Tulis tulis dan tulis saja terus, tanpa harus peduli apakah ada orang yang membacanya atau tidak. Begitu kira-kira kata kata Pramodya Ananta Toer yang pernah saya baca. Sebab bukan rahasia lagi bahwa kesulitan terbesar yang dialami oleh seorang penulis adalah sesuatu yang biasanya disebut dengan White Paper Syndrome, yaitu kesulitan dalam memulai sebuah tulisan, selalu ada berbagai pertimbangan dalam diri penulis tersebut. Pertimbangan-pertimbangan yang terlalu berat hingga sering kali berlebihan. Apakah tulisan saya masih up to date? Apakah ulasan saya cukup cerdas? Mungkinkah tulisan saya dibredel? Akankah tulisan ini membuat saya terlihat bodoh? Apakah saya akan terkesan menggurui? Dan pertanyaan-petanyaan lain yang membuat jari enggan beranjak.
Namun kalimat Pram yang mengawali tulisan ini membuat saya sadar, bodoh amat dengan apa kata orang. Bukankah tulisan yang baik adalah tulisan yang jujur? Jujur dalam arti sesuai dengan gaya kepenulisan kita. Kalau kita memang orang hiperbolik maka dapat dikatakan bahwa gaya menulis kita yang melebih lebihkan peristiwa, melucu-lucukan hal kecil dan membual kesana kemari dapat pula dipandang sebagai tulisan yang jujur. Karena dari tulisan itu dapat dilihat watak asli sang penulis. Tulisan itu telah berkata jujur tentang apa yang dipikirkan sang penulis dalam alam pikiranya. Perkara orang lain menganggapnya sebagai bualan, itu berarti pembaca dan penulis membaca dengan frame berpikir yang berbeda.
Begitu dengan seorang akademisi yang menggunakan diksi-diksi sulit, ribuan catatan kaki, menulis secara serampangan. Maka itulah yang ada dalam benaknya, impuls-impuls di otaknya bergerak sedemikian rupa sehingga sulit diikuti apabila pembaca berada pada tingkat intelegensi yang berbeda. Apakah sang penulis harus sok down to earth dengan memakai bahasa-bahasa familiar. Atau pembaca yang harus mendongak tinggi-tinggi hingga sendi atlasnya remuk? Keduanya tidak perlu terjadi, cukuplah kita cari rujukan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan. Dan tulislah tulisan anda dengan kapasitas anda, agar tak terlihat pongah, tapi juga tidak terlihat merendah. Hantam saja pertimbangan-pertimbangan itu.
Dengan era sepertri ini, bukan waktunya lagi untuk menyembunyikan gagasan dalam otak kita, apalagi kalau alasanya hanya karena takut ini dan itu. Malu karena ini dan itu. Stigma-stigma itu sudah lama mati! Dan saya telah membunuhnya saat saya menulis paragraf ini. Saya ingin terus menuangkan ide-ide dan gagasan tanpa batas. Karena dalam kepala saya berloncatan kutu-kutu informasi yang ribut laksana titik-titik kupang di laut dan tugas jari jari ini adalah merangkai kutu kutu itu menjadi untaikan vokal spasi dan konsonan. Karena titik-titik itu sudah semestinya ditarik menjadi garis. Agar tak lagi absurd.
“Karena tanpa dituliskan, ide ide itu hanya akan menjadi titik bukan garis dan hanya masalah waktu sampai titik-titik itu hilang dan dilupakan”
No comments:
Post a Comment