Sunday, September 27, 2009

Mudik, Sebuah Sisi Lain dari Salah Satu Pergerakan Manusia Terbesar di Indonesia






Operator : “Ya dengan reservasi kereta, ada yang bisa saya bantu”
Dwiki : “Mau book tiket untuk tanggal 26 atau 25 mbak, tujuan Jakarta keberangkatan dari stasiun Gubeng”
Operator : “Semuanya sudah terisi bapak”
Dwiki : “Kalau yang lewat Pasar Turi?”
Operator : “Ada bapak, tinggal satu untuk Argo Anggrek keberangkatan pukul 20.00 malam ini. Semua tiket jurusan Jakarta baru ada lagi di atas tanggal 30.”
Dwiki : “Ok, saya ambil”

Potongan percakapan itu terjadi antara saya dan operator reservasi tiket kereta api pada tanggal 25 September 2009. Saya termasuk beruntung, sangat-sangat beruntung karena masih kebagian tiket kereta untuk pulang, padahal saya baru cari tiket pada hari H keberangkatan lhow. Seorang teman saya yang udah jauh-jauh hari nyari, eh ternyata nggak kebagian dan dia terpaksa pulang ke Jakarta naik Bus, mengingat tanggal 28 perkuliahan sudah dimulai dan tiket baru tersedia di atas tanggal 30 September.

Berangkat dari Jombang, kebetulan lagi saya masih diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk diantar pake kendaraan kantor tempat bapak kerja. Jadi saya nggak perlu ikut berdesak-desakan dengan orang –orang yang pada balik dari Jombang ke Surabaya. Sepanjang perjalanan, saya nggak henti bersyukur karena Mudik saya tahun ini berjalan dengan sangat sangat lancar dengan fasilitas yang cukup prima.

Sampai di Stasiun Pasar Turi, lagi-lagi saya disambut dengan kemudahan. Ruang tunggu yang tadinya penuh, eh begitu saya masuk penumpangnya pada kluar, soalnya ada kereta yang brangkat juga. Waktu lagi nunggu itulah saya sempet liat acara liputan arus balik yang ditayangin di TV. Di liputan itu dilaporkan bahwa arus balik akan memuncak pada malam itu (25 September) dan Besok (26 September). Serta ditampilkan pula gambar orang yang tengah berdesakan di Stasiun Madiun. Yang paling membuat saya tertegun adalah statement akhir dari pembawa berita tersebut yang mengatakan bahwa jumlah orang yang terlibat dalam Mudik 2009 ini meningkat dari tahun lalu secara tajam.

Bayangkan teman, tak kurang dari 16 Juta orang terlibat dalam arus mudik tahun ini! Mereka umumnya bergerak dari kota-kota besar ke daerah-daerah asal mereka. Perpindahan ini tentu tidak hannya perpindahan manusia, tapi juga menyangkut perpindahan aliran Uang yang cukup besar. Sedikitnya di Jawa Tengah saja, tahun ini uang yang mengalir diperkirakan tak kurang dari 1,4 Triliun.

Kalau mau kita cermati, sebenarnya fenomena mudik ini bisa memberikan beberapa gambaran tentang keadaan negeri ini, baik pembangunannya, pendidikanya bahkan hingga mental bangsanya.

Dari segi pembangunan, maka jelas fenomena Mudik ini memperlihatkan masih jelasnya kesenjangan pembangunan antara kota dan daerah. Desa belum begitu menarik untuk tinggal dan mencari rezeki dibandingan dengan perkotaan yang menawarkan berbagai kemudahan. Ini artinya bertani relatif kurang diminati dari pada sektor industri. Hal ini harus mendapatkan penanganan serius kalau tidak mau ketahanan pangan kita terancam di masa yang akan datang. Industri Pertanian bukan tidak punya potensi untuk dikembangkan lhow.

Dari segi pendidikan, jelas bahwa fasilitas pendidikan belum tersedia secara merata di Indonesia. Universitas-Universitas papan atas rata-rata baru bercokol di pulau Jawa. Padahal kalau kita mau melihat lebih luas, Indonesia bukan hanya pulau Jawa.

Dari segi mental bangsa, fenomena ini menurut saya menunjukkan mentalitas bangsa ini yang masih komunal. Mereka tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh kuat kesukuan, asal dan daerah. Hal ini bukan sesuatu yang buruk bahkan bisa jadi suatu media untuk melestarikan budaya daerah yang ada. Hanya saja, jangan sampai rasa cinta pada rekan sedaerah, lantas membuat kita menutup mata akan tantangan yang ada di Ibukota, dan membawa ramai-ramai teman dari daerah untuk hidup dan mencari nafkah di Ibu Kota. Bila tak bisa bertahan, salah salah malah menambah jumlah pengangguran.

Kira-kira itu lah sedikit dari hal-hal yang bergelayut dibenak saya saat melihat mudik sebagai sebuah pergerakan manusia terbesar di Indonesia. Masalah infrastruktur mudik lah yang masih menjadi pengganjal dari kenyamanan mudik tahun ini. Entah kenapa saya berharap suatu saat nanti persebaran penduduk di negeri ini bisa merata. Sehingga suatu saat nanti mudik hanya merupakan ritual silaturahmi.