Tuesday, February 12, 2013

Visi-Misi Sih, Tapi....


"Ngakunya sih calon pemimpin masa depan, tapi visi-misinya......masa gitu?"



Pertanyaan itu nyangkut di kepala gua sehabis makan siang tadi, secara nggak sengaja mata gua menangkap poster kampanye yang nangkring di mading, dan setelah gua baca dan amati tampaknya ada yang sedikit kurang pas dengan poster kampanye ini. Ya coba temen-temen amati poster diatas, oh iya, corat-coret itu disengaja oleh penulis (ceilah penulis, gua maksudnya) biar nggak ada pihak yang merasa tersakiti, terdzolimi, teraniaya atau terampas hak asasinya. Kalaupun masih ada yang tersakiti juga, gua minta maap dah #ihik

Nah sekarang biar pada ngeh, coba sok dibaca dulu tulisan yang ada di poster tersebut, mulai dari visi, sampai misinya. Menurut gua, yang sempat beberapa kali menyusun visi-misi untuk organisasi di kampus, contoh diatas bukan contoh visi misi yang ideal.  Karena terlalu melebar, dan terlalu tidak terukur. Poin, poin Misi juga terkesan utopis, contoh Melengkapi kebutuhan setiap anggota di berbagai tempat dan organisasi baik di ******* maupun diluar *******. Gua jadi bingung, apakah kebutuhan itu mencakup kasur palembang, sarapan tiap pagi, imunisasi atau bahkan pasangan hidup. Misi ini bisa memicu ambiguitas dibenak calon pemilih (ceilah). Selanjutnya bisa dinilai sendiri, dah sama temen temen.

Emang gimana sih Visi-Misi yang baik?

Well, gua juga nggak tau apakah standar gua ini bener apa enggak, tapi berdasarkan pengalaman selama ini beberapa yang harus dipenuhi dari visi misi adalah:

1. Menggambarkan harapan dan tujuan dari dijalankannya organisasi.
2. Mudah diingat, catchy, nyantol, sehingga mudah disosialisasikan, baik ke pemilih, maupun warga nantinya. Ingat Visi-Misi ini akan dibawa selama masa kepengurusan organisasi. Jadi semangat yang ada di visi-misi ini diharapkan jadi semangat organisasi.
3. Ini yang sangat penting TERUKUR, kenapa harus terukur? kenapa harus bisa diparameterkan? Karena selain akan diturunkan menjadi visi-misi bidang, hal ini juga penting jika dilihat dari segi evaluasi. Tentu kita tidak ingin organisasi yang kita jalankan gagal, dan di akhir hanya buang buang tenaga dan sumber daya. Maka di setiap jangka waktu tertentu, harus dilakukan evaluasi untuk mengukur seberapa jauh organisasi ini telah mengarah pada tujuan yang ditetapkan diawal. Well, faktor keterukuran ini juga terkait dengan pertanggungjawaban janji-janji kampanye terhadap pemilih, ingat Amanah yang diberikan oleh setiap pemilih akan diminta pertanggungjawabannya.

Poin-poin di atas tentu bukan hal yang baku, penerapan visi-misi tentu harus sangat disesuaikan dengan kultur dari masyarakat yang ada di sekitar organisasi itu sendiri. Jadi mungkin saja apa yang ada di poster itu sudah representatif dengan kultur dan kebutuhan warga dari organisasi tersebut, tapi kok rasanya hmmmm.... ah sudah lah.... #ihik

No comments: