
Vaclav Havel
Apa yang temen-temen dengar saat mendengar kata komunis? genangan darah? palu arit? tangan besi? diktator? mungkin itu adalah sederet kata-kata seram yang akan menjadi penyanding bagi kata komunis. Maka wajar, ketika komunis telah menjadi rezim, diperlukan suatu gerakan yang bersifat pemberangusan total untuk mengenyahkanya. Pemberangusan yang bukan hanya menyangkut pemimpin, namun juga simpatisan, kader, dan bahkan ideologi. Pemberangusan ini seringkali meninggalkan luka sejarah yang dalam, lebih lanjut melahirkan generasi yang bimbang atas menyikapi sebuah perbedaan ideologi.
Seperti sejarah mengajarkan tentang luka, sejarah juga mengajarkan kita tentang kebaikan, dan kebijaksanaan. Di belahan bumi Eropa, sejarah pernah mencatatkan nama seorang pemimpin yang telah berhasil melawan rezim komunis tanpa pertumpahan darah, Vaclav Havel. Vaclav Havel lahir pada 5 Oktober 1936 di Praha Cekoslowakia. Terlahir di kota yang sebelum penguasaan rezim komunis menjadi pusat peradaban di Eropa, dengan Universitas Praha yang begitu terkenal. Havel menjadi saksi betapa rezim komunis yang totaliter telah menggerus negeri yang dia cintai Cekoslowakia. Terlahir di keluarga yang berada, Havel mengalami sendiri bagaimana rezim komunis merampas kekayaan pribadi keluarganya dan menjadikannya sebagaimana warga yang lain. Serba teratur, tertakar dan tertindas. Toh fakta ini tidak membuat havel menyimpan bara dendam terhadap rezim komunis.
Havel adalah seorang sastrawan, mungkin latar belakang ini juga yang membuatnya mewarnai gerakan secara sangat menyentuh. Bukan dengan fisik atau bentrokan berdarah, bukan melalui gerakan-gerakan yang bersifat pelampiasan terhadap keterpurukan. Namun lebih jauh, Havel mengajak rakyat Cekoslowakia untuk bukan hanya melawan rezim komunis, namun juga bertanggung-jawab atas keterpurukan yang kini mereka hadapi. Artinya semangat yang dibangun oleh Havel sejak awal bukan sekedar semangat impulsif yang bertujuan meruntuhkan kekuasaan atau kritik-kritik tajam yang tanpa tindak lanjut. Namun juga mempersiapkan untuk membangun sebuah semangat produktif untuk perbaikan setelah rezim tersebut runtuh. Havel menempatkan bahwa seluruh rakyat Cekoslowakia harus bertanggung jawab atas keterpurukan yang mereka sedang alami sendiri.
Semangat inilah yang terinternalisasi secara mengakar ke rakyat Cekoslowakia yang dibangun selama puluhan tahun sebelum akhirnya berubah dari gerakan moral menjadi gerakan politik. Dan Revolusi beludru pada tahun 1989 ini telah melahirkan suatu semangat perubahan baru yang tidak hanya segar, namun juga memberikan paradigma jangka panjang yang utuh. Terbukti ketika akhirnya negara ini terpecah menjadi dua negara Republik Ceko dan Slowakia (Slovakia). Perpecahan tersebut terjadi secara damai. Jauh dari kesan pertumpahan darah. Terlepas dari segala perbedaan pendapat yang ada diantara elit mereka, termasuh Havel sendiri pada saat itu.
Hingga kini revolusi ini berbuah manis, kedua negara berhasil eksis dengan indeks perkembangan manusia yang cukup membanggakan untuk negara yang pernah dijajah secara politik ini. Mereka menempati kasta teratas dalam HDI 2010 (Human Development Index), yaitu masuk dalam jajaran negara dengan titel Very High Human Development. Republik Ceko pada posisi 28 sedangkan Slovakia berada pada peringkat 31. Sebuah gambaran dari keberhasilan revolusi yang dilakukan secara utuh.
Dan dimanakah posisi bangsa ini teman? Kita ada di peringkat 108 dunia dan masuk dalam kategori Medium Human Development. Dengan berbagai konflik internal yang mewarnai perjalanan republik ini. Lalu haruskah kita berkecil hati dan sibuk mengeluh? Tidak teman, kalaupun sejarah mengajarkan pada kita bahwa negeri ini diwarnai dengan kisruh para elit, baik pergantian rezimnya atau dalam perjalanan pemerintahanya. Maka ini adalah peluang bagi kita untuk mengambil peran sebagai tokoh sejarah itu sendiri. Bukankah apa yang kita lakukan sekarang adalah sejarah untuk masa depan?
Menjadi individu yang bertanggung jawab atas keterpurukan adalah suatu posisi ideal yang bisa kita ambil dalam patahan sejarah bangsa ini teman. Mulailah berhenti sekedar mengeluhkan pemerintahan, baik Negara, Universitas, bahkan BEM sekalipun. Kalaupun kita melihat ada yang tidak beres dengan kepemimpinan di sekitar kita maka percayalah, kita bertanggung jawab pula atas ketidak-beresan itu. Vaclav Havel hanya satu diantara warga Cekoslowakia yang merasakan ketertindasan, yang membedakan dia dengan yang lain adalah dia tidak hanya mengeluh, namun juga membangun kerangka dan semangat perubahan yang utuh, serta secara nyata memobilisasi gerakan untuk mewujudkanya.
Sekian, semoga bermanfaat.
-Dwiki Drajat Gumilar-
No comments:
Post a Comment