Sunday, February 3, 2013

Munafik?

fake, knife, mask, masks, society
Sumber: http://favim.com/image/262398/

Belakangan ini kasus dugaan suap terkait penambahan kuota impor sapi yang melibatkan presiden PKS, LHI sedang marak diberitakan di media nasional. Seperti apa yang marak di media nasional, maka marak pula pertempuran argumen di dunia maya, terutama di media sosial. Nah, ketimbang membahas tentang kasusnya sendiri, saya justru lebih tertarik untuk mencermati respon masyarakat terhadap fenomena ini.

Salah satu respon yang sangat jelas tertangkap adalah, adanya sekelompok orang yang bereaksi berlebih terhadap kasus ini, terutama terkait dengan image yang selama ini dibawa PKS sebagai Partai Dakwah yang mengusung jargon Bersih. Hal ini selama ini didukung dengan track record dimana kader PKS yang terbukti terlibat praktik korupsi dapat dikatakan relatif lebih sedikit dari pada partai partai lain.

Beberapa pihak seakan sudah menunggu sambil siap siap toa, untuk bilang "Nah loh!! Rasain! Kebukti juga kan lo sama busuknya!!!" Terutama mereka yang (dalam kaca mata saya) tidak menyukai idealisme yang berbasis agama. Beberapa dari mereka kemudian melontar kata-kata yang sebenarnya tidak kontekstual dengan substansi kasus korupsi itu sendiri. Mulai membawa bawa poligami, jenggot, atribut ritual agama seperti jago ngaji, ustadz, dan lain lain dengan ditambahkan dengan kata korupsi dan diidentikkan dengan kata munafik. 

Yang saya tangkap dari respon-respon tersebut adalah seakan akan mereka mau bilang "Kalau mau bangsat ya bangsat aja, nggak usah berlagak suci, nggak usah tampil agamis, toh ujungnya sama sama aja, gua lebih terima mereka yang korupsi dengan nggak bawa bawa predikat agama. Sekalian ancur dari awal, nggak munafik" 

Nah disini saya menangkap keganjilan, dan jadi bertanya tanya, siapa sebenarnya yang munafik? Apakah salah suatu partai, golongan, kelompok, atau seseorang membangung image yang positif terhadap dirinya? Mari kita tanya diri kita masing masing, apakah dari kita ada yang menonjolkan kejelekan atau aib kita setiap kita berkenalan atau mempromosikan diri? Dan apakah kalau kita memunculkan image tersebut kita jadi tidak boleh berbuat salah?

Saya juga tidak menemukan ada partai lain yang memasang jargon "Busuk, Korup dan Pemangsa Uang Rakyat" atau "Partai Biasa Biasa saja, Tidak akan Membawa Perubahan, Jauh Panggang dari Api" tidak, dan saya juga tidak menemukan ideologi manapun yang lalu mengizinkan pengikutnya untuk berbuat curang, korupsi maling atau ngrampok. Maka semestinya semua individu yang korupsi pastilah melanggar ideologi partai. Dan bukan karena ada orang yang melanggar maka ideologi partai atau kelompok tersebut menjadi salah.

Dan kalau memang menampilkan image positif yang diharapkan menjadi visi suatu kelompok dianggap munafik bila tidak sesuai seratus persen dengan apa yang dilakukan di lapangan. Maka berbahagialah, karena bisa jadi kita lah orang orang paling munafik. Lihat apa yang tertuang dalam Pancasila maupun Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, tidak satu nilai luhur pun dalam kedua hal tersebut saya temukan diterapkan secara menyeluruh dalam keseharian kita. 

Latar belakang gua nulis tulisan ini cuman satu, Gua takut suatu hari nanti kita semua lebih memilih diam daripada menyuarakan kebenaran, hanya karena takut dicap munafik dikemudian hari.






No comments: