Saturday, May 23, 2009

Ketika Roh Lebih Memilih Berputih Tulang daripada Berputih Mata

Roh Moo-hyun adalah seorang korean kelahiran Gimhae dekat Busan pada 6 August 1946. Sebuah usaha keras dari orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan Tinggi ini menjadikanya mampu meraik profesi sebagai pengacara bidang Hak Asasi Manusia yang cukup tenar, dimana di kemudian hari profesinya ini mampu mengantarkan dia menduduki kursi Presiden Korea Selatan, untuk masa jabatan dari 25 Februari 2003 hingga 25 Februari 2008. Selama kepemimpinanya itu, seperti juga pemimpin-pemimpin lain di Dunia, Roh juga mengalami pasang surut popularitas. Dengan jualan "Tidak Akan menjadi Antek Amerika" Roh sempat meraih simpati golongan muda korea selatan sehingga popularitasnya menjanjak sepanjang masa pemilihan dan awal kepemimpinan. Pada 2004 melalui impeachment lawan politik Roh sempat mengoyang kekuasaanya namun gagal. Sehingga Roh dapat kembali berkuasa dan menjalankan sisa masa kepemimpinanya.

Sepanjang kepemimpinanya, Beberapa kebijakan dinilai kurang populer dan menjatuhnya popularitasnya di kalangan masyarakat Korea, seperti kebijakan untuk mengirimkan tentara Korsel ke IRak, rencana untuk memindahkan ibu Kota Negara dari Seoul ke Chungcheong hingga inisiatifnya untuk melakukan konsolidasi dengan pihak oposisi terbesar di Korsel yaitu Partai Nasionalis Utama yang menjatuhkan popularitasnya di mata basis massanya.

Berakhirnya masa jabatan Roh ternyata bukan mengakhiri masa kelam dalam karir politiknya. Roh justru semakin terpuruk setelah keluarganya dirongrong kasus korupsi. Jaksa penuntut Korea Selatan memeriksa kakak mantan Presiden Korea Selatan itu Roh Moo-pyeong mengenai dugaan pengaruh yang digunakannya terhadap penjualan sebuah firma yang terancam bangkrut ke sebuah bank yang disupervisi oleh negara. Roh Gun-pyeong (66) diduga menerima uang untuk membantu firma keuangan Sejong Capital menjual unit usahanya Sejong Sekuritas ke Federasi Koperasi Pertanian Nasional yang dikenal dengan sebutan Nonghyup pada 2006 saat adiknya masih menjabat sebagai Presiden Korea Selatan.

Kasus dugaan korupsi keluarga ini tampaknya begitu memukul Roh yang sebelumnya begitu menjunjung tinggi kejujuran dan slogan anti korupsi. Hingga begitu terpukulnya Roh memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari tebing pada tanggal 23 Maret 2009 dini hari. Kematian Roh sontak membuat seluruh korea bahkan dunia kaget. Begitu tragis dan pilu akhir hayat dari seorang Roh Moo-hyun, seorang mantan orang nomor satu di Korea Selatan, seorang yang penah memiliki mimpi untuk memmajukan kekuatan Asia.

Begitulah jalan hidup yang dipilih Roh, yang baginya lebih baik berputih tulang (mati) daripada hidup berputih mata (menahan malu). Sebuah pelajaran getir, yang harusnya bisa menyentak setiap pemimpin di Dunia, bahwa kekuasaan, pengaruh dan amanah yang diemban tidak mungkin tidak dipertanggungjawabkan. Jika di depan manusia saya pertanggung jawaban itu sungguh begitu berat, lantas bagaimana dengan pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT kelak? tentu lebih berat.

Bagi calon-calon presiden dan wapres yang hendak mengelu-elukan diri dan golonganya, agar mawas diri!! selalu berhati hati, jangan sampai kekuasaan yang didapat hanya membawa kesulitan bagi orang banyak!! Jikalau sedetik saja kalian! Para pemimpin lengah akan tanggung jawab kalian, kehinaan akan menyertai seumur hidup.

1 comment:

deady rizky said...

makin MANGSTABS tulisan kau, john!