Saturday, September 13, 2014

Pesan Singkat Untuk Penerus Lembaga Kemahasiswaan

Karena minggu kemarin sudah mulai ada adik kelas saya yang menghubungi dan bertanya seputar persiapan menjelang suksesi lembaga kemahasiswaan di kampus saya, Universitas Indonesia. Dan terpicu juga oleh tulisan Faldo Maldini di portal Selasar (ini portal gagasan yang menurut saya akan sangat potensial berkembang menjadi "bank gagasan" anak muda Indonesia, yang tentu akan lebih oke kalau twit twit motivasi klise nya dikurangin :p #ihik), saya jadi terdorong untuk mencurahkan uneg uneg tentang lembaga kemahasiswaan ini dalam sebuah tulisan. Sebelumnya perlu diketahui Aku bukan siapa siapaaaaa~ Untukmuuuuuu~ (#terD'Massiv), hanya seorang yang pernah ada disana dan masih memandang lembaga kemahasiswaan sebagai wadah yang baik untuk berkontribusi.

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada adek adek (ceileh adek) yang ingin berkontribusi di ranah ini. Semoga bisa jadi masukan yang bermanfaat.

Niat

Luruskan niat kamu, ini hal terpenting sebelum kamu mulai mengambil keputusan untuk berkontribusi di lembaga kemahasiswaan. Buang jauh jauh niat menghias CV, direkrut jadi staff ahli anggota DPR dari Parpol yang diem diem tapi nyata dukung kamu nyalon, dapet jaringan strategis yang akan kasih kamu kemudahan dalam nyari kerja, dapet jodoh kiyut dan kece ( oke untuk yang ini debatable) dll dll. Dua niat yang (menurut saya) boleh dipelihara adalah niat untuk belajar, dan niat untuk mengabdi. Kenapa? Karena kalau niat kamu adalah bahwa dengan jadi ketua atau pengurus lembaga kamu akan dapet berbagai kemudahan dan keuntungan pribadi yang dangkal, saya pastikan kamu akan kecewa, karena sejujurnya kalian nggak akan untung untung amat dalam hal itu. Kalaupun setelah menjabat beberapa kemudahan menghampiri kamu, itu semata efek samping dari keseriusan dan dedikasi kamu selama mengemban amanah, syukuri tapi jangan jadikan itu tujuan.

Hanya "Bagian" dari Jalan Panjang Perjuangan

Banyak temen-temen mahasiswa yang menjadikan lembaga kemahasiswaan atau secara umum masa perjuangan di kampus adalah puncak perjuangan. Begitu banyak tenaga, usaha, dan perhatian dicurahkan mati matian untuk fase ini. Tanpa disadari, bahwa selepas masa kuliah, perjuangan yang sebenarnya baru dimulai. Akibatnya? Tidak sedikit yang setelah lulus hilang orientasi. Idealisme yang dulu dipupuk matang matang, jadi harus dikompromikan karena tidak mempersiapkan bekal yang cukup untuk menghadapi tantangan paska kampus. Maka bukan sedikit kita dapati mereka yang selama di kampus dikenal sebagai "aktivis", "macan podium", "singa pergerakan" setelah lulus melempem gurat perjuangannya dan mentok mentok jadi senior gagal move on yang rutin ngerecokin adek adeknya bikin terobosan dalam gerakan kemahasiswaan karena merasa jamannya paling kece.

Jadi saran saya, jadikan masa perjuangan di kampus sebagai masa mencari bekal. Selesaikan hal hal yang terkait dengan kapasitas pribadi, baik kompetensi, ketrampilan interpersonal, wawasan, dan perencanaan karir dan keberlanjutan studi dengan matang. Seimbangkan antara eksekusi kontribusi jangka pendek, dan persiapan untuk kontribusi jangka panjang selepas nanti keluar dari pagar almamater. Dengan demikian perlahan akan bisa dikikis image bahwa idealisme seorang aktifis hanya utuh semasa dia disimpan dalam batas pagar kampus.

Jangan Takut Menawarkan Ide Baru

Sering, saya menemukan ketakutan yang sama dari teman teman yang ingin maju meneruskan estafet lembaga kemahasiswaan. Mereka takut apakah ide baru yang mereka tawarkan akan bisa diimplementasikan karena terbentur dengan kultur kemahasiswaan yang ada di lingkungan mereka. Kebanyakan juga mempertanyakan budaya atau program kerja turunan yang selama ini dirasa tidak efektif namun masih dijalankan atas nama budaya dan program turunan. Disini saya ingin katakan, bahwa selama kalian punya dasar yang kuat dan didukung dengan studi yang matang, jangan takut membawa nilai nilai baru. Jangan takut mendobrak tradisi, kenapa? Karena setiap zaman ada jagoannya. Dan di zaman kalian, ya kalian yang harus muncul sebagai pembaharu.

Saya percaya bahwa setiap produk ada life cycle nya, ada masa kadaluarsanya. Hal yang dulu cocok, bermanfaat dan efektif pasti akan lekang oleh zaman dan tiba saatnya untuk digantikan. Begitu juga dengan gagasan, bentuk pergerakan, kaderisasi dan program kerja lembaga kemahasiswaan. Semua akan berubah seiring dengan perubahan kebutuhan masyarakat, tuntutan zaman, dan kehidupan kemahasiswaan itu sendiri. Sebagai pemimpin kalian harus peka terhadap arus perubahan ini dan berani mewujudkannya dalam langkah nyata organisasi. Organisasi yang tidak bersiap menghadapi perubahan akan digilas oleh perubahan itu sendiri. Ya terserah sih kalau mau bikin organisasi yang heri (heboh sendiri) karena gagal membaca kebutuhan.

Hormati Kawan dan Lawan

Karena pergerakan mahasiswa dan kehidupan lembaga mahasiswa tidak bisa terlepas dari pengaruh politik dan pertarungan ideologi, maka munculnya kubu kubu pemikiran dan gagasan adalah hal yang lumrah. Saran saya adalah, hormati lawan dan kawan kamu. Karena dunia itu sempit, dan sekali lagi kampus hanya satu bagian perjuangan, diluar kampus hal bisa terbolak balik, lawan bisa jadi rekan berjuang dan sebaliknya kawan bisa jadi tukang tikam. Biasakan membaca fenomena dari sudut pandang berbagai ideologi dan pemikiran, selain memperkaya wawasan hal ini akan menambah jaringan pertemanan dan mengurangi friksi friksi antar ideologi yang muncul semata karena tidak saling mengenal. Saya sih percaya, ada hal hal umum yang baik yang bisa sama sama diperjuangkan, perbedaan ideologi bisa menjadi warna yang memperindah dan memperkaya langkah perjuangan yang akan ditempuh.

Bangun Gagasan Independen

Jangan dibiasakan terlalu tergantung pada bisikan bisikan kepentingan luar yang nitip tangan di kampus melalui gerakan kemahasiswaan. Budaya membangun gagasan ilmiah dengan kerangka yang robust harus mengakar di lembaga kemahasiswaan, agar masyarakat tetap bisa memandang pergerakan mahasiswa sebagai kekuatan penyeimbang dalam peta politik nasional. Jangan sampai tercitra bahwa lembaga kemahasiswaan hanya perpanjangan tangan parpol yang buka dan tutup mulutnya semata tergantung pada arahan elite parpol. Mendengar gagasan dan bermitra dengan berbagai elemen masyarakat tentu diperlukan, namun lembaga mahasiswa selayaknya punya mekanisme independen untuk menyikapi suatu fenomena.

Sekian beberapa masukan yang terlintas dalam pikiran saya untuk temen temen yang berencana mempersiapkan diri untuk berkontribusi di lembaga kemahasiswaan di universitas masing masing. Semoga bermanfaat. Ingat, berkontribusi lewat lembaga kemahasiswaan bukan satu satunya pilihan, sekarang sangat banyak wadah wadah lain baik ekstra maupun intra kampus yang bisa menjadi wadah ideal bagi adek adek mahasiswa untuk belajar. Dan jangan lupa, kompetensi keilmuan adalah hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang mahasiswa. Dan sering kali ini dinomorduakan atas nama "kontribusi". Percayalah itu omong kosong, kamu akan sulit memberikan kontribusi terbaik selama belum tuntas dengan diri sendiri.

Salam,

Dwiki Drajat Gumilar









No comments: