Thursday, January 29, 2009

Menjadi Manusia Bebas

Tanpa mimpi, mungkin Hatta kini tak lebih dari seorang minang yang mahir berdagang. Tanpa mimpi, tidak mungkin kini kita temui tikungan-tikungan dengan label plat nama-nama besar di sana boleh itu Ahmad Yani, Otto Iskandar Dinata, Diponegoro dan nama-nama besar lain yang lazim diabadikan menjadi nama jalan. Tanpa mimpi manusia tak lebih dari sejumput asa hidup, dihiasi rutinitas dan dibungkus oleh waktu.
Faktanya, manusia lebih banyak membelenggu mimpi daripada membiarkanya mekar dan berbuah. Bahkan pada beberapa orang, mimpi telah terbonsai sejak mereka meninggalkan masa anak-anak. Ibarat mimpi itu adalah sebuah pohon, maka mimpi sebagian orang di antara kita telah tergerat jaringan xilemnya oleh krasnya parang realita. Akar-akarnya telah digerogoti oleh cacing-cacing pesimisme dan daun daunya, kalah bersaing dengan gulma-gulma kegagalan. Lengkaplah sudah syarat yang dibutuhkan untuk memupus sebuah mimpi. Bahkan sebelum putik berja keras dibuahi oleh kesempatan.
Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah kesempatan untuk mengajar di sebuah sekolah informal yang diprakarsai oleh teman-teman teknik UI. Saya kebetulan mengajar siswa-siswi dari kelas dua SD. Sebelum mulai pelajaran, saya mencoba melakukan sedikit pemanasan (macam olah raga saja), bukan dengan menengokkan kepala kiri dan kanan sampai pegal. Atau dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi, namun dengan menanyakan sebuah pertanyaan sederhana. “Apa cita-cita kalian?” tanya saya dengan wajah dibikin seimut mungkin (default wajah saya agak seram). Dan apa yang terjadi saudara-saudara? Tidak ada jawaban dalam tiga detik pertama, ok fine saya kira mereka butuh waktu berpikir, tapi setelah tiga menit tak ada yang kunjung membuka mulut dan bicara saya rasa saya mulai berhak memutuskan, ada yang salah dengan anak didik saya ini.
Ok, melihat wajah mereka yang pias dan pucat lalu toleh kanan-kiri itu, saya jadi mahfum bahwa cita cita mereka tengah hilang. Terbunuh oleh keadaan. Ya Allah, padahal secara fisik mereka begitu dekat dengan Universitas Indonesia, kampus yang konon dulu benar-benar pernah menjadi kampus rakyat kampus yang konon di dalamnya terdapat pemikir-pemikir tangguh yang tengah malamnya dihabiskan mengkaji naskah-naskah ilmiah dari negeri yang konon kemajuan teknologinya beberapa ratus tahun di depan zaman kita. Lalu di sinikah mereka? Terdiam saat ditanya mau jadi apa kelak. Oh...benar benar ada yang salah dengan bangsa ini ketika membiarkan tunas bangsanya berhenti bermimpi. Berarti mereka telah merelakan bangsanya seumur alam menjadi budak bagi bangsa lain.
Yang saya temui di sebuah kampung di Depok itu, baru seulir beras dalam gudang Bulog jika dibandingkan denga jumlah keseluruhan anak-anak di Indonesia. Bayangkan, di Depok saja, yang ironisnya, hanya berjarak beberapa kilometer dari Ibu Kota kita Tercinta (sebagai catatan, asrama UI Depok itu masih berada di wilayah Jakarta Selatan) realita telah dengan sukses memupus mimpi anak-anak ini. Lalu bagaimana dengan mereka yang berada puluhan bahkan ratusan kilometer dari tampuk kekuasaan republik ini? Ya Allah, ampuni dosa insan-insan berilmu yang lena dan lupa akan kewajibanya.
Lalu apa yang harus dilakukan? Menunggu ini dan itu? Yang harus kita lakukan adalah membebaskan mereka dari stigma mematikan itu. Tapi bisakah kita melakukanya, bila kita sendiri terjangkit penyakit yang sama? Layakah seorang mahasiswa yang masuk ke Universitas dengan menggolontorkan uang ratusan juta menasehati siswa siswi SMA tentang semgangat menghadapi SNMPTN? Bisakah seorang pengangguran senior memberikan suatu wejangan bagi mereka yang menyandang gelar fresh graduate untuk mencari kerja? Dapatkah? Tentu tidak, sebelum memberikan tutorial yang manfaat, seseorang haruslah menjadi tutor terlebih dahulu.
Nah, berarti yang harus kita lakukan pertama-tama adalah berpikir masihkah kaki-kaki kita terpasung oleh realita. Kalau iya, segeralah lepaskan, karna realita itu sesungguhnya hanya untaian fakta fakta yang dikemas dengan ketidak pastian. Jadi bila kita merasa takut akan suatu impian atau harapan, bisa jadi itu karena sebenarnya kita menyadari, bahwa sebenarnya kita punya potensi untuk menghadapi tantangan itu (terinspirasi dari kata-kata Nelson Mandela). Jadi kini saatnya kita untuk memilih. Menjadi tawanan, atau menjadi manusia bebas.

No comments: