Tidak heran kalau banyak orang yang mulai meremehkan pergerakan mahasiswa sebagai gerakan pembaharu bangsa. Sebab lambat laun mulai tampak ketidak konsistenan dalam diri wadah wadah gerakan mahasiswa. Selain itu basis massa mahasiswa sendiri dewasa ini telah terpecah menjadi banyak kepentingan seiring masuknya faham-faham politik yang menyebabkan terbeloknya gerakan mahasiswa yang semula satu arah dan satu tujuan, seakan bingung dan kehilangan arah, masing masing saling tarik menarik pengaruh.
Salah satu bentuk inkonsistensi sederhana yang dapat saya cermati di kampus saya sendiri (Fakultas Teknik Universitas Indonesia). Adalah penyikapan mengenai diselenggarakanya SIMAK UI sebagai sarana penerimaan mahasiswa baru dengan porsi yang paling besar. Ujian ini ditengarai sarat dengan intrik dan berpeluang untuk menjadi blunder seperti pelaksanaan UMB 2008.
Pada awal-awal dikeluarkanya SIMAK UI hampir seluruh elemen pergerakan mahasiswa yang ada di Universitas Indonesia menyatakan menolak, bahkan beberapa merasa ditelikung (lagi) oleh pihak rektorat yang mengeluarkan keputusan itu tanpa melibatkan mahasiswa dalam proses pengambilan keputusan. Beberapa aksi protes digelar, dan diantaranya diikuti oleh banyak elemen pergerakan, seperti BEM Fakultas contohnya.
Namun apa yang terjadi beberapa hari yang lalu sungguh mengagetkan. Saat diadakan Open Recrutment untuk dilaksanakanya SIMAK UI di Fakultas Teknik. Ternyata tempat pendaftaran justru diambil di BEM FT!! Bayangkan teman teman. Dimana mereka yang dulu menjadi barisan terdepan saat menolak SIMAK UI? Dimana mereka yang meneriakkan Tolak BHP dan Siman UI di bawah guyuran hujan Desember lalu? dimana? Apa mereka diam?? Atau bersuara tapi saya tak mendengar? Bahkan saya mengetahui ada orang orang yang saat aksi menentan SIMAK UI ikut dengan semangat, sekarang dengan semangat yang tidak kalah tinggi malah mendaftar menjadi pengawas!! Ada apa ini?
Saya memang belum mencoba untuk mengkonfirmasi hal ini kepada elemen BEM FT, namun terlepas dari apapun alasan di balik itu, saya merasa ini adalah benih dari permisifisme terhadap kebijakan rektorat yang tidak perpihak pada masyarakat. Kalau hal seperti ini terus menerus dilakukan maka bukan tidak mungkin pergerakan mahasiswa akan semakin dipandang remeh. Dan ingat di Indonesia, UI menjadi barometer pergerakan mahasiswa. Kalau kita habis? Habislah sudah pilar kelima demokrasi di negeri ini.
Jika memang Totalitas Perjuangan hanya ada dalam lagu, maka jangan pernah nyanyikan lagu itu lagi saat aksi! Karena sungguh itu merupakan suatu penghinaan.
No comments:
Post a Comment