Saturday, March 27, 2010

Kenapa tak Mereka Kirimkan saja Pembunuh Bayaran Terbaik???

Siang ini, saya baru pulang dari nganterin buku tentang Ngegambar dengan AutoCAD 3D buat salah satu adik asisten saya di mata kuliah Gambar Teknik. Maklum dia mau ujian hari Senin besok jadi saya rasa dia bakal cukup terbantu dengan saya pinjami buku itu (yang mana buku itu sendiri juga saya dapat dari hasil pinjaman,,hehe).

Masuk ke halaman Kos Kahfi yang teduh, ekor mata saya menangkap ada ceceran koran beberapa jenis yang tercecer begitu saja di depan TV lobi kosan. Ya di kahfi memang disediakan koran berlangganan. Mungkin dengan harapan penghuninya jadi update dengan apa yang terjadi di luar sono. Sebenernya saya males buat baca koran, soalnya minggu ini minggu UTS bro, mestinya saya ngendon di kamar buat bermesraan dengan diktat kuliah dan kumpulan soal soal, dan lagi itu jauh lebih bermanfaat daripada baca lembaran koran yang paling juga isinya itu-itu saja.

Jujur saya cuman tertarik baca kolom olahraganya saja, lebih menghibur baca Messi cetak gol daripada baca pemilihan Ketua Umum sebuah partai besar. Lebih menarik fakta bahwa tim Tenis Spanyol tampil tanpa Rafael Nadal daripada nebak siapa petinggi polisi yang gak terlibat dalam kasus suap menyuap. Lebih bikin geregetan liat ulah elit PSSI yang ketir-ketir kegeser di KSN daripada hiruk pikuk Demokrat-Republik AS yang tikung telikung dengan investor soal reformasi kesehatan di ranah Uncle Sam itu. Tapi gak tau kenapa, tiba-tiba saya terdorong juga buat ngelihat tumpukan koran itu, sapa tau ada berita bagus. Macam Anang kawin lagi atau apa lah.

Dan ternyata, keputusan itu nyata berbuah kekecewaan. Rasa ingin tahu saya soal hiruk pikuk apa yang terjadi terbayar tuntas dengan berita menghilangnya (atau dibiarkanya hilang) seorang makelar kasus, yang ditunjuk hidung oleh seorang mantan petinggi polisi yang sekarang jadi Pati di tubuh kepolisian. Si makelar ternyata eh ternyata udah ngacir duluan ke negeri seberang yang konon dulu ada singanya buat mengamankan diri dengan alas an berobat. Lucunya dia ngacir beberapa hari sebelum perintah cekal keluar. Hwahwahahahaha,, ibarat main catur, baru mindahin kuda buat skak besok, eh rajanya keburu lukir sama benteng. Dan begonyaa lagi si pemain lawan enggak ngeliat gelagat-gelagat mau lukir dari si pemain pion lawan.

Di koran itu juga dicantumin buron-buron korupsi yang ngacir kemana mana sebelum sempet tersabet sabit hukum (saya sebut sabit karena setahu lagi lagi maaf setahu saya hanya tajam ke bawah tapi tumpul luar biasa ke atas). Saya langsung kepikiran, orang-orang ini kan udah kepegang identitasnya, knapa nggak langsung aja sih kirim pembunuh bayaran terbaik buat ngebunuh mereka satu-satu, hehehe mirip aksi KGB buat buron-buron korupsi yang ngacir ke luar negeri waktu Uni Soviet runtuh. Dampaknya, diharapkan buron-buron lain yang liat temenya dilibas tanpa ampun bakal ketakutan dan pulang sendiri-sendiri ke negeri ini buat diadili. Toh paling cuman ditahan beberapa tahun dengan fasilitas plus-plus.

Ini ide radikal dari orang-orang yang mulai skeptis dengan sebuah nafas indah berbunyi keadilan di negeri yang korupsi tumbuh subur ini. Kenapa tak mereka kirim saja pembunuh bayaran terbaik???? Hahaha, sudah ah jadi ngelantur, mending belajar, tidur siang dan berharap waktu bangun Negara ini udah jadi lebih baik.



Kekecewaan tidak merubah dunia, dunia diubah oleh aktor (pelaku) bukan komentator, maka mari awali dengan merubah diri sendiri agar kekecewaan tidak hanya berujung menjadi sebatas komentar....
-Dwiki Drajat Gumilar-

No comments: