Well, sabtu kemarin saya dapet pelajaran yang cukup berharga dari salah satu acara di PPSDMS. Yaitu tentang bagaimana agar sesuatu bisa mendapat dukungan dari banyak orang dalam waktu yang singkat. Atau dengan kata lain, bagaimana membuat orang merasa bahwa apa yang kita perjuangkan merupakan bagian dari perjuangan mereka juga. Ternyata, suatu hal yang sederhana namun sering kita lupakan adalah kata kompetitif.
Maksudnya apa? Ya, selama ini saya selalu bertanya-tanya. Apa yang menjadikan begitu banyak orang mau untuk setia pada visi seorang pemimpin. Maka inilah kuncinya, pemimpin tersebut sanggup memperlihatkan karakter bahwa dia adalah yang terbaik diantara orang-orang yang ada. Sedari awal, para pemimpin ini bukan sekedar berani berkompetisi, namun juga berani untuk memenangkanya. Artinya mereka secara sadar membangun kapabilitas unbtuk itu. Bukan semata bergantung pada momentum dan kekuatan jamaah. Alih-alih bergantung, mereka justru menciptakan momentum dan menjadi tulang punggung dari jamaah yang kelak akan dipimpinya.
Era sekarang adalah era kompetisi, dimana segala sesuatu akan eksis berdasarkan seberapa besar kemampuanya untuk berkompetisi. Pola pikir rezimis tidak akan bertahan, baik di kampus maupun di luar kampus. Dan jujur saya muak dengan pola rezimis dan alur pemenangan "botol kecap". Pola yang selama ini sukses menjadi faktor utama dari penurunan kualitas gerakan kemahasiswaan.
Bukankah kualitas dibentuk oleh kompetisi? Dan kompetisi membutuhkan rival? Lalu mengapa selama ini yang saya lihat di kampus justru sikap permusuhan antar golongan politikus kampus? Bukankah ini adalah keegoisan? Bukankah seharusnya perbedaan ideologi membuat kita berlomba-lomba menghasilkan kader terbaik?
No comments:
Post a Comment