Sunday, July 3, 2011

Kajian, Emang Perlu?

Judul di atas, mungkin terkesan sebagai pertanyaan retoris. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dipertanyakan karena sudah pasti jawabanya. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini pada umumnya dimaksudkan untuk menekankan maksud, atau menyindir dari lawan bicara kita. Namun percayalah teman-teman pertanyaan tersebut benar-benar diajukan oleh salah seorang petinggi BEM di kampus tempat saya belajar. Jawaban itu muncul ketika saya (untuk kedua kalinya) secara baik-baik menanyakan kepada yang bersangkutan tentang "sudahkan diadakan pencerdasan terkait dengan aksi yang sangat mendadak". Yang saya maksud mendadak di sini adalah kurang dari 24 jam.

Di mata saya, si orang yang menjawab ini sebenarnya cukup kompeten dalam bidang pergerakan mahasiswa, jam terbang tinggi, dan kompetensinya tidak perlu dipertanyakan lagi, sebab telah banyak dibuktikan dengan memenangkan berbagai kompetisi dan penghargaan atas pola-pola pikir beliau yang memang terkenal tajam dan terstruktur. Mungkin pas jawab sms dari saya yang bersangkutan lagi sebel atau jenuh atau kesel karena saya tanya-tanyain terus. Hahaha, intinya bahwa jawaban tersebut meskipun kurang pas di hati saya dan dilontarkan dengan cara yang tidak sopan, tidak mengurangi respek saya kepada yang bersangkutan. Dan tidak akan saya bahas lebih lanjut dalam curcolan saya kali ini. :D

Nah cerita bermula, ketika saya membaca sebuah postingan di milis yang isinya tentang ajakan untuk aksi menuntut percepatan pembangunan jembatan penyebrangan manusia di daerah barel UI. Melihat tanggal aksi yang tertera tanggal 4 Juli 2011 jam 8 pagi. Saya tentu heran, ini saya yang salah lihat tanggal atau emang ini ajakan dadakan banget. Hmm. saya pun bermaksud mengklarifikasi pada BPH yang bersangkutan biar dapet info yang ces-pleng, apakah memang saya yang ngga dapet kajian atau kajian itu memang ngga pernah ada.

Berangkat dari situ, saya sms yang intinya "Bro buat aksi hari Senin (besok) sudah ada pencerdasanya belum sih?" dibales "gw mau tanya balik. untuk orang nuntut bngun jmbatan krn bnyak kcelakaan harus ada kajian?untuk mhasiswa aktif harus pasif nerima kajian?smoga lw gak terjebak dgn prtnyaan gw Prtnyaan lw jwabanya ada" nah saya merasa jawaban ini agak janggal, pertama karena saya ngga ngrasa jawaban ini levelnya seorang BPH BEM UI.

Lalu terjadi satu kali saling sms lagi yang intinya adalah dari BPH tersebut menekankan bahwa kajianya sudah ada dan harusnya saya tau karna saya anak teknik dan yang bikin temen-temen saya (ini gua ngga ngerti lagi logikanya gimana nih kalimat). Lalu gua jawab kalo gua ngga tau udah ada kajian dan banyak juga (mungkin) anak teknik yang ngga tahu dan saya terimakasih karna sudah dijawab (meskipun tidak menjawab).

Saya sebenarnya cukup prihatin dengan pertanyaan yang mempertanyakan lagi pentingkah kajian atas permasalahan yang sangat penting? Tentu perlu, karena pembangunan proyek yang dituntut bukan merupakan proyek dengan biaya yang sedikit. Melainkan memerlukan proses penganggaran dan assessment yang tidak singkat. Dan karena dalam undangan itu dinyatakan akan ada "Pencerdasan kepada masyarakat" tentu permasalahan ini menjadi bukan permasalahan main-main karena masalah pintu barel ini adalah permasalahan yang penting dan sensitif terhadap warga sekitar. Dimana penutupan pintu ini dianggap mengganggu urusan periuk nasi warga sekitar.

Mungkin seperti inilah cerminan gerakan mahasiswa sekarang. Kajian belakangan boyyyy yang penting maju pantang mundur. Masa aksi cerdas nanti dulu boyyy yang penting pada dateng dulu. Sangat disayangkan, karena kalau saya baca dulu buku-buku pergerakan mahasiswa sebelum tahun 2000-an, nuansa kajian sangat terasa di sana. Dan itulah yang menjadi titik tolak kekuatan dan faktor pembeda dari gerakan mahasiswa dan gerakan yang digerakkan oleh elemen lain dalam masyarakat.

Entah benar atau salah, tapi saya rasa berdasarkan kesan yang saya dapat dari BPH BEM UI tersebut, saya berkesimpulan. Sangat layak jika masyarakat sekarang antipati terhadap gerakan kemahasiswaaan. Sebab di lumbung suaranya sendiri (kampus) apa yang mereka lakukan tidak lagi dilakukan secara sistematis. Sebab di lumbung kekuatanya sendiri, mereka tidak mementingkan massa yang tercerdaskan.

No comments: