagi melihat keluar ketika tiba tiba Bapak tersebut bicara, Beliau melantunkan dengan fasih sepotong ayat dari Al Qur'an. Surat Yasin ayat 82
“Inama Amruhu Idza Arada Sya’ian An Yaqula Lahu Kun Fayakun”
Lalu dilanjutkan dengan artinya
Saya kurang paham kenapa si Bapak ini tetiba mengutip ayat tersebut, sebab tilawah yang sedang diputar dalam taksi tersebut tidak sedang berada di surat Yasin. Mungkin dia lihat muka saya sedang khawatir, atau mungkin sedang ingin saja iseng.
Lalu si Bapak ini meneruskan sambil tetap mengemudikan taksinya di tengah jalanan yang padat. Beliau bilang "Mas, kita ini kan makhluk. Nah yang namanya makhluk, seperti di ayat yang saya bacakan tadi, ndak semestinya terlalu kemrungsung dan kuatir. Atau menyesali hal hal yang telah terjadi. Kecuali kalau kita teledor, males, terus ada takdir buruk mengenai kita, mungkin kita akan menyesal. Tapi kalau kita udah berusaha, sudah ikhtiar, maka hal baik dan buruk yang terjadi ya memang karena sudah takdirnya harus terjadi". Cerita itu disambung beliau dengan beberapa contoh takdir takdir yang bisa terjadi dalam hidup. Sepanjang tausiyah ini saya cuman manggut manggut, sambil sesekali merespon membenarkan apa yang si Bapak katakan.
Taksi sandar di Gambir, saya membayar, mengucap salam dan mendoakan semoga hari ini laris taksinya. Saya turun melangkah kedalam stasiun sambil tersenyum. Saya yakin yang barusan itu bukan kebetulan, tempat dan waktu saya memanggil taksi, kecepatan taksi menuju lokasi saya, peluang taksi tersebut dihentikan penumpang lain sebelum saya, itu semua telah diatur oleh Allah SWT agar saya sempat mendengarkan tausiyah singkat barusan. Ini saya pandang sebagai cara Allah SWT mengingatkan saya dan menenangkan saya atas pilihan pilihan yang mungkin muncul di hari hari kedepan. Dan untuk meyakinkan saya bahwa sesungguhnya, bilamana Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah. :)))) Terimakasih Bapak taksi yang baik!!! :D
Tuesday, June 24, 2014
Jokowi dan Amanah
Akhir akhir ini saya menemui penyempitan makna yang dialami oleh kata
amanah. Seperti yang dulu sering kita pelajari di sekolah dasar, kata amanah
akhir akhir ini sedang mengalami nasib yang sama seperti kata ulama, sarjana,
madrasah dan sejenisnya. Sengaja atau tidak, jika dikaitkan dengan Jokowi makna
amanah seakan akan terbatas pada “Menghabiskan masa jabatan sesuai dengan jangka
waktu periode dia dilantik”. Maka tidak heran ketika Jokowi memutuskan maju sebagai
Calon Presiden RI label tidak amanah dengan telak menempel didahi beliau, yang
memang senantiasa terekspose sebagai konsekuensi gaya rambut belah samping.
Adapun beberapa pengertian amanah yang saya temukan adalah sebagai
berikut:
- Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan, “Amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain untuk dipelihara dan dikembalikan bila tiba saatnya atau bila diminta oleh pemiliknya.”
- Menurut Muhammad Abduh, “Amanah adalah menyampaikan hak apa saja kepada pemiliknya, tidak mengambil sesuatu melebihi haknya dan tidak mengurangi hak orang lain, baik berupa harga maupun jasa. Amanah merupakan hak bagi orang yang memlikul beban yang berkaitan dengan hak orang lain untuk menunaikannya karena menyampaikan amanah.”
Jika kita lihat argumen dari dua sosok yang memiliki
kapabilitas dalam bidang agama diatas, selain dalam dimensi waktu, amanah harus
pula memenuhi karakter memelihara dan tidak menyalahgunakan kepercayaan selama
amanah tersebut dititipkan. Artinya, memenuhi karakter pemimpin amanah
tidak cukup sekedar menghabiskan masa bakti.
Jika definisi pemimpin amanah sekedar pemimpin yang
menghabiskan masa bakti, betapa beruntungnya Indonesia. Begitu banyak contoh
pemimpin di Indonesia yang ngotot ingin menyelesaikan masa baktinya hingga dia
menghalalkan berbagai cara. Bahkan kita punya contoh pemimpin yang enggan
menanggalkan jabatannya meskipun telah divonis bersalah dan telah mendekam di
dalam bui. Fakta bahwa begitu banyak pemimpin negeri ini yang menyelesaikan
masa bakti sesuai dengan jangka waktu dia dilantik namun minim prestasi,
terjerat kasus, dan membangun dinasti politik membuat saya ingin menarik
kesimpulan, bahwa label pemimpin amanah perlu mempertimbangkan aspek aspek yang
lebih substantif dari sekedar menghabiskan masa jabatan tepat waktu.
Hal kedua yang membuat saya berpikir bahwa melabeli seorang
pemimpin amanah atau tidak amanah perlu melihat lebih dari sekedar ketuntasan
masa bakti adalah tentang peran seorang pemimpin itu sendiri dalam masyarakat.
Seorang yang telah dikenal dan dipercaya memiliki kapabilitas dan kredibilitas dalam
jejak langkahnya akan sangat kecil kemungkinan terlepas dari amanah. Maka,
ketika dia mengambil jabatan atau fungsi baru ditengah masyarakat, besar
kemungkinan dia terpaksa tidak bisa menyelesaikan masa baktinya. Lalu bisakah
serta merta kita katakana dia tidak amanah? Tentu tidak bijak rasanya bila itu
kita lakukan teman teman.
Sebagai contoh adalah salah satu Gubernur dengan beragam
penghargaan di Indonesia, Ahmad Heryawan. Beliau adalah orang yang sampai detik
detik akhir terdengar akan dicalonkan sebagai cawapres oleh salah satu calon
dalam pilpres 2014. Padahal kita sama sama tahu, beliau baru saja terpilih
untuk memimpin Jawa Barat dalam masa bakti 2013-2018. Jikalau beliau maju pada
Pilpres 2014 ini, akankah kita langsung serta merta labeli beliau sebagai
pemimpin yang tidak amanah? Tentu tindakan tersebut akan terasa tidak tepat,
setidaknya bagi beberapa golongan orang yang sekarang terdepan melabeli Jokowi
sebagai pemimpin tidak amanah :p #ihik
Justru menjadi aneh apabila kita mempercayakan suatu jabatan
atau fungsi vital dalam masyarakat kepada orang yang sama sekali tidak sedang
memegang amanah. Kita wajib pertanyakan “Orang ini ngapain aja? Kenapa nggak
ada orang yang memberikan kepercayaan pada dia? Ada apa dengan track recordnya?”.
Orang yang hanya berdiam dalam masyarakat, padahal dia tahu punya potensi besar
untuk berkontribusi ditengah masyarakat, namun memilih diam tidak mengambil
peran penting, tentu ada yang harus dipertanyakan dari orang tersebut.
Jokowi, dengan segala kekurangan dan kelebihannya telah
mewarnai catatan kepemimpinannya dengan terobosan dan gagasan gagasan baru.
Beberapa gagasan dan terobosan beliau berujung pada penghargaan baik nasional
maupun internasional. Daftar penghargaan ini tidak sulit teman teman temukan
dengan meluangkan waktu barang satu dua menit untuk browsing. Institusi yang
memberikan penghargaan pun bukan institusi main main, beberapa memiliki
reputasi internasional. Dan yang paling penting, tidak sekalipun Jokowi tersangkut
kasus hukum ketika dia diberikan sebuah jabatan publik.
Bagaimana dengan kekurangan dan kritik yang muncul selama
Jokowi menjabat sebagai pemimpin? Seperti yang pernah saya katakan, pemimpin
yang banyak berkarya, pasti banyak dikritik. Sebab sudah takdirnya bahwa karya
akan identik dengan ketidaksempurnaan. Ingin sepi dari kritik? Mudah, duduk
manis saja, jangan berkarya, dan gencarlah bikin iklan selama bertahun tahun
dengan dana yang fantastis. Kritik secara berimbang tentu perlu agar dijadikan
catatan, namun ketika kita tutup mata dan hanya melihat kekurangan, niscaya
semua pemimpin akan terlihat buruk.
Maka teman teman, kembali saya ingatkan, sebelum terlalu
dini memberikan label “pengkhianat”, “tidak amanah”, “penipu” kepada seorang
pemimpin, tariklah nafas dulu dalam dalam, berikan otak kesempatan untuk
berpikir jernih. Mari melihat lebih luas aspek aspek dalam kepemimpinan yang
layak ditinjau sebagai standar menilai tingkat ke-amanah-an seorang pemimpin.
Jika kita sepakat bahwa bersih, berprestasi dan berkarya selama dia menjabat
adalah standar yang bisa kita jadikan tolok ukur dalam menilai tingkat
keamanahan seorang pemimpin, rasa rasanya sulit untuk mentah mentah mengatakan bahwa Jokowi tidak amanah.
- Pendapat Muhammad Abduh diambil dari: http://azizuljalali.blogspot.com/2012/04/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar.html dimana penulis artikel sumber mengutip dari Tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh, jilid 5, Dar al-Ma'rifat, Beirut
- Pendapat Quraish Shihab diambil dari: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/01/29/mhdoai-amanah-terbesar
Saturday, June 21, 2014
Soal Diuji dan Diujo
Gusti Allah itu memberi cobaan pada hamba nya bisa dalam dua bentuk. Bisa diuji, bisa diujo (dilimpahi kenikmantan).
Nabi Ayub itu diuji, Fir'aun itu diujo. Nabi Ayub selamat, Fir'aun binasa.
Ya Gusti Allah, Engkau Maha Melihat aib hambamu. Jika engkau buka aib-aibku, niscaya bercermin pun aku ragu.
Dan denganpun semua kesalahan itu, Engkau masih berikan aku nikmat yang berlimpah limpah. Ya Allah, golongkan hamba kedalam golongan hambamu yang mahir bersyukur dan tidak melampaui batas. Ya Allah, masukkan hamba kedalam golongan orang orang yang gemar bertaubat, memohon ampunan kepadaMu.
Amin
Nabi Ayub itu diuji, Fir'aun itu diujo. Nabi Ayub selamat, Fir'aun binasa.
Ya Gusti Allah, Engkau Maha Melihat aib hambamu. Jika engkau buka aib-aibku, niscaya bercermin pun aku ragu.
Dan denganpun semua kesalahan itu, Engkau masih berikan aku nikmat yang berlimpah limpah. Ya Allah, golongkan hamba kedalam golongan hambamu yang mahir bersyukur dan tidak melampaui batas. Ya Allah, masukkan hamba kedalam golongan orang orang yang gemar bertaubat, memohon ampunan kepadaMu.
Amin
Wednesday, May 14, 2014
Pemimpin Yang Saat Ini Kita Butuhkan
Kita butuh pemimpin yang cermat saat merencanakan, namun dingin saat mengeksekusi
Seorang yang mencintai bangsa ini, lebih daripada dia mencintai dirinya sendiri
Seorang yang rela dan ikhlas mengambil keputusan tidak populer saat ini, tapi akan disyukuri nanti
Kita butuh pemimpin yang bisa bernafas diantara gang gang sempit, dipinggir selokan selokan mampet
Seorang yang mampu berada ditengah masyarakat kecil tanpa merasa risih
Seorang yang nyaman berada diantara keringat buruh dan nelayan, karena kesederhanaan telah menjadi nafasnya
Kita butuh pemimpin yang didepan penegakan keadilan, matanya tertutup dari subjektifitas kelompok
Seorang yang berani berkomitmen menggilas siapapun yang culas apapun resikonya
Seorang yang tidak sembunyi dibalik kata stabilitas negara, atas hal hal yang selayaknya diungkap
Kita butuh pemimpin yang berkomitmen mencerdaskan anak bangsa, bukan sekedar mencetak kuli kuli berijazah
Seorang yang mempersiapkan pendidikan bagi putra putri terbaik bangsa, seperti dia menyiapkan mendidikan untuk anaknya sendiri
Seorang yang tanpa kompromi dalam keyakinan, bahwa kualitas manusia, adalah aset terbesar bangsa ini
Berkali kali kita berharap, dan mungkin berkali kali pula harapan itu akan gugur
Namun ini bukan jadi alasan kita untuk berhenti berharap dan berhenti berjuang
Karena pada semua yang gugur, takdirnya adalah untuk bersemi kembali
Seorang yang mencintai bangsa ini, lebih daripada dia mencintai dirinya sendiri
Seorang yang rela dan ikhlas mengambil keputusan tidak populer saat ini, tapi akan disyukuri nanti
Kita butuh pemimpin yang bisa bernafas diantara gang gang sempit, dipinggir selokan selokan mampet
Seorang yang mampu berada ditengah masyarakat kecil tanpa merasa risih
Seorang yang nyaman berada diantara keringat buruh dan nelayan, karena kesederhanaan telah menjadi nafasnya
Kita butuh pemimpin yang didepan penegakan keadilan, matanya tertutup dari subjektifitas kelompok
Seorang yang berani berkomitmen menggilas siapapun yang culas apapun resikonya
Seorang yang tidak sembunyi dibalik kata stabilitas negara, atas hal hal yang selayaknya diungkap
Kita butuh pemimpin yang berkomitmen mencerdaskan anak bangsa, bukan sekedar mencetak kuli kuli berijazah
Seorang yang mempersiapkan pendidikan bagi putra putri terbaik bangsa, seperti dia menyiapkan mendidikan untuk anaknya sendiri
Seorang yang tanpa kompromi dalam keyakinan, bahwa kualitas manusia, adalah aset terbesar bangsa ini
Berkali kali kita berharap, dan mungkin berkali kali pula harapan itu akan gugur
Namun ini bukan jadi alasan kita untuk berhenti berharap dan berhenti berjuang
Karena pada semua yang gugur, takdirnya adalah untuk bersemi kembali
Saturday, May 10, 2014
Umat Islam Hari Ini
Saya lihat wajah Umat Islam akhir akhir ini (setidaknya yang saya lihat di keseharian saya, di Indonesia) itu seperti sekumpulan ikan ikan kecil yang jumlahnya banyak sekali. Ikan ikan ini, entah apa sebab dan motivasinya, sibuk berantem satu sama lain.
Akibat gesekan fisik dari ikan ikan kecil yang berantem ini, darah pun keluar. Bau darah ini, kemudian dicium oleh pemangsa, katakanlah ikan hiu. Ikan hiu ini mendapat petunjuk jelas, dimana, kapan dan bagaimana cara terbaik untuk memangsa ikan ikan ini. Gampang aja toh namanya pemangsa, udah takdirnya peka terhadap bau anyir darah.
Ikan hiu pun datang, menghajar, memangsa, menebas, dan menumpahkan lebih banyak darah. Ikan ikan kecil sejenak terpana, menyadari betapa mereka telah lemah dan sibuk bertikai satu sama lain.
Lalu apakah mereka kemudian bersatu? Tidak, selanjutnya mereka sibuk menuding kelompok ikan kecil mana yang menjadi antek ikan hiu yang disisipkan untuk menghancurkan kelompok kelompok ikan kecil itu. Darah makin anyir, ikan hiu makin ramai berdatangan.
Akibat gesekan fisik dari ikan ikan kecil yang berantem ini, darah pun keluar. Bau darah ini, kemudian dicium oleh pemangsa, katakanlah ikan hiu. Ikan hiu ini mendapat petunjuk jelas, dimana, kapan dan bagaimana cara terbaik untuk memangsa ikan ikan ini. Gampang aja toh namanya pemangsa, udah takdirnya peka terhadap bau anyir darah.
Ikan hiu pun datang, menghajar, memangsa, menebas, dan menumpahkan lebih banyak darah. Ikan ikan kecil sejenak terpana, menyadari betapa mereka telah lemah dan sibuk bertikai satu sama lain.
Lalu apakah mereka kemudian bersatu? Tidak, selanjutnya mereka sibuk menuding kelompok ikan kecil mana yang menjadi antek ikan hiu yang disisipkan untuk menghancurkan kelompok kelompok ikan kecil itu. Darah makin anyir, ikan hiu makin ramai berdatangan.
Friday, May 2, 2014
Menyenangkan :3
Beberapa hari ini saya disibukkan dengan persiapan technical test untuk proses rekrutmen perusahaan sponsor beasiswa saya. Dan karena cuaca lagi nggak asik, saya pun sempet sakit beberapa hari kemarin. Menyadari saya sakit, Bapak sama Ibuk setiap hari, saya ulangi setiap hari, nelfon nanya udah makan belum, udah enakan belum dan suruh istirahat. Alhamdulillah :,)
Saya bukan anak yang jarang pisah dengan orang tua, dari SMA saya sudah ngekos. Bapak Ibuk di Jombang saya SMA di Surabaya. Terus sampai kuliah S1 dan S2 di Jawa Barat. Tapi Bapak Ibuk nggak pernah memandang saya sebagai orang dewasa. Mungkn karena saya emang anaknya ceroboh. Dan diperhatikan seperti ini menyenangkan buat saya :3
Dua hari ini, setiap ditelfon saya lebih sering jawab "Nggih, Sampun Pak, Nggih, Udah Okik siapin, nggih. Sampun..." Menjawab pertanyaan dan arahan dari Bapak atau Ibuk untuk tidak lupa membawa hal hal detail, dan barusan, baru saja malam ini, saya telfon Ibuk dan sayup sayup terdengar suara Bapak bilang "Buk, Okik suruh bawa shampoo". Saya seneng sekali dengernya :')
Saya tahu, sampai kapanpun, tidak peduli saya sudah belajar sejauh apa, saya sudah berpengalaman kerja dan organisasi seperti apa, dan betapapun saya ngrasa udah jadi jagoan, dimata Bapak dan Ibuk, Okik akan selalu jadi anak kecil ingusan yang suka nangis karena tempat minumnya ketinggalan di sekolah :3
Terimakasih Bapak, Ibuk. Untuk rasa cinta yang begitu terasa, untuk perhatian yang begitu dekat. Bapak dan Ibuk adalah inspirasi tanpa henti, Bapak dan Ibuk adalah cahaya sebelum cahaya :)))))
Saya bukan anak yang jarang pisah dengan orang tua, dari SMA saya sudah ngekos. Bapak Ibuk di Jombang saya SMA di Surabaya. Terus sampai kuliah S1 dan S2 di Jawa Barat. Tapi Bapak Ibuk nggak pernah memandang saya sebagai orang dewasa. Mungkn karena saya emang anaknya ceroboh. Dan diperhatikan seperti ini menyenangkan buat saya :3
Dua hari ini, setiap ditelfon saya lebih sering jawab "Nggih, Sampun Pak, Nggih, Udah Okik siapin, nggih. Sampun..." Menjawab pertanyaan dan arahan dari Bapak atau Ibuk untuk tidak lupa membawa hal hal detail, dan barusan, baru saja malam ini, saya telfon Ibuk dan sayup sayup terdengar suara Bapak bilang "Buk, Okik suruh bawa shampoo". Saya seneng sekali dengernya :')
Saya tahu, sampai kapanpun, tidak peduli saya sudah belajar sejauh apa, saya sudah berpengalaman kerja dan organisasi seperti apa, dan betapapun saya ngrasa udah jadi jagoan, dimata Bapak dan Ibuk, Okik akan selalu jadi anak kecil ingusan yang suka nangis karena tempat minumnya ketinggalan di sekolah :3
Terimakasih Bapak, Ibuk. Untuk rasa cinta yang begitu terasa, untuk perhatian yang begitu dekat. Bapak dan Ibuk adalah inspirasi tanpa henti, Bapak dan Ibuk adalah cahaya sebelum cahaya :)))))
Saturday, April 26, 2014
Soal Parameter Kesuksesan Dakwah
Siang ini saya nemu paragraf yang manis sekali, dari buku "Membumikan Al Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat" karya salah satu intelektual Muslim terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia. Prof. Quraish Shihab. Paragraf ini tentang parameter kesuksesan Dakwah. Begini bunyinya:
"Sukses-tidaknya suatu dakwah bukanlah diukur lewat gelak tawa atau tepuk riuh pendengarnya, bukan pula dengan ratap tangis mereka. Sukses tersebut diukur lewat, antara lain, pada bekas (atsar) yang ditinggalkan dalam benak pendengarnya ataupun kesan yang terdapat dalam jiwa, yang kemudian tercermin dalam tingkah laku mereka. Untuk mencapai sasaran tersebut, tentunya semua unsur dakwah harus mendapat perhatian dari da'i."
Saya sangat setuju dengan pernyataan Prof. Quraish dalam paragraf diatas, dan bila mau kita kaitkan dengan kondisi umat Muslim di Indonesia pada hari hari ini, bila kita lihat dari cerminan tingkah laku mereka, mungkin ini adalah gambaran tentang betapa da'i da'i kita masih menitik beratkan pada hal hal yang sifatnya meriah secara seremonial. Betapa sering saya temukan dalam keseharian bentuk bentuk dakwah yang jenaka, atau penuh air mata, tapi setelah itu lewat saja, tidak berbekas dalam hati. Semoga ini menjadi perhatian dan poin evaluasi bagi seluruh Muslim Indonesia. Karena hakikatnya setiap kita adalah Da'i :)))
"Sukses-tidaknya suatu dakwah bukanlah diukur lewat gelak tawa atau tepuk riuh pendengarnya, bukan pula dengan ratap tangis mereka. Sukses tersebut diukur lewat, antara lain, pada bekas (atsar) yang ditinggalkan dalam benak pendengarnya ataupun kesan yang terdapat dalam jiwa, yang kemudian tercermin dalam tingkah laku mereka. Untuk mencapai sasaran tersebut, tentunya semua unsur dakwah harus mendapat perhatian dari da'i."
Saya sangat setuju dengan pernyataan Prof. Quraish dalam paragraf diatas, dan bila mau kita kaitkan dengan kondisi umat Muslim di Indonesia pada hari hari ini, bila kita lihat dari cerminan tingkah laku mereka, mungkin ini adalah gambaran tentang betapa da'i da'i kita masih menitik beratkan pada hal hal yang sifatnya meriah secara seremonial. Betapa sering saya temukan dalam keseharian bentuk bentuk dakwah yang jenaka, atau penuh air mata, tapi setelah itu lewat saja, tidak berbekas dalam hati. Semoga ini menjadi perhatian dan poin evaluasi bagi seluruh Muslim Indonesia. Karena hakikatnya setiap kita adalah Da'i :)))
Thursday, April 24, 2014
Soal Kafir
“Apabila seorang muslim menyatakan satu pendapat yang kalau dilihat dari seratus sisi tampak kufur, tapi ada satu sisi saja yang terlihat masih dalam iman, maka orang tersebut tidak bisa dicap sebagai kafir.”
-Muhammad Abduh-
Sumber: http://islami.co/hukum/217/3/sesat-itu-tidak-gampang.html#sthash.dhlx1mXo.dpuf
Thursday, March 20, 2014
Wednesday, March 12, 2014
Alhamdulillah dan Terimakasih!!!
Alhamdulillah, kemarin tanggal 11 Maret 2014 Saya diberikan kesempatan dan kemudahan untuk mempertahankan tugas akhir dalam program magister saya di Teknik Perminyakan ITB :)) Semoga berkah!! 13 Semester saya habiskan di kampus, 2 semester di ITS (Teknik Lingkungan/Tidak Selesai/2007), 8 semester di UI (Teknik Industri/S1/2008-2012) dan 3 semester di ITB (Teknik Perminyakan/S2/2012-2014). Dan masih, saya merasa tidak tahu apa apa : p Semoga senantiasa diberi kemudahan dan kesempatan untuk menuntut ilmu, dimanapun tempatnya, dan apapun medianya. Amiiiiin.
Thursday, February 27, 2014
Antara Kata dan Perbuatan
Pagi ini saya tercubit, atau tertusuk dengan twit Jumat dari Gus Mus
Hehehe, kalau pada kenal saya di kehidupan sehari hari, saya tipe orang yang boleh dibilang cukup banyak "ngemeng" :p (sorry guys). Dan dalam beberapa kasus saya sering ngomong secara menggurui, sok bijak dan sok pinter. Nggak asik lah pokoknya :)) Maka twit ini nampol banget buat orang orang macam saya, yang sering kali lebih terampil nasehatin orang lewat kata kata dibanding lewat perbuatan. Semoga menjadi bahan instrospeksi di hari Jumat yang semangat ini :)))
Hehehe, kalau pada kenal saya di kehidupan sehari hari, saya tipe orang yang boleh dibilang cukup banyak "ngemeng" :p (sorry guys). Dan dalam beberapa kasus saya sering ngomong secara menggurui, sok bijak dan sok pinter. Nggak asik lah pokoknya :)) Maka twit ini nampol banget buat orang orang macam saya, yang sering kali lebih terampil nasehatin orang lewat kata kata dibanding lewat perbuatan. Semoga menjadi bahan instrospeksi di hari Jumat yang semangat ini :)))
Wednesday, February 26, 2014
Soal Cinta
Beberapa hari yang lalu, saya dapet pertanyaan yang cukup lucu.
"Mas, kenapa sih lo suka nyinyir sama golongan A? Posisi lo gimana? Sebenernya tujuan lo apa?"
Pertanyaan macam ini bikin saya berkesimpulan, beberapa orang beranggapan bahwa kritik bukan bagian dari proses mencintai. Padahal saya beranggapan sebaliknya, kritik adalah bentuk perhatian, bentuk kepedulian dan bentuk pengorbanan.
Coba cek orang di sekitar anda, siapa yang paling sering mengkritik anda? Yang paling keras mengingatkan ketika anda berbuat salah? Besar kemungkinan mereka adalah orang orang yang nyata nyata sangat cinta pada anda. Bisa Ayah, Ibu, Saudara, Sahabat, Guru dan lain lain.
Bagi saya, orang yang dalam cinta nya tidak mengenal kritik maka belajar dia tentang cinta baru sampai semester dua.
Sekian
"Mas, kenapa sih lo suka nyinyir sama golongan A? Posisi lo gimana? Sebenernya tujuan lo apa?"
Pertanyaan macam ini bikin saya berkesimpulan, beberapa orang beranggapan bahwa kritik bukan bagian dari proses mencintai. Padahal saya beranggapan sebaliknya, kritik adalah bentuk perhatian, bentuk kepedulian dan bentuk pengorbanan.
Coba cek orang di sekitar anda, siapa yang paling sering mengkritik anda? Yang paling keras mengingatkan ketika anda berbuat salah? Besar kemungkinan mereka adalah orang orang yang nyata nyata sangat cinta pada anda. Bisa Ayah, Ibu, Saudara, Sahabat, Guru dan lain lain.
Bagi saya, orang yang dalam cinta nya tidak mengenal kritik maka belajar dia tentang cinta baru sampai semester dua.
Sekian
Monday, February 3, 2014
Kesatria, Menang, Kalah
Senja menjelang dilangit Kurusetra, keheningan yang semestinya menjadi milik langit menjelang malam, saat itu terusik dengan berita yang sampai ketelinga para Pandhawa. Dari pihak Kurawa, Adipati Karna memutuskan melanjutkan perang, merangsek ke perkemahan para prajurit pihak Pandhawa yang tengah beristirahat. Pun telah ditetapkan bahwa selepas senja adalah saat beristirahat dan perang semestinya dihentikan, namun inilah peperangan, diatas kertas boleh ada peraturan, namun dimedan laga senjata dan amarah seringkali punya aturan sendiri. Prajurit dari pihak Pandhawa pun kocar kacir, bukan karena mereka tidak siap, bukan mereka tidak sigap, namun harus diketahui bahwa Adipati Karna bukan ksatria sembarangan, kesaktiannya tidak bisa dibandingkan dengan ksatria biasa, bahkan dibandingkan dengan para Pandhawa pun, hanya Arjuna yang kabarnya sanggup menandingi kemahiran Adipati Karna dalam ilmu memanah.
Pandhawa tidak bisa terus berdiam, menunda pengambilan keputusan artinya sama dengan menambah jumlah prajurit yang meregang nyawa. Harus segera diputuskan, siapa yang harus dikirim untuk meredam serangan mematikan Kurawa yang dipimpin oleh Adipati Karna. Keputusan ini tidak boleh main main, gegabah mengambil tindakan dapat berujung petaka. Siapapun tahu, tidak banyak ksatria yang bisa pulang masih bernyawa setelah berhadapan dengan Adipati Karna.
Arjuna, mengetahui fakta bahwa dialah yang memiliki kesaktian yang setara dengan Karna angkat bicara. "Kanda Yudhistira, biarlah saya yang turun gelanggang menyambut Kakang Adipati Karna. Tidak sampai hati saya mengetahui akan lebih banyak lagi darah prajurit kita tertumpah semasa kita termenung disini". Yudhistira terdiam, dia mengetahui bahwa apa yang disampaikan Arjuna adalah hal yang masuk akal, namun sebagai sulung Pandhawa, belum sampai hatinya mengizinkan adiknya turun berperang melawan Adipati Karna, terlebih karena perang itu berlangsung diwaktu yang sebenarnya terlarang untuk berperang, diwaktu yang tidak sewajarnya seorang Kesatria mengangkat senjata.
Kresna, penasihat di kubu Pandhawa kemudian bersuara, "Saya rasa, tidaklah bijak mengirim Arjuna menuju medan peperangan berhadapan dengan Adipati Karna. Saran saya, biarlah Gatotkaca, ksatria dari Pringgandani yang maju memimpin sebagai senopati dari pasukan Pandhawa".
Mendengar itu Werkudara terpatik rasa tanya bercampur khawatir "Hai Kresna, meski Gatotkaca kubesarkan sebagai kesatria, dan sudah semestinya seorang kesatria bergi melaksanakan budi dharma nya melumat angkara murka. Apakah dasarnya kau mengirimkan anakku menghadapi Adipati Karna? Siapkah kau bertanggung jawab apabila sesuatu terjadi padanya?" sungut Werkudara.
"Dinda Werkudara, kalah, menang kematian dan hidup bukan kah itu telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa? Dan bukankah Baratayudha ini telah tertulis dalam lembaran takdir siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah?"
Situasi hening, namun sebenarnya setiap orang yang ada dalam ruangan itu, para Pandhawa, penasihat kerajaan, senopati perang sedang sibuk meresapi perkataan Kresna, kata demi katanya. "Dinda Werkudara, diantara kita yang ada disini, hanya putramu, Gatotkaca yang memiliki mata Suryakanta yang dapat melihat dengan jelas dimalam hari, dan juga kutang Antakusuma, pusaka yang dari dadanya dapat bersinar cahaya yang terang. Yang tentu kedua hal ini akan menjadi keuntungan bagi pihak Pandhawa untuk menghadapi bala Kurawa yang dipimpin Adipati Karna". Sebelum kata kata itu terlepas dari mulut Kresna, sebenarnya dia telah mengetahui dengan mengintip dari kitab Jitabsara bahwa telah tiba waktu Gatotkaca menghadap Yang Maha Kuasa. Dan kepulangan Gatotkaca malam itu, akan berakibat besar pada keberlangsungan perang Baratayudha.
Mendengar penjelasan yang jernih dari Kresna, Werkudara pun akhirnya bisa menerima masukan dari penasihat Pandhawa yang kebijaksanaannya telah terkenal di seantero dunia wayang tersebut. Akhirnya Gatotkaca dipanggil. Setelah disampaikan kepadanya maksud pemanggilan, bahwa dia akan diutus meredam serangan Kurawa yang dipimpin oleh kesatria pilih tanding Adipati Kresna. Gatotkaca tersenyum, "Sudah lama aku menantikan saat saat ini, saat dimana aku diamanahkan untuk turun ke gelanggang perang, melumat angkara murka dan menegakkan kebenaran sebenar benarnya." Semua yang hadir terdiam, dan terpukau dengan keberanian Gatotkaca yang tercermin lewat rangkaian kata katanya yang diucapkan tanpa sedikitpun nada ragu.
Kelanjutan dari cerita ini, memiliki banyak versi. Namun dari sekian banyak versi itu, semuanya berakhir sama. Gatotkaca Gugur. Iya, bagi orang orang yang dangkal, maka akan melihat Gatotkaca sebagai sosok yang kalah disini. Pusaka tersakti Adipati Karna telah menembus dada Gatotkaca. Mencabut nyawanya dan membawanya bertemu Sang Maha Pencipta. Namum apabila kita lihat Baratayudha sebagai pertempuran yang utuh, sesungguhnya kematian Gatotkaca ini tidak sia sia, bahkan boleh dibilang memiliki andil besar memenangkan Pandhawa dalam perang besar Baratayudha.
Dalam perang ini, kematian Gatotkaca harus dibayar mahal oleh senapati Kurawa, Adipati Karna. Karna harus menggunakan pusaka tersaktinya, yang hanya bisa dipakai sekali untuk menghentikan langkah Gatotkaca. Pusaka ini, sebenarnya ingin disimpan oleh Karna untuk menghadapi Arjuna, satu satunya Pandhawa yang bisa menandingi kesaktian Adipati Karna dalam pertempuran memanah. Kedua, sesaat sebelum mati, Gatotkaca mengamalkan ajian yang merubah jasadnya yang terjatuh (Gatotkaca terpanah ketika sedang terbang tinggi menghindari pusaka Adipati Karna) menjadi beberapa kali lebih besar dari tubuhnya, dan kejatuhan jasad ini bukan hanya membunuh banyak prajurit Kurawa, namun juga menyebabkan kerusakan pada kereta perang yang dinaiki Adipati Karna. Dimana kerusakan ini turut mengurangi kehebatan Adipati Karna saat nanti bertempur dengan Arjuna.
Demikianlah epos agung Mahabarata menggambarkan tentang jalan hidup seorang kesatria, dan warna kemenangan dan kekalahan dalam perjuangannya. Bagi seorang kesatria, pertempuran, perjuangan adalah bentuk mengamalkan dharma bakti. Ada hal hal besar, agung dan mulia yang mendorong seorang kesatria untuk turun berjuang, yang jauh lebih penting dari sekedar hitungan menang kalah, jauh lebih bemakna dari sekedar gagal dan berhasil.
Sebagai seorang yang tumbuh dengna membaca kisah kisah heroik dari epos Mahabarata dari kecil, sedikit banyak alam pikiran saya terwarnai dengan nilai nilai yang ada di dalamnya. Jadi ketika saya memilih cita cita, pilihan atau langkah perjuangan dan ada orang yang bilang "Ngapain sih Dwik? Udah nggak akan menang, nggak akan berhasil" secara otomatis hati saya akan jawab "Maaf bro, buat gua ini lebih dari sekedar menang kalah atau gagal berhasil".
Sekian, semoga bermanfaat : D
Mendengar itu Werkudara terpatik rasa tanya bercampur khawatir "Hai Kresna, meski Gatotkaca kubesarkan sebagai kesatria, dan sudah semestinya seorang kesatria bergi melaksanakan budi dharma nya melumat angkara murka. Apakah dasarnya kau mengirimkan anakku menghadapi Adipati Karna? Siapkah kau bertanggung jawab apabila sesuatu terjadi padanya?" sungut Werkudara.
"Dinda Werkudara, kalah, menang kematian dan hidup bukan kah itu telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa? Dan bukankah Baratayudha ini telah tertulis dalam lembaran takdir siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah?"
