A: Kamu itu orang bodo tapi nggak mau ngaku!!
Saya: ......... *sambil nangis*
Percakapan itu terjadi kelas 3 SD, malem malem, di depan soal latihan ujian matematika yang saya nggak bisa selesaikan. Mulai malam itu setiap saya diremehkan saya nggak pernah sakit hati, karena saya udah pernah ngerasain yang paling sakit. Seluruh dunia boleh bilang kita bego, tapi nggak akan kejadian selama kita nggak percaya :))
Tuesday, July 16, 2013
Thursday, July 11, 2013
Penghinaan terhadap Kapabilitas Sebuah Bangsa
Barusan saya mendapat sebuah informasi menarik dari seorang teman, yaitu rilis dari sebuah perusahaan terhadap tawaran rencana dan pertimbangan strategis pengembangan sebuah proyek di Indonesia. Ketika saya baca, isinya (dalam kaca mata saya) sangat menyakitkan, bagaimana bisa bangsa sebesar Indonesia, ditakut takuti dengan kata kata "teknologi tinggi", "metode terbaru", "sumber daya manusia yang terlatih" dan "potensi kerugian bila dikelola sendiri". Bagi saya, meskipun seandainya pertimbangan yang disampaikan tersebut adalah benar (dan sepertinya memang benar) ini adalah penghinaan. Tidak bisa tidak, perlu komitmen besar dari setiap putra Indonesia untuk belajar keras dan mengangkat nama baik bangsa. Suatu saat kita yang akan katakan pada dunia, kami Bangsa Indonesia, berdaulat atas apa yang ada di bawah dan diatas bumi nusantara.
Monday, July 8, 2013
Antara Sakit Gigi dan Jempol Cantengan (Sedikit tentang Mesir-Aceh-Dan Kawan Kawan)
Okey, beberapa hari pasca terjadinya kudeta militer di Mesir beberapa teman mulai membahas tentang pro dan kontra terhadap fenomena poilitik di negeri asal muasalnya firaun ini. Beberapa anak mushola/tarbiyah/simpatisan PKS/simpatisan PKS berkedok aktivis kampus/aktivis kampus berkedok simpatisan PKS/anak baru liqo/anak liqo/dan seterusnya (isi sendiri) banyak yang membela Morsi atas digulingkannya dia dari kursi kekuasaan yang diraih secara demokratis melalui pemilu setelah dijatuhkannya rezim Hosni Mubarak. Seperti selalu ada cinta maka akan ada benci yang mengiringi #jreeeeng # sinetron. Disamping ada yang membela, tentu akan ada yang nyinyir dan mendukung terjadinya kudeta militer di Mesir.
Saya nggak nyalahin sih kalau ada yang berbeda pendapat, cuman momen yang berdekatan dengan terjadinya gempa di Aceh (semoga Allah ringankan bebannya dan kuatkan saudara saudara kita yang tertimpa bencana di Aceh, Amin) dan adanya beberapa masalah di Indonesia terkait dengan ditindasnya beberapa elemen minoritas memunculkan sebuah argumen yang menurut saya menggelikan. Adalah sebagai berikut
"Ngapain sih ngurusin Mesir? Itu ada saudara kita di Aceh yang kesusahan, belum yang di Sidoarjo kena lumpur (dan salah satu tokoh utama bencana lumpur ini tetiba ngaku jadi sahabat rakyat kecil mueheheh), belum saudara saudara kita di Syiah, urusin mereka dulu lah!"
Nah ini membuat saya bertanya tanya sebenarnya, di era globalisasi yang dimana dunia ini jadi ibarat desa desa kecil yang saling terhubung, di mana dunia semakin datar, masih ada orang yang menjadikan batasan negara atau nasionalisme sebagai batasan "sejauh apa kita boleh peduli". Well, kalaulah tesis "bantu dan peduli pada yang dekat" ini konsisten kita lakukan, maka saya berpendapat akan sedikit sekali (jika tidak boleh disebut tidak ada) dari kita yang sempat bergerak membantu, atau bahkan sekedar peduli. Mengapa? Karena jika diibaratkan ada masalah diluar pulau yang satu negara kita terlebih dahulu harus membantu dan peduli pada yang satu suku atau satu pulau, tetapi sebelumnya terlebih dahulu harus teman satu provinsi, kota madya, kecamatan, RW, RT, Keluarga, daaan diri sendiri dulu. Sekarang siapa sih yang sudah beres dengan dirinya sendiri?
Masyarakat dunia ini (setidaknya menurut saya) adalah satu tubuh, tidak percaya? Coba lah lakukan studi iseng isengan di Internet tentang betapa banyak permasalahan di dunia yang muncul atau tuntas karena adanya fenomena yang terjadi di negara lain. Arab Spirngs misalnya, bagaimana ketika karena himpitan ekonomi seorang tukang buah di Tunisia membakar diri sebagai bentuk protes bisa membakar amarah penduduk negara lain untuk ikut bergerak menuntut pemerintahan yang lebih baik. Atau berapa dari kita yang belajar bahwa perang perang besar di dunia sering disulut oleh provokasi antara dua negara yang tiba tiba memancing kelompok yang lebih besar untuk terlibat. Bahwa terbakarnya hutan di satu negara (sebut saja Indonesia) dapat menyebabkan masalah nasional yang serius bagi negara tetangga. Ini sedikit banyak menunjukkan bahwa masyarakat di dunia adalah ibarat satu tubuh di era modern ini. Sakit di satu bagian perlu dirasakan oleh bagian lain, agar yang lain belajar dari hal tersebut, apabila kaki kanan kita terantuk meja pas di tulang keringnya, kaki kiri kita tidak perlu mengalami hal yang sama untuk tau ngilu nya, dan kedepan si empunya tubuh akan lebih berhati hati.
Sekarang mari ibaratkan kalau Mesir adalah sakit di tubuh kita bagian jempol, sebut saja cantengan, dan Aceh serta permasalahan lokal adalah sakit gigi. Apakah salah apabila kita peduli terhadap jempol kita yang sedang sakit sementara gigi kita juga tengah linu? Apakah kita hanya boleh berfokus pada gigi kita karena semata dia lebih dekat dengan kepala? Atau kah kita bisa sama sama lakukan sesuatu untuk mengurangi sakit di keduanya, atau minimal kita sekedar peduli, okey gigi gua sakit, dan jempol gua cantengan, mari kita sama sama cari tau penyebabnya agar kedepan masalah ini tidak terulang lagi. Pilihan ada di yang punya tubuh masing masing :)))
Subscribe to:
Posts (Atom)