Anak-anak nakal berteriak, beraksi.
Dalam terik dalam hujan, dalam siang dalam malam.
Berteriak mereka tentang reformasi, tentang perubahan,
Tentang bayi cacat yang tumbuh besar.
Di depan gerbang kokoh rumah Presiden.
Berkumpul mereka riuh.
Sebagian karena warisan semangat perubahan.
Sebagian karena pencarian identitas,
Sebagian karena pembuktian eksistensi.
Sebagian hadir sebagai masa jarkoman.
Tak jauh dari situ, sungguh tak jauh.
Sang raja sedang ramah-ramah.
Dengan sekelompok anak pintar.
Anak rajin yang manis manis.
Depan istana jaket kuning depan sang raja jaket kuning.
Yang di depan Istana tak sanggup sampaikan suara hati.
Yang di depan Raja tak sanggup mendengarkan suara hati.
Yang di istana nunggu dengan hati miris.
Yang di depan sang raja senyum-senyum anak manis.
Yang di depan raja cerita pulang acaranya menarik.
Yang di depan istana sedang membangun nuansa heroik.
Dan aku terdiam di sini,
Terlalu sibuk dengan diriku sendiri.
NB : Terinspirasi dengan saudara saya yang baru brangkat aksi nginep di Istana, dan seorang teman yang baru pulang dari jamuan harkitnas. Paradoks.