Situasi hening, namun sebenarnya setiap orang yang ada dalam ruangan itu, para Pandhawa, penasihat kerajaan, senopati perang sedang sibuk meresapi perkataan Kresna, kata demi katanya. "Dinda Werkudara, diantara kita yang ada disini, hanya putramu, Gatotkaca yang memiliki mata Suryakanta yang dapat melihat dengan jelas dimalam hari, dan juga kutang Antakusuma, pusaka yang dari dadanya dapat bersinar cahaya yang terang. Yang tentu kedua hal ini akan menjadi keuntungan bagi pihak Pandhawa untuk menghadapi bala Kurawa yang dipimpin Adipati Karna". Sebelum kata kata itu terlepas dari mulut Kresna, sebenarnya dia telah mengetahui dengan mengintip dari kitab Jitabsara bahwa telah tiba waktu Gatotkaca menghadap Yang Maha Kuasa. Dan kepulangan Gatotkaca malam itu, akan berakibat besar pada keberlangsungan perang Baratayudha.
Mendengar penjelasan yang jernih dari Kresna, Werkudara pun akhirnya bisa menerima masukan dari penasihat Pandhawa yang kebijaksanaannya telah terkenal di seantero dunia wayang tersebut. Akhirnya Gatotkaca dipanggil. Setelah disampaikan kepadanya maksud pemanggilan, bahwa dia akan diutus meredam serangan Kurawa yang dipimpin oleh kesatria pilih tanding Adipati Kresna. Gatotkaca tersenyum, "Sudah lama aku menantikan saat saat ini, saat dimana aku diamanahkan untuk turun ke gelanggang perang, melumat angkara murka dan menegakkan kebenaran sebenar benarnya." Semua yang hadir terdiam, dan terpukau dengan keberanian Gatotkaca yang tercermin lewat rangkaian kata katanya yang diucapkan tanpa sedikitpun nada ragu.
Kelanjutan dari cerita ini, memiliki banyak versi. Namun dari sekian banyak versi itu, semuanya berakhir sama. Gatotkaca Gugur. Iya, bagi orang orang yang dangkal, maka akan melihat Gatotkaca sebagai sosok yang kalah disini. Pusaka tersakti Adipati Karna telah menembus dada Gatotkaca. Mencabut nyawanya dan membawanya bertemu Sang Maha Pencipta. Namum apabila kita lihat Baratayudha sebagai pertempuran yang utuh, sesungguhnya kematian Gatotkaca ini tidak sia sia, bahkan boleh dibilang memiliki andil besar memenangkan Pandhawa dalam perang besar Baratayudha.
Dalam perang ini, kematian Gatotkaca harus dibayar mahal oleh senapati Kurawa, Adipati Karna. Karna harus menggunakan pusaka tersaktinya, yang hanya bisa dipakai sekali untuk menghentikan langkah Gatotkaca. Pusaka ini, sebenarnya ingin disimpan oleh Karna untuk menghadapi Arjuna, satu satunya Pandhawa yang bisa menandingi kesaktian Adipati Karna dalam pertempuran memanah. Kedua, sesaat sebelum mati, Gatotkaca mengamalkan ajian yang merubah jasadnya yang terjatuh (Gatotkaca terpanah ketika sedang terbang tinggi menghindari pusaka Adipati Karna) menjadi beberapa kali lebih besar dari tubuhnya, dan kejatuhan jasad ini bukan hanya membunuh banyak prajurit Kurawa, namun juga menyebabkan kerusakan pada kereta perang yang dinaiki Adipati Karna. Dimana kerusakan ini turut mengurangi kehebatan Adipati Karna saat nanti bertempur dengan Arjuna.
Demikianlah epos agung Mahabarata menggambarkan tentang jalan hidup seorang kesatria, dan warna kemenangan dan kekalahan dalam perjuangannya. Bagi seorang kesatria, pertempuran, perjuangan adalah bentuk mengamalkan dharma bakti. Ada hal hal besar, agung dan mulia yang mendorong seorang kesatria untuk turun berjuang, yang jauh lebih penting dari sekedar hitungan menang kalah, jauh lebih bemakna dari sekedar gagal dan berhasil.
Sebagai seorang yang tumbuh dengna membaca kisah kisah heroik dari epos Mahabarata dari kecil, sedikit banyak alam pikiran saya terwarnai dengan nilai nilai yang ada di dalamnya. Jadi ketika saya memilih cita cita, pilihan atau langkah perjuangan dan ada orang yang bilang "Ngapain sih Dwik? Udah nggak akan menang, nggak akan berhasil" secara otomatis hati saya akan jawab "Maaf bro, buat gua ini lebih dari sekedar menang kalah atau gagal berhasil".
Sekian, semoga bermanfaat : D
Sunday, January 19, 2014
Soal Takdir
Ketika di Syam (Suriah, Palestina, dan sekitarnya) terjadi wabah, Umar bin Khaththab yang ketika itu bermaksud berkunjung ke sana membatalkan rencana beliau. Dan ketika itu, tampillah seseorang bertanya, "Apakah Anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?" Umar ra menjawab, "Saya lari/menghindar dari takdir Tuhan ke takdir-Nya yang lain."
Kutipan diatas singkat, sederhana, tapi bikin saya termenung tak sudah sudah : )
Sumber tulisan lengkapnya yang ditulis oleh Prof Quraish Shihab dapat dibaca disini : http://ramadan.detik.com/read/2013/07/12/152910/2301071/1254/allah-mengatur-takdir-manusia-menjalaninya
Subscribe to:
Posts (Atom